Kedua mata Adonia menyorot bingung. Dia menghela napas. Menepis kedua tangan itu dengan lelah dan menarik napas kasar. "Apa maksudmu?"
"Aku akan melindungimu."
Adonia mendengus. Ekspresinya terlihat bosan bercampur geli. Dia kembali pada Jenderal yang memasang wajah datar bercampur tekad. Membuat Adonia menahan diri. "Dari apa?"
"Dari mereka yang ingin mengambilmu dariku."
Jawaban yang sangat jujur dari Jenderal Andara. Adonia menghela napas panjang. Memijit pelipisnya ketika dia merasakan kepalanya mulai terasa pening. "Mengambilku darimu? Apa yang berguna dari diriku hingga mereka ingin merebutnya darimu?"
"Kau tidak tahu kalau kau berharga."
Alis Adonia terangkat sinis. "Ah, benar? Tapi, perlakuan serta tatapanmu tidak mengatakan hal yang sama di hari pertama aku datang ke Benteng Ankara mau pun pernikahan kita."
Adonia memiringkan kepala. Menatap Jenderal dengan tatapan permusuhan yang kental. "Kau jelas-jelas menganggap aku adalah pengkhianat Andara. Bukan seseorang yang berharga atau pun pantas. Untuk apa aku mempercayaimu?"
"Dan apa? Aku berharga?" Adonia tertawa lemah. "Lelucon macam apa? Kau pikir aku percaya?"
Jenderal menyipit padanya. Ekspresinya mengetat pertanda dia tidak suka mendapat penolakan. Adonia menghela napas panjang. Merasa sedikit gentar di bawah tatapan suaminya sendiri.
"Kau kenapa?"
"Apa?"
"Apa yang Komandan Rei katakan?"
"Kau tidak perlu tahu," balas Adonia dingin. "Keluar dari kamarku. Pembicaraan selesai."
Kedua tangan Jenderal terkepal. Dan tidak terlewat dari mata Adonia yang sejak tadi hanya fokus menatap ekspresi Jenderal yang acap kali berubah-ubah. Sang Jenderal menegakkan tubuhnya. Memandang Adonia yang masih terlihat lemah dan rapuh.
"Kau tidak lagi kuanggap sebagai pengkhianat Andara. Tidak lagi."
Adonia menunduk. Diam-diam merasa lega luar biasa hingga dia rasanya ingin menangis.
"Kau istriku." Jenderal terdiam sejenak. "Semua orang harus menghormatimu selayaknya mereka menghormatiku."
Jenderal mengembuskan napas panjang. Melirik Adonia sekali lagi dan dia beranjak pergi. Menutup pintu kamar saat Komandan Rei yang bersandar pada pembatas balkon menatapnya, begitu pula Letnan Aristide dan Panglima Sai yang malah sibuk menggoda perawat yang berlalu-lalang di hadapannya dengan kedipan mata jahilnya.
"Jenderal."
Langkah Jenderal terhenti sebelum menuruni tangga rumah sakit.
"Sersan Kenan kembali."
Kedua mata biru Letnan Aristide melebar tak percaya. Panglima Sai terdiam. Dia menatap Komandan Rei yang sedang berdiri tegak, menarik napas panjang seolah memberitahukan berita penting ini adalah hal yang sulit untuknya.
"Sersan Kenan kembali. Anak buahku melihatnya datang. Dan dia siap melapor padamu."
Jenderal memejamkan mata. Dia mengangguk pelan dan kembali menuruni tangga dengan cepat. Meninggalkan ketiga tangan kanannya membeku di tempat mereka masing-masing.
"Sersan itu ... kembali?"
Panglima Sai mendekati Komandan Rei yang mengangguk dengan raut muram. Seolah kedatangan Sang Sersan andalan Andara benar-benar membuatnya mendapat masalah baru dan tidak menyenangkan.
Letnan Aristide mendesis. "Apakah ini kebetulan? Kapten Madava bahkan tidak tahu kemana Sersan Kenan pergi setelah insiden ledakan itu. Bahkan militer menganggap dia sudah mati. Tapi, kenapa?"
Komandan Rei bersedekap dengan ekspresi serius. "Kau pikir kita bisa mempercayainya semudah itu setelah bertahun-tahun walau dia menjadi tangan kanan Jenderal sekali pun?"
Panglima Sai berdecak. Dia mengusap rambut legamnya saat kembali memakai topi militer hitam. "Kau benar. Kali ini aku akan mengawasi Sersan Kenan lebih dekat."
Letnan Aristide mendengus pelan. Dia berdiri, bersiap pergi meninggalkan rumah sakit. "Aku sebenarnya tidak ingin memecah belah kita. Hanya saja, aku penasaran alasan Sersan Kenan kembali setelah Jenderal menyatakan kalau dia tewas dalam ledakan bunuh diri itu?"
"Itu berarti dia tidak mati. Dia selamat. Dan dia mengasingkan diri. Militer yang melihat dia terluka parah benar adanya. Dan kita tidak mempercayainya," sahut Panglima Sai.
Komandan Rei mengangguk pelan. "Kalian pergilah ke ruangan Jenderal. Aku akan berjaga di sini."
Letnan Aristide mengangkat alis. Dia menatap Komandan Rei dalam diam. Mengamati Sang Komandan lekat-lekat dan lekas berbalik. Sebelum suara Komandan Rei menghentikan langkahnya.
"Letnan, aku dan Kapten Madava sudah selesai. Silakan mencoba. Semoga berhasil."
Letnan Aristide terpaku diam. Membuat Panglima Sai terkekeh pelan dan dia menuruni tangga lebih dulu. Disusul Sang Letnan.
***
Sang Jenderal terdiam. Bertopang dagu dengan ekspresi dingin luar biasa menatap kedatangan Sersan Kenan yang mengejutkannya. Dan Jenderal harus bersikap kaku untuk menutupi segalanya.
"Aku kembali, Jenderal."
Sersan Kenan membungkuk selama lima menit. Lengkap dengan seragam militer khas Ankara yang kental, Jenderal tahu sosok yang menjadi tangan kanannya di masa lalu benar-benar masih ada dan bernyawa.
"Kau mengasingkan diri di mana?"
Sersan Kenan terdiam. Ekspresinya berubah seketika. "Di sudut distrik terpencil. Aku merawat diriku sendiri yang terluka."
"Dan tidak diketahui militer hitam?" Sang Jenderal menurunkan tangannya. Menilai mimik wajah Sang Sersan lekat-lekat. "Aku terkejut mendapatimu masih hidup."
Sersan Kenan hanya tersenyum angkuh.
"Kapten Madava mencarimu bertahun-tahun. Kau bisa menemuinya setelah ini."
"Baik, Jenderal."
Pintu terbuka. Letnan Aristide melepas topi militer hitamnya. Bersama Panglima Sai yang mengulum senyum tanpa arti. Menatap Sang Sersan yang kini membungkuk pada mereka, melemparkan tatapan ramah.
"Senang bertemu kalian kembali."
Panglima Sai mendekat. Wajahnya berubah cerah saat Sersan Kenan menatapnya datar. "Wah, kau datang? Aku tidak menyangka secepat ini."
Letnan Aristide hanya diam. Dia memandang Jenderal yang tampak berpikir keras dan dirinya menghela napas. Membuat atensi Sang Sersan terarah padanya.
"Letnan Aristide."
Letnan Aristide hanya menipiskan bibir. Dia tampak tidak tertarik dengan kehadiran Sersan Kenan yang dirindukan militer hitam Ankara. Sang Letnan hanya mengangguk singkat.
"Aku akan menemui Kapten Madava dulu."
Panglima Sai mengangguk pelan. Dia melirik Letnan Aristide saat Sersan Kenan sudah berjalan keluar ruangan. Meninggalkan Letnan Aristide bersama Sang Jenderal di dalam ruangan.
"Kau pasti tahu tentang ini?"
"Tentang apa?" Jenderal tampak kaku. "Kedatangannya? Tidak sama sekali."
"Bukan. Tentang kenyataan dia masih hidup," balas Letnan Aristide dingin. Sorot birunya yang biasa berpendar ramah pada warga Andara berubah tajam. "Kau mengumumkan pada militer bahwa Sersan mereka mati dalam ledakan bunuh diri. Sekarang?"
"Ledakan itu berkekuatan tinggi. Tentu seharusnya dia sudah hancur berkeping-keping tidak lagi tersisa. Melihatnya masih hidup juga mengejutkanku, Letnan." Sang Jenderal membalas perkataan Letnan Aristide tak kalah tajamnya. "Bukankah bagus dia kembali ke Ankara?"
Letnan Aristide mendengus. Dia menggeleng sebagai bentuk penolakan. "Aku tidak akan mampu mempercayainya semudah itu, Jenderal."
Sudut bibir Sang Jenderal tertarik dingin. "Benarkah? Kalau begitu, kau mau apa sekarang?"
"Aku tidak akan melepaskan mataku dari Sersan Kenan. Tidak," sela Letnan Aristide penuh ancaman. "Jika kau melarangnya, aku akan tetap melakukannya."
Jenderal hanya mengangkat alis. "Terserah kau saja," bersandar pada kursinya dengan santai. "Ah, di mana Komandan Rei?"
"Di rumah sakit. Dia berjaga di sana untuk melindungi nyawa Adonia, istrimu."
Mimik muka Sang Jenderal berubah pekat saat mendengar kalimat Sang Letnan.