Tanda Merah di Leher Laura

756 Kata
Bab 6: Laura menggigit bibirnya, menahan gemuruh di dadanya yang hampir meledak. Ia mundur selangkah, mencoba menjaga jarak dari tatapan dingin Smith. Tapi Smith tetap tak peduli. Langkahnya begitu percaya diri, mengelilingi Laura seolah ia adalah raja di wilayah kekuasaannya sendiri. Laura merasa kecil dan tak berdaya, seakan dinding-dinding kantor ini menjadi penjara tanpa pintu keluar. Suaranya terdengar begitu pelan ketika akhirnya ia berani berbicara, “Aku … aku tidak akan pernah menikmati posisi ini.” Nadanya getir, namun tegas. “Jangan berharap aku akan tunduk padamu.” Smith mengangkat bahu, tetap dengan tatapan arogan. “Itu terserah padamu, Laura. Tapi jangan lupa bahwa posisi ini memberiku kekuasaan penuh. Dan di dunia ini, kekuasaanlah yang menentukan permainan. Bukankah begitu?” Laura mengerang dalam hati. Dunia memang tak adil, dan di saat inilah ia benar-benar merasakannya. Ia berdiri di depan pria yang merasa bisa mendapatkan segalanya hanya karena kekuasaan yang ia miliki. ‘Mengapa aku harus menghadapi ini? Mengapa aku harus tunduk pada pria yang tak punya rasa hormat seperti dia?’ pikirnya. Laura berjalan dengan langkah lemah menuju lift, meninggalkan ruang kerja Smith dengan perasaan yang hancur. Ia terjebak di antara kebutuhannya akan pekerjaan dan kebenciannya pada Smith. Kepalanya terasa berat, seperti membawa beban yang tak terlihat. Di perjalanan pulang, Laura mencoba menguatkan dirinya, mengingatkan bahwa ini hanyalah pekerjaan, namun kenangan akan malam sebelumnya terus menghantui pikirannya. Semuanya terasa begitu salah, dan ia hanya bisa berharap bahwa keesokan hari takkan seburuk hari ini. Tapi, jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa dengan Smith sebagai presiden direktur, hari-harinya di hotel ini takkan pernah sama lagi. “Laura?” panggil Miranda, suaranya rendah tapi cukup untuk membuyarkan lamunan Laura. Laura terkejut mendengar suara itu, kepalanya terangkat, dan tatapan sayu di matanya menatap langsung pada sosok wanita paruh baya di depannya. Rasa kaget tak dapat ia sembunyikan, lalu bergegas ia berkata, “Ibu? Apa yang kau lakukan di sini?” Miranda memutar bola matanya, lalu menatap Laura dengan pandangan menyelidik. “Aku tahu kemarin kau baru saja gajian, dan kau belum mengirimkan uang padaku,” katanya tanpa basa-basi, nadanya penuh tuntutan. Laura menelan ludahnya, hatinya berdesir. ‘Ibu selalu begitu, selalu ada urusan dengan uang gaji pertamaku.’ Dalam hening yang tak mengenakkan, ia menjawab lirih, “Maaf, Bu. Aku lupa. Aku akan segera mengirimnya padamu.” Laura mengeluarkan ponselnya dari tas, berniat segera melakukan transfer untuk memenuhi permintaan ibunya. Namun, perhatian Miranda tidak tertuju pada layar ponsel Laura. Matanya tertambat pada wajah putrinya, yang tampak kuyu dan tak bersemangat. Raut Laura menyiratkan kepedihan yang tak berusaha ia sembunyikan, membuat Miranda melangkah lebih dekat, rasa khawatir terlukis di wajahnya. “Laura,” ujar Miranda, suaranya bergetar ringan. “Jangan bilang kau dipecat dari pekerjaanmu?” tanyanya, takut kalau jawaban yang akan ia dengar mengonfirmasi ketakutannya. Laura mendesah panjang, helaan napasnya terdengar berat, lalu ia menggelengkan kepala pelan. “Tidak, Bu. Kau tak perlu khawatir,” jawabnya dengan suara tertekan, kemudian melanjutkan, “Justru aku mendapat tawaran sebagai sekretaris pribadi putra pemilik hotel itu…” Ekspresi Miranda berubah seketika, matanya melebar dengan ekspresi kegembiraan yang penuh semangat, seolah tak mendengar nada getir dalam suara Laura. “Apa? Oh, my God! Kau benar-benar anak yang hebat, Laura,” serunya, senyum lebarnya tampak di wajahnya yang sumringah. “Kalau begitu, mulai bulan depan, kau harus menambahkan uang bulananmu!” tambahnya, tak dapat menyembunyikan antusiasmenya. Laura mengangguk lemah. Sambil menundukkan pandangannya, ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Senyum Miranda yang lebar semakin terasa seperti beban yang menghimpit dadanya. Kata-kata pujian yang diucapkan ibunya tidak memberi kekuatan padanya, melainkan semakin menyurutkan semangat yang berusaha ia pertahankan sejak awal hari. Dengan suara pelan, hampir tidak terdengar, Laura berkata, “Aku lelah, Ibu. Aku ingin istirahat. Jika sudah tidak ada lagi yang kau inginkan, pulanglah.” Mendengar ucapan itu, Miranda menyunggingkan bibirnya, menunjukkan ekspresi sebal karena merasa baru saja diusir oleh putri sulungnya. Hanya beberapa menit berada di sini, tetapi rasa bahagia yang sempat menghampirinya karena kenaikan gaji Laura, kini sedikit ternoda oleh ketidakpedulian anaknya itu. Namun, Miranda enggan menyerah. Ketika Laura hendak berbalik menuju kamarnya, Miranda menangkap tangannya, mencegahnya pergi. “Tunggu, Laura,” panggilnya, nada suaranya terdengar lebih lembut kali ini. Laura menoleh, menatap ibunya dengan tatapan lelah, separuh berharap ibunya akan segera melepaskan tangannya. Tetapi tatapan Miranda malah bergeser, memperhatikan sesuatu yang baru disadarinya. Tanda merah samar terlihat di leher Laura, sebuah noda yang meski kecil, cukup membuat Miranda mengernyitkan alisnya. “Kenapa ada tanda merah di lehermu?” tanyanya, matanya melebar seolah menduga yang tidak-tidak. “Apa yang kau lakukan semalam, Laura?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN