Takdir unik dan tak biasa. Begitu El berkata tadi, baru saja. Anehnya El benar. Baik dengannya maupun dengan laki-laki yang lantas disebut baji-ngan di depanku ini. Bisa-bisanya dia berbuat begini kepadaku. Alfarisi sama sekali tak pantas dicintai. “Bisa tinggalkan kami berdua? Plis,” pinta Al kepada adik El. Adik El mengangguk. Dia menyerahkan kantong kepadaku. “Ini Mbak. Tak disangka Bapak lebih tampan dari yang saya pikirkan,” tuturnya senang. “Hm.” Balas Al mengangguk sambil menggumam saja. “Memang lebih tampan, apalagi daripada Kakakmu.” Perempuan itu berlalu dengan senyuman. Setelah adik perempuan El masuk lift, Al merebut kantong yang diberikan adik El dariku lalu melihat isinya. “Apa ini? Hadiah dari calon mertua?” “Begitulah,” balasku tenang. Dalam d**a gemuruh kesal membara

