n

1044 Kata
"Aku termasuk salah satu dari mereka yang terkejut kalau kau masih hidup." Sersan Kenan menghentikan langkahnya. Menemukan Panglima Sai bersedekap di antara pintu masuk Departemen Kesehatan dan lapangan Ankara. "Aku benar-benar berdiri di hadapanmu sekarang." Panglima Sai mendengus. Dia menuruni anak tangga dan berdiri di hadapan Sang Sersan. "Kau benar. Aku percaya sekarang." Sersan Kenan menyipit untuk menilai ekspresi Sang Panglima yang sering berubah-ubah tak terbaca. Mengenalnya sejak mereka masih di akademi militer, membuat Sang Sersan hapal benar bagaimana kelakuan tangan kanan Jenderal yang lain. "Aku tidak memaksa kalau kau masih bimbang, Panglima." Tangan Sersan Kenan terulur untuk meremas bahu kanan Sang Panglima. Ekspresi cerah Panglima Sai berubah dingin saat tangan itu mencengkram bahunya seolah memberi peringatan. "Ah, kau benar. Kau tidak memaksa," Panglima Sai tersenyum dingin saat dia kembali berkata. "Bahkan jika aku mencurigaimu sebagai seorang mata-mata, kau tidak akan memaksaku untuk percaya kalau kau netral sekarang, bukan?" Sersan Kenan menurunkan tangannya. Mimik wajahnya berubah datar. Sorot mata peraknya berpendar dingin saat Sang Panglima semakin melebarkan seringai sinisnya dan berbalik pergi. Meninggalkan Sang Sersan yang tengah mengepalkan tangan kuat-kuat. Abria Valerie berlari saat dia melihat Dokter Mei kembali dari rumah sakit. Gadis berambut pirang panjang itu hendak memanggil nama sang dokter sampai sosok lain menghalangnya, membuat tubuhnya terbentur d**a berlapis seragam militer hitam Ankara yang pekat dan mengaduh. "Aww!" Sang Panglima mendengus. Dia memiringkan kepala, menunduk guna menatap wajah Valerie lebih dekat. "Pakai matamu. Kenapa kau harus berlari di koridor ini?" "Bukan urusanmu," balas Valerie ketus. Dia mengusap pelipisnya dan mendesis pada Panglima Sai yang kini terkekeh ringan. "Kau lucu. Aku semakin tertarik padamu." Sepasang manik biru laut itu melebar tak percaya. Valerie dengan percaya diri memukul d**a Sang Panglima dengan tumpukan kertas yang dia bawa. "Jaga bicaramu, Panglima." Panglima Sai semakin terkekeh. Tidak ada sinar di matanya saat dia tertawa. Meninggalkan aura tak menyenangkan pada benak Valerie yang bertanya-tanya mengapa Sang Panglima bisa ada di sini. "Dengar, mulai sekarang, kau akan lebih sering bertemu denganku," Panglima Sai menjulurkan jemarinya menyentuh pipi Valerie yang pucat. "Suka tidak suka. Mau tidak mau. Kau akan mendapatiku berada di sekelilingmu." "Kenapa?" Panglima Sai menatapnya dengan dingin. "Karena tidak ada siapa pun lagi yang bisa melindungimu. Bahkan membelamu dari aku." Kedua mata Valerie mengerjap bingung. Panglima Sai semakin gencar menanamkan ancamannya ke kepala gadis itu agar dia meringkuk ketakutan dan bertekuk lutut. "Entahlah. Karena kau satu-satunya yang melihatku malam itu. Aku semakin takut kalau kau menyebarkan gosip yang tidak-tidak tentangku?" Panglima Sai tersenyum dingin pada Valerie yang membeku hebat. "Aku harus pergi. Kalau begitu, sampai bertemu lagi, manis." Panglima Sai berjalan tenang. Menabrak bahu Valerie yang bergetar hebat mendapat ancaman mutlak dari Sang Panglima yang tampaknya benar-benar serius dan tidak main-main padanya. "Apa yang harus aku lakukan?" Kapten Davira menatap Dokter Mei yang tampak fokus dengan tabung berisi darah dari Adonia. Dia tadi datang ke rumah sakit bermaksud menjenguk istri Jenderal yang terluka karena serangan Alterio Edzard, dan dia malah menemukan sesuatu asing yang lain. Saat Adonia dibius obat tidur, dan Dokter Mei mengambil darahnya ke dalam tabung. Membawanya ke Departemen Kesehatan untuk diteliti. Rasa penasaran Kapten Davira menggelegak naik. Terlebih Komandan Rei, adiknya tidak berbuat apa pun untuk menghentikan Sang Dokter mengambil sampel darah Adonia untuk uji coba. "Aku yakin terjadi sesuatu," bisik Kapten Davira pada dirinya sendiri. Dia mengusap rambutnya. Mengintip ke dalam saat Dokter Mei benar-benar fokus pada penilitiannya hingga lengah terhadap sekitar. Kapten Davira bersembunyi saat Abria Valerie masuk ke dalam ruangan Dokter Mei. Gadis itu terlihat bingung karena celah pintu Sang Dokter terbuka sedikit. Kapten Davira terus mengawasinya dalam diam. Mengamati sosok Valerie yang masuk ke dalam ruangan, dan menutup pintu. Membuat Sang Kapten mendesah panjang, meringis dalam hati ketika dia terpaksa mengeluarkan alat andalannya untuk mendengarkan percakapan mereka dari dalam. Kapten Davira menempelkan alat berbentuk logam bulat kecil ke dasar pintu. Setelah itu, dia memasang salah satu alat berbentuk lonjong pipih ke salah satu telinganya dan kembali bersembunyi dalam jarak dekat untuk mendengarkan percakapan mereka. "Dokter Mei, apa yang sedang kaulakukan?" Valerie memeluk kertas di dadanya. Menatap Dokter Mei yang tersenyum ramah ke Valerie dan menurunkan gelas tabungnya. "Kau datang? Apa kau membawa dokumen yang kuminta?" "Aku membawanya," Valerie menyerahkannya pada Dokter Mei. "Tapi, apa terjadi sesuatu?" Dia masih penasaran. "Aku tidak tahu harus memulainya darimana," ujar Dokter Mei sedih. Dia menatap Valerie, menurunkan kacamatanya. "Mungkin, akan terjadi peperangan besar di Andara. Ini menyangkut hidup dan mati kita." Valerie mengernyitkan dahi tak mengerti. "Lalu, ini sampel darah milik siapa?" Dokter Mei menghela napas panjang. "Adonia." Kedua mata Valerie mengerjap. Dia menutup mulutnya tak percaya. "Adonia, istri Jenderal? Kenapa harus dia?" "Karena darahnya istimewa. Aku juga mendapatkan tugas berat ini dari petinggi Ankara. Aku akan melakukan yang terbaik." Wajah Valerie berubah pucat pasi. Dia menatap tabung yang mendidih itu dan kedua matanya mengerjap mulai basah. "Apa yang terjadi? Kenapa harus Adonia?" Dokter Mei menghela napas lelah. Dia memandang Valerie dengan tatapan iba. "Seseorang harus dikorbankan demi kepentingan hidup orang banyak. Bukankah, jika istri Jenderal tiada, itu bisa membantu orang lain? Kita berbicara tentang Andara, rasa nasionalisme kita haruslah tinggi terhadap negeri yang kita cintai." "Dan mengorbankan orang lain yang tidak bersalah?" Valerie menggeram dalam suaranya. "Apa Adonia tahu?" Kepala Dokter Mei menggeleng lemah. "Dia tidak tahu." "Tidak. Ini ilegal!" Valerie menerjang maju dan Dokter Mei menatapnya tajam. Memperkeras suaranya agar Valerie diam. "Jangan gegabah, Valerie. Kau harus mengerti." "Aku tidak akan membiarkan sahabatku dijadikan kelinci percobaan Andara! Aku tidak akan terima." Dokter Mei mendesah. Dia menatap Valerie sekali lagi, melayangkan satu tamparan ke pipi gadis itu hingga memerah. "Dokter?" "Itu untuk menyadarkanmu. Kau tidak boleh egois karena kau menyayangi sahabatmu. Berpikirlah logis. Jika terjadi perang besar, kau pikir semua orang berhak mati sia-sia karena Adonia tetap hidup?" "Lalu, apa dia pantas mati untuk kepentingan Andara? Kita bisa lakukan cara lain!" Dokter Mei mendesis. Dia menatap pintu ruangannya saat dirinya tertegun menemukan Panglima Sai mengintip dari jendela kecil di atas pintu, membuat Dokter Mei pucat pasi. "Keluar dari ruanganku." "Dokter Mei." "Sekarang, Valerie." Valerie menarik napas panjang. Kedua matanya basah dan air mata berkumpul di pelupuk matanya. Gadis itu berbalik setelah membungkuk meminta maaf karena menciptakan keributan, dan berjalan keluar. Dirinya membeku. Menemukan Panglima Sai bersandar pada dinding ruangan Dokter Mei dalam diam. Mata pekat Sang Panglima meliriknya, membuat Valerie kembali gemetar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN