Permainan Segera Dimulai!

1365 Kata
Smith sudah datang lebih dulu, berdiri dengan postur yang sempurna di hadapan jendela besar ruang kerjanya. Pemandangan kota terhampar seperti kanvas yang melukiskan hiruk-pikuk ambisi manusia, dan mata Smith memandanginya dengan tajam, seolah ia mampu menaklukkan setiap detailnya hanya dengan pikiran. Udara di ruang itu terasa tegang, berat oleh keangkuhan yang terpancar dari pria itu. “Berani-beraninya dia menolak tumpanganku,” gumam Smith, suaranya seperti belati yang menorehkan luka pada diamnya ruangan. Senyum licik merekah di bibirnya, menciptakan bayangan gelap di wajahnya yang tampak seperti diukir dari batu keras. “Bahkan sampai sekarang pun dia belum tiba. Sepertinya mengerjaimu akan menjadi rutinitasku mulai hari ini.” Tangannya yang elegan menyusuri dagunya dengan gerakan lembut, seperti seorang maestro yang merencanakan simfoni penuh intrik. Sementara itu, di luar sana, Laura tiba di kantor dengan napas yang terengah-engah. Udara pagi terasa menyesakkan, seperti beban tambahan yang ditumpangkan di pundaknya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya saat ia melirik ke arah ruang kerja Smith. Di balik kaca itu, ia tahu pria yang penuh tipu muslihat itu telah bersiap dengan segala cara untuk menjatuhkannya. Ia menutup matanya sejenak, mencoba mengumpulkan keberanian dari kedalaman hatinya yang mulai terguncang. “Dia pasti akan mencari seribu jurus untuk menyalahkanku dan menyudutkanku,” bisiknya, suara kecil yang terasa seperti sebuah doa untuk ketabahan. Menghela napas panjang, Laura merapikan agendanya dengan gerakan kaku. Ia tahu setiap langkah yang ia ambil menuju ruang itu akan terasa seperti memasuki arena perang—dengan Smith sebagai musuh yang tak kenal ampun. Tangannya gemetar ringan saat ia mengetuk pintu, seolah ketukan itu menjadi lonceng yang menandai dimulainya babak baru dalam pertempuran mereka. Tok tok tok! Ketukan itu terdengar seperti palu kecil yang memukul pintu, membawa ketegangan masuk ke dalam ruang kerja Smith yang mewah. Laura melangkah masuk, derap langkahnya nyaris tak bersuara di atas karpet tebal yang seolah menyerap setiap rasa percaya diri yang tersisa. Smith masih berdiri mematung di depan jendela, sosoknya seperti siluet gelap yang mendominasi ruangan. Pemandangan kota di balik kaca besar itu membingkai tubuhnya, membuatnya tampak seperti dewa yang tengah merenungkan nasib dunia fana. “Selamat pagi, Tuan. Saya ingin menanyakan agenda Anda selama satu minggu ke depan,” kata Laura dengan suara lembutnya, meski di dalam hatinya ia ingin berteriak, ingin melepaskan seluruh frustrasi yang sudah mengendap sekian lama. Smith tak segera merespons. Sejenak ia hanya diam, seolah menikmati rasa canggung yang memenuhi ruangan seperti kabut tebal. Akhirnya, ia membuka mulut, suaranya dingin seperti ujung pisau yang baru diasah. “Kau tahu, konsekuensinya karena terlambat datang, Laura? Di hari kerja saja sudah melakukan kesalahan!” Laura menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering, seperti jalan setapak di padang pasir. “Maafkan saya, Tuan,” ucapnya dengan nada yang hampir tak terdengar. Smith berbalik dengan gerakan yang terukur, hampir teatrikal, tangannya bersilang di dadanya seperti seorang hakim yang hendak menjatuhkan vonis. Matanya yang dingin seperti bongkahan es menatap Laura yang berdiri kaku, menunduk dengan tatapan kosong. “Keterlambatanmu kali ini akan kuberi toleransi. Tapi, jangan salahkan aku jika suatu saat nanti kau terlambat lagi, dan itu menjadi kesalahan terakhirmu di sini,” katanya, suaranya seperti guntur di tengah malam yang sunyi. Laura mengangkat kepalanya dengan perlahan, seperti seseorang yang mencoba menantang badai. Matanya bertemu dengan tatapan Smith, dan meski jantungnya berdetak seperti genderang perang, ia berhasil menjaga suaranya tetap tenang. “Saya berjanji, ini yang terakhir kalinya.” Smith menaikkan satu alisnya, ekspresi di wajahnya penuh dengan sindiran. “Baiklah, baiklah. Kau memang selalu tahu cara membuat segalanya tampak seperti sandiwara.” Tanpa basa-basi, ia duduk di kursinya dengan anggun, seperti raja yang turun takhta hanya untuk mengatur jadwal istananya. Ia mulai menyebutkan agendanya selama satu minggu ke depan, suaranya bergema dengan nada otoritatif. Laura, dengan gerakan yang terlatih, mencatat setiap kata yang diucapkan pria itu, meski di dalam hatinya ia bergolak. ‘Banyak sekali pertemuan penting ini. Sudah jelas aku akan diperlakukan seperti asisten pribadi yang tak berharga. Sungguh menyebalkan,’ gerutunya dalam hati, jari-jarinya nyaris menggurat kertas dengan keras. Smith menatapnya dari balik meja, sorot matanya seperti elang yang mengawasi mangsa. “Ada yang ingin kau tanyakan?” tanyanya, nadanya datar namun sarat dengan intimidasi. Laura mengangguk, meski ia tahu pertanyaannya hanya akan menjadi alasan bagi Smith untuk mencemoohnya. “Mengenai pertemuan di jam lima sore ini, apakah saya juga harus ikut dengan Anda?” Smith menghela napas berat, seolah pertanyaan itu adalah penghinaan terbesar bagi kejeniusannya. “Pertanyaanmu terlalu bodoh, Laura.” Kata-katanya, meski sederhana, seperti cambuk yang mendarat di hati Laura. Ia menelan ludah, mencoba menahan perasaan yang membakar dadanya. “Tentu saja ikut, Laura. Kau tahu arti dari sekretaris pribadi, tidak, huh?” Suara Smith menyayat udara seperti bilah tajam, nadanya penuh dengan ejekan yang licik. Mata kelamnya berkilat, memancarkan aura iblis yang perlahan menyeruak dari balik topeng karismanya. “Maafkan saya, Tuan,” jawab Laura dengan nada rendah. Kata-katanya singkat, hampir tenggelam dalam rasa pasrah yang terukir di wajahnya. Namun, di balik senyumnya yang terpaksa, ada badai yang tak terlihat, badai yang ingin ia sembunyikan sekuat tenaga. Smith melangkah mendekat, tubuhnya menjulang seperti bayangan gelap yang menelan sinar kecil harapan di ruangan itu. “Perlu kuberitahu padamu, Laura,” katanya dengan nada serak yang sengaja ia turunkan, setiap kata seperti racun yang perlahan meresap. “Tugas seorang sekretaris itu adalah mendampingi atasannya ke mana pun dia pergi. Meeting, makan malam, makan siang, pesta—bahkan mungkin ke neraka jika aku memintanya. “Jam berapa pun aku menghubungimu, kau harus menerimanya. Jangan banyak alasan, apalagi menolaknya! Jika tidak sanggup, lebih baik katakan dari sekarang!” Kata-kata itu menghantam Laura seperti palu godam. Ia mengepalkan tangannya erat-erat, jemarinya hampir mencengkeram udara dengan kekuatan yang menyakitkan. Di dalam dadanya, sesuatu bergemuruh, tetapi ia hanya menarik napas dalam-dalam, menelan amarahnya seolah itu adalah pil pahit yang harus ia telan tanpa pilihan. Dengan senyum yang dipaksakan, ia menjawab, “Saya mengerti, Tuan. Kalau begitu, permisi.” Langkahnya terasa berat saat ia meninggalkan ruangan, setiap langkah seperti menggiringnya ke dalam jurang yang lebih dalam. Namun, di luar, ia masih berdiri tegak, meski jiwanya terasa seperti kaca yang retak di seribu sisi. Sementara itu, Smith menyandarkan tubuhnya di kursi, menyunggingkan senyum kemenangan yang menyesakkan ruangan. “Ini baru permulaan, Laura,” gumamnya pelan, hampir seperti bisikan setan di tengah malam. Matanya menyipit, penuh dengan niat yang kelam. “Lihat saja nanti. Aku akan membuatmu semakin tertekan di bawah naunganku!” Pintu terbuka perlahan, engselnya berderit seperti sebuah notasi kecil yang menyela keheningan. Smith menoleh dengan gerakan lambat, alisnya naik sedikit ke atas saat sosok Vincent—ayahnya—melangkah masuk. Vincent, dengan postur tegap dan aura otoritatifnya, tampak seperti raja tua yang memasuki aula, membawa serta hawa penuh wibawa yang memenuhi ruangan. “Bagaimana dengan hari pertamamu di sini, Smith?” Vincent memulai, suaranya hangat namun penuh maksud tersembunyi. “Dan Laura. Dia sangat kompeten, bukan?” lanjutnya sembari melabuhkan tubuhnya di sofa mewah yang terletak tak jauh dari meja kerja Smith. Gerakannya santai, tapi matanya tajam, mengamati setiap perubahan ekspresi pada wajah putranya. Smith mendengus pelan, senyum kesal muncul di bibirnya seperti awan mendung yang perlahan menutupi langit cerah. “Di hari pertama saja sudah terlambat masuk. Apa bagusnya wanita tidak kompeten seperti itu, Dad?” ucapnya, nadanya seperti cambuk ringan yang mencoba meninggalkan jejak pada percakapan. Vincent menaikkan alisnya dengan gerakan halus, seperti seorang maestro yang sedang menilai simfoni yang kurang sempurna. “Oh, ya?” balasnya ringan, tapi setiap kata terasa seperti timbangan yang menekan ego Smith. “Mungkin kau harus memberinya mobil agar bisa datang lebih dulu. Menunggu kendaraan umum akan membuatnya terlambat setiap hari.” “Oh my God, Dad,” Smith mendesah panjang, nada frustrasi bercampur ketidakpercayaan. Ia memijat pelipisnya, seolah mencoba mengusir ketidaknyamanan yang merambat di dalam pikirannya. “Kau tetap mempertahankan dia, padahal aku mengeluh karena dia datang terlambat? Apa kau akan tetap mempertahankan wanita itu?” Suaranya tajam, tapi ada kepanikan kecil yang terselip di antara nadanya, seperti seorang pemain catur yang tahu langkahnya akan segera terpatahkan. “Aku akan memberikan inventaris untuknya agar kau berhenti mengeluh,” ujar Vincent dengan nada tegas yang tak bisa dibantah. “Laura sangat baik dalam bekerja. Terlambat masuk karena naik kendaraan umum bukan alasan untuk memecatnya!” Sial. Smith kalah telak!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN