r

1027 Kata
Sang Jenderal tersenyum dingin saat jemarinya mengusap pipi pucat sang istri. "Wanita dan penyangkalannya. Aku seharusnya tidak terkejut kalau istriku juga akan menyangkal hal ini." Jemari Sang Jenderal merasakan permukaan kulit Adonia hangat. Dia mendengar dari Dokter Mei bahwa Adonia sempat demam tinggi. Dan dia tidak sabar untuk segera masuk ke dalam. Dan menemukan bahwa Komandan Rei—yang bertindak sebagai pahlawannya ada di dalam dan mereka mengobrol santai. "Setidaknya, aku berpikir menggunakan logika dan hatiku menuntun jalan yang benar. Tidak seperti dirimu yang barbar dan seenaknya." Sang Jenderal menundukkan tatapan matanya yang mengintimidasi pada Adonia yang cemberut. Karena jemari Jenderal sedikit mencengkramnya erat. Membuatnya tidak nyaman. "Lepas, Jenderal. Aku mau tidur." Sang Jenderal menjatuhkan matanya ke bibir panas itu. Mulut Adonia yang tajam sekali-kali harus dibungkam dengan sesuatu yang manis agar dia tahu, siapa yang berkuasa dan mendominasi di sini. Adonia mengerang saat Jenderal menciumnya dalam lumatan ringan. Menyusup ke dalam sela-sela rambutnya saat kepala Adonia dibaringkan miring untuk menikmati ciuman mereka yang dipaksakan. Adonia ingin meronta, tetapi remasannya pada seragam militer Sang Jenderal malah membuat Jenderal semakin lepas kendali dan hampir memakan habis bibirnya sebelum pintu kamar diketuk, dan Dokter Mei masuk dengan asistennya. Jenderal melepas ciumannya. Tersenyum dingin mendapati wajah Adonia memerah dan terengah-engah karena ciuman mereka. Dia mengangkat wajah, menatap dingin pada Dokter Mei yang mengangguk dan menatap Adonia dengan alis terangkat. "Apa kau demam lagi? Wajahmu memerah." Dokter Mei berujar polos yang membuat Adonia menahan malu setengah mati. Dia melirik Sang Jenderal yang tengah mengulum senyum dingin. Membuat tangan Adonia yang bebas dan tidak tertancap selang infus harus terarah pada d**a kokoh itu, memukulnya agak keras dan Jenderal mendesis marah menatapnya. "Keluar." Sang Jenderal menatap Dokter Mei yang melebarkan matanya terkejut. Mendapati bahwa Adonia tidak ingin sang suami menemaninya dan malah memukulnya. "Keluar. Kau tidak dengar aku?" Sang Jenderal menghela napas kasar. Dia menepis tangan mungil itu dari dadanya dan berjalan keluar tanpa kata. Meninggalkan seringai puas di bibir Adonia saat Dokter Mei menatapnya, dan ikut mengulum senyum tertahan. *** Kapten Madava terdiam. Memandang lapangan yang sepi dengan sorot datar. Sampai seseorang berdiri di sampingnya. Menjaga jarak aman dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana militer hitam. Kapten Madava menunduk. Menarik napas panjang dengan tarikan kasar. Dia mengerjap. Memandang kembali hamparan lapangan yang senyap. "Kita harus bicara." Komandan Rei mengangguk singkat. Dia memang ingin tidak berlama-lama di sini. Tetapi, demi menghormati Kapten Madava, dia akan meluangkan waktu untuk berbicara walau sebentar. "Kapten Davira menyadarkanku banyak hal. Terutama masalah ikatan yang dipaksakan." Kapten Madava melirik dingin Komandan Rei yang membisu. "Kau pasti tahu apa yang dia katakan, kan?" "Tidak sulit menebaknya." Komandan Rei membalas datar. Dia membalas tatapan Kapten Madava dengan sorot menilai tajam. "Intinya, kau ingin bebas?" Kepala Kapten Madava menggeleng dengan senyum hampa. Dia menatap Komandan Rei dengan pandangan sulit diartikan. "Kau dan aku. Kita berdua bebas. Tidak ada ikatan. Kau mencari cintamu sendiri. Begitu pula aku." Komandan Rei menarik sudut bibirnya. Kilatan matanya tampak berbahaya saat dia berucap dingin. "Mencari cinta? Di dalam Benteng Ankara?" Dia terkekeh pahit. "Oke. Akan kulakukan." Kapten Madava mengangkat alis dengan pandangan tajam. Dia tersenyum sinis. Menatap seragam yang membalut tubuh kekar Komandan Rei begitu lekat. "Bagaimana dengan gadis pirang sahabat istri Jenderal? Kabar banyak menyebut kau dan dia berkencan." "Kabar burung?" Komandan Rei menyela dengan ekspresi masam. "Abaikan. Aku tidak tertarik padanya." "Oh, tapi kedekatan kalian diartikan lain oleh banyak mata." Kapten Madava mengangkat bahu tampak tak peduli. Dia kembali memandang lapangan dengan senyum pongah. "Dia gadis baik. Dari matanya, sudah memperlihatkan segalanya. Kapten Davira tidak keberatan kalau kau dan dia bersatu." "Kakak terkadang bersikap cenayang. Aku tidak menyukai sifatnya satu itu." Komandan Rei berdecak dan Kapten Madava mengulum senyum. "Aku melindunginya dari Panglima Sai yang haus darah. Dia menyimpan rahasia Panglima Sai yang membunuh setiap teman tidurnya. Termasuk kematian Ame. Dia saksi hidupnya. Panglima Sai memburunya untuk dibunuh. Aku melindunginya." Komandan Rei menjelaskan dan Kapten Madava termenung mendengarnya. "Dia belum berubah ternyata." Komandan Rei mengangguk dengan ekspresi pahit. "Dia tidak akan berubah di jangka waktu yang lama. Panglima Sai akan terus menjadi predator buas." Kapten Madava terdiam. Dia menarik napas panjang, kemudian membuangnya. "Aku akan menjenguk Adonia di rumah sakit." Mata perak itu beralih memandang Komandan Rei yang membuang muka. "Mau kau apakan cincin ini? Kau ingin aku membuangnya atau kau ingin menyimpannya? Ingatlah, ayahmu yang berusaha keras menyematkan cincin ini di jariku melalui dirimu." Kapten Madava terkekeh sinis. "Terkadang aku merasa aku yang bertunangan dengan Kapten Tonda. Bukan dirimu." Komandan Rei melirik cincin itu dan lantas terdiam. Dia menghela napas panjang. "Buang saja." Kemudian, menyipit dingin. "Aku tidak memerlukannya. Lagipula, jasad ayah sudah lama terkubur. Persetan dengan perjodohan. Kau dan aku sama-sama terkekang." Kapten Madava tersenyum kecut. Dia menggenggam cincin berlapis perak itu dengan anggukan kepala singkat. "Aku akan membuangnya di perjalanan. Berharaplah tidak ada yang menemukan cincin malang ini di tengah jalan." Komandan Rei melirik Kapten Madava yang tengah tersenyum. Mengulurkan kepalan tangannya sebagai bentuk ikatan lain padanya. "Mari, kita selesaikan ini baik-baik. Aku tidak ingin ikatan apa pun yang terjalin di militer dan diantara kita kacau hanya karena berakhirnya pertunangan konyol ini." Komandan Rei mendengus pendek. Dia mengulum senyum tertahan saat membalas kepalan tangan Sang Kapten muda itu dan menyentuhkannya. Membuat senyum Kapten Madava timbul saat dia memandang langit yang tampak gelap dengan senyum bebas. "Aku pergi." Kapten Madava menepuk pundak kokoh Komandan Rei yang termenung. Memandang langit di atas kepalanya dalam tatapan hampa. Dia melirik kepergian Kapten Madava, kapten wanita terbaik yang dimiliki Andara selain Kapten Davira. Seulas senyum ikut menghiasi wajah dinginnya saat Komandan Rei menunduk, menatap telapak tangannya sendiri dan menghela napas. Dia bebas sekarang. *** Nohara Rin menatap ngeri pada Alterio Edzard yang memandang puas pada lemari kaca yang menyimpan senjata mengerikan di dalam sana. Di ruangan ini hanya dia dan Alterio Edzard. Addi Julian pergi entah ke suatu tempat saat dia mendapati info bahwa Letnan Aristide dan Panglima Sai kembali turun tangan untuk mematai-matai bunker persembunyian mereka. "Kau menyimpannya?" Nohara Rin sedikit berteriak dan lamunan Edzard akan senjata itu pecah. Dia mendesis dingin, melirik Rin dari bahunya dan mengangguk pelan. Senyumnya melebar puas. "Tentu. Dia akan hidup sebentar lagi. Senjata ini adalah senjata kebanggaannya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN