Lisa keluar dari kamar mandi yang berada satu dengan kamarnya. Badannya kini terbalut kaus oblong bewarna merah muda polos serta celana pendek di atas lutut bewarna jingga. Rambutnya yang basah tampak terlilit oleh handuk biru tua yang melingkar di kepalanya.
"Udah sampai nomor berapa, Sal?" tanya Lisa memposisikan diri duduk di atas karpet sebelah Salsa. Kepalanya melongok menuju pekerjaan Salsa dengan tangan kanan yang sibuk mengusap kepala dengan handuk tersebut.
Salsa terlihat amat serius dengan penggaris dan pensil yang bergerak di atas kertas berlatar putih. "Udah mau selesai!" sahut Salsa dengan datar, serta mulut yang sedikit mengerucut tanpa menoleh ke arah Lisa.
Lisa yang duduk bersila di sebelah Salsa langsung membelalakkan sepasang mata berseri-seri. Sampai-sampai tangannya refleks memukul pundak Salsa lumayan keras. Salsa jelas mengaduh kesakitan kala merasakan panas yang menjalar di bagian pundak kanannya.
"Wah ...! Cepat amat lo! Gak sia-sia lo sekelompok sama gue!" ujar Lisa yang memperhatikan sebuah peta konsep kerjaan Salsa dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Menyebut kata gila karena pengerjaan Salsa sangat rapi dan cantik.
"Yaiyalah! Lo mandi apa renang? Udah satu jam, woy!" keluh Salsa cukup kesal dengan menatap jengah ke arah Lisa. Kemudian, Salsa kembali melanjutkan pengerjaannya.
Lisa yang mendengar penuturan Salsa langsung terkekeh garing. Menggaruk tengkuknya yang sedikit basah. Lantas memilih menyandarkan punggungnya ke dinding kasur dengan memainkan kukunya yang berlapis kutek bening.
Dan Salsa hanya diam saja. Ia memang sengaja mengerjakan tugas itu selagi Lisa mandi. Karena Salsa tahu, jika Lisa yang mengerjakan tugas itu, apalagi yang berhubungan dengan penggaris, Salsa yakin seyakin-yakinnya hasil akhir tidak akan lurus.
Lisa memang sangat tidak berbakat dalam bidang garis menggaris, lipat melipat dan hal yang berbau seni. Jika seharusnya garis itu lurus, maka tidak dengan Lisa. Hasil pengerjaan pasti ditemukan tanjakan, belokan, tikungan, salipan, geronjalan, dan tidak akan ada bagus-bagusnya dipandang mata. Alhasil, Salsa merelakan diri untuk mengerjakan tugas itu sendirian. Dan dirinya baru menyadari satu hal, kalau sudah tahu akan fakta itu, kenapa juga ia mau saja satu kelompok sama Lisa?
"Oh, iyaa!!!" pekik Salsa tiba-tiba histeris dengan menepuk keras jidatnya.
"Apaan sih, lo," Dahi Lisa berlipat-lipat kaget. Bahkan jantungnya sedikit berdetak lebih kencang akibat peikikan Salsa.
"Gue lupa, Lis! Jajanan gue ketinggalan di jok sepeda!" kata Salsa dengan menggebu-gebu.
"Terus?"
"Mulut gue pahit kalau gak nyemil. Lo kan gak pernah kasih wejangan ke tamu. Jadi gue terpaksa beli." Salsa melengos mengatakan itu. Sementara yang disindir tampak tidak peduli sama sekali.
“Bagus. Akhirnya lo sadar diri.”
Salsa mengembuskan napasnya kesal. Bagaimana mungkin dia bisa betah berteman dengan orang semacam Lisa yang memang terkenal super menyebalkan. Salsa meletakkan penggaris dan pensil ke atas kertas. Kemudian menegapkan untuk merenggangkan badan yang sedikit pegal-pegal.
"Mau kemana, lo?" tanya Lisa saat temannya itu berlalu melewatinya.
Salsa malas menjawab. Seharusnya Lisa tahu dirinya ini mau ke mana. Gadis itu terus maju untuk meraih kenop pintu. Saat pintu kayu itu terbuka lebar, sepasang mata Salsa seketika membulat sampai-sampai bola matanya menyembul keluar seakan siap menggelinding dari tempatnya. Salsa sangat merasakan irama jantungnya yang berdetak kencang sampai-sampai dia tidak sadar jika kini tengah menahan napas. Tubuh Salsa seperti diguyur satu ember air es hingga membuatnya beku dan tidak mampu berkutik dalam beberapa saat. Hingga saat kesadarannya mulai terasa, Salsa memutuskan untuk membanting pintu kamar Lisa kencang-kencang dan membiarkan pintu itu kembali tertutup rapat.
Lisa otomatis meloncat kaget dari tempatnya. Gadis itu melotot kesal karena ulah Salsa yang mampu membuat jantungnya seolah copot dua kali.
"Kenapa lagi?!" bentak Lisa dengan mengatur napasnya yang memburu cepat.
Lagi-lagi, Salsa menghiraukan amukan Lisa yang kini menatapnya berang dan membahayakan. Lebih memilih untuk memegang dadanya yang berdegup gila. serta bibirnya mulai senyam-senyum tak jelas di tempatnya.
“Kenapa? Habis lihat Mama lagi?”
Lisa yang masih setia memperhatikan perilaku Salsa hanya bisa menatap kesal temannya itu. Dia tidak habis pikir dengan perilaku Salsa yang selalu heboh di saat waktu yang tidak tepat. Walaupun sialnya dia harus mengakui perilaku Salsa itu juga ada miripnya dengan dirinya. Mungkin itulah yang membuat mereka bisa berteman sejauh ini. Karena kebanyakan orang sedikit takut untuk berteman dekat dengan Lisa maupun Salsa. Dua orang perempuan yang bisa membakar emosi dalam jiwa.
"Selamatkan iman gue! Melting gue, Lis." Kedua mata Salsa terbang jauh menatap langit-langit kamar. Bibir bawahnya pun terlihat digigit erat.
Kedua mata Lisa mulai memicing curiga. Dia sepertinya tahu penyebab apa yang membuat temannya itu seperti orang tidak waras.
“Lo habis lihat kakak gue, ya!” tebaknya pas sasaran. Sedangkan orang di hadapannya mengangguk lemas dengan bibir yang tersenyum lebar. Membuat Lisa kesal setengah mati hingga menahan tangannya yang mendadak gatal untuk memukul muka temannya itu.
“Lis ...,” seloroh Salsa.
“Apa?” balas orang yang dipanggil malas sekali.
"Boleh gak sih, gue satu malam sama kakak lo?"
Dalam sekejap, dua bola mata Lisa membulat sempurna. Bahkan bibirnya kini menganga lebar tak percaya Salsa bisa berpikiran seperti itu. "GILA, LO?!"
Teriakan Lisa yang teramat melengking itu membuat Salsa sedikit meringis. Dan hebatnya lagi, Salsa sama sekali tidak menyeruarakan protes seperti biasanya.
"Gila! Gue baru sadar kalau kakak lo ganteng banget!" ujar Salsa dengan mata yang berbinar terang. Seperti ada kilauan bintang memancar di dalam sana.
"Jelas dong! Kan gue cantik, masa kakak gue buluk?" kata Lisa penuh percaya diri sembari mengibaskan rambutnya yang sudah sedikit kering ke belakang. Sementara Salsa hanya mengangguk polos.
Lisa menghela napas berat. Menarik tangan temannya itu agar menjauh dari sana. Kemudian kembali pintu kamarnya, memastikan apa yang membuat gadis itu sampai histeris gila.
Kedua mata Lisa melotot melihat penampilan kakaknya yang tengah olahraga fisik di dalam kamarnya yang terbuka. Lisa menggertakkan seluruh gigi-giginya. Dia jelas menggeram marah melihat tingkah laku Rezha yang minta diperhatikan. Laki-laki itu pasti sengaja tidak menutup pintu kamarnya dan ingin mengespos dadaa bidang penuh keringat serta otot-otot di perut dan lengannya.
"Sudah mau pulang?" tanya Sonya dengan wajah berbinar mendekati Lisa dan Salsa yang yang baru saja menginjak anak tangga terakhir.
"Enggak, Tante. Mau ambil jajanan di jok motor," jawab Salsa dengan lugu.
Wajah Sonya seketika berubah kecut. Wanita itu memutar dua bola matanya dengan malas karena mendapatkan sebuah jawaban yang tidak sama dengan harapan di kepalanya.
"Loh, Kok belum pulang? Anak gadis perawan kayak kamu itu gak boleh pulang malam-malam. Apalagi sendirian bawa motor, sekarang udah jam setengah sembilan loh," lanjut Sonya dengan melihatkan jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Lisa kontan menepuk jidatnya dengan kasar. Ia tak habis pikir dengan mamanya yang seolah mengusir Salsa dengan halus. Sementara Salsa hanya memasang wajah polos. Inilah yang Lisa syukuri dari Salsa karena kapasitas otaknya hanya seperempat. Jadinya, dirinya ini sedikit tidak ada rasa bersalah karena kalimat pengusiran dari mamanya.
"Gapapa kok, Tan, saya sudah biasa pulang malam karena ekskul di sekolah," jawab Salsa dengan cengiran manis.
"Tapi anak perawan kayak kamu itu--,"
"Sal! Mendingan, lo ambil jajan, gih! Keburu banyak nyamuk.” Lisa dengan cepat memotong ucapan Sonya yang menggantung. Hal itu sontak membuat Sonya melotot tajam.
Salsa hanya mengangguk cepat dan melangkah menuju teras rumah. Setelah Salsa menghilang di balik pintu, Lisa membalas pelototan mamamnya tak kalah tajam.
"Mama apaan, sih! Ngusir Salsa?" tembak Lisa dengan volume suara sengaja dikecilkan agar tidak terdengar di telinga Salsa.
"Iya, kenapa? Masalah?" sahut Sonya ketus sembari menyilangkan tangan di bawah dadaa.
"Ma! Salsa baru pertama ini main di rumah, masa Mama main usir dia?" protes Lisa yang mati-matian mengontrol volume suaranya.
"Dengar ya, Lisa Maherendra yang cantik tapi masih kalah cantik dari Mama. Salsa itu anak orang! Gadis lagi. Kalau ada apa-apa sama dia gimana? Mama juga yang harus turun tangan. Anak gadis itu gak baik main malam-malam. Kalau nanti dia pulangnya tiba-tiba dijegat oleh begal atau dikepung sama preman gimana? Mama juga yang repot!"
"Astaga Mama! amit-amit ih. Pikiran Mama kejauhan. Masalahnya tugas ini harus diserahkan besok pagi."
"Lis! Bantuin napa!" keluh Salsa setengah berteriak dari teras rumah.
Lisa mengerucutkan bibirnya sebal saat Mamanya itu seolah siap menerkamnya sekarang juga.
"Iya, Sal!" Lisa pun dengan berat hati segera pergi dari hadapan Sonya.
"Dasar anak jaman sekarang! Omongan orang tua cuma jadi angin lalang." Sonya jelas menggerutu. Bagaimana pun dia masih seorang ibu yang mempunyai anak gadis. Dia jelas merasa cemas atas keselamatan Salsa. Bukan tidak ada alsan dia mengusirnya sedari awal.
Di teras rumah, Lisa dibuat melongo lebar dengan mata yang ia kerjapkan beberapa kali. Sangat tidak percaya akan barang bawaan Salsa.
"Nih, bantuin! Jangan cuma dilihatin!" protes Salsa yang mulai kesal.
"Eh, iya-iya," Lisa pun mengambil dua jinjingan kresek berukuran sedang dari tangan Salsa. Dan menyisakan dua jinjingan lainnya untuk Salsa bawa.
"Se-supermarket lo borong nih ceritanya?" Lisa dibuat takjub dan juga heran dalam sekali waktu. "Lo satu-satunya tamu yang berbakti sama tuan rumah!" imbuh Lisa saat sampai di dalam kamar dan meletakkan dua jinjingan itu ke atas karpet.
Salsa merotasikan kedua mata dengan malas sembari merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Ya lo tahu sendiri gue suka kalap kalau lihat makanan. Kalau gue tajir, udah gue beli tuh saham supermarket depan sekolah."
Lisa hanya berdeham kecil, tangannya kini menarik satu per satu kresek untuk ia tumpahkan ke atas karpet. Lisa memperhatikan semua jajanan ringan yang tersebar tidak keruan. Seperdetik berikutnya ia terpekik histeris saat menemukan makaroni pedas kesukaannya. Dengan gerakan kilat, Lisa langsung menyambar makanan itu. Mengangkatnya tinggi-tinggi dengan senyuman yang merekah.
"Gila, gila, gila ...!" pekik Lisa kelewat histeris dan hampir kesurupan. " lo tau aja, Sal! Udah dari seminggu lalu gue pingin ini!"
"LEBAY!" sungut Salsa malas dengan membuka bungkus ciki bewarna biru tua.
Lisa dengan cekatan melahap makaroni pedas itu tanpa memberikan penawaran kepada pemiliknya. Kini mereka berdua saling berdiam diri dengan mulut yang terus sibuk mengunyah. Salsa melanjutkan garis menggaris peta konsep. Sementara Lisa mulai bergerak tidak tenang karena efek pedas yang membakar lidah serta bibir tipisnya.
"Sal! Kipasin gue, kek!" pinta Lisa tidak tahu diri saat seluruh wajahnya kini basah karena keringat.
"Ogah! Lo pikir gue babu?" sahut Salsa dengan memasukan ciki berbentuk lingkaran kedalam mulutnya. Walaupun sebenarnya dia sekarang juga tengah di posisi itu.
"Lis, gue udah buat garis peta konsepnya. Lo nanti yang masuk-masukin paragrafnya!" Salsa memerintah tanpa menoleh.
Kepla Lisa mengangguk saja yang jelas tidak dilihat oleh Salsa. Gadis itu masih bersaha mengontrol napasnya akibat bibir serta hidung mungilnya telah berubah warna menjadi merah merona. Lisa segera membuka jajanan yang memiliki citra rasa asin. Lisa melahap ganas jajanan itu karena Salsa tidak membeli minuman. Lagi pula dia malas jika harus turun tangga menuju dapur.
"Lis inget! Besok sekolah, jangan kalap makan tuh makaroni, sakit perut baru tahu rasa, lo!" peringat Salsa melihat Lisa kembali memasukkan butiran makaroni ke dalam mulutnya, walupun bibir itu telah tampak sekali bergetar dan memerah.
Lisa mengedikkan bahunya acuh. Sementara Salsa langsung mendengus sebal. Kedua matanya kini melirik jam yang melingkar pada pergelangan tangannya. "Lis, udah jam setengah sepuluh, gue pulang ya!"
"Lo gak mau nginep aja, Sal?" ucap Lisa tiba-tiba sedikit takut akan perkataan mamanya tadi.
"Ogah! Nanti keperawanan gue ilang kalau tidur berdua sama, lo! Gue masih waras, Lis!"
Lisa memutar kedua bola matanya malas sekali. Menahan diri untuk tidak menjitak keras-keras kepala anak itu.
“Yaudah, buruan gih pulang. Entar melah kemaleman.”
“Seneng banget kayaknya gue pulang!” sindir Salsa memajukan bibir bawahnya. Tentu saja dihiraukan oleh Lisa. Kini mereka berdua telah sampai di teras rumah.
Lisa baik hati untuk menunggu temannya sampai benar-benar pergi dari hadaannya. Sebuah kekhawatiran langsung menyerang dirinya karena ucapan Mamanya terus terngiang-ngiang di dalam kepala. Terlebih jalanan kini terlihat sangat sepi.
“Kalau udah sampai, jangan lupa hubungi gue.” Itulah kalimat yang sempat dia utarakan pada Salsa sebelum temannya menancap gas dan menghilang.
“Semoga, ucapan mama gak bener,” gumam Lisa lantas kembali melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumahnya.