Kebencian

1891 Kata
Lisa terus berlari ditemani teriknya matahari yang semakin merangkak naik. Lisa sangat berharap dirinya ini pingsan dan dibopong cowok ganteng ala bridal style, dan menunggui dirinya hingga tersadar. Kemudian, dirinya dibelikan minum dan juga roti seperti drama-drama film yang sering ia tonton. Namun keinginannya hanya angan belaka. Toh, Lisa seumur hidup belum pernah pingsan. Paling mentok anak itu jika kelelahan akan demam selama tiga hari. Lisa terus menyeka keringat yang meluncur deras. Gadis cantik dengan rambut yang tergerai dan berantakan itu terus berlari walaupun hanya langkah kecil. Beberapa menit kemudian, Lisa tampak menepi pada sebuah pohon rindang di sisi lapangan. Lisa memejamkan kedua matanya dengan kuat. Tiba-tiba pandangannya mendadak buram. Dengan sigap, Lisa memosisikan diri untuk jongkok dengan kepala menunduk. Merasakan sengatan matahari kian membakar kepalanya yang terasa berkunang-kunang. Perlahan, Lisa mengangkat kepalanya yang memberat, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya sekitar. Pandangannya kembali fokus dan jelas. Lisa segera berdiri dan beranjak untuk duduk bersimpuh di kaki pohon dengan meluruskan kedua kakinya di sana. Lisa tidak peduli lagi jika rok seragamnya yang pasti akan kotor. Sebelah tangan Lisa menggerakkan bagian kerah ke atas dan ke bawah untuk mendinginkan leher dan d**a yang terasa panas. Keringat Lisa kini bak samudera. Seragam yang telah kumel terlihat lebih kumel lagi dengan bercak coklat kekuningan di mana-mana. Terutama pada areal kerah dan ketiak. Memang benar adanya. Karma masih berlaku. Tuhan tidaklah tidur. Kini perut Lisa tak terasa sakit setelah Lisa menceritakan kebohongan atas ujian kemarin lusa yang mengalibikan sakit perut untuk alasan menyontek. Lisa sedikit lega karena itu. Sudah kapok. Lisa tak mau lagi berbohong demi apapun lagi. Kenyataannya, karma jauh lebih rasa-rasanya dia tadi mau mati saking lemasnya. Lisa mengedarkan pandangannya menuju lapangan. Kedua mata Lisa mendadak menyipit saat netra matanya menangkap segerombolan laki-laki sedang berjalan dengan menenteng bola basket sembari tertawa karena lelucon renyah. Seketika, kedua mata Lisa terbelalak. Jantungnya berpacu lebih kencang. Tubuh yang tadinya lemas seketika mendadak bertenaga. Mulut yang sedari tadi mengerucut, sekarang berubah bentuk menjadi setengah lingkaran. Lisa segera berdiri dari duduknya tanpa membersihkan tanah kering yang menempel pada bagian belakang rok seragam. Dengan langkah yang sedikit mengendap-endap, Lisa menyusul segerombolan kaum adam itu dengan senyam-senyum tidak jelas. Lisa menatap lekat-lekat pria yang berhasil membuat kedua pipinya terasa panas. Serta detakan jantung yang berdebar gila. Wajah tegas. Kulit mancung. Tinggi yang semampai. Kulit putih bersih dan mengkilap terkena bias matahari. Serta, alis tebal dengan manik mata hazel hitam legam, ditambah sederetan gigi putih dan rapi membuat sosok Arkan terlihat sangat sempurna di mata Lisa. Laki-laki itu adalah tipe pria kesukaannya. Lisa menggigiti kuku-kuku jemari tangannya saat Arkan dengan lihai mendribble bola basket untuk mencetak skor pada ring. Lisa sesekali meneguk ludah saat melihat keringat bercucuran dari wajah Arkan. Seandainya Lisa tidak punya gengsi, pasti saat ini Lisa sudah berlarian ke tengah lapangan dengan membawa tisu serta air minum seperti drama-drama novel yang sering ia baca. Lisa merasakan ketegangan saat Arkan mengangkat tangan di udara dengan kesepuluh jari kaki berjinjit, kemudian melambungkan bola jauh-jauh ke depan sana. Di sisi lain, Rezha, Dino, Dani, Gensa, Ardi dan Gagas atau terkenal dengan Geng Petir itu tengah berjalan bergerombol menuju kantin. Letak kantin yang berada di seberang lapangan basket itu membuat mata Gensa tanpa sengaja menangkap sosok Lisa di pinggir lapangan. Gensa mendadak menghentikan langkahnya, membuat yang lain ikut berhenti mendadak dengan dahi yang berkerut menatap Gensa dengan bingung. "Eh, Zha! Bukannya dia adek lo?" tanya Gensa dengan menunjuk ke arah Lisa berada. "Lo sama adek lo gak beda ternyata. Sama-sama gila," lanjutnya dengan berkacak pinggang dan mata yang masih melekat ke arah Lisa. Rezha beserta yang lain langsung menyipitkan mata ke arah tempat yang tadinya di tunjuk Gensa lebih intens. Dan benar saja ucapan Gensa. Gadis di seberang sana seperti orang yang tidak waras karena terus senyum gak jelas dengan sebagian jari yang masuk ke dalam mulutnya. "Eh, itu bukannya Lisa!" ujar Gagas dengan antusias tingat atas. Dijawab oleh Dino dengan memukul gemas kepala belakang Gagas. Memang, Gagas satu-satunya orang yang sedikit lemot di antara mereka. "Sakit, bang*ke!" ringis Gagas dengan mengusap bekas pukulas tangan Dino. Dino merasa acuh dengan ocehan Gagas yang terus menggerutu tak jelas. Pandangannya kini masih tertuju pada adik sahabatnya. "Ngapai dia coba Zha! Bukannya tadi kelas dia masih ada jam?" Sahut Ardi menatap Rezha dengan sedikit berkerut. "Jangan bilang dia suka sama Arkan, anak berandalan sekolah," timpal Dani dengan mengikuti arah pandang Lisa. Rezha tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Ada rasa tidak suka dari cara pandang Lisa saat ini. Ditambah dengan ocehan-ocehan teman-temannya membuat telinga serta hati Rezha semakin memanas. Tanpa pikir panjang, Rezha langsung melangkah mendekat ke arah adiknya. Amarah Rezha seketika memanas di dalam kepala. Dia sampai mengabaikan sahutan teman-temannya yang memanggil namanya. Rezha melangkahkan kaki lebar-lebar. Menarik tangan Lisa dengan sangat kasar, membuat gadis itu jelas terperanjat kaget dan sedikit meringis sakit memegang tangan kirinya yang dicengkeram erat oleh tangan Rheza. "Ikut gue!" bentak Rezha dan langsung sedikit menggeret tangan adiknya. Dahi Lisa mengernyit bingung. "Apaan sih lo! Lepasin tangan gue!" gertak Lisa dengan suara tinggi dan memberontak agar tangannya terbebas. Rezha semakin menguatkan cengkeraman tangannya. Dia tak memperdulikan adiknya yang semakin kesakitan. Yang terpenting di dalam pikirannya kini, Lisa harus segera meninggalkan lapangan bersama dirinya. "Gue bilang ikut gue!" kata Rezha semakin berbahaya. Tatapan matanya tajam menusuk dan mengerikan. Lisa bahkan lupa kapan terkahir dia mendapat tatapan seperti itu dari diri Rezha. Yang ia tahu sekarang Rezha benar-benar terlihat marah. "Gue gak mau! Lo siapa nyuruh-nyuruh gue!" isak Lisa dengan air mata yang tiba-tiba mengalir di pipinya. "LEPASIN!" Suara Lisa yang benar-benar meninggi membuat semua orang terutama gerombolan Arkan mengarahkan pandang ke arah dirinya. Bahkan, mereka sampai menghentikan permainan basketnya karena cukup tertarik tentang perseteruan dua kakak beradik itu. Segerombolan Geng Petir langsung berlarian ke arah Rezha saat Arkan dan kawan-kawan hendak mendekat. "Woy! Jangan main kasar sama perempuan!" seru Arkan memperingatkan. Kedua kakinya bahkan berjinjit karena terhalangi oleh teman-teman Rezha yang menghadang langkahnya. Rezha memejamkan kedua mata dengan kuat. Merasakan lahar api menjalar di seluruh tubuhnya. Kepala cowok itu kini terarah tajam menuju sosok Arkan dengan wajah panas. "Jangan ikut campur! BERENG*SEK!" Bentakan itu membuat sudut bibir kiri Arkan terangkat naik. Sementara Rezha kini beranjak dari sana dengan terus menggeret tangan adiknya. Lisa yang mendengar bentakan kasar keluar dari mulut Rezha mendadak bungkam. Gadis itu kini terisak pilu. Ada rasa takut yang menyerang hatinya. Di sisi lain, teman-teman Arkan yang mendapat hinaan seperti tadi langsung terpancing emosi dan nyaris melempar bola basket ke arah Rezha. Namun tertahan oleh Dani yang mendorong kasar tubuh mereka. Di sepanjang koridor sekolah, Rezhaa dan Lisa terus menjadi pusat perhatian semua orang. Bisikan-bisikan halus semakin terdengar membicarakan Rezha yang terlihat kasar. Dan merasa iba menatap Lisa yang jadi korbannya. Rezha tidak peduli. Bahkan isakan sakit adiknya seolah tidak terdengar di telinganya. Rezha melepaskan cengkeraman tangannya saat sampai di belakang sekolah. Wajah laki-laki terlihat tegas dengan sorotan mata yang membentang marah. Bahkan, kulit wajah Rezha kini memerah di tengah otot-otot leher yang menyembul keluar. Sementara itu Lisa langsung memegangi lengannya yang terasa perih dan kebas. Air matanya mengalir begitu deras. Lisa tak pernah melihat Rezha semarah tadi. Dengan seribu keberanian, Lisa mendongak menatap kakaknya penuh amarah. Menampakkan wajahnya yang sangat buruk dengan sepasang mata sembab dan hidung yang memerah. "Lo mau apa sih, HAH!" bentak Lisa di sela isakan tangisnya. Karena sejujurnya, bekas cengkeraman tangan Rezha sangat menyakitkan. "Gue gak suka lo sama Arkan. Apalagi sampai lo dekat sama dia," kata Rheza langsung ke intinya. Sepasang mata Lisa mengerjap dan membuat butiran air matanya jatuh dengan bebas. Kepalanya kini seperti ditindih batu besar. Napasnya seolah tercekat di tenggorokan. Kepalanya sedikit bertanya-tanya bagaimana Kakaknya itu bisa tahu jika dia memang tengah mengagumi Arkan. Kakak kelasnya. "Kenapa?! Gue suka sama dia! Lo gak berhak ya larang-larang gue untuk dekat sama siapapun!" cerca Lisa dengan sedikit mendorong tubuh Rezha dengan sisa-sisa tenaganya, berharap cowok itu segera pergi dari hadapannya. "Jangan buat gue marah," sahut Rezha penuh penekanan. Netra matanya menatap lekat wajah Lisa yang penuh dengan air mata. “Dia gak baik buat lo.” Lisa mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Otaknya kini tidak bisa berpikir jernih selain mengumpat di dalam hati. Tangan Lisa tergerak untuk mengusap cairan bening di pipinya dengan kasar. Kepalanya kini semakin mendongak menantang, lantas kembali membentak dengan suaranya yang serak. "Sejak kapan lo peduli sama gue! Siapa lo yang gampangnya nilai orang baik atau buruk?! Lo bukan Tuhan yang tahu segalanya. Lo gak berhak!" Rheza memilih diam dan mendengarkan semua kekesalan adiknya. Mengepalkan kedua tangan dengan rahang yang kian mengeras. Menahan diri dengan menumbukkan sisi-sisi gerahamnya. "Gue suka sama dia! Di mata gue dia sempurna. Lo yang lebih bereng*sek dari dia!" kata Lisa dengan jejeritan yang keluar dari tenggorokannya. Lisa terdiam dengan tangisan yang sudah tidak bisa dikontrol. Kedua bahu gadis itu gemetar hebat dan membuat Rezha seakan tertampar. Baru kali ini dalam hidupnya, Rezha melihat Lisa menangis sekacau ini. Hanya gara-gara Arkan. "Lisa. Dengerin gue. Gue udah kasih lo peringatan. Dia gak baik buat lo. Jangan keras kepala." Rezha benar-benar berkata serius. Membuat Lisa sedikit melangkah mundur menjauh dari hadapan laki-laki itu. "Kenapa sih lo sok peduli sama gue?" Lisa menghapus air matanya dengan kasar. Salah satu ujung bibir gadis itu tersenyum picik. "Di mata gue, lo itu gak lebih dari benalu! Dan lo, sama sekali gak berhak tentuin apa itu kebahagian gue! Gue gak akan terima. Karena di hidup gue, lo itu bukan siapa-siapa. selain BENALU!" Rezha menatap Lisa dengan tidak percaya. Sekujur tubuh Rezha mendadak gemetar. Ada sorotan nanar pada netra anak itu yang seketika redup. Merasakan kedua lututnya yang seolah ditebas dengan tubuh lemas tak bertulang mendengar itu semua. "Lo lebih belain orang asing daripada kakak lo sendiri, Lis?" Suara serak dan sedikit bergetar keluar dari mulut Rezha. Lisa diam seketika. Ada rasa sedih yang menyergap hatinya. Namun, perlakuan Rezha beberapa menit yang lalu, berhasil menguatkan Lisa kembali untuk balas menatap kakaknya dengan emosi yang semakin memanas. "Sejak kapan lo ngaku jadi kakak gue?" Lisa tersenyum miris. "Gue udah bilang. Jangan campuri hidup gue! Gue suka sama dia, dan lo bukan siapa-siapa gue. Lo cuma cowok bereng*sek yang suka main kasar sama perempuan. Lo gak punya hati!" "LISAA ...!!" Rezha tanpa sadar menggantungkan sebelah tangannya di udara, nyaris saja menampar Lisa. Kedua mata Lisa terbelalak kaget. Kedua kakinya kembali melangkah mundur dengan tubuh yang gemetar hebat. Lisa mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat. Membuat otot-otot di tangannya sampai menyembul keluar. Bahkan kuku-kuku jemarinya memutih hingga kulit di telapak tangannya sobek terkena ujung kukunya sendiri. Dengan seribu keberanian, Lisa kembali mendongak, menatap tajam wajah Rezha dengan gelinang air mata yang mengalir kian deras. Dengan nada sedikit serak dan membentak gadis itu menjerit perih, "Egois! Gue benci sama lo! GUE BENCI!" Lisa mendorong kuat-kuat tubuh Rezha sampai laki-laki itu mundur beberapa langkah. Lisa langsung membalikkan tubuhnya dan berlari sekencang mungkin meninggalkan halaman sekolah. Meninggalkan laki-laki itu yang terdiam sendirian di sana. Rezha terpaku di tempatnya. Kedua matanya menatap nanar telapak tangannya sendiri yang terasa dingin. Dia sendiri pun kaget atas reaksinya yang hampir menampar adiknya sendiri. Rezha menjatuhkan lututnya begitu saja di atas rerumputan yang basah. Bahunya mulia bergetar. Isi kepalanya begitu kacau hingga ia menjambak rambutnya sendiri dengan berteriak frustrasi. Merasakan sesak luar biasa yang menikam dadanya. Cairan bening yang sedari tadi mengganggu pengelihatan, kini mengalir membasahi kedua pipinya. Bibir kering itu bergetar kecil dan menggumam lirih, "Maafin gue Lis ...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN