SINAR matahari kian merangkak naik memancarkan siluet yang sangat menyengat seolah membakar permukaan kulit, dan menusuk-nusuk pori-pori sampai ke tulang. Alhasil, sebagian murid banyak yang berhamburan menuju kantin untuk membasahi kerongkongan mereka yang mengering. Walaupun saat ini masih dalam jam-jam pelajaran berlangsung. Dan parahnya lagi, Lisa hari ini lagi-lagi terlambat datang ke sekolah. Semua murid yang terlambat kini dikumpulkan di tengah lapangan yang sangat panas.
Lisa berkali-kali tampak sibuk menyeka keringat yang mulai membanjir. Seragam putih abu-abu yang sudah disetrika dengan mulus kini terlihat kucel serta basah di mana-mana. Napas tak beraturan lolos dari mulut Lisa. Kini, cewek itu memilih berada di balik pohon besar untuk meneduh di sana, dan juga menghindari tatapan membunuh dari guru pengawas tak berhati nurani yang terus mengawasi seluruh siswa dengan ketat.
Lisa sedikit membungkuk dan memegangi kedua lututnya yang mulai terasa nyut-nyutan. Peluh keringat membuat bau parfum di dalam pakaiannya hilang sudah tergantikan oleh aroma kecut akibat peluh yang berlebihan.
"Ihh, resek banget tuh aki-aki!" rutuk Lisa dengan napas yang ngos-ngosan. Kepalanya terus melirik ke arah Pak Ramsis, guru berperawakan gendut dengan kumis tebalnya di atas bibir itu tengah menyesap jus jeruk dingin tepat bawah atap pos yang teduh.
Amarah Lisa mendadak memuncak hingga ke ubun-ubun. Ia tak habis pikir dengan gurunya itu yang dengan enaknya menyuruh anak orang memunguti sampah di bawah teriknya matahari. Sedangkan Pak Ramsis sendiri dengan tak berdosanya minum es jeruk di bawah atap.
Lisa menggertakan seluruh gigi-giginya untuk meluapkan kekesalan. Lisa kini mulai gila. Kedua tangannya ia angkat sejajar dengan wajahnya. Lalu dengan liarnya Lisa mencabik-cabik angin yang tak bersalah secara brutal diiringi mulut menggerutu kalimat tidak jelas.
Setelah beberapa menit menjalankan aktivitas gilanya itu. Lisa lantas menurunkan tangannya dengan lemas akibat rasa pegal yang menyerang kedua lengan hingga bahu. Napas berat lagi-lagi terhembus dari mulut gadis itu. Sinar matahari yang sangat terik berhasil menyusup menembus celah lebatnya daun pepohonan yang Lisa jadikan tempat berteduh kini terasa sia-sia.
Lisa semakin menurunkan kedua bahunya dengan lemas. Gadis itu tampak mengedarkan pandangannya menuju para siswa yang bernasib sama seperti dirinya. Mereka tak kalah lelah dengan apa yang dialami Lisa. Sebagian dari yang lain juga bersembunyi di balik pohon dan berpura-pura mencabut rumput liar yang berada di sana.
Tiga puluh menit kemudian, bel pelajaran pertama berdering nyaring. Hal itu membuat seluruh siswa yang telat datang ke sekolah langsung mengembuskan napas lega. Sebagin dari mereka memilih untuk segera beranjak menuju kelasnya masing-masing. Dan sebagian lain, langsung berhamburan menuju kantin maupun duduk di tepi halaman sekolah mengurangi rasa penat pada pagi ini.
Lisa tampak menyeka keringatnya sebelum ia beranjak dari balik pohon menuju kelas. Namun langkahnya terhenti begitu saja saat Lisa teringat akan suatu hal. "Sialan! Tas gue masih di pos satpam!” decak Lisa dengan menepuk jidatnya sendiri.
Dengan langkah malas, Lisa mulai menggerakkan kakinya menuju Pos. Mulut mungil gadis itu tak henti-hentinya membual kalimat-kalimat yang terdengar seperti kepakan sayap lebah.
"Ngapain ke sini lagi? Kangen?" kata Pak Ramsis, guru berkumis tebal, dalang kejahatan yang membuat rupa Lisa sudah berantakan dan basah oleh keringat pagi-pagi ini.
Lisa melirik sinis ke arah Pak Ramsis. Siapa juga guru di sekolah ini yang tidak mengenali dirinya dan Rezha? Semua tahu. Semua hapal kelakuan dua kakak beradik itu. Lisa segera mengalihkan perhatiannya menuju tas ransel miliknya yang tergeletak tak berdaya termakan sinar matahari.
"Saya masih waras, Pak!" jawab Lisa sedikit malas. Lisa dengan kasar menggendong tas ransel biru muda itu ke belakang punggungnya. Sedangkan Pak Ramsis hanya tertawa geli melihat kekesalan murid langganan hukuman itu. Dan entah mengapa, tatapannya terus tertuju pada punggung dan tas biru Lisa hingga anak itu benar-benar menghilang dari pandangannya.
*****
Lisa lagi-lagi menyeka keringat yang terjun deras dari pelipis hingga pipi. Napas panjang terlontar dari kedua lubang hidung saat mata Lisa menangkap pintu kelasnya yang telah tertutup rapat. Lisa dengan malas melangkahkan kakinya yang sudah tidak bertenaga menuju pintu. Namun sebelum itu, Lisa sempat menengok guru siapa yang mengajar hari ini lewat jendela kaca.
"Ck! Bu Ariska lagi!" Lisa memutar kedua bola matanya dengan malas serta bibir yang maju beberapa senti. Baik Lisa maupun Bu Ariska, keduanya memang seperti dendam kesumat di dasar hati.
Tok ... tok ... tok ....
Tiga ketukan itu berhasil membuat kelas terdiam. Mereka semua serempak menolehkan kepala menuju pintu.
"Masuk!" Sahut seseorang dari dalam sana.
Lisa dengan malas membuka kenop pintu berkarat itu dan melangkahkan kakinya dengan lemas.
Bau gosong akibat sengatan matahari langsung menyeruak ke seluruh kelas hingga membuat isi kelas sedikit bising. Lebih tepatnya merutuki kehadiran Lisa dengan menutupi hidung mereka kala mencium bau tak sedap.
"Habis ngapain kamu? Ini sekolah bukan pantai buat berjemur!" cerca Bu Ariska mewakili seluruh unek-unek muridnya.
Mulut Lisa sedikit terbuka. Dengan cepat Lisa mengangkat kedua tangannya untuk mencium bau badannya. Dan benar saja yang dikatakan Bu Ariska. Lisa bahkan mati-matian menahan mual akibat bau badannya sendiri. Lisa menatap Bu Ariska dengan cengiran. Detik berikutnya Lisa merubah mimik wajahnya seolah menjadi manusia paling menderita di dunia ini.
"Salahkan Pak Ramsis tuh, Bu. Pak Ramsis yang bikin Lisa bau apek kayak gini," ujar Lisa dengan wajah sok minta ditampar.
Bu Ariska menghela napas panjang. Sepasang mata wanita itu menatap Lisa dnegan sangat malas. "Sudah sana duduk!" perintah Bu Ariska tegas. Dia malas sekali jika harus berdebat dengan Lisa, gadis itu bahkan mungkin bisa mengacaukan moodnya yang sudah ia tata baik-baik pagi ini. Guru wanita itu kini beranjak untuk menulis beberapa rumus di white board.
"Yeah," kata Lisa tersenyum tipis. Syukurlah dia tidak dihukum berdiri di depan kelas seperti beberapa Minggu lalu. Lisa segera menempatkan di kursi duduk seraya membanting ransel birunya begitu saja ke atas meja.
Salsa yang duduk di sebelah Lisa langsung menggeser kursinya menjauh beberapa senti akibat bau Lisa yang masih menyegat. Lisa melirik ke arah Salsa berada dengan mulut manyun. Dia merasa tersinggung berat karena itu. Atensi Lisa kini terfokus pada orang di depan sana yang kembali membuka suara.
"Saya minta kalian tulis semua rumus ini di buku masing-masing," perintah Bu Ariska seraya kembali duduk pada kursinya.
"Difoto saja ya, Bu." celatuk Tembung, lelaki berbadan bongsor yang duduk di barisan paling belakang.
Bu Ariska menatap cowok itu dengan gemas. Namun dengan cepat Bu Ariska mengalihkan fokusnya menuju ponselnya yang bergetar. Beliau menimpali, "Suka-suka kalian dah. Pokoknya kalian paham."
"Yeayy!" Sorakan gemuruh menggema dari kelas itu karena mereka tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk menyalin rumus-rumus menyebalkan yang menguras otak. Dan yang terpenting lagi, tinta pena tidak akan berkurang.
Di sisi lain, Lisa tampak menunduk dengan sebelah tangan yang memegangi perutnya. Entah mengapa, tiba-tiba Lisa terserang mulas padahal tadi pagi Lisa sudah pup sebanyak empat kali.
Lisa meremas-remas sebelah tangannya yang memegang tas dengan erat. Keringat dingin muali menyelimuti telapak tangan. Suhu badan Lisa pun mendadak panas dingin. Wajah gadis itu kini pucat dan menahan sakit luar biasa. Lisa bahkan mengigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang seolah memutar-mutar isi perutnya tak keruan.
"Duh! Kenapa harus sekarang sih!" kesal Lisa dalam hati.
Kedua kaki Lisa mulai bergerak tidak tenang. Rasa mulas pada perutnya semakin tidak tertahan. Bahkan, Lisa sudah berkali-kali buang angin tapi rasa mulas itu tak kunjung reda. "Duh, gak kuat!" gumam Lisa lirih kemudian dia segera beranjak dari kursinya untuk meminta izin kepada Bu Ariska yang masih berkutat dengan ponsel di telinga.
"Bu, izin ke toilet udah gak kuat," ucap Lisa dengan cepat kemudian segera berlari meninggalkan kelas sebelum mendapatkan respons dari Bu Ariska.
Terdengar helaan berat dari mulut Bu Ariska. Namun akhirnya beliau membiarkan saja muridnya itu pergi.
*****
Lisa berjalan lemas menuju kelas. Perutnya semakin tidak bisa diajak kompromi. Sekarang masih pukul sembilan pagi, dan Lisa telah mengunjungi toilet sekolah sebanyak tiga kali. Sari-sari makanan yang berada di dalam tubuh telah terkuras habis menyisakan lemas tak bertulang yang membuat langkah gadis itu semakin loyo dan tidak bertenaga.
Lisa memasuki kelas dengan langkah sempoyongan. Lagi-lagi langkahnya tertahan saat rasa sakit kembali melilit perutnya. Gadis itu meringkuk kesakitan tepat di hadapan meja Bu Ariska. Tanpa permisi, Lisa berlari begitu saja menuju toilet dengan napas yang mulai terputus-putus di tenggorokan. Seluruh pasang mata yang berada di dalam kelas menatap Lisa dengan iba. Bahkan Bu Ariska menutup laptop yang berisi kuis ujian untuk hari ini sengaja beliau batalkan. Sepertinya, rasa kemanusiaan dalam hatinya masih ada. Guru itu juga tidak tega melihat raut pucat pasi Lisa yang benar-benar menderita.
Lisa berjalan seperti mayat hidup dari bilik toilet. Wajah gadis itu terlihat lesu dengan rambut yang berantakan. Sebelah tangannya kini mengelus-elus perut ratanya yang masih terasa sakit. Bibirnya kian pucat dan mengering. Lisa menghentikan langkahnya di depan indoor. Kepalanya mendongak untuk menatap sendu angkasa yang bewarna biru cerah.
"Apa gue kena karma, ya?" Bibir itu berkata lirih dengan menyorot nanar pada awan-awan putih yang berarak pelan.
Lisa mengembuskan napas panjang. Gadis itu mengalihkan pandangannya dengan kikuk, kemudian kembali melangkah menuju kelas. Bu Ariska tersentak saat melihat Lisa memasuki kelas dengan rambut serta pakaian yang berantakan. Ditambah dengan wajah teraniaya yang terpampang mengenaskan.
"Kalau kamu sakit kamu gak usah--,"
"Bu, saya mau mengakui kesalahan saya," celutuk Lisa begitu saja memotong ucapan gurunya.
Bu Ariska tampak mengernyitkan dahi bingung. “Maksudnya?”
Keheningan seketika melanda isi kelas itu. Beberapa detik kemudian, terdengar helaan napas berat dan panjang dari Lisa. Kepala gadis itu terangkat. Menatap lurus-lurus Bu Ariska yang duduk manis dengan menatap dirinya dengan datar. Lisa mencoba menenangkan jantungnya yang mulai berdetak tak keruan. Kedua tangan gadis itu terlihat meremas-remas rok seragam akibat keringat dingin membanjiri kedua telapak tangan.
"Bu, saya mau ngaku. Saya sudah gak kuat," cicit Lisa hampir menangis. Kedua lututnya seperti ditebas. Membuat tubuhnya nyaris tumbang dan kehilangan kesadaran. Bibir Lisa mencebik ke bawah. Sepasang matanya mulai berkaca-kaca.
"Sebenarnya, saya pura-pura sakit perut saat ulangan kemarin. Itu cuma alibi saya untuk cari jawaban di internet, Bu. Saya mengakui kalau saya menyalin jawaban dari sana." Lisa menjelaskan semua dengan gugup dan kini menundukkan kepala dalam-dalam. Lisa tidak tahan lagi akan rasa sakit di perutnya. Perse*tan dengan amukan atau hukuman dari gurunya itu. Lisa siap menerima semua konsekuensinya.
Kedua bola mata Bu Ariska membulat mengerikan. Bukan hanya Bu Ariska yang terkaget mendengar ucapan yang keluar dari bibir Lisa. Bahkan, seluruh teman kelasnya kini melongo kaget tidak percaya pada keberanian temannya itu mengakui di hadapan seorang guru yang terkenal killer di sekolah.
Bu Ariska lantas berdiri dengan mendobrak meja dengan kekuatan super membuat semua orang terpelonjak kaget. Tak terkecuali dengan Lisa. Guru wanita itu kini terlihat sangat marah dengan wajah yang memerah.
"LIS--"
"Bu! Kalau Ibu mau kasih saya nilai nol gapapa deh, saya ikhlas. Yang penting perut saya normal lagi. Lelah saya Bu, harus jongkok empat kali dua puluh lima menit," pinta Lisa dengan mencebikkan bibirnya. Karena, tenaganya benar-benar terkuras hari ini.
Bu Ariska semakin melotot ke arah Lisa. Dadanya terlihat naik turun dengan napas yang memburu. Bu Ariska mengepalkan kedua tangannya di udara, menahan untuk tidak menendang gadis di hadapnnya ke ujung samudera.
"LISA MAHERENDRA ...!!!" teriak Bu Ariska sangat lantang hingga terdengar hingga ke ruangan kelas sebelah.
"Keluar kamu Lisa!" bentak Bu Ariska dengan menunjuk pintu. "Lari tiga puluh kali di lapangan. SEKARANG!"
Lisa menatap gurunya dengan nanar. Berharap guru judes itu luluh dengan wajahnya. Namun harapan Lisa seketika sirna. Kedua mata Bu Ariska semakin melotot dengan tangan yang berkacak pinggang. Lisa menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Lisa semakin menunduk dengan tangan yang masih mengelus-elus perutnya.
"Saya sudah berusaha jujur, kok masih dikasih hukuman, Bu? Seharusnya Ibu bangga dengan saya. Mencari kejujuran zaman sekarang itu mahal loh," lirih Lisa sengaja menyindir gurunya itu.
Bu Ariska semakin terlihat berang. Wajah beliau berubah menjadi merah udang dengan gigi yang saling menggertak.
"LIMA PULUH PUTARAN SEKARANG!"
Lisa tersentak bukan main. Kedua matanya menatap Bu Ariska yang kini semakin brutal dengan napas naik turun dengan cepat. Tubuh Lisa sedikit bergetar takut. Bahkan Lisa melangkah mundur beberapa senti dari hadapan Bu Ariska.
Lisa meneguk ludah dengan kelu. Mulut gadis itu mulai bergetar. "Se ... sekarang ... Bu ...?" ucapnya dengan terbata-bata.
"Mau saya tambah lagi?!" gertak Bu Ariska dengan emosi yang membludak. Seolah lahar panas siap untuk meledak dari dalam kepala dan perutnya.
"Iy ... iya-iya, Bu," seru Lisa kemudian membalikkan badannya dengan cepat dan berlari dengan sisa-sisa kekuatannya menuju lapangan upacara.
Bu Ariska kembali duduk dengan mengatur napasnya yang bekerja cepat. Kedua tangannya kini memijat sisi pelipis yang terasa pening. Beliau tak habis pikir dengan kelakuan muridnya yang satu itu. Entah jelmaan apa yang mendiami diri Lisa sehingga membuat anak itu menyerap semua kesabarannya. Bu Ariska menghela napas berat dan berkata, "Paringi kulo kesabaran dinten niki, Gusti." Doanya pada sang Maha Kuasa agar diberi kesabaran dan keikhlasan mengabdi menjadi seorang pendidik di kelas ini.