Bab 7:
Laura sejenak terdiam, wajahnya sedikit memucat. Tangan otomatis terangkat, menyentuh lehernya di tempat tanda merah itu berada.
Perasaan malu, takut, dan jengah bercampur menjadi satu, dan tatapan ibunya yang penuh kecurigaan itu bagaikan menambah luka di hati Laura.
Ia ingin berbohong, ingin mengatakan bahwa itu hanya gigitan nyamuk atau sesuatu yang tidak berarti, namun suara ibunya yang penuh tuduhan membuat pikirannya mendidih.
Miranda menatapnya lebih tajam, mata ibunya kini lebih mengintimidasi dari sebelumnya. “Laura, aku mengharapkan kau tidak melakukan sesuatu yang bodoh. Apa kau mendengar nasihatku selama ini? Jangan sampai kau terjebak dalam pergaulan bebas atau laki-laki tak bermoral. Apa kau paham?”
Laura terdiam, kata-kata ibunya menghantamnya tanpa ampun. Tetapi ada api kecil yang menyala di matanya, semburat ketegangan terlihat dari cara ia menggigit bibirnya.
Ia mencoba bersikap tenang, meski perasaan sakit dan marah bercampur dalam dadanya. Tanpa sadar, ia menjawab dengan nada penuh kepahitan, “Jangan khawatir, Bu. Aku tahu apa yang aku lakukan.”
Namun, Miranda tidak puas dengan jawaban itu. Ia mendekatkan wajahnya pada Laura, seakan menelusuri setiap gurat ekspresi di wajah putrinya. “Laura,” ia memperingatkan, suaranya menajam, “Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan?”
Laura menghela napas panjang, menutup mata untuk beberapa saat, mencoba menahan dorongan emosi yang ingin meluap. “Ibu, aku benar-benar lelah,” ucapnya, nadanya datar. “Ini semua hanya salah paham. Aku tidak melakukan apa yang Ibu pikirkan.”
Miranda menghela napas, seolah mendengar separuh dari jawaban itu masih menyisakan keraguan. Tetapi, tanpa kata-kata, ia akhirnya melepaskan tangan Laura dan mundur sedikit.
“Baiklah,” gumamnya, meskipun suaranya masih menyimpan sedikit kecurigaan. “Tapi ingat, Laura, kau harus menjaga reputasimu dan keluargamu. Kau mengerti, kan?”
Laura mengangguk pelan, tetapi tidak menjawab. Hatinya tercekat, ia merasa kosong dan lelah, seakan seluruh semangat dalam dirinya telah terkuras oleh pembicaraan ini.
“Kecuali kau sudah memiliki kekasih dan orang itu adalah pria kaya raya. Aku tidak akan melarangmu,” ucapnya sembari melirik Laura dengan tangan melipat di dadanya.
Laura tak merespon lebih lanjut ucapnya ibunya, ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam kamar kosnya. Menutup pintu dengan lembut, namun kepedihan yang memenuhi hatinya bagaikan badai yang mengguncang di dalam keheningan.
Laura dengan cepat melihat tanda tersebut di kaca. “Astaga. Pria gila itu benar-benar membuatku marah. Kenapa dia meninggalkan jejaknya di sini?”
Laura memijat keningnya kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Ke mana aku harus mencari pekerjaan baru? Aku ingin menghindar saja dari pria itu,” gumamnya lalu menutup matanya. Rasa lelah dan mata yang mengantuk membawa Laura ke alam mimpi.
**
Pagi itu mentari belum sepenuhnya meninggi ketika Laura duduk di kursi halte, tubuhnya terasa berat seolah semua energi dalam dirinya telah terserap habis sebelum hari dimulai.
Ia menghela napas, menggigiti bibirnya sambil mengamati sekitar dengan tatapan kosong. Hari ini adalah hari pertama ia bekerja sebagai sekretaris pribadi Smith, posisi yang dipaksakan padanya tanpa ada ruang untuk menolak.
Di antara langkah kaki orang-orang yang hilir mudik, Laura merapatkan jaketnya, mencoba menenangkan pikiran yang terus saja berputar.
“Hhh! Sebenarnya malas sekali bertemu dengannya,” keluhnya pada dirinya sendiri. Ia menyentakkan kakinya, seperti mencoba membuang semua emosi negatif yang sejak tadi menghimpit dadanya.
Namun, saat ia mengalihkan pandangannya ke jalan, sebuah mobil sport mewah berwarna merah berhenti tepat di depannya. Pemandangan yang langsung membuat darahnya naik.
Jendela mobil itu perlahan turun, memperlihatkan sosok yang tak ingin ia lihat di pagi yang seharusnya ia jalani dengan damai.
“Masuklah. Jangan sampai telat di hari pertamamu,” ucap Smith dengan nada yang sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah.
Laura memutar wajah, mata membola penuh keterkejutan dan ketidaksenangan. Sungguh, ini adalah skenario terburuk yang bisa ia bayangkan untuk hari ini.
“Apa yang kau lakukan di sini? Pergilah. Aku bisa berangkat sendiri.”
Nada suara Laura dingin, penuh penolakan yang tak disembunyikan. Sejenak ia berharap Smith merasa malu dan pergi, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Pria itu hanya tersenyum miring, memperlihatkan sikap tak peduli yang semakin membuat Laura geram.
“Kau tahu kan, sekarang sudah pukul berapa?” kata Smith, matanya melirik jam di dashboard mobil. “Ingat, Laura. Kau bukan seorang staf biasa lagi. Sekarang kau sekretaris pribadiku.”
Laura mendengus, melirik Smith dengan pandangan yang tajam. Kata-kata pria itu hanya menambah keengganan di hatinya. Ia memutar bola matanya dan berkata dengan nada menyindir, “Tidak perlu kau beritahu.”
Smith hanya terkekeh kecil, nada suaranya rendah namun cukup untuk membuat Laura merinding.
“Kalau begitu, cepat naik,” ia mendesak. “Aku tidak akan menyentuhmu di dalam mobilku.”
Kata-kata Smith menggores hati Laura seperti sembilu. Tersirat sindiran yang membangkitkan ingatan akan peristiwa malam itu.
Semua ini benar-benar terasa seperti permainan yang kejam. Laura mengepalkan tangannya, berusaha menahan luapan amarah yang hampir meluap.
“Terima kasih atas bantuannya, Tuan Smith yang terhormat,” ujarnya tajam, setiap kata bagaikan pukulan. “Tapi, saya tidak tertarik masuk ke dalam mobil mewah ini, apalagi duduk dengan pria tak punya malu seperti Anda!”
Laura tak ingin memberi Smith kesempatan membalas. Ia berdiri, beranjak dari kursinya, dan tepat pada saat itu, sebuah bus berhenti di depan halte.
Ia segera melangkah masuk, tak menoleh sedikit pun ke arah Smith yang masih terpaku di dalam mobilnya.
Smith yang terpaksa menahan amarah, mencengkeram kemudi dengan kuat. Giginya bergemeletuk, dan pandangan matanya tak pernah lepas dari sosok Laura yang berjalan dengan kepala tegak menuju bus.
“Sial! Wanita itu benar-benar keras,” desisnya dengan penuh kekesalan. Smith menatap bus yang membawa Laura, matanya penuh kemarahan yang terpendam. Namun, senyumnya perlahan terukir, sebuah senyum licik yang menyiratkan niat di balik setiap rencananya. “Lihat saja, Laura. Siapa yang akan kalah dalam permainan ini.”