Aku bukan sekedar menemani, tapi kali ini benar-benar ikut makan siang bersama, satu meja dengan Pak Dodo. Benar yang beliau pernah katakan, tidak mungkin itu bisa jadi kenyataan. Tak kusangka ada hari seperti ini dalam hiduku, hari akrab bersama Pak Dodo. Sedikit lagi selesai piringku, tiba-tiba ponselku berdering. Ibu Al memanggil. Aku hampir lupa janji menghubungi beliau. Lekas kuambil ponsel dan bangkit. "Pak, saya balik kerja dulu,” pamitku tergesa-gesa. "Iya, Bu." Senyuman dan lambaian tangan Pak Dodo menyertai kepergianku. “Sampai bertemu, Cinta.” Masih ada rasa-rasa risi, tapi pembicaraan kami telah selesai dan keputusanku pun sudah final. Sekali tercebur, basah semua. Sudahlah, jika Al benar-benar ingin pisah, silakan. Aku menjauh sambil menjawab panggilan dari mertua. "Assal

