bc

(UN)PERFECTION WEDDING

book_age18+
1.5K
IKUTI
7.9K
BACA
possessive
contract marriage
love after marriage
arranged marriage
arrogant
goodgirl
brave
dare to love and hate
sweet
bxg
like
intro-logo
Uraian

Cinta membutakan segalanya, sampai gadis cerdas seperti Adelia Aninbagaskara putri semata wayang keluarga Bagaskara itu melakukan segalanya demi sang dambaan hati.

Adel tahu bagaimana Ridwan bersikeras mengabaikan perasaan Adel yang selalu ditunjukkan wanita itu tanpa rasa sungkan sedikitpun. Selain pura-pura tidak tahu, Ridwan juga tak mau menanggapinya karena tak enak hati dengan sahabatnya Akbar, kembaran Adel.

Sampai akhirnya, Adel dengan kekuasaan dan kekayaan ayahnya, Adam Bagaskara yang mempunyai perusahaan di berbagai kota. Adel meminta Adam untuk segera melamarkan Ridwan untuk Adelia. Karena penolakan Adel pada setiap laki-laki yang datang, Adam akhirnya jauh-jauh datang ke Bandung untuk menemui orang tua Ridwan.

Hal itu semakin membuat Ridwan meradang ia tak habis fikir dengan pemikiran Adel, akhirnya Ridwan menyetujui perjodohan itu namun dunia Adel benar-benar berbalik dari sebelumnya. Ridwan semakin dingin padanya tak segan-segan memaki dirinya. Ridwan sengaja melakukannya agar Adel tidak betah dalam pernikahannya sendiri kemudian cerai.

Ridwan termakan dengan omongannya sendiri, sampai dititik lelah Adel padanya akhirnya Ridwan mulai menyadari ia juga menyimpan rasa pada Adel. Terutama sejak perpindahan keduanya di Bandung, datangnya kembali Maryam dalam kehidupan Ridwan membuat semuanya semakin keruh.

Lantas apa yang akan dilakukan Ridwan demi mengambil hati Adelia yang sudah pada titik lelah dan jenuh bercampur jadi satu kemudian memutuskan melepas lelaki yang ia dambakan sejak dibangku kuliah?

chap-preview
Pratinjau gratis
RIDWAN PERMANA
“Mas Ridwan!” panggil seseorang dari luar gedung parkiran membuat sosok pria yang merasa dipanggil menghentikan langkahnya. Begitu pria yang ia panggil menghentikan langkahnya, wanita itu dengan wajah sumringah menghampiri pria yang memakai sebuah name-tag bertuliskan Ridwan Permana. Ridwan permana, seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan milik sahabat karibnya. Berkat sahabatnya itu, ia bisa menjadi tulang punggung keluarganya meski ia adalah anak satu-satunya. Dengan modal beasiswa di bangku kuliah yang ia dapatkan, ia lulus tepat waktu dan bekerja di perusahaan tempat ia dulu magang. “Elo cari abang elo?” Tanya Ridwan tanpa menatap wanita yang sedang mengatur nafasnya karena berlari terburu mengejar langkah Ridwan yang begitu cepat. “Enggak, gue cari Mas Ridwan!” Jawab wanita menampilkan matanya yang berbinar tak peduli balasan Ridwan yang selalu saja sama, dingin kepadanya. “Gue sibuk, nggak ada waktu.” Jawab Ridwan menatap mata wanita yang tadinya berbinar kini perlahan redup. Jika selalu mendapatkan hal serupa apapun itu, kita akan terbiasa namun tidak berlaku pada wanita yang sedang membawa sekotak nasi bekal yang sudah ia lakukan beberapa tahun tetap saja selalu ada sesuatu yang mencubit hatinya. Ucapan singkat dan dingin dari Ridwan selalu ia dengar di setiap ia bertemu dengan Ridwan, dimanapun itu. “Mas…” “Adel!” panggilan seseorang dri dalam gedung membuat wanita bernama Adel itu menghentikan ucapannya. Memilih tersenyum pada Akbar, saudara kembarnya yang merupakan teman kuliah Ridwan. Jadi, Adel jatuh cinta pada teman kakaknya sendiri. Dengan cekatan, Adel memberikan kotak bekal ke tangan Ridwan. Tanpa menunggu penolakan laki-laki itu Adel lebih dulu berlari, yang wanita itu tahu pria itu tidak akan memakan ataupun menggunakan apapun yang diberikan Adel. “Masih berjuang naklukin si Ridwan kamu.” Ledek Akbar memandang wajah Adel yang sudah merah padam. “Mau sampai kapan sih dek kayak gini.” Ucap Akbar seraya mengusap lembut rambut saudara kembarnya. Bagaimanapun, ia tidak bisa melihat Adel benar-benar tergila-gila pada sahabatnya. Sedangkan pada Akbar ia juga tak bisa begitu saja memaksa sahabatnya itu untuk menerima perasaan adiknya. Biarlah itu menjadi urusan mereka berdua, tanpa campur tangan siapapun di dalamnya. “Apasih kak Akbar!” Bantah Adelia mencoba tak mengerti arah bicara kembarannya, meski tanpa ia pahami ia sudah tahu Akbar selalu mengatakan kalimat yang sama setiap tanpa sengaja ia memergoki interaksi antar mereka berdua, Ridwan dan Adelia. *** Ridwan masuk ke dalam kantor, meletakkan tas bekal berisikan kotak bekal pemberian Adelia. Matanya memandang dalam kontak di atas mejanya. Ia menghela nafas panjang, seperti ada beban dalam pikirannya yang tak bisa ia jelaskan. “Dari Adelia.” Cengir dari seseorang yang baru memasuki kantor membuat lamunan Ridwan yang terlampaui jauh buyar begitu saja. “Nih buat elo!”Ucap Ridwan menyadari kedatangan Oki yang sudah menghampirinya yang sudah menyelidik kotak bekal di hadapannya. Ridwan tidak marah atau bagaimanapun reaksinya hanya datar. Sembari melirik Oki yang membuka kotak bekal di tangan Oki. Aroma ayam goreng dengan bumbu rujak menusuk indra penciumannya namun sama sekali tak membuatnya berubah fikiran untuk sekali saja mencicipi makanan buatan Adelia. Adelia selalu menghampiri Ridwan ke kantor sejak kepulangannya dari menimba ilmu di luar negeri. Selalu, tidak pernah barang sekalipun hari Ridwan tanpa bertatap muka dan lagi semua pemberian Adelia sekalipun itu kotak bekal tak pernah ia cicipi, gunakan bahkan ia sentuh. “Yaelah Wan! Udah terima aja kenapa sih si Adelia.” Saran Oki pada Ridwan yang sepertinya hatinya benar-benar tertutup untuk kembaran Akbar, CEO di perusahaan mereka bekerja. “Buat elo aja, gakpapa gue Ki.” Ucap Ridwan memutar malas bola matanya, ia mulai jenuh dengan saran yang diberikan sahabat karibnya setelah Akbar. “Gila lo, Wan. Adelia kayak gitu aja masih belum bisa naklukin hati elo. Lo mau cari yang gimana sih?” Tanya Oki mulai kesal melihat betapa batunya sahabatnya itu. Ridwan diam sudah lelah berdebat dengan Oki hanya masalah Adelia, perdebatan itu selalu muncul setiap kotak bekal pemberian Adelia ia berikan pada Oki. Entah mengapa, Ridwan seperti alergi dengan semua hal yang berbau dengan Adelia. Drrttt…ddrrttt… Maryam is Calling… Getaran ponsel Ridwan membuat Oki menyingkir pergi kembali ke tempat duduknya, Ridwan melirik sekilas ponselnya yang menyala bertuliskan nama wanita yang ia kagumi selama ini. Wanita sederhana dari kampung halaman Ridwan. Meski jarak yang jauh tetap saja Ridwan tetap menyimpan rasa pada wanita yang berprofesi sebagai guru taman kanak-kanak itu. Halo… Assalamu’alaikum Wa’alaikum salam mas Ridwan Sambung suara lembut dari seberang, suara penyejuk hati setiap Ridwan merasa otak fikiran dan hatinya dipenuhi oleh amarah pada setiap dalam hari-harinya. Itu hanya sebuah suara, belum lagi senyumnya yang mampu membuat Ridwan benar-benar terpesona. Memang jika mata hati yang bekerja, apapun yang dilakukan orang yang dicintai setiap incinya akan terasa begitu special. Besok Mas Ridwan jadi ke Bandung? Mendengar pertanyaan Maryam, Ridwan reflex melihat kalender meja di meja kerjanya. Itu hari libur, tanpa ditanyakan pun Ridwan pasti ke Bandung. Kecuali jika ada meeting mendadak, terpaksa ia tunda acara bertemu sang pujaan hati. “Iya kesana, memang ada apa?” Tanya Ridwan heran, menunggu jawaban Maryam. Tak biasanya wanita pemilik suara lembut itu bertanya terus terang kepulangan Ridwan ke kampung halamannya. Maryam besok ada Seminar di Purwakarta jadi kemungkinan kita gak ketemu dulu, Mas. “Oh gitu, Iya nggakpapa paling minggu depan lagi bisa ketemu kan kita.” Jawab Ridwan dengan kelegaan mengiringi perkataannya. Ridwan teringat jika ada meeting dadakan dengan kliennya, matanya langsung gelagap menatap arah jarum jam dinding di kantornya. Masih pukul jam dua sore, itu artinya masih ada waktu beberapa menit untuk membereskan kondisi kantor sekarang. “Maryam, sudah dulu ya? Aku ada meeting hari ini. Nanti aku hubungi lagi! Assalamu’alaikum.” Pamit Ridwan tanpa menanti balasan dari Maryam, pria itu mematikan sambungan telepon dan segera berberes. Niat hati, setelah meeting ia akan langsung pulang. Ia sudah memperkirakan jika meeting dengan klien akan selesai pada pukul yang harusnya ia sudah selesai meeting. Setelah semua berkas-berkas ia bereskan, pria itu segera menuju basecamp parkiran. Baru beberapa langkah, langkahnya berhenti begitu matanya menangkap sosok perempuan sudah berdiri disamping mobilnya. “Huffttt…” Ia menghela nafas panjang, tampak jengah dengan keadaan yang sama. Ia selalu menghadapinya setiap jam pulang kerja. Tampaknya, Adelia benar-benar tahu betul jadwal keseharian Ridwan. Mengekor kemana-mana seperti anak ayam pada induknya. “Eh, Mas Ridwan mau kemana? Aku bareng ya!” Tanya Adelia berpura-pura basa basi, padahal ia tahu dengan jelas jika pertanyaan berupa izin itu tidak akan mendapatkan jawaban dari Ridwan. Ridwan masuk ke dalam mobil, tanpa ba-bi-bu Ridwan mempersilakan Adelia sudah duduk di kursi penumpang depan. Ridwan memandang tajam pada Adelia yang tampak senang membalas tatapan Ridwan yang begitu menusuk seakan ingin menerobos sampai ke akar-akarnya. Berusaha membaca dan mencerna apa yang sedang difikirkan perempuan di sampingnya. “Del, lo tuh gak tahu malu ya!” Ucap Ridwan geram sambil menepuk pelan setir mobilnya berusaha menahan emosinya yang sudah berada di ubun-ubun siap untuk meledak. “Kenapa? Adel kan Cuma nebeng.” Ucap Adel tampak membela dirinya, ia masih merasa ia hanya meminta bantuan pada sahabat kembarannya itu. “ Lo pikir gue bego! Lo tuh kaya, bapak sama abang elo itu mobilnya gak cuman satu.” Ucap Ridwan mulai naik pitam, berusaha ia pendam namun meledak begitu saja mendengar balasan Adelia yang sama sekali tidak takut dengan ucapan tajamnya. “Ya, Adelia pengen sama Mas Ridwan aja. Ngirit bensin!” Ucap Adelia sambil mengeluarkan cengiran membuat Ridwan segera melengos menatap luar mobil. “Sinting!” Gumam Ridwan kemudian menancap gas memilih segera berangkat daripada menanggapi ocehan Adelia yang tidak pernah menyerah meski kata kasar, tajam menusuk Ridwan selalu pria itu lontarkan. *** Ridwan selesai mandi, rambutnya basah kuyup dengan berbalut handuk kecil melingkar di lehernya. Rutinitas setiap hari yang selalu ia lakukan adalah melakukan video panggilan kepada Maryam, pujaan hati. Hubungan jarak jauh membuatnya menumpuk rindu, hari demi hari bukannya berkurang setelah melakukan komunikasi justru semakin menggebu. Ting… Adelia : Mas Ridwan ! Satu kalimat membuat raut wajah Ridwan berubah, padahal isi pesan singkat dari Adelia itu tidak ada unsur menyebalkan atau bagaimana hanya sebuah panggilan. Bukan pesannya namun orangnya. Ridwan benar-benar muak, seperti dihantui setiap harinya. Tidak di kantor, di rumah bahkan dulu ketika ia kuliah. Maryam : Mas Ridwan sudah tidur? Dalam sekejap raut wajahnya berubah, matanya berbinar membaca pesan dari kontak bernama Maryam itu. Perempuan yang mampu membuatnya jatuh hati, begitu anggun, lembut. Tidak seperti Adelia yang termasuk aktif, pecicilan. Kenapa jadi membandingkan dengan Adelia? To Maryam : belum, rencana mau ngopi sama Akbar di café sebelah. Ia sudah janjian bersama Akbar untuk menghabiskan waktu di café seberang jalan, ini masih petang belum menunjukkan pukul tengah malam. Ridwan meraih kunci mobilnya dan segera menuju café yang ia maksud. Ia sangat yakin sahabat semasa bangku kuliahnya itu dulu yang kini menjabat sebagai CEO pasti sudah bertengger dan menyesap putung rokok. Cyrcle pertemanan Ridwan itu terbilang sempit, ia tidak mempunyai teman yang begitu akrab seperti Akbar. Hanya bisa dihitung siapa yang mengenal Ridwan lebih baik selain orang tuanya dan tentunya pujaan hatinya, Maryam. Di depan Akbar, sahabat karibnya itu ia menunjukkan sikap yang tak jarang orang tahu tentang dirinya. Begitu humoris dengan lelucon yang ia buat dengan berbagai sumber yang entah bagaimana itu. Ayahnya hanyalah buruh di pabrik swasta, ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Beberapa kali, Ridwan meminta ayahnya agar tidak bekerja kembali tapi tetap saja ayahnya memilih meneruskan karirnya sebagai buruh pabrik meski anaknya sudah menjadi orang sukses lebih darinya di perantauan Kota Metropolitan, Jakarta. “ Wan!” tegur Akbar yang sudah berada di hadapannya dengan membawa dua cangkir espresso moccacino. Ridwan sedikit terlonjak kaget, lamunannya memandang kosong jalanan yang tidak pernah sepi sirna begitu saja. Akbar hanya diam, ia mengenal sahabatnya itu lebih baik dari siapapun. Meski dengan topeng humoris, tetap saja fikiran Ridwan benar-benar dalam jika bisa menggali satu persatu fikiran yang membebaninya pasti akan terkuak. Sayangnya, Ridwan tidak akan bercerita jika tidak benar-benar membutuhkan bantuan sahabatnya itu. “Lo tadi jadi meeting sama klien?” Tanya Akbar, memang ia yang memberikan tugas pada sahabatnya itu untuk menemui klien mereka dari Palembang. “Iya jadi, tapi meetingnya gak terlalu lama sih Bar. Cuman sebentar gue sampai rumah sekitar jam 6.” Jawab Ridwan seraya meminum seteguk kopi di cangkirnya. Rumah yang dimaksud Ridwan, bukan rumah orang tuanya atau miliknya, ia hanya mengontrak tanpa ada batasan sampai kapan. Lagipula ada beberapa kamar yang setiap hari dibersihkan tanpa ada yang menempati. Lagipula rumah kontrakan itu tidak terlalu luas, namun juga tidak terlalu sempit untuk ditempati bujangan seperti Ridwan. “Lagian, kenapa gak suruh dia di mess buyer aja,Bar? Kenapa dia nyewa hotel sendiri?” Tanya Ridwan penasaran karena biasanya jikaa ada kolega dari perusahaan lain, perusahaannya akan membiayai semua biaya selama mereka tinggal disini. “Bukan gitu Wan. Dia juga ada cabang disini, hemat dong kan lumayan buat ntraktir lo kopi.” Canda Akbar sambil terkekeh menatap wajah Ridwan yang sudah berubah kesal itu. “Gila lo!” Ucap Ridwan sambil menggeleng-gelengkan kepala tak habis fikir dengan jalan pikiran atasannya itu. “Eh Wan! Gue baru inget tadi pagi bokap gue minta data diri elo!” Ucap Akbar sambil menepuk pelan pundak sahabat disampingnya itu. “Buat apaan? Pak Adam minta data diri gue?” Tanya Ridwan mengeryitkan kedua alisnya. “Gak tau gue! Kata sih update data karyawan gitu.” Jawab Akbar sambil menyesap rokok di kedua jarinya. Ia hanya merokok jika diluar rumah, istrinya sedang hamil muda ia tak bisa merokok, lagi pula ia bertekad akan mulai melatih harinya tanpa sebuah batang rokok. *** Sabtu, weekend dimana masyarakat sedang melakukan jogging detik-detik sebelum sang fajar terbit. Suasana lingkungan rumah Ridwan tampak ramai, mereka sedang menikmati udara segar bersama orang-orang terdekat. Ridwan sudah berpakaian rapi, memakai jaket dan segala keperluan lainnya. Ia sudah akan menuju kampung halamannya. Ting… Adelia : Mas Ridwan pulangnya hati-hati ya! Layar ponselnya menyala, Ridwan bergegas meraihnya dan menatap malas nama yang tertera di ponselnya. Tidak ada niatan untuk membaca apalagi membalas pun Ridwan enggan. Ia sama sekali tidak terbiasa dengan adanya Adelia di hidupnya. Bertahun-tahun ia mendapatkan perlakuan Adelia sama sekali tak bisa membuat Ridwan menganggap hal itu biasa atau lumrah. Ddrrttt…drrtt… Adelia is calling… Ridwan melirik nama yang tertera membuat ponselnya berdering, nafasnya tercekat dengan sedikit kasar ia mengusap ke atas layar ponselnya. Menolak panggilan Adelia, meski Ridwan tahu dengan persisi jika perempuan itu mempunyai mental sekuat baja takkan mundur meski Ridwan kasari. Drrrttt….ddrrttt… “Adeli…” Ucapan Ridwan penuh dengan penekanan beserta amarah lenyap seketika begitu mengetahui panggilan masuk bukan berasal dari Adelia, melainkan orang tuanya di Bandung. Tidak seperti biasanya, ayahnya menghubungi pada hari seperti ini, hari dimana terbilang masih petang karena matahari belum mau menampakan dirinya. “Halo, Ayah!” sapa Ridwan begitu tangannya menekan tombol mengangkat panggilan pada yang tertera di layar ponselnya. Ridwan, ayah mau bicara. Ucapan ayahnya membuat alisnya bertaut, suara pria paruh baya dari seberang sana tampak begitu serius. Biasanya diawal panggilan ayahnya akan memberikan candaan sebagai salam pembuka. “Iya, ada apa yah?” Tanya Ridwan tampak tenang meski dalam otaknya berfikir keras kira-kira hal apa yang membuat ayahnya menghubunginya. Semalam, bos perusahaan kamu datang ke Bandung. Ridwan tak segera menanggapi ucapan ayahnya justru terdiam merenung, bos perusahaan? Siapa yang dimaksud ayahnya terlebih ia mendatangi kampung halamannya bukan menemui Ridwan yang satu kota. “Bos Ridwan?” Tanya Ridwan pelan penuh hati-hati, memastikan jika ia tak salah dengar. Iya, Pak Adam. “Hari ini Ridwan pulang ke Bandung, yah. Dibahas nanti aja kalok Ridwan sampai sana yah.” Ucap Ridwan mengambil inisiatif, karena ayahnya berbicara terbata-bata seperti tak ingin berbicara via telepon. Ah, begitu lebih baik. Dibicarakan baik-baik di rumah saja. Panggilan terputus, Ridwan masih menatap kosong jalanan. Pikirannya berfikir keras dengan kejadian yang baru-baru ini terjadi. Terlebih pemilik perusahaan tempatnya ia bekerja tiba-tiba datang ke Bandung. Semalam Akbar juga berbicara jika ayahnya meminta data dirinya dengan alasan untuk update data karyawan. Ridwan menggelengkan kepala begitu suatu gagasan melintas di otaknya, ia tak mau menaruh pikiran aneh-aneh. Ponsel yang sejak tadi ia pegang, ia letakkan dan mulai menyalakan mesin. Memanasinya sebentar kemudian tancap gas menuju Bandung, kota kelahirannya. Meski hari kedepannya ini ia tak bertemu dengan pujaan hatinya. *** Perjalanan yang tidak jauh dari Jakarta ke Bandung tetapi cukup membuat mata Ridwan benar-benar lengket bak seperti ada lem yang menempel disana. Tiba di Bandung, ia bercengkrama sebentar dengan kedua orang tuanya kemudian masuk ke kamarnya dan memberikan istirahat untuk matanya yang sudah mulai panas. Aroma masakan ibunya membuatnya samar-samar terjaga dari tidurnya, matanya masih terpejam namun pikirannya mulai terjaga. Menebak-nebak apa yang sedang ibunya masak hari ini. Ridwan pun keluar kamar dan mencuci mukanya yang sudah tidak berbentuk itu. “ Ayok! Makan siang!” Ajak ayahnya yang melihat Ridwan mengeringkan wajahnya di depan kamar mandi. “ Ibuk masak kesukaanmu itu.” Sambung ayahnya sambil merangkul bahu anak semata wayangnya yang kini tingginya sudah melebihi jauh tinggi ayahnya. “Oh iya! Jadi pak Adam kesini ada keperluan apa yah?” Tanya Ridwan teringat sebab apa tadi pagi ayahnya sudah meneleponnya. Raut wajah ayahnya berubah datar yang tadinya penuh dengan senyuman, membuat Ridwan mencebikkan bibirnya heran. Ridwan kemudian beranjak membantu ibunya yang memidahkan lauk pauk ke meja makan, ia tak enak hati melihat ayahnya yang menjadi pendiam setelah mendengar pertanyaan darinya. “Nanti kita bicarakan setelah makan siang ya!” Ucap ayahnya dengan senyum lembut yang langsung disambut anggukan pelan Ridwan. Ting… Maryam : Mas Ridwan nanti sore Maryam pulang. Getaran ponselnya membuat ayah dan ibunya langsung menghentikan aktivitas makan mereka. Melihat raut wajah Ridwan yang berubah menjadi lembut setelah membaca pesan pop up yang muncul di layar ponselnya. Ridwan merasa diperhatikan, ia kemudian berdehem dan meneguk air putih entah mengapa ia merasa sedikit gugup seperti tertangkap basah. Ridwan pun memilih mengabaikan ponselnya yang sudah kembali mati seperti semula, agar tak menaruh curiga. Ayah dan ibunya pun kembali seperti biasa seolah tak ingin ikut campur dengan Ridwan. “Ridwan, ke halaman belakang aja. Ayah mau ngobrol.” Ajak ayah Ridwan dan segera berjalan terlebih dahulu. Ridwan mengikuti langkah kaki ayahnya yang semakin hari semakin pelan karena factor umur yang semakin bertambah itu. Ridwan pun kemudian duduk di samping ayahnya menatap tanaman-tanaman yang kini menjadi kesibukan ayahnya setiap hari setelah pension dari karyawan pabrik. “Kamu bisa tebak kenapa pak Adam kesini?” Tanya ayahnya sambil menatap lembut kepada Ridwan. Ridwan tak menjawab seraya menggeleng pelan, padahal otaknya berfikir keras mencoba menerka-nerka kenapa ayahnya tampak bertele-tele memberitahunya tidak seperti biasanya. “Dia ingin kamu menikah dengan putri semata wayangnya.” Ucap ayahnya mulai bercerita membuat Ridwan langsung menoleh menatap ayahnya yang justru tersenyum. “Maksud ayah? Ridwan menikah dengan Adelia?” Tanya Ridwan dengan nada terkejut bukan kepalang. Bagaimana bisa? Pak Adam mempunyai gagasan seperti itu. Kini rasa penasarannya mengapa ayah sahabatnya itu meminta data dirinya bukan untuk update data melainkan semata-mata hanya mencari alamatnya, tentunya tanpa sepengetahuan Akbar. “…” Hening menyerang suasana astmosfer keduanya, ayahnya menunggu respon anaknya sedang Ridwan melamun entah kenapa. Baying-bayang wajah Maryam membuatnya merasa bersalah, wanita lembut yang ia jaga justru ia pula yang menyakitinya. “Menurut ayah gimana?” Tanya Ridwan mencoba meminta saran pada ayahnya, bagaimanapun ini masalah hidupnya dan ia tahu arahan ayahnya sangat berpengaruh. “Ya, kalok ayah jujur saja realistis. Ayah sangat bangga putra ayah dipinang bosnya sendiri. Bukan karena materinya tapi karakternya sendiri.” Jawab ayahnya dengan senyum, matanya jauh menerawang. “Kalok ibu kamu gak tahu itu bagaimana.” Tambah ayah kemudian tak menunggu lama ibu menyusul dengan membawa nampan dua gelas jus manga dan toples berisikan camilan yang selalu menjadi andalan sebagai teman ketika ngobrol. “Ibu bagaimana?” Tanya Ridwan kepada ibunya yang kini sudah duduk di sampingnya. “Ya, Kalok ibu senang saja jika kamu menerimanya. Tapi kalaupun tidak ada ya kamu sendiri bilang sama Pak Adam dengan baik-baik.” Saran ibunya membuat Ridwan semakin terpaku. Meski ia tahu jika pun ia menolak tidak akan menjadi masalah besar bagi ayah dan ibunya, namun dari raut wajah mereka tidak bisa dibohongi jika keduanya tampak bahagia begitu mengetahui pak adam ingin anaknya menjadi menantunya. “Memang kamu sudah ada calon, Wan?” Tanya ayahnya begitu melihat respon Ridwan yang tampak datar saja. “Belum.” Jawab Ridwan pendek. Terpaksa ia berbohong, karena ia belum siap mengenalkan Maryam kepada kedua orang tuanya. Selain keraguan Ridwan juga tahu jika ia mengenalkan Maryam kepada orang tuanya belum tentu mendapatkan restu terutama dari ayahnya. “Nggak usah terburu-buru. Dipikir matang-matang karena itu tentang pasangan hidup.” Ucap ibu Ridwan mengusap pundak anaknya tanda memberi dorongan untuk anaknya. “Ridwan menerimanya kok yah.” Jawab Ridwan menatap lurus kepada orang tuanya secara bergantian. “Kamu serius?” Tanya ayahnya tak yakin, ia bahkan sudah memikirkan cara bagaimana menghadapi pak Adam selaku bos tempat anaknya bekerja dan juga yang ingin menjadikan Ridwan sebagai anak mantu di keluarga besarnya. “Iya! Ridwan serius. Ridwan yakin Adelia mungkin adalah jodoh yang terbaik yang dikirim oleh Allah untuk Ridwan.” Jawab Ridwan melemparkan senyum kepada ibunya yang justru tampak terpaku, sorot matanya bahkan lurus mencoba menggali kebenaran di mata Ridwan. “Ibu harap kamu sudah memikirkan matang-matang nak.” Jawab Ibunya kemudian memeluk erat anak semata wayangnya yang kini sudah saatnya berkeluarga. TBC

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.2K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
20.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.5K
bc

TERNODA

read
203.6K
bc

Kali kedua

read
222.7K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook