“Emily, aku ingin berenang.” Joana mengutarakan keinginannya begitu selesai dengan rajutan pertamanya, sebuah syal merah maroon yang tampak sempurna.
“Tentu, Nyonya. Sebentar aku akan menyiapkan swimsuit dan yang lainnya.” Joana mengangguk mendengar ucapan Emily, dia lalu beranjak dari duduknya dan memilih meregangkan tubuhnya terlebih dahulu.
Dia merasa membutuhkan olahraga, dan baginya renang adalah pilihan terbaik. Selain itu dia juga belum pernah melihat kolam renang di mansion ini, pasti sangat bagus. Semua hal di mansion ini selalu sempurna.
Perasaan Joana membuncah dengan senangnya melihat kolam renang yang cukup besar dan jernih di depannya. Desain mural di dinding yang begitu klasik juga menambah kesan cantik kolam renang itu. Dia ingin menangis mengingat bagaimana dulu dia harus pergi ke tempat kolam renang berbayar dan membayar dengan harga yang cukup mahal.
“Sebaiknya kau melakukan peregangan terlebih dahulu, Nyonya.” Emily bisa melihat tatapan berbinar Joana begitu tiba di kolam renang yang terletak di bagian kanan mansion.
“Aku sudah melakukannya tadi, Emily. Aku ingin sekarang.” Joana lalu melepas bathrobe-nya, menyisakan swimsuit dengan model one piece. Emily sudah tidak memiliki waktu untuk mengingatkannya lagi. Wanita itu memilih untuk menunggu dan memperhatikan Joana yang terlihat menikmati renangnya.
Begitu selesai dengan dua putaran, Joana berhenti dan menatap Emily karena menginginkan seusatu.
“Emily, aku lapar dan haus. Bisakah kau menyiapkan orange juice, aku juga ingin buah yang asam, dan toast dengan topping coklat dan almond.” Mendengar itu dari Joana membuat Emily terkekeh dan mengangguk.
“Tentu, Nyonya. Aku akan menyiapkannya, napsu makanmu benar-benar meningkat drastia. Aku senang melihatnya. Mister Louis juga pasti senang mendengarnya.” Ucapan Emily membuat Joana merasa malu, karena satu jam yang lalu dia sudah menghabiskan croissant dan smoothies.
“Apa kau baik-baik saja aku tinggal di sini? Aku meninggalkan ponsel di kamarmu.” Tanya Emily dengan cemas, membuat Joana tertawa dan mengangguk.
“Tentu saja, aku akan baik-baik saja. Aku akan menyelesaikan tiga putaran lagi selagi menunggumu.” Joana lalu kembali melanjutkan renangnya dan Emily segera pergi ke dapur dan meminta koki membuatkan permintaan Joana.
Hari ini Louis pulang cukup awal, tujuan utamanya adalah mencari Emily, karena semalam dia pulang sangat larut, dan Emily belum memberikan laporan tentang Joana kemarin. Memang diam-diam pria itu melakukannya untuk membuatnya tenang jika anaknya akan baik-baik saja.
Dia mendapati Emily di dapur, tengah mengobrol dengan Edric.
“Emily!” Panggil Louis dengan nada rendah dan tatapan tajamnya.
“Mister.” Emily menunduk.
“Apa yang kau lakukan di sini? Berani sekali kau meninggalkan Joana! Di mana dia?” Louis menaikkan nada suaranya, membuat Emily tersentak.
“Nyonya sedang berenang, Mister. Dia meminta orange juice dan beberapa cemilan.”
“Kau tidak bisa menggunakan telepon?! Bodoh!!” Louis langsung menyentaknya tajam, lalu meninggalkan Emily yang gemetar dan Edric yang menatap bersalah pada wanita itu.
Louis langsung pergi menuju kolam renang, pikirannya selalu dipenuhi hal-hal buruk, dia takut jika Joana tidak becus menjaga diri dan bayinya, wanita itu cukup ceroboh dan bisa melakukan hal bodoh. Bagaimana jika wanita mengalami kram, lalu tenggelam dan mati?
“Sialan! Joana! Bagaimana kau bisa mengacaukan pikiranku seperti ini, b******k!!” Louis mengumpat kesal, lalu langkahnya terhenti saat melihat Joana baik-baik saja di sana, meliukkan tubuhnya dengan begitu indah di air itu. Bentuk tubuhnya begitu proporsional, lekukan tubuhnya terlihat indah, dan membuat Louis menelan ludahnya dengan tatapan yang begitu lekat.
Lalu wanita itu menyudahi renangnya, berpegangan pada pinggiran kolam dan bergerak untuk bangun. Masih belum menyadari ada Louis di sana. Setiap gerakan Joana yang keluar dari kolam renang, dengan bikini one piece-nya dan bagian perut yang sudah sedikit menonjol membuat Louis menahan napasnya.
Mengingat bagaimana indah dan nikmatnya tubuh itu yang berada dalam kuasanya malam itu. Sempurna dalam genggamannya, wajah tersiksa namun tubuhnya berkhianat dan mengkhianati. Louis tidak akan pernah melupakan malam itu.
“Oh… Hai … Kau … Sudah pulang?” Joana yang menyadari kedatangan Louis sedikit terkejut, buru-buru memakai bathrobe-nya, melihat tatapan lapar Louis yang memperhatikan setiap detail gerakannya dan tubuhnya.
Louis mendekat, berdiri tepat di depan Joana, tanpa jarak hingga keduanya bisa mendengar desahan napas masing-masing. Louis membelai wajah Joana, masih menatapnya lekat. “Aku membayar Emily untuk menemanimu setiap waktu! Jika aku melihat Emily tidak di sisimu lagi, aku akan memecatnya dan kau tidak akan pernah melihatnya.” Louis berbisik di telinga Joana, membuat wanita itu bergidig antara geli dan ngeri. Karena dia tau, pria itu tidak pernah main-main dengan ucapannya dan selalu menepatinya.
“Aku … aku yang memintanya membuat orange juice dan beberapa camilan. Aku lapar. Jangan lakukan apapun padanya, aku menyukainya.” Joana menatapnya sedih dan ketakutan, membuat Louis menjauh dan menghela napasnya panjang.
“Maka jangan membuatku melakukannya. Patuhi aturanku dan ingatkan juga pelayanmu itu.” Desis Louis membuat Joana mengangguk patuh. Tepat saat itu Emily datang dengan minuman dan makanan pesanan Joana, Louis meliriknya sekilas.
“Keringkan tubuhmu dulu baru makan, kau bisa sakit jika menunda mandi.” Ucap Louis lagi, membuat Joana kembali mengangguk, lalu Louis meninggalkan Joana dan Emily yang menghela napas lega.
“Maaf aku ceroboh dan meninggalkanmu, Nyonya. Seharusnya tidak kulakukan.”
“Apa yang kau katakan? Ini kan memang permintaanku, dia saja yang berlebihan. Dasar batu es menyebalkan!” Joana menggerutu kesal menatap punggung Louis yang semakin menjauh.
“Ya sudah, Nyonya. Ayo kita ke kamar dan kau perlu mengeringkan tubuhmu.”
“Sebentar, Emily. Aku sangat haus.” Joana lalu mengambil orange juice itu dan duduk di kursi panjang, menenggaknya dengan perasaan puas karena dahaganya terpuaskan.
***
Emily lamgsung menuju ke ruang kerja Louis begitu memastikan Joana telah selesai mengeringkan diri dan wanita itu kini tengah menikmati cemilannya yang kesekian untuk hari ini. Emily masuk dengan perasaan takut, karena telah melakukan kesalahan besar hari ini.
“Jika kau kembali melakukan hal bodoh tadi di kemudian hari. Maka nyawamu tidak terampuni!” Itu suara lantang Louis begitu Emily menutup pintu, membuat wanita itu memejamkan matanya dengan tubuh bergetar.
“Ma..maaf, Mister. Saya bersumpah dengan nyawa saya tidak akan mengulanginya lagi.”
“Katakan apa yang dilakukan Joana hari ini dan bagaimana kondisinya.” Louis duduk di sofa dengan tatapan bossy dan penuh intimidasi pada Emily.
“Kondisinya sangat baik, Mister. Dia meminum vitaminnya dengan teratur, napsu makannya terus meningkat dan dia sudah beberapa kali meminta salad dan smoothies. Yang dia inginkan adalah makanan yang sehat. Beberapa kali saya juga melihat dia terlihat bahagia saat berbicara dengan calon bayi kalian. Dia juga hari ini mulai merajut, dia mengatakan cukup bosan dan akhirnya mulai merajut. Hari ini sudah menyelesaikan satu syal rajutannya.” Emily mengatakannya masih dengan perasaan takut, mendengar itu hati Louis merasa lega.
“Apa dia mengatakan menginginkan sesuatu, yang sangat dia inginkan dan mungkin terdengar tidak masuk akal.” Louis kembali bertanya masih dengan nada datarnya.
“Sejauh ini tidak ada, Mister.”
“Bagaimana morning sickness-nya? Apa dia mengeluh tentang kehamilannya?”
“Tadi pagi dia hanya mengalami morning sickness sekali, sekitar jam sembilan pagi. Dan sejauh ini dia tidak mengeluhkan apapun. Dia terlihat sangat memperhatikan kandungannya.”
“Keluar sekarang!” Perintah Louis membuat Emily langsung mengangguk khidmat dan pergi dari sana. Louis lalu melonggarkan dasinya yang terasa mencekik, lalu juga beranjak dari ruang kerjanya. Ingin menjenguk seseorang yang hingga saat ini masih dinantikan kehadirannya.
Namun langkahnya justru membawa pria itu menuju kamar Joana, dia ingin kembali memastikan wanita itu. Pintu kamarnya tidak tertutup sempurna, dan dia bisa melihat wanita itu baru menyelesaikan makanannya, sedang duduk di sofa dengan beberapa piring kotor yang telah kosong di meja dan juga beberapa tumpukan buku. Emily terlihat tengah membersihkan dan mengangkat piring-piring kotor itu.
“Emily, sepertinya aku lebih membutuhkan buku-buku tentang kehamilan, karena wawasanku sangat minim tentang wanita hamil. Aku ingin belajar lebih banyak, apa yang harus kulakukan dan kuhindari. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk bayiku, dia harus lahir dengan sehat dan selamat.” Ucapan Joana membuat hati Louis berdesir, melihat tatapan wanita itu yang begitu bahagia sambil mengusap perutnya. Lalu Louis memilih pergi dari sana, dan menelpon ponselnya untuk menghubungi seseorang.
-Liam, tolong cari buku-buku seputar kehamilan dan berikan kepada Emily. Berikan yang terbaik dan terlengkap.-