Drama kuis Kimia

1697 Kata
Motor yang dikendarai Rezha berhenti mulus di tempat parkir sekolahnya dengan Selamat sentosa. Rezha lantas melepas helm yang melekat pada kepalanya. Netra hitamnya langsung terfokus pada tangan yang melingkar erat pada bagian perutnya. "Woi! Jangan modus! Cepat turun!" perintah Rezha pada gadis yang masih setia memeluknya dari belakang. Lisa yang menyadari suatu hal, langsung melepaskan pelukannya itu. Ia dengan cepat turun dari motor kakaknya dengan napas yang ngos-ngosan. "Gila, Lo!" bentak Lisa dengan napas terengah sembari menatap tajam pria di hadapannya itu. Kedua tangannya yang lemas, memegang luutnya yang bergetar dan kebas. Rezha menaikkan satu alisnya dan tersenyum miring. "Makanya, kalau masih pagi itu gausah ribut!" sentak Rezha dan berlalu meninggalkan Lisa yang melotot dengan menekuk bibir bawahnya. Lisa yang merasa terabaikan langsung menggerutu kesal. Ia lantas meninggalkan tempat parkir menuju kelas dengan langkah yang sengaja ia hentak-hentakkan. Menunjukkan pada semua orang, jika dirinya kini tengah berada pada puncak kekesalan. Sesampainya di kelas, Lisa langsung menghempaskan tubuhnya di atas kursi dengan napas yang masih sedikit terengah. Kedua tangannya mengelap keringat yang telah bercucuran menggunakan tisu yang selalu ia bawa di dalam tasnya. "Tumben lo dateng jam segini? Biasanya telat mulu," kata Salsa teman satu bangkunya dengan tatapan heran. Lisa menoleh ke asal suara. Namun pandangannya langsung tertuju pada sesuatu yang berada di genggaman tangan Salsa. Dengan kecepatan kilat, Lisa menyambar es jeruk yang berada di genggaman gadis itu dan meneguknya hingga habis tak bersisa. "Woi, es gue-," Sebuah nada protesan terhenti saat tangan kiri Lisa terangkat sejajar dengan wajahnya untuk menyetop omelan yang ingin ia utarakan. "Nanti gue ganti," kata Lisa seusai meneguk es jeruk milik Salsa dan mengembalikan gelas plastik kosong pada pemiliknya. Salsa otomatis melotot ke arah Lisa. Tanpa merasa bersalah, Lisa justru mengambil salah satu buku yang berada di dalam tasnya untuk ia jadikan sebagai kipas dadakan. "Dasar, bocah!" gemas Salsa seraya bangkit dari duduknya untuk membuang wadah minumannya, walaupun dengan hati yang tidak ada ikhlas-ikhlasnya. Namun, Jika ia bersikukuh menyuruh Lisa untuk membuangnya, sampai mulut berbusa pun tak akan Lisa lakukan. Lagi pula Salsa sangat anti dengan yang namanya sampah. "Sebenarnya ada apa, sih? Tumben banget lu udah di kelas? Pakek drama marah-marah lagi!" Salsa yang sepertinya masih penasaran itu kembali bertanya. Gadis itu menempatkan diri pada bangku kayu di sebelah Lisa. Lisa mengembuskan napas dengan kasar. "Siapa lagi kalau bukan si Monyet jelek!" jawab Lisa dengan memicingkan matanya yang seolah mampu memercikkan kobaran api. "Gila, ya! Hari ini gue hampir mati gara-gara dia! Gue hampir kena serangan jantung mendadak tahu, gak!" omel Lisa dengan nada kesal sembari terus mengipas wajahnya menggunakan buku yang ia genggam. kibasannya semakin kencang dan mengibarkan ujung-ujung rambutnya yang sedikit basah oleh keringat. "Untung saja masih hampir, Lis! Kalau tadi lu beneran metong ... duit gue gimana yang belom lo bayar? Dan juga ... dosa lo ke gue masih banyak. Nanti siksa kubur lo bisa berat," kata Salsa dengan enteng. Lisa yang mendengar jawaban sahabatnya itu langsung melotot ke arah Salsa hingga bola matanya nyaris keluar. Dengan sigap, Lisa memukul kepala sahabatnya menggunakan buku yang ia genggam. "Sakit, sialan!" Salsa mengaduh pada Lisa dengan mulut yang ia majukan beberapa senti. Serta tangannya yang mengusap bagian kepala bekas pukulan maut Lisa. "Sukurin!" Salsa mencoba membalas perkataan Lisa, namun kata-katanya tercekat saat Bu Ariska, guru kimianya melangkah tegap memasuki kelas. "Keluarkan kertas masing-masing!" perintah Bu Ariska tanpa berucap salam maupun berbasa-basi dengan muridnya. Sepasang mata yang berada di balik lensa kacamata itu menajam bagai elang kelaparan, menyapu seluruh anak didiknya. Meletakkan tas hitam legam yang selalu dibawa kemana-mana ke atas meja guru yang tidak dilapisi taplak. "Mampus!" bisik Lisa dan Salsa secara bersamaan. Seketika, kelas menjadi hening. Tidak ada satu pun yang menyahut perintah mengerikan itu. Hanya ada suara sobekan kertas dan pulpen yang tidak sengaja terjatuh memecah keheningan kelas. Bu Ariska berjalan menyusuri kelas untuk membagikan tumpukan soal yang berada di dekapannya. Lisa yang berada pada barisan depan langsung membelalakkan mata melihat soal kimia yang berada di atas mejanya. Kepalanya mendadak pusing. Perutnya pun terasa mual. Meskipun soal yang tertera hanya berjumlah lima belas, namun di semua soal itu tidak ada satu pun yang ia pahami. Seolah deretan rumus di tabel periodik yang ia baca tiga hari yang lalu menghilang begitu saja tanpa jejak di kepalanya. Lisa melirik Salsa yang berada di sebelahnya. Saat itu juga Lisa menghembuskan napas gusar saat melihat raut wajah Salsa tak jauh beda dengan dirinya. Lisa memukul kepalanya sendiri, mencoba mengajaknya berpikir agar bisa melewati masalahnya ini. Nilai kimianya tak pernah di atas empat puluh. Jika hari ini ia mendapat tiga puluh lima lagi, tamat sudah riwayatnya. Lisa terus memutar otak. Berharap otaknya kini mendadak pintar dan bersahabat. Lisa melirik Bu Ariska yang tengah sibuk membagikan soal ujian di barisan belakanh. Sebelum Bu Ariska membalikkan badan, Lisa dengan cepat memotret soal ujiannya itu dengan sekali-kali melirik keberadaan Bu Ariska. Keringat dingin mengalir di pelipis serta telapak tangan Lisa. Tidak ada cara lain. Senyum tipis mengembang pada bibir Lisa saat ia selesai memotret semua soal ujiannya. Dengan secepat kilat, Lisa menggulung kertas jawaban dan ia masukkan ke dalam saku rok. Tidak lupa dengan pulpen yang juga ia masukkan ke dalam saku. Dengan bakat akting yang turun dari mamanya. Lisa mulai menjalankan misinya. "Bu!” Lisa mengacungkan tangannya dengan nada sedikit kesakitan. Bu Ariska lantas menoleh menuju asal suara yang memanggilnya. "Ada apa?" jawab Bu Ariska datar namun tajam. "Saya izin ke toilet, perut saya sakit banget, Bu!" jawab Lisa sembari memegangi perut menggunakan kedua tangannya dengan raut wajah seperti orang mau melahirkan. Bu Ariska sempat mengerutkan keningnya. Ini masih pagi dan sudah kebelet? Namun Bu Ariska mengiyakan saat melihat keseriusan pada wajah muridnya itu. 'Yess,' sorak Lisa di dalam hati. Gadis itu langsung berlari kecil menuju toilet dengan jantung yang mulai berdebar-debar. Sesampainya di kamar mandi, Lisa menyeka keringatnya yang mulai bercucuran. Ia mencari tempat yang pas untuk mengerjakan soal menyebalkan itu. Akhirnya, ia memilih berdiri di meja depan kaca panjang yang berada di ujung kamar mandi. Tempat itu memang di sediakan bagi siswa untuk meletakkan tas atau peralatan lainnya. Namun tidak untuk Lisa. Ini akan menjadi tempat paling nyaman untuk mengerjakan soal. Lisa mengeluarkan kertas beserta pulpen ke atas meja. Tak lupa dengan benda pipih berisi soal ujiannya tadi. Sepersekian detik, dirinya mulai mengingat sesuatu. Kepalanya mendongak. Menatap di sudut-sudut atas bangunan. Dan benar saja, sebuah CCTV terpampang di sana. Lisa berdecak. Keringat dingin kembali mengalir membasahi pelipisnya. Dia segera mengemasi barang-barangnya. Memilih masuk ke dalam bilik toilet yang cukup pesing. Lisa segera menyiram lantai dan kloset. Sesekali gadis itu terlihat seperti ingin muntah. Dia terpaksa melakukan semua ini karena nilai dari Bu Ariska sangat mempengaruhi untuk ia bisa naik ke kelas tiga. Dia benar-benar lemah pada pelajaran kimia. Seberusaha keras bagaimanapun usahanya, skor akhir selalu membawanya di rangking dua dari bawah. Sangat jauh berbeda dengan kakaknya. Tahun lalu justru kakaknya itu menang olimpiade kimia dan meraih juara tiga. Walau begitu, Lisa menolak keras untuk meminta bantuan kakaknya. Dia tidak mau terlihat lemah dan bodoh. Reputasi Rezha dan Lisa di sekolah sangat jauh berbeda. Di mana Rezha termasuk murid yang disayang oleh guru-guru karena nilai akademiknya yang cukup memuaskan. Tahun lalu, Rezha juga masuk ke dalam rangking tiga pararel sekolah. Selain itu, Rezha juga bergabung dalam geng yang paling dikenal di sekolah. Geng dengan deretan laki-laki tampan yang paling diagungkan-agungkan oleh siswa perempuan. Sedangkan Lisa, Lisa hanya beruntung saja karena dikenal sebagai adiknya Rezha, selepasnya, gadis itu tidak pernah dipandang ada. Perbedaan mereka seperti langit dan bumi. Rezha naik dan terbang ke angkasa menembus ribuan bintang, sedang Lisa jatuh anjlok hingga ke lubang gorong-gorong. Lisa menempelkan kertas jawaban pada dinding toilet yang dingin. Menyangga kertas itu dengan tangan kirinya agar tidak jatuh. Sedang tangannya yang lain membuka situs internet untuk mencari jawaban ujian. Kedua bola mata Lisa berbinar terang saat ia telah menemukan web yang sama persis dengan soal ujian beserta jawabannya. Benar-benar mirip. Tanpa membuang-buang waktu, Lisa segera menyalin semua jawaban di kertas yang ia bawa. Namun dengan kecerdikannya, ia mengosongkan tiga nomor agar Bu Ariska tidak curiga dengan nilai yang akan ia dapatkan nanti. Selesai menyalin jawaban itu, Lisa kembali menggulung kertasnya dan memasukkan ke dalam saku rok seragam abu-abu. Sengaja tidak melipat kertas tersebut karena bekas lipatan akan membuat Bu Ariska curiga. Lisa kembali melangkahkan kaki menuju kelasnya dengan langkah santai. Mungkin, dewi fortuna tengah berada di pihaknya. Ditambah jadwal Kimia ada di jam pertama, membuat orang jarang mengunjungi toilet. Dan hal itu pula yang menjadi keuntungan bagi Lisa, karena tak perlu lagi untuk waspada. "Assalamualaikum ...." Lisa memasuki kelas dan langsung duduk di kursinya. "Waalaikumsalam. Kamu tadi boker apa tahlilan? Lama sekali!" tanya Bu Ariska tajam dan penuh penekanan. Sepasang matanya itu selalu menampakkan sorot yang mengiris hati. "Sedang arisan, Bu," jawab Lisa dan langsung mendapat pelototan dari gurunya. "Haha, lucu sekali. Cepat kerjakan! waktu tinggal dua puluh menit lagi!" perintah Bu Ariska dengan tegas. "Oke, siap!” jawab Lisa dengan senyuman puas. Dua puluh menit berlalu. "Kumpulkan jawaban, sekarang!" Perintah Bu Ariska dengan memukul meja dengan telapak tangannya. Sontak, kelas yang tadinya seperti kuburan langsung berubah seperti pasar. Ada yang langsung mengumpulkan tugas, dan ada yang sibuk menyalin contekan. Salsa yang masih sibuk menyontek langsung melongo melihat Lisa yang mengumpulkan jawaban mendahuluinya. Lipatan tebal langsung tercetak di dahinya. Karena biasanya, Lisa akan menunggu contekan dari dirinya. "Apa lo lihat-lihat!" semprot Lisa menatap Salsa yang melihatnya dengan mulut menganga. "Kok, lo udah selesai?" tanya Salsa kelewat bingung hingga melupakan soal ujiannya. "Iya dong! Gue kan pinter," sahut Lisa sembari duduk di sebelah Salsa. "Lo ... beneran Lisa, kan?" tanya Salsa jadi merinding. "Gak! Gue mimi peri yang tersesat di upil planet bernama bumi!" Salsa diam-diam sedikit bergeser menjauhi sahabatnya itu. Ia melihat Lisa yang mulai tersenyum tanpa sebab. "Gila! Kesambet apa lu di kamar mandi?" ujar Salsa yang telah berjarak sejauh dua meter dari Lisa. Lisa menatap Salsa tajam dan semakin tersenyum lebar. Salsa yang menyadari bahwa sahabatnya benar-benar gila langsung berlari ke meja Bu Ariska untuk mengumpulkan lembar jawabnnya yang kosong di banyak nomor. Lisa tertawa puas melihat gerak-gerik Salsa yang menurutnya terlihat sangat lucu. Di lain sisi, Salsa semakin merinding melihat kelakuan sahabatnya itu. Bibirnya yang tipis mulai membaca surat al-Fatihah yang dikhususkan untuk orang bernama LISA MAHERENDRA.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN