"Rencana kita mengepung bunker pribadi Alterio Edzard untuk sementara kita tunda." Usulan Letnan Aristide membuat kepala Komandan dan Panglima mengangguk setuju. Mereka sedang ada di asrama militer hitam, mengecek anggota yang mengalami luka ringan. Di saat Letnan Aristide masih belum pulih karena jahitan itu belum mengering sempurna. "Fokus kita harus pada Andara dulu," sahut Panglima Sai. "Lusa aku akan mengirim mata-mata terbaikku ke sana. Kita harus bergerak cepat. Jangan terlalu lama lengah," sela Komandan Rei tajam. Panglima Sai hanya mendengus. Tetapi, dia tidak membantah atau menolak perkataan Komandan Rei. "Kita harus mencari dalang di balik ledakan ini. Antara Alterio Edzard atau—" mata biru Letnan Aristide berpaling pada Komandan Rei. "—atau Sersan Kenan?" Suara Kapten Ma

