u

1004 Kata
Addi Julian melemparkan tatapan dingin pada Rin yang meliriknya. "Adonia membawa keberuntungan bagi Andara. Dan membawa petaka bagi kami." Kepala Edzard menggeleng tegas. Dia menatap sosok di dalam tabung dengan sorot berharap penuh. "Jika dia kembali, dia akan membawa kita ke dalam kejayaan." Addi Julian berekspresi muram saat bicara. "Kau lupa? Jenderal meledakkannya dengan senjata yang aku yakini, ada darah Alterio Kaila di sana!" Mata Edzard menggelap sempurna. Ketika dia menemukan jawaban atas segala pertanyaan yang mengambang di dalam kepalanya. Rin memejamkan mata. Tangannya tanpa sadar bergetar saat dia memecahkan tabung itu ke atas lantai dan membuat Edzard serta Julian menoleh tajam ke arahnya. Kemudian, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Saat aliran di dalam air semakin deras. Lubang-lubang udara di bawah tabung terbuka dan semakin mendesak untuk mengeluarkan pasokan air sebanyak mungkin. Membuat Julian panik dan Edzard mendesis menahan geraman ketika dia mencoba menarik kabel-kabel listrik bertenaga super itu dan semuanya sia-sia. Aliran itu semakin deras membanjiri tabung. Saat Rin mengusap cairan yang terciprat di tangannya dengan menahan senyum. Addi Julian bergerak mundur ketika Alterio Edzard berteriak pada Rin yang ikut mundur karena tabung itu siap meledak sekarang. "Lakukan sesuatu!" Edzard membentak Rin yang menggeleng pelan. Dia sendiri berpura-pura bergetar ketika dia ikut mundur dan tabung itu pecah, menimbulkan bunyi yang cukup nyaring hingga ketiganya terhempas ke pinggir ruangan dan membentur tembok dengan keras. Sosok itu terjatuh lemas di atas lantai. Sekujur tubuhnya basah. Dia berbaring telungkup dengan permukaan kulit yang sangat pucat. Mata Rin mengerjap saat dia membuang semua pecahan kaca di atas tubuhnya. Addi Julian terbangun, merangsek maju ketika Alterio Edzard berdiam kaku di tempatnya. Sosok itu masih diam. Cukup lama diam. Hingga Rin mendekatinya. Memanggil namanya dengan pandangan lirih, sekali, kemudian dua kali. Dan berganti menjadi ketiga kalinya. Saat jemari itu bergerak perlahan. Membuat kedua mata Edzard dan Julian melebar sempurna. "Bangun." Rin bersuara lirih sekali lagi. Membuat gerakan jemari itu semakin jelas terlihat. Bahkan ada hembusan napas yang keluar begitu berat dari sosok yang terbaring telungkup menyedihkan di atas lantai. "Kau harus bangun, pecundang." Mata gelap Alterio Edzard menatap dingin pada Rin yang acuh. Membuat Addi Julian mendesis dingin dan mengabaikan Rin demi menunggu dalam ketidakpastian akan sosok yang masih terbaring itu. Kemudian, suara desisan meluncur bebas. Membuat Edzard membeku saat tak lama, bisikan yang lemah itu semakin terdengar jelas. Dan semakin jelas di telinga mereka. Membuat Rin menyipitkan mata memandang sosoknya. "Adonia ..." Disusul suara kekehan dingin yang menyeramkan. " ... aku akan membunuhmu." *** Nohara Rin menipiskan bibir. Menatap sosok yang kembali terkulai lemas di atas pecahan kaca tabung dan tak sadarkan diri itu benar-benar membuat dirinya kebingungan. Sosok itu jauh pulih lebih cepat dari dugaannya. Dan dia benar-benar tidak bisa mengendalikan kekebalan tubuhnya yang perlahan sempurna dengan baik. Alterio Edzard menatap tak percaya pada sosok yang tengkurap tidak sadarkan diri. Kedua matanya membelalak dan tawanya bergema nyaring. Memenuhi seisi ruangan yang pecah karena dirinya. "Kau hidup? Sayangku? Kau hidup?" Addi Julian terpaku diam. Dia berulang kali menatap Rin dan pada sosok itu. Kedua matanya memicing sekali lagi, dan benar saja. Bisikan yang dia dengar tadi bukanlah halusinasi. Sosok yang mereka tunggu-tunggu akhirnya bangkit dari kematian. Rin bergetar. Dia memandang kedua tangannya saat berkali-kali mencoba meyakinkan diri. Kalau dia benar-benar kembali hidup. Alterio Edzard berlari. Menerjang tubuh yang tergolek lemas itu ke pelukannya. Napas gadis itu berubah berat. Julian berlari untuk meraih tabung dan selang oksigen. Berusaha membantunya saat Edzard mendesis puas dan melirik Rin yang berdiri kaku. "Kau lihat? Dia sekarang hidup." Edzard terkekeh ringan. Dia menunduk, menyelipkan satu kecupan di pelipis gadis berwajah pucat itu. "Dia hidup. Kekasihku hidup. Belahan jiwaku." Sikap hiperbola Edzard membuat Rin mendesis. Dia memandang tubuh yang mulai tenang itu walaupun seutuhnya basah kuyup. Matanya menyipit pada sosoknya dan beralih pada Addi Julian yang berdiri. "Dokter Lami benar. Jika kita bisa mengambil darah Adonia sebanyak yang kita mau, kita tidak akan terkalahkan." Edzard mengerjap. Pelukannya mengerat seiring napas teratur dari sosok lemah itu membuat keningnya mengernyit. "Adonia akan mudah dikalahkan. Kau lihat kemampuan gadis itu benar-benar payah. Dia mudah dilumpuhkan. Yang jadi masalah kita adalah Jenderal dan tangan kanannya." Edzard menipiskan bibir. "Panglima Sai, Letnan Aristide, Komandan Rei." "Bagaimana dengan tim wanita dari militer hitam Ankara?" Addi Julian mendengus. "Kau melupakannya?" "Ah, Kapten Madava dan Kapten Davira?" Edzard terkekeh ringan. "Mereka sangat mudah ditipu daya." Kepala Edzard menunduk. "Dia akan mempermudah segalanya. Hubungan mereka pernah erat. Aku rasa, dia bisa mengalahkan kedua kapten wanita terbaik dari Ankara." Addi Julian mendengus. Dia tertawa ringan sebelum menatap Rin yang mengepalkan tangan. Hubungan Rin dengan Dokter Lami tidak pernah baik sejak dulu. Dan permusuhan antara dokter hebat Andara dulu benar-benar masih mengental sampai sekarang. Suara langkah sepatu membuat Rin menoleh. Kedua matanya menyipit saat samar-samar dia hanya bisa melihat dari kegelapan ruangan siapa sosok yang masuk dengan ekspresi kaku dan sepatu khas militer dengan tenang. Seringai Edzard melebar. Begitu pula Addi Julian yang memicing tajam memandang siapa tamu mendadak yang mengejutkannya saat ini masuk ke dalam ruang rahasia mereka. "Kau datang?" Edzard tertawa puas. Membuat Rin mendesis sekali lagi. "Kau datang? Yah, aku benar-benar menantikan ini." Pria itu membungkuk pada Edzard. Senyum tipis mengembang di wajah kaku nan pucatnya. Tatapan mata perak itu beralih pada Julian yang mendengus, melemparkan tatapan tak bersahabat padanya. Sama seperti sebelumnya. "Masih membenciku, Addi?" Pria itu hanya tersenyum. Membuat Julian menatapnya tajam sekali lagi. "Diam." "Aku datang bukan untuk mematahkan kakimu." Pria itu masih tersenyum. Membuat Julian muak seketika. Dia mendesis, dan Edzard menenangkannya. Membuat Julian pada akhirnya menyerah dan dia membuang muka. Alterio Edzard menatap sosok itu. Sosok yang menjulang lengkap dengan seragam militer khas Ankara yang pekat dan mencolok. "Selamat datang kembali, Sersan Kenan." *** "Ada apa?" Adonia mengerjap bingung. Sudah sepuluh menit berlalu dan Jenderal tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk membuka percakapan. Adonia menunduk, menatap sandal rumah sakitnya dengan perasaan campur aduk. "Adonia." Kepala Adonia terangkat. Jenderal memanggil namanya. Setelah mereka menikah, dan ini membuatnya terkejut. Adonia kembali mengerjap bingung. Keningnya berkerut ketika Jenderal mendekat, sedikit membungkuk padanya dan meremas kedua bahu rapuhnya hati-hati. "Aku akan melindungimu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN