Pria itu bergerak menuju lift dan pergi menuju ruang bawah tanah, rumah sakit pribadinya, tempat di mana seseorang yang ia sayangi dan memiliki peran penting dalam hidupnya tengah berjuang antara hidup dan mati.
“Mister,” sapa seorang dokter yang langsung mengikuti ke mana langkah Louis.
“Apa sudah ada perkembangan?” Tanya Louis memasuki sebuah ruangan serba putih yang cukup luas dan mewah. Dua orang pria yang menjaga di pintu langsung sigap membukanya dan membungkuk hormat.
“Mohon maaf mengatakan hal yang anda benci Louis, namun masih belum ada perkembangan yang berarti dari Miss Angeline dan Mrs. Beatrix.” Louis menuju salah satu ranjang di mana seorang wanita tua terbaring pucat di sana. Ibunya, yang harus meregang nyawa atas tragis lima belas tahun yang lalu. Dia harus kehilangan nyawa ayahnya dan semua keluarganya.
Lima belas tahun yang lalu terjadi pembantaian kejam di rumahnya. Ayahnya adalah ketua kelompok mafia di Eropa yang tersohor, semua orang takut dan tunduk padanya. Namun saat itu, salah satu orang kepercayaannya berkhianat, menjual semua informasi rahasia kepada musuh. Alhasil mereka semua dibantai habis-habisan. Hampir semua anggota kelompoknya mati. Saat itu dirinya dan ayahnya tengah melakukan operasi rahasia untuk misinya, ibunya tinggal di rumah bersama Angeline, seseorang yang sudah dijodohkan oleh ayahnya, karena keluarga Angeline adalah sahabat ayahnya. Namun rumah mereka dibom, Louis menemukan ibunya dan Angeline sedang berpelukan, dari posisinya dia menduga jika Angeline berusaha untuk melindungi ibunya. Tragedi naas itu membuat keduanya koma hingga saat ini.
“Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, Mister. Pasien yang koma, akan lebih baik jika kita bisa memberikan rangsangan berupa memori-memori mereka, mengajaknya berbicara dan bercerita tentang hal apapun. Itu akan memberikan beberapa kemajuan.” Dokter Milano yang sejak awal menjadi kepala dokter yang menangani ke dua pasien itu kembali memberi saran.
“Besok pindahkan ibuku ke lantai lima.” Ucap Louis lalu bergegas meninggalkan ruangan itu. Dia tidak akan menyerah untuk terus memperjuangkan ibunya dan Angeline, mereka berhak untuk hidup dan harus hidup. Karena mereka lah satu-satunya kekuatan Louis saat ini.
***
Joana pelan-pelan terjaga dari tidurnya saat dirinya merasa begitu lapar, dia mengerjap-ngerjapkan matanya pelan, melirik jam weker di atas nakas yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Perutnya berbunyi membuatnya mendesis dan mengusapnya pelan.
“Kau lapar ya sayang? Uhh sepertinya pasta enak. Tapi semua orang sudah pasti tidur di jam segini.” Joana menggumam sendiri, dan perutnya kembali berbunyi, dia menelan ludahnya susah payah saat memikirkan bagaimana nikmatnya jika dia bisa makan pasta saat ini.
“Ayo, kita membuatnya saja sayang. Mommy tidak tahan dan ingin sekali pasta, kau juga pasti sama kan?” Joana akhirnya beranjak dari ranjang, mennggelung rambutnya menjadi satu ke atas, dan memakai kimononya, mengingat dia memakai piyama dari bahan satin yang cukup menerawang.
Pelan-pelan langkah kakinya bergerak menuju lift, namun dia berhenti, memilih untuk turun menggunakan tangga, tidak ingin menimbulkan kegaduhan.
Dapur yang cukup luas ini membuat Joana mengernyit, dia harus mencari pasta dan beberapa bahan, namun dia harus berpikir di mana letak pasta dan bahan-bahan itu. Sudah pasti bukan di kulkas.
Lalu joana membuka satu demi satu cabinet di sana, mencari penyedap rasa dan perbumbuan juga pastanya. Namun beberapa cabinet cukup tinggi dan dia kesulitan untuk menjangkaunya.
“Apa yang kau lakukan?!”
“Ya Tuhan, astaga!” Joana melonjak kaget dan mundur ke belakang, dan hampir jatuh jika Louis tidak sigap menangkapnya.
“Kau gila?! Mau membahayakan dirim, huh?!” Louis menatapnya tajam, melepaskan Joana yang menelan ludahnya susah payah. Kenapa dirinya harus ketahuan oleh Louis seperti ini.
“Aku … aku menyidam.” Joana tidak memiliki alasan lain yang bisa menyelematkannya kecuali bayinya, membuatnya tanpa sadar mengelus perutnya lagi.
“Menyidam? Apa yang kau inginkan?” Louis menatapnya seduktif, seolah tidak akan melepaskan Joana jika berani berbohong padanya.
“Aku .. aku ingin membuat pasta, aku ingin membuatnya sendiri. Sumpah! Ini bukan keinginanku, tiba-tiba saja bayinya menginginkannya.” Joana menunjukkan tanda swear di depan wajahnya, berharap Louis percaya.
Louis yang sudah mengantisipasi tentang fase menyidam tidak memiliki kuasa untuk melarangnya.
“Ya sudah, lakukan. Aku akan mengawasimu dari sini.” Louis bersidekap dan bersandar di pantry, memperhatikan Joana yang akhirnya mati gaya dan kehilangan selera untuk membuat pasta. Masalahnya tatapan Louis seolah ingin melahapnya hidup-hidup.
“O..Oke.” Joana tidak memiliki pilihan lain selain melanjutkan apa yang telah dia ucapkan pada Louis.
Wanita itu mulai memotong bawang Bombay dan bawang putih, juga topping jamur yang tadi sudah dicucinya. Louis terus memperhatikannya, melihat bagaimana Joana yang cekatan, dia tidak kaget mengingat pekerjaan wanita itu sebelumnya. Pasti wanita itu mahir di dapur.
“Apa kau mau juga?” Tanya Joana saat mulai mengambil pastanya, wanita itu menimbang seberapa banyak dia harus memasak.
“No!” Louis menjawabnya jelas dan singkat, membuat Joana mengangguk kaku dan kembali melanjutkan memasaknya. Sebenarnya dia ingin menggunakan abalone juga, tapi sepertinya tidak ada. Tiba-tiba dia juga membayangkan jika Louis yang memasaknya dan menyajikannya untuknya, dia menginginkan hal itu, tapi tentu saja mustahil. Manusia batu seperti Louis mana mungkin mau melakukan hal-hal menggelikan seperti memasak untuk seseorang, bahkan diragukan apa pria itu bisa memasak?
Louis memperhatikan setiap detail ekspresi Joana, dia menyadari Joana sangat ekspresif dan bisa dengan mudah dibaca.
“Ada sesuatu yang kau inginkan? Terlihat jelas di wajahmu, kau tidak puas dengan masakanmu.” Ucapan Louis membuat Joana tersentak karena pria itu seolah bisa menebak pikirannya.
Joana buru-buru menggeleng dan tersenyum, namun Louis tau wanita itu menginginkan sesuatu. Pria itu mendecak dan mendekat pada Joana, seperti biasa dengan tatapan intimidasinya, membuat Joana reflek mundur.
Louis memegang dagu Joana dan membuat tatapan wanita itu terkunci pada Louis. “Katakan, atau kau akan tau akibatnya. Jangan membuat bayiku tidak terpenuhi keinginannya. Katakana sekarang, Joana!” Louis menatapnya seduktif dan jarak keduanya sangat dekat. Membuat Joana semakin terintimidasi.
“Aku … aku ingin pasta abalone dan … dan ….” Joana yakin, dia tidak mampu mengucapkannya, dia tidak tau apa yang akan terjadi jika dia mengatakan keinginan gilanya.
“Dan?” Louis menunggunya tidak sabaran.
“Dan … kau yang memasak.” Joana mengucapkannya dalam satu tarikan napas, dia mendengar Louis mendecak dan melepaskannya.
“Hal sekecil itu kenapa sulit sekali mengatakannya, kau membuat bayiku menunggu lama!” Louis mendelik kesal, sedangkan Joana tidak menyangka dengan reaksi Louis. Pria itu kini mengambil ponselnya.
“Henry, siapkan abalone ke kitchen lantai satu. Aku benci menunggu lama!” Setelah mengatakan itu di telepon, Louis lalu berbalik, menatap Joana dan kembali mendecak.
“Duduklah, kau tidak becus sekali memasak.” Louis berujar tajam, sangat berbanding terbalik dengan hatinya yang memberikan penilaian baik pada kemampuan masak Joana.
Joana hanya mengangguk patuh dan duduk di kursi bar. Louis membuka kancing kemeja di bagian lengannya, lalu menggulungnya. Menyelesaikan pekerjaan Joana yang belum terselesaikan. Tidak lama Henry datang dengan sepiring abalone di tangannya.
Joana bisa melihat wajah chef itu yang masih mengantuk, dia juga belum pernah melihatnya, mungkin chef pribadi Louis. Dan setelah mengantarkan abalone itu, Louis langsung mengusir melalui tatapan matanya.
Entah sadar atau tidak, Joana kini justru menopang dagu dengan tangannya, memperhatikan bagaimana Louis begitu cekatan dengan pisau di tangannya. Pria itu benar-benar sempurna, pria tampan adalah hal yang biasa, namun pria tampan dan pandai memasak adalah luar biasa.
Oh, lengannya yang begitu berotot, dan cekatan bermain dengan pisau, gerakannya yang sangat luwes dan mahir. Joana hanya bisa menganga, dia tidak menyangka dibalik wajah kejamnya, pria itu memiliki pesona yang mematikan juga.
Hingga Louis mendongakkan kepalanya dan mengunci tatapan Joana, membuat Joana gelagapan dan langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain. Dia sudah bersiap mendengar umpatan dari Louis, namun yang dia lihat justru pria itu kembali melanjutkan memasaknya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama hingga Louis menghidangkan pasta buatannya, pria itu duduk di depan Joana, tanpa kata menyodorkan pasta itu ke depan Joana.
“Te… terima kasih.” Bisik Joana, karena perutnya terasa lapar dan harumnya pasta itu membuatnya tidak tahan, Joana langsung menyuapkan pasta itu ke mulutnya.
‘Oh, enak sekali, Tuhan.’ Joana memejamkan matanya, menikmati setiap kenikmatan yang ia rasakan masuk ke mulutnya. Louis benar-benar gila. Bagaimana pria itu bisa melakukannya. Seharusnya pria itu tidak bisa memasak, jika pun bisa memasak seharusnya masakannya gagal. Tuhan tidak perlu memberinya kesempurnaan dan bakat dalam hal memasak untuk pria itu.
“Seperti kesepakatan kita. Aku akan menuruti apapun keinginanmu dan bayiku, selama kau bisa menjaganya hingga dia lahir. Tapi jika sampai aku tau, kau memanfaatkan hal ini untuk kepentinganmu. Maka aku benar-benar akan menghabisimu.” Ucapan panjang dari Louis dengan nada mematikan membuat Joana mengangguk kaku, namun nikmatnya pasta itu membuat rasa takutnya hilang di detik selanjutnya, dia begitu lahap menghabiskan pasta itu. Membuat Louis menyunggingkan senyumnya melihat bagaimana cara makan Joana yang cukup bar-bar.
Joana berhasil menghabiskan pasta itu tanpa sisa, lalu wanita itu meminum air mineral yang ada di depannya juga. Menenggaknya seolah dia benar-benar haus. Louis memperhatikannya lamat-lamat, bagaimana wanita itu yang mendongak untuk menenggak minumnya, dan bagaimana leher jenjang itu terlihat begitu seksi, terlihat dari segala sisi karena Joana menggelung rambutnya ke atas.
“Ahh…” Joana mendesah dengan puas, dia benar-benar kenyang malam ini, Louis benar-benar unpredictable. Lalu Joana hanya bisa memberikan senyum kikuknya saat Louis ternyata menatapnya begitu intens, pria itu bahkan sudah mendekatkan wajahnya.
“A..aku sudah selesai.” Ucap Joana yang hendak turun dari kursinya, namun Louis justru menarik dagunya, dan tanpa kata mendekatkan bibirnya dan mencecap ujung bibir Joana yang meninggalkan noda saus di sana.
“Kau berniat menggodaku, Joana? Kau membangunkanku, Joana.” Bisik Louis seduktif di telinga Joana, dan menjilat telinga wanita itu. Dia menahannya selama ini, namun mala mini, wanita itu seolah menggodanya dengan begitu nyata. Bagaimana cara makan wanita itu, bagaimana wanita itu yang menjilat sekitar bibirnya dengan gerakan memutar dengan lidahnya, bagaimana wanita itu minum dengan begitu seksi dan memperlihatkan lehernya yang jenjang seolah minta dikecup. Dan pakaian wanita itu, yang cukup tipis dan memperlihatkan lingerie di balik kimononya benar-benar hal sempurna yang membuat Louis tidak lagi menahan hasratnya.
Joana langsung bersikap siaga dan mendorong d**a Louis, dia lalu bergerak dari sana. Namun Louis tidak akan membiarkan wanita itu, dia mengejarnya, kembali menarik Joana, dan mendorong wanita itu pelan ke salah satu pilar, mengungkungnya dan memenjarakan kedua tangan Joana hanya dengan satu tangannya.
Louis meraih bibir Joana, mengecupnya kecil lalu berubah menjadi lumatan dan gigitan kecil. Joana berusaha menolak, walau tubuhnya meremang dan berkhianat menikmati itu. Louis semakin menjadi dengan turun ke bawah dan mencecap setiap inchi leher Joana, melumatnya dan meninggalkan tanda di sana.
“Argghhh…” Joana tidak bisa lagi menahan desahannya saat pria itu semakin menjadi, bahkan tangannya yang bebas mulai menyentuh salah satu titik sensitifnya.”Ber… berhenti…” Joana berusaha melawan di tengah-tengah kesadarannya.
“Kenapa harus berhenti saat kau juga menikmatinya?” Bisik Louis di telinga Joana dan kembali menggigit kecil telinga wanita itu. Tangan Louis semakin liar dan menyentuh titik-titik sensitive Joana.
“Kumohon … berhenti ….” Joana menggelengkan kepalanya berusaha untuk menghindari ciuman Louis, Louis tergagap saat melihat air mata Joana, membuatnya langsung melepaskan Joana. Joana langsung berlari dan meninggalkan Louis yang membatu di sana.
“Siall!” Teriak Louis menonjok dinding di depannya dengan sekuat tenaga. Dia melihat Joana yang berlari menaiki tangga, membuatnya langsung mengejar wanita itu.
“Jangan berlari, Joana! Kau membahayakan bayiku!” Teriak Louis membuat Joana menghentikan langkahnya. Lalu Joana melanjutkan langkahnya dengan tergesa, membuat Louis kembali mengumpat.
Dia langsung membopong Joana begitu berhasil meraih wanita itu, membuat Joana berteriak karena terkejut. Namun langsung mengalungkan tangannya ke leher Louis karena takut dia akan jatuh. Joana tidak berani bertanya atau mengatakan apapun, Louis juga diam dalam setiap langkahnya, hingga meletakkan Joana di ranjangnya, menyelimuti wanita itu dalam diam, lalu berlalu dari sana, meninggalkan Joana yang jantungnya masih berdebar begitu kencang.
Dalam temaram lampu tidur di kamarnya, Joana menyentuh bibirnya juga dadanya yang masih berdetak kencang. Bohong jika Joana tidak menikmati ciuman Louis. Jika akal sehatnya sudah hilang, mungkin dia akan gila, bagaimana bisa tubuhnya berkhianat dan menikmati setiap sentuhan dari pria itu? Tapi, ciuman Louis kali ini, benar-benar membuatnya tidak bisa lupa, dia menyukainya, walau berusaha menampiknya.
“Jangan gila, Joana! Buang pikiran kotormu itu. Sinting!” Joana memukul kepalanya dan memilih untuk memejamkan matanya.