i

1014 Kata
"Lagi-lagi dirimu yang mengacau," desis Panglima Sai dingin. "Bisakah kau diam saja kali ini? Jangan buat aku harus repot-repot melenyapkanmu juga." Abria Valerie menggeram dalam suaranya. Tetapi, gadis itu tidak mengatakan apa-apa. "Apa yang coba Jenderal lakukan pada Adonia?" Kepala Sang Panglima miring. "Apa memangnya?" "Aku tidak akan menerima jika sahabatku harus mati mengenaskan di dalam militer Andara yang tak bermoral." "Tak bermoral katamu?" Panglima Sai memutar tubuhnya menghadap Valerie sepenuhnya. "Sebut sekali lagi." "Kalian benar-benar membuatku muak. Bagaimana bisa militer yang diagung-agungkan, Jenderal yang dipuja di mana pun tega mengorbankan nyawa istrinya sendiri untuk kepentingan perang? Tanpa sepengetahuan Adonia pula," Valerie mendengus miris. "Apa itu namanya tidak bermoral? Itu tindakan ilegal!" Panglima Sai mendengus tajam. Dia meraih tangan Valerie, membenturkan gadis itu ke tembok yang dingin saat tangannya mencengkram leher Valerie, mencekiknya." "Lepas ..." Valerie mulai kesulitan bernapas. Gadis itu terbatuk-batuk hebat saat kedua kakinya terangkat ke udara, membuatnya kesulitan. "Jaga bicaramu." Valerie berusaha memukul tangan Sang Panglima yang sekeras batu, tapi usahanya gagal. Gadis itu memekik sekuat tenaga, tapi semua usahanya sia-sia belaka. Kapten Davira keluar dengan tenang dari persembunyiannya. Dia menyimpan alat itu di saku celana militernya. Mendekati Panglima Sai yang mendesis, kemudian melepaskan cengkraman tangannya dari leher Valerie yang ambruk di atas lantai Departemen Kesehatan. "Kembali mengacau, Panglima?" Kapten Davira jelas menyindir Sang Panglima yang menatapnya sinis. Karena kedatangan Sang Kapten, kematian Abria Valerie bisa dicegah. "Aku terkejut melihatmu di sini Kapten Davira," balas Sang Panglima dingin. "Kau mau apa?" "Aku punya urusan di sini. Kapten Madava bilang dia akan menyusul, tapi dia tidak datang," aku Kapten Davira berdusta. Alis Sang Panglima tertekuk tajam. Dia menatap Valerie yang mencoba bangun, memukul dadanya keras dan berlari untuk menghindarinya. "Gadis itu ketakutan." "Oh, itu sudah seharusnya." Panglima Sai membalas pongah. "Dia tidak seharusnya banyak ikut campur." "Kau yakin?" Panglima Sai tersenyum masam menemukan ekspresi dingin Kapten Davira. Dia meraih alat berbentuk bulat logam itu dari dasar pintu, menunjukkannya di hadapan Kapten Davira. "Dan untukmu, berhentilah ikut campur. Kau tidak tahu masalah apa yang bisa saja menghancurkan Andara, kan?" Panglima Sai melempar alat itu ke hadapan Kapten Davira yang semakin kaku. Dia menatap Sang Panglima. "Apa yang terjadi?" "Sersan Kenan kembali. Alterio Edzard sedang dalam penelitian besar. Aku tidak tahu apa yang terjadi, yang jelas itu akan membahayakan Andara." "Ah, Sersan itu kembali?" Kapten Davira mendengus tak percaya. "Bagaimana bisa?" "Kami sedang mengawasinya," balas Panglima Sai acuh. "Aku rasa Jenderal tahu sesuatu di balik kembalinya Sang Sersan. Aku akan terus mengawasi Sersan Kenan dari dekat. Letnan dan Komandan juga membantuku." Kapten Davira memandang Panglima Sai yang kembali memakai topi militernya. "Dan kau, kau harus mengawasi Kapten Madava agar dia tidak terpengaruh. Dia bisa saja menjadi bumerang bagi kita jika kita tahu kalau Sersan Kenan datang untuk membalaskan dendam pada Jenderal atas insiden ledakan bunuh diri beberapa tahun yang lalu." Setelah mengatakannya, Panglima Sai berbalik pergi. Meninggalkan Kapten Davira dalam kebisuan panjang, membuat Sang Kapten harus menunduk, menarik napas panjang guna menenangkan diri. *** "Bagaimana bisa warna rambutnya berubah?" "Perubahan genetika. Ini berlaku saat dia keluar dari cangkang tabung berisikan air-air penunjang kehidupannya," kata Dokter Lami memeriksa sosok yang terbaring pulas di atas ranjang itu lekat-lekat. "Bagaimana bisa? Apa yang harus kita lakukan?" "Aku punya sesuatu untuk mengembalikan warna rambutnya seperti semula." Dokter Lami berdiri, memandang sosok tak berdaya itu dengan dengusan. "Aku akan menggunakannya sebentar lagi." Kepala Alterio Edzard terangguk. Sosok lemah itu masih memejamkan mata sejak dia berhasil pulih dan memecahkan isi tabung itu. Membuat Edzard takjub. Addi Julian ikut mengamati dalam diam. Saat Dokter Lami menyiapkan alat-alat untuk mewarnai rambut, Alterio Edzard mencoba mendudukan tubuh yang lemas itu pada ranjang besar. Dokter Lami masih sibuk dan Addi Julian sejak tadi hanya diam menunggu. Sampai gerakan lemah itu membuatnya tersadar, membuat Alterio Edzard membeku. Kedua kelopak yang terpejam itu membuka perlahan. Kedua warna matanya yang bening seperti hutan pohon pinus memaku sepasang iris gelap Edzard. Sudut bibirnya tertarik ketika dia mengulurkan tangan, mengusapkan jemari lemahnya pada permukaan pipi Edzard. "Edzard," bisiknya parau. "Kaukah itu?" Julian menegang di tempatnya. Dia menatap Dokter Lami yang berbalik, memandang sosok yang duduk bersandar dan tampak pucat itu lekat-lekat. "Kau sudah sadar?" Dia hanya tersenyum lemah. "Kau tidak banyak berubah, Dokter Lami." Dokter Lami mendekat saat Alterio Edzard melepas genggaman tangan mereka untuk memberikan ruang. Saat Sang Dokter membubuhkan cairan pewarna rambut ke rambut cokelat gelap milik gadis itu dengan hati-hati. "Aku tahu kau sudah sadar. Aku sudah menyiapkan ini untukmu. Karena struktur di dalam tubuhmu juga berubah," bisik Dokter Lami saat dia dengan hati-hati melakukannya. Gadis itu terkekeh dingin. "Agar aku lebih mirip dengan Adonia?" Dokter Lami hanya diam. "Mau bagaimana pun, aku memang seperti dirinya. Kami seperti dua tubuh lain tetapi satu jiwa yang sama," bisik gadis itu lemah. "Jangan cemas, semua orang akan mengira aku adalah Adonia yang tak berguna itu." Dokter Lami sekali lagi hanya diam. Membuat gadis itu memejamkan mata menahan kantuk. "Aku tidak sabar bertemu dengannya." Dokter Lami memberi jarak untuk menatap hasilnya. Dia menghela napas saat bicara. "Cat rambut ini bisa bertahan selamanya asal kau tidak bermandikan air hujan. Penawarnya hanyalah air hujan alami yang turun dari langit." Gadis itu tersenyum. "Akan kulakukan." Rin menatap mereka dari jarak yang cukup. Telinganya masih berfungsi dengan baik untuk mendengar apa saja yang mereka bicarakan di dalam. Tangannya terkepal, tetapi sudut bibirnya tertarik dingin. "Ah, kita lihat sejauh mana kau bertahan." Adonia menatap Komandan Rei yang tengah duduk, memangku dagunya tak nyaman saat dia berulang kali mencoba menahan kantuknya sendiri. Membuat Adonia tertawa geli menatapnya. "Komandan?" Komandan Rei mengernyit mendengar panggilan lemah itu. Dia menatap Adonia, yang memberikannya bantal untuk bersandar. "Tidurlah di sofa. Kau bisa terlelap lebih baik daripada di kursi." Komandan Rei hanya diam. Dia memandang Adonia cukup lama sampai dia menggeleng. "Aku akan berjaga di depan." Sebelum Komandan Rei sempat meninggalkan ruangan dia mendengar sesuatu terjatuh. Adonia mencoba bangun dari lantai saat dia limbung hendak berdiri dan berakhir jatuh membentur lantai, tubuhnya gemetaran. "Adonia?" Komandan Rei merangsek maju. Dia kebingungan saat gadis itu meringkuk menahan sakit. Dan seketika wajahnya berubah pucat, menemukan lelehan darah keluar dari lubang hidungnya dengan deras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN