Malam yang melelahkan, jas dan dasi masih menempel di tubuhnya. Sepulang bekerja ia langsung memutar balikkan mobilnya menuju café yang biasa ia datangi setiap bertemu dengan Maryam. Beberapa hari ini Ridwan merasakan dirinya sedikit mengabaikan Maryam, tidak pernah mengirimnya pesan dan tidak menelepon balik ketika perempuan itu meneleponnya pun Ridwan dengan sengaja tidak mau mengangkatnya. Ridwan langsung menuju pada seseorang yang duduk membelakanginya, menggunakan hijab dan gamis dengan perpaduan warna yang membuatnya tampak seperti perempuan elegan. Ridwan dengan senyuman khas miliknya menyapa Maryam yang sejak tadi menunduk. “Ada apa? mengapa tiba-tiba mengajak bertemu?” Tanya Ridwan pada Maryam yang mengajaknya bertemu sedikit larut malam. “Kenapa memangnya? Istri mas Ridwan

