Rin mendesis marah. Dia menatap sosok yang kaku di dalam tabung berisikan air. Napasnya tercekat. Tangan Rin menyentuh permukaan tabung yang dingin dan menemukan jemari itu mulai bergerak pelan.
Kedua matanya melebar sempurna. Rin sontak mundur beberapa langkah saat dia mengerjap, menatap ke wajah yang pucat itu dan bibirnya bergetar bahwa sosok itu belum menunjukkan tanda-tanda dia akan membuka mata. Walau reaksi tubuhnya sudah mulai kembali hidup.
"Kembalilah. Kembali padaku."
Suara bisikan penuh rindu itu terdengar sampai telinganya. Rin menoleh, menemukan Alterio Edzard menempelkan telapak tangannya ke permukaan tabung dan berharap mereka bisa saling menggenggam walau berbeda dunia.
Tanpa sadar Rin mendesis jijik. "Kau bahkan tidur dengan banyak wanita. Kau menyebut dirimu pantas untuknya?"
Edzard terkekeh pelan. Dia mengusap pelipisnya seolah terguncang dengan sindiran Rin yang sama sekali tidak berpengaruh untuknya. "Kau pikir aku peduli? Sebanyak apa pun aku tidur dengan p*****r itu. Hanya ada dia. Hanya dirinya. Tidak ada yang lain."
"Kau begitu memuakkan."
Kepala Edzard menoleh tajam ke arahnya. Dia memberikan tatapan dingin pada Rin yang tak gentar. "Bagaimana denganmu? Kau jauh lebih memuakkan. Biar kutebak, kenapa Letnan Jaasir meninggalkanmu? Karena kau bermuka dua. Kau bersikap seperti malaikat yang penyayang dan baik hati, padahal kau iblis bersayap hitam dan bertanduk dua."
Kalimat Edzard membuat Rin tak berdaya. Dia hanya sanggup mengepalkan tangannya di atas meja dan membuang muka. Saat lagi-lagi matanya menangkap gerakan lemah dari jemari kurus itu. Yang dilewati Alterio Edzard. Karena pria itu segera berbalik, berjalan pergi meninggalkan ruangan sebelum dia melemparkan tatapan sekali lagi pada lemari kaca di pinggir ruangan.
Rin memegang kepalanya yang berdenyut. Dia berjalan, melangkah ragu ke arah lemari kaca itu saat keinginan kuatnya menghancurkan lemari itu begitu kuat. Dia mengepalkan tangan. Menatap benci pada rantai panjang berduri yang tergantung dengan kilatan mata marah.
Senjata itu adalah senjata kebanggaan dirinya di masa lalu. Kemampuannya tidak main-main menggunakan senjata berbahaya ini. Rin bahkan ingat, bagaimana dia melukai para pemburu atau pun pencuri di distrik mereka dengan senjata ini di tangannya.
Dia dan rantai berduri ini adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Jika sosok itu kembali, maka rantai ini akan membawanya kembali pada kejayaannya.
Nohara Rin kembali menoleh. Mengerjap saat dia berlari mendekati tabung besar itu. Langkahnya mendekat saat dia menggelengkan kepalanya. Bahwa semua dugaan tentang keberhasilan kecilnya harus terhempas oleh kenyataan.
***
Panglima Sai mengetatkan rahang. Menatap punggung Letnan Aristide yang berjongkok untuk mengenali bekas peluru di atas tanah di Distrik Aster yang sepi.
"Terjadi penembakan sekitar dua atau tiga hari yang lalu." Letnan Aristide berdiri. Menunjukkan bekas peluru yang sudah kotor karena terinjak warga sekitar dan bercampur dengan noda tanah.
Panglima Sai memutar mata. "Mungkin, pihak militer dengan pencuri. Itu sudah biasa, kan?"
Letnan Aristide mendekat ke arah Sang Panglima. Memberikan Panglima Sai sebuah pukulan di d**a agak keras. Membuat Panglima Sai membungkuk menahan sengatan nyeri yang tiba-tiba. Mata pekatnya menatap sinis Letnan Aristide yang ikut memandangnya dingin. "Kenapa kau, Letnan?"
Letnan Aristide mendesis. Dia mendekatkan peluru logam itu pada kedua mata Sang Panglima. "Lihat ini! Apa ini seperti peluru milik militer?"
Panglima Sai mendesis dingin. Dia memejamkan mata dan menarik napas panjang. "Sialan. Musuh mana lagi yang harus kita lawan selain Organisasi Bendera Hitam?"
Letnan Aristide mengangkat bahu acuh. Dia menurunkan topi militernya semakin dalam saat tatapan para penduduk mengarah takut ke mereka. Bukan karena hal lain, tapi karena mereka tahu bahwa dua tangan kanan terbaik Jenderal Andara itu datang bukan tanpa sebab. Biasanya, hanya para anggota militer Ankara yang bertugas dan berpatroli. Kali ini berbeda. Letnan dan Panglima turun tangan langsung dari benteng. Sesuatu pasti terjadi. Dan mereka mulai gelisah.
Panglima Sai mendesis saat dia memicingkan mata dan menemukan Addi Julian berjalan dengan penyamaran rapat menuju suatu tempat. Dimana dia pergi bersama Darius yang memasang penyamaran sebagai pria baya yang lebih tua dan sedikit bungkuk. Membuat Panglima Sai menggeram karena dia mampu membongkar penyamaran mereka.
"Kau melihatnya juga?"
Letnan Aristide mengangguk singkat. Dia mengintip sedikit dan menemukan Addi Julian melepas topinya dan berjalan masuk ke dalam sebuah rumah yang terletak paling ujung dan dekat dengan hutan pohon pinus.
Panglima Sai mengejar langkahnya bersama Letnan Aristide yang menenangkan warga kalau mereka datang untuk menyelidiki sesuatu dan bukan menangkap pemberontak yang mereka takutkan akan menimbulkan perkelahian singkat di dalam distrik mereka dan membuat anak-anak trauma.
Saat langkah Panglima Sai mendekat dia melihat Darius tengah waspada ke sekitarnya dan mulai membuka penyamarannya sendiri. Membuat Panglima Sai menggertakkan gigi menahan sesuatu dan Letnan Aristide mengepung sisi lain dalam diam.
Addi Julian masuk ke dalam. Dia mendorong pintu kayu itu agak keras. Menarik napas saat dia menemukan ada sosok lain yang memunggunginya tengah sibuk terhadap sesuatu.
"Dokter Lami."
Dokter itu menoleh dengan ekspresi datar. Dia sudah tahu kedatangan Addi Julian ke dalam rumahnya. Dan tidak lagi terkejut. "Kau terlambat sepuluh menit."
Addi Julian tersenyum kecut saat dia melirik Darius yang ikut masuk dengan ekspresi bosan. "Maaf. Ada sesuatu yang harus kuurus."
Mata Dokter Lami yang berwarna abu-abu pekat memutar jengah. Dia menggelengkan sedikit kepalanya dan mendesah. "Bagaimana? Kau sudah bisa membawa Caris Adonia ke sini?"
Kepala Julian menggeleng. "Sulit."
"Kenapa sulit? Dia lemah, kan? Kenapa kau membawa satu gadis saja tidak becus?" Dokter Lami menyemprot Julian dengan mata tajam dan napas terengah jengkel. Dia menatap Darius, dan berlalu begitu saja saat dia duduk di sofa, mengabaikan cairan di dalam tabung yang mulai berasap.
Darius tersenyum pahit saat menatap ekspresi marah Julian di depannya. "Kemarin dia sekarat di bawah tangan Alterio Edzard, tetapi dia meninggalkannya begitu saja."
"Kenapa Edzard sangat bodoh, hah?" Dokter Lami membentak marah. Dia menatap Julian yang mendesis menahan jengkel dan mengembuskan napas kasar. "Aku sudah katakan. Caris Adonia berguna bagi kita."
"Apa yang dimiliki gadis tidak berguna itu, hah?"
"Apa kau tahu arti kupu-kupu yang menjadi lambang kekuatan Andara sebenarnya? Di antara jutaan kelahiran, kemungkinannya hanya satu banding sekian. Dan kau menganggapnya remeh?"
Addi Julian mendengus tak percaya. "Kau dan Edzard sama saja percaya dengan mitologi bodoh itu."
Dokter Lami terkejut. Dia hendak menampar Addi Julian yang bersikap balik menantangnya dan menatapnya tak gentar.
"Jika Adonia mengorbankan dirinya untuk Andara. Maka, tamatlah kalian semua."
Addi Julian mengangkat bahu dengan senyum tertahan. "Jika Andara memiliki Adonia, kita masih memiliki dia. Kau lupa, dokter? Dia sedang ada di dalam penanganan Dokter Rin. Dia akan hidup. Dia akan kembali. Dan kau tahu apa artinya? Adonia dan Andara tidak akan ada apa-apanya."