Hari ke – 15. Aku pulang ke rumah hari itu sambil membawa keputusan besar. Tekad kuat telah kuambil. Setelah bicara dengan Pak Dodo, dan mengatur rencana dengan Chana, aku bersiap melancarkan aksi, dan hingga kini masih menjalankan peran-peran itu dengan baik. Pertama-tama, aku bersikap tak peduli dan sewajarnya hidup masing-masing kepada Al. Kedua, aku harus membeli cemilan soreku sendiri tanpa mengharap Al membawakannya, setiap hari selepas pulang kerja. Ketiga, aku perlu bersikap seperti Qiya yang tidak mencintainya dan memakai kembali daster burukku tanpa minat menggodanya. Satu hari, dua hari, tiga hari. Tak ada reaksi perubahan dari Al. Dia masih tetap membawa cemilan untukku. Pun sore ini, pukul lima sore Al juga pulang membawa bungkusan. "Aku bawain pempek telor," ujarnya meleta

