Matahari belum juga terbit, namun langit sudah sedikit terlihat, cahaya bulan samar-samar mulai menghilang. Adelia sudah menunggu di ruang tamu, hari ini ia akan pergi ke rumah calon mertuanya untuk pertama kalinya.
“Ridwan sudah datang?” Tanya Dea menghampiri putrinya yang sudah membawa tas kecil dan juga beberapa makanan titipan mamahnya.
“Katanya sih sudah jalan Mah.” Jawab Adelia tersenyum pada Mamahnya yang sejak tadi memperhatikan dirinya.
Beberapa kali, Adelia mengepalkan tangannya. Berusaha mengurangi rasa gugup dan senang bercampur aduk. Perasaannya tak pernah merasakan ini sebelumnya. Ia begitu girang akan berpegian jauh dengan Ridwan ditambah bertemu dengan orang tuanya pula.
“Nak Ridwan sudah mau berangkat? Sudah sarapan?” Tanya Dea begitu menyadari kedatangan Ridwan.
“Sudah tante!” Jawab Ridwan ramah kemudian menatap Adelia untuk mengajaknya segera berangkat.
“Ya udah Mah, Adek berangkat dulu.” Pamit Adelia kemudian mencium tangan mamahnya yang diikuti pula oleh Ridwan.
Adel segera masuk ke mobil RIdwan, Ridwan menatap Adelia dengan tatapan yang sulit diartikan entah apa yang terlintas dalam fikiran lelaki itu. Tak seperti biasanya ia mau menatap perempuan disampingnya yang kini sedang memainkan ponselnya.
Mobil perlahan melaju dengan kecepatan sedang. Hening, tidak ada obrolan antara keduanya karena Adelia juga tidak bisa berkata apa lagi. Hari ini ia tak mau merusak moodnya dengan menerima kata-kata kasar dari Ridwan.
“Jaga sikap lo di rumah gue. Rumah gue gak kayak rumah elo. Jadi kalok elo nggak minat pulang sendiri aja.” Tandas Ridwan mengecam kalimat-kalimat pedas pada Adelia yang mengalihkan pandangannya dari ponsel.
“Hm.” Jawab Adelia santai kemudian menatap jalan.
Mendengar jawaban Adelia yang hanya sebuah deheman, membuat Ridwan menoleh cepat tak seperti biasanya Adelia sedikit dingin menurutnya. Sedangkan Adel lebih memilih menatap jalan saja daripada berdebat pagi-pagi membuat perutnya cepat lapar.
Ridwan juga heran mengapa ia mengatakan kencaman kepada Adelia seakan-akan perempuan itu adalah orang yang tidak bisa menerima kesederhanaan. Tiba-tiba keluar begitu saja, peringatan jika perempuan itu tidak betah di rumah Ridwan, lelaki itu akan menyuruhnya pulang.
“Elo mau mampir kemana gitu? Ntar sampai Bandung mungkin masih pagi.” Tawar Ridwan pada Adelia yang sejak tadi masih setia bungkam, lebih memilih memandang jalanan lewat jendela mobil.
“Enggak deh.” Jawab Adelia sambil menggeleng, dia benar-benar sedang dirundung kemalasan untuk berbicara panjang lebar seperti biasanya pada Ridwan. Mungkin ini pengaruh karena hampir datangnya hari ia menstruasi.
“Elo kenapa sih Del? Kalok emang nggak mau pergi ke Bandung ya udah. Gue gak maksa.” Bentak Ridwan membuat Adelia segera menoleh ia juga terkejut bukan kepalang mendengar bentakan Ridwan.
“Kamu itu kenapa sih mas?” Bentak Adelia gentian, ia jadi heran dengan Ridwan yang tidak ada angina tidak ada hujan tiba-tiba membentaknya.
“Ya elo itu yang kenapa!” Sentak Ridwan tidak terima begitu Adelia ganti membentaknya.
“Aku tuh lagi bahagia, jadi gak usah ngrusak mood aku buat ketemu calon mertua aku dengan ucapan tajam kamu itu.” Jawab Adelia berterus terang kemudian kembali memandang jalan daripada hampir saja ia juga terpancing amarah karena laki-laki disampingnya itu.
Ridwan diam, ada benarnya juga jawaban Adelia. Yang membuatnya aneh pada dirinya adalah secara tidak sadar ia tak mau diabaikan oleh Adelia. Namun, buru-buru ia mengusir pemikiran itu dan mengingat Maryam yang sejak dulu ia dambakan.
***
Mobil Ridwan sudah memasuki perkarangan bangunan rumah miliknya, Ridwan melirik sebentar perempuan yang duduk di sampingnya yang sedang tertidur pulas. Ayah dan ibunya sudah menyambut mereka di ambang pintu utama.
“Del!” panggil Ridwan pelan namun sang empunya nama tak juga terjaga dari tidurnya.
“Del!” Ridwan memanggilnya lagi sembari menepuk pelan lengan perempuan itu yang masih setia memejamkan matanya.
“Del!” panggilan terakhir membuat Adelia terbangun dengan nyawa masih belum terkumpul.
Begitu Adelia membuka matanya, Ridwan segera turun ke bagasi mengeluarkan barang-barang bawaannya. Adelia menatap dua orang paruh baya sedang tersenyum pada Ridwan yang menenteng barang bawaan di kedua tangannya. Adelia merapikan penampilan wajahnya kemudian bergegas keluar mobil, senyum orang tua Ridwan tidak bisa ditutupi.
“Nak Adelia!” Sapa ibu Ridwan sambil tersenyum dan menerima uluran tangan Adelia.
“Ayok masuk!” Ajak ayah Ridwan setelah salaman dengan Adelia.
Adelia memasuki rumah Ridwan, ia menatap sekeliling rumah itu dari atas dan sudut-sudutnya tampak klasik dengan perpaduan model rumah jaman dahulu dan sekarang. Dihadapan Adel sekarang sudah terhidang makanan-makanan kecil, buah dan juga minuman. Tampaknya kedua orang tua Ridwan benar-benar menyambutnya.
“Jadi kayak gini Nak Adelia rumah Ridwan.” Ucap ayah Ridwan memulai percakapan.
“Sama aja kok om!” Jawab Adelia dengan senyum.
Ridwan yang duduk disampingnya sedikit terkejut dengan respon Adelia yang tampak sopan, sikap yang belum pernah ia lihat selama Adelia disampingnya. Diam-diam ayah Ridwan menatap Ridwan dan Adelia bergantian, ada sesuatu yang berbeda dari putranya setelah mengajak Adelia ke rumah ini.
“Jadi nak Adel ini kembarannya Akbar?” Tanya ibunya Ridwan teringat cerita dari Ridwan semasa kuliah.
“Iya, tante.” Jawab Adelia sembari tersenyum.
Ia melirik senang pada Ridwan yang ternyata lelaki itu juga menceritakan tentang dirinya kepada ibunya. Ridwan yang menyadari tatapan Adelia membalas dengan sikap dinginnya seolah tak tahu jika Adelia tengah tersenyum padanya.
“Nak Adel capek nggak? Istirahat dulu di kamar Ridwan.” Tawar ibunya membuat Ridwan mendelik, bisa-bisanya ibunya meminjamkan kamarnya untuk orang yang baru saja ia kenal.
“Iya, mandi sekalian biar ibu siapin air hangat atau gimana.” Tambah ayah Ridwan mengiyakan tawaran istrinya kepada calon menantunya.
“Nggak usah tante, nggak usah repot-repot.” Tolak Adelia tak enak hati dengan tawaran ibu Ridwan kepadanya.
“Wan! Antar Adelia ke kamar kamu. Biar dia istirahat, capek dia tuh!” Titah ibu Ridwan kepada Ridwan yang sejak sampai di rumah hanya diam membisu menjadi pendengar obrolan mereka.
Ridwan pun berdiri, mengajak Adelia untuk mengikutinya. Adelia sedikit gugup berjalan di belakang Ridwan yang tampak ogah-ogahan sebenarnya mengantar perempuan itu ke kamarnya. Bagaimanapun Adelia adalah orang asing bagi Ridwan.
“Lo mau mandi pake air hangat? Udah kayak ratu aja lo!” Cibir Ridwan mulai membuka suara setelah ia memastikan jika kedua orang tuanya sudah di dapur menyiapkan makan siang untuk mereka.
“Kapan lagi dong aku jadi ratu.” Ucap Adelia bangga pada Ridwan, ia tidak peduli dengan mata tajam Ridwan yang siap menerkam dirinya kapanpun lelaki itu tahu.
“Walaupun ayah dan ibu memperlakukan elo dengan baik. Jangan ngarep gue juga bakal nglakuin itu ke elo!” Ancam Ridwan membuat Adelia terpaku, menyadari apa yang akan terjadi dalam pernikahannya dengan Ridwan.
“Inget itu!” Kencam Ridwan kemudian bergegas keluar kamar dan menutup pintunya sedikit keras.
Adelia terdiam, menatap sekeliling kamar Ridwan yang tidak terlalu luas itu namun cukup rapi untuk ukuran kamar lelaki. Matanya mulai memanas, ia sudah tahu jika pernikahannya mungkin bukan awal kebahagiaan dirinya. Melihat betapa keras kepalanya Ridwan kepadanya.
Adelia menegaskan pada hatinya kembali, bahwa sekeras apapun hati akan hangat pada akhirnya. Begitu juga Ridwan, ia yakin suatu hari lelaki itu akan mencarinya juga namun butuh waktu yang lama untuk membuktikannya.
To Mamah : adek udah sampai Bandung mah.
Setelah mengirim pesan singkat kepada mamahnya, Adelia melempar asal handphonenya ke kasur kemudian bergegas membersihkan tubuhnya yang sudah lengket tak karuan. Jujur saja ia masih tak mengira bisa menjadi calon istri seorang Ridwan, laki-laki yang sudah bertahun-tahun mengabaikannya.
Nampaknya Adelia mengurungkan niatnya untuk segera membersihkan tubuhnya, ia lebih memilih berdiri di depan jendela kamar Ridwan. Dari sana terlihat pemandangan rumah sekitar, matanya terarah pada seorang ayah dan anak sedang bercengkrama di halaman belakang rumah.
Melihat Ridwan, Adelia hanya menghela nafas panjang. Ia sudah terlalu pasrah dan lelah untuk bepura-pura seolah-olah kata yang diucapkan Ridwan padanya tidak berpengaruh besar kepadanya sama sekali.
Adelia perlahan matanya menyusuri setiap pajangan yang tergantung di dinding. Foto-foto masa kecil Ridwan menyambutnya dengan senyuman tulus yang tak pernah ia dapatkan dari Ridwan secara langsung. Dan sebuah foto yang menarik pandangan Adelia, foto dirinya dan Akbar setelah lulusan mereka.
Senyumnya hambar, sedikit kekecewaan berhinggap kembali ke hati Adelia. Ia kembali membaringkan badannya. Saat ini sepertinya sedikit mengurangi kontak mata dengan Ridwan lebih baik.
***
Rokhim, ayah Ridwan beberapa kali mendapati Ridwan yang mencuri-curi pandang ke jendela atas kamarnya. Ridwan pun nampaknya tidak menyadari dengan tatapan ayahnya yang sejak tadi memperhatikannya sekarang. Matanya sibuk melirik jendela kamarnya, tempat Adelia istirahat.
“Jadi gimana Wan mau lanjutin pertunangan apa gimana?” Mendengar pertanyaan ayahnya membuat Ridwan terpaku.
“Maksud ayah?” Tanya Ridwan yang masih mencoba mengerti apa yang dikatakan ayahnya.
“Ayah tahu kamu tidak suka dengan Adelia. Jadi ayah nggak mau maksain kalok memang Ridwan tidak srek sama Adel.” Jelas Rokhim membuat Ridwan tertegun.
‘Memangnya Ridwan bisa menolak yah?” Ucap Ridwan justru melempar pertanyaan balik.
“Bisa, apapun itu jawaban kamu. Ayah bisa terima.” Jawab Rokhim pada Ridwan yang tampak menutupi sesuatu. Ia berharap hubungannya dengan anaknya itu begitu transparan tidak saling menutupi satu sama lain.
“Tapi, Ridwan nggak menolak perjodohan ini kok.” Tambah Ridwan membuat wajah Rokhim sangat jelas menggambarkan bahwa dirinya terkejut.
“Walaupun Ridwan tidak suka Adel?” Tanya Rokhim langsung pada intinya tanpa bertele-tele.
“Ridwan berusaha nanti untuk sayang sama Adel.” Jawab Ridwan terbata-bata seperti ayahnya memanah tepat pada titiknya membuat Ridwan sedikit gugup.
“Apa yang kamu bicarakan Ridwan.” Umpat Ridwan dalam hati pada dirinya sendiri, dengan mudahnya ia mengatakan akan mencintai Adelia padahal dengan jelas jika penghuni hatinya saat ini adalah Maryam.
Beberapa menit setelah keheningan melanda obrolan antara Rokhim dengan Ridwan, ibunya keluar dari rumah seperti biasa membawa camilan dan minuman. Ridwan menautkan alisnya, kemana Adelia kenapa tidak ikut dengan ibunya.
“Adel di kamar Wan.” Celetuk Ibunya membuat Ridwan gugup dan sedikit malu karena kedua kalinya ia tertangkap basah memikirkan Adelia.
Entah seperti ada yang aneh dalam diri Ridwan, tidak seperti biasanya. Biasanya ia akan marah dan emosinya naik jika menyangkut apapun tentang Adelia. Namun hari ini, ia mengajak perempuan itu datang ke rumahnya menemui orang tuanya.
“Ridwan nyusul Adelia dulu.” Pamit Ridwan dan bergegas masuk ke dalam rumah, tak peduli pandangan heran orang tuanya padanya.
Ridwan pun bergegas menaiki tangga dan kamarnya masih tertutup rapat, tidak ada kebisingan yang terdengar dari dalam. Ia berdiri di ambang pintu, menimang-menimang haruskah ia masuk ke dalam.
“Del!” Panggil Ridwan dengan suara datar.
“Del!” Panggil Ridwan beberapa kali namun suasana masih hening.
Tok..tok…
Ketukan pintu pun tidak mendapat jawaban, akhirnya Ridwan menekan knop pintu membuka pintu kamarnya secara perlahan menemukan Adelia yang sedang memejamkan matanya. Nafasnya tampak naik turun secara teratur, menandakan ia sedang sangat pulas.
“Del…. Ba…”
Dddrrttt…ddrrttt…
Baru saja Ridwan membuka mulut untuk membangunkan Adelia, ucapannya terpotong begitu ponsel Adelia yang berada di laci menyala dan bergetar. Ridwan melihat Adelia sebentar namun perempuan itu rupanya tidak terganggu sama sekali.
Getaran berhenti Ridwan menatap layar ponsel yang menyala, banyak panggilan masuk dari nomor tidak dikenal begitu juga dengan pesan pop up dari nomor tidak dikenal juga. Ridwan berkerut membaca pesan itu.
0893333xxxxxx : Adelia
0895779689xxxx : angkat telepon gue Del.
“Mas Ridwan!”
Mendengar panggilan samar-samar Ridwan segera menjauh dari ponsel Adelia yang perlahan akan redup itu. Ridwan kembali pada sifat dinginnya begitu matanya bertemu dengan mata milik Adelia.
“Ayo keluar, makan siang.” Ajak Ridwan kemudian berlalu begitu saja.
Adelia yang masih terduduk di tempat tidur masih terdiam mencoba mengumpulkan nyawanya. Ia meraih ponselnya, mendapati beberapa panggilan tidak terjawab dan puluhan pesan pop up. Adelia memilih mengabaikannya, sekarang ia hanya ingin focus demi perasaan sepihaknya dengan Ridwan.
***
Malam hari pertama di kota Bandung, malam hari pertama juga Adelia menghabiskan waktunya bersama lelaki idamannya, Ridwan Permana. Tidak, tidak berdua saja tetapi juga dengan kedua orang tua Ridwan. Meski tidak sedekat seperti dugaan mereka setidaknya mereka berdua akur.
Ridwan memilih bercengkerama dengan ayahnya sedangkan Adelia memilih menemani ibu Ridwan di taman belakang rumah. Menatap bintang-bintang yang bertaburan di angkasa. Menikmati dinginnya angina yang bertiup menyapu rambut-rambut kecil di kening Adelia.
“Ridwan cuek ya Del?” Celetuk begitu saja membuat Adelia sedikit terkejut dengan ucapan Ibu Ridwan, Fatma.
“Gimana Tante?” Tanya Adelia sekali lagi, memastikan jika ia memang tidak salah dengar.
“Iya, Ridwan cuekkan selama ini?” Tanya Fatma dengan senyum menatap mata Adelia yang tidak bisa dibohongi sama sekali.
Bukannya menjawab, Adelia hanya tersenyum sembari mengangguk. Ia sama sekali tidak mau menutupi bagaimana sifat Ridwan kepadanya. Lagi pula, pernikahannya hanyalah sebuah perjodohan yang disetujui bukan inisiatif mereka berdua. Adelia begitu paham alurnya, belajar dari pengalaman papah mamahnya dan Akbar- Fariza.
“Ridwan aslinya lembut sayang.” Ucap Fatma mengusap tangan Adelia yang terasa dingin sekali.
Sekali lagi, Adelia hanya mengangguk tersenyum. Ia tidak berucap aneh-aneh meski rasanya ingin sekali ia keluarkan segala keluh kesahnya tentang perlakuan Ridwan kepadanya.
“Ibu tahu Adelia begitu dalam perasaannya kepada Ridwan.”
“Bagaimana tante bisa tahu?” Tanya Adelia begitu terkejut dengan prasangka ibu Ridwan yang tepat sasaran.
“Mata Adel tidak bisa berbohong sayang.” Ucap Fatma begitu lembut membuat Adelia begitu tenang ketika Fatma menebak apa yang ada dalam fikiran perempuan muda itu.
“…”
“Ibu juga minta maaf ya atas perlakuan Ridwan sama Adelia. Tak sepatutnya laki-laki kasar terhadap perempuan.” Ucap Fatma menatap bola mata Adelia lurus sampai membuat Adelia tak berkedip mendengar dan menatap balik mata wanita paruh baya itu.
“Tante, jangan ngomong gitu. Justru Adel jadi nggak enak hati seakan kayak maksain pernikahan ini harus terjadi.” Bantah Adelia tidak mau menjadi beban untuk calon keluarga barunya.
“Udah malam, sana istirahat dulu. “ Ucap Fatma perlahan beranjak meninggalkan Adelia yang mengadahkan kepalanya ke atas menatap bintang-bintang yang masih setia berhamburan di langit.
Nampaknya Fatma meninggalkan Adelia bukan tanpa sebab, melainkan ia melihat baying-bayang Ridwan di kolam renang tengah mendengar percakapan mereka. Fatma bersimpangan dengan Ridwan yang tampak kelagapan ketangkap basah sedang menguping pembicaraan antara calon istrinya dan ibunya.
“Ngomongin apa lo sama ibu gue?” Tanya Ridwan dengan nada galak menatap tajam pada Adelia yang tampak kaget menyadari kedatangan Ridwan yang tiba-tiba baginya.
“Malam ini Mas Ridwan tidur dimana? Kalok kamarnya aku pakek.” Ucap Lembut Adelia dengan senyuman begitu tulus pada Ridwan yang beberapa detik tertegun melihatnya.
“Udahlah Del, nggak usah ngalihin perhatian. Gue tanya nyokap gue ngomongin apa sama elo.” Ucap Ridwan tampak memaksa Adelia untuk bercerita pembahasannya dengan ibunya.
Adelia menghela nafas panjang, ia bukan perempuan tegar yang setiap mendapat bentakan akan tetap sabar menghadapinya. Saat ini saja dadanya begitu perih setiap ucapannya selalu ditepis Ridwan dengan nada kasar dan bengis.
“Ibu cuman bilang kalok orang seperti Mas Ridwan itu aslinya baik.” Ucap Adelia sedikit kesal meski ia tetap berbicara dengan hati-hati.
“Emang bener. Gue aslinya lembut tapi tidak berlaku buat elo!” Tandas Ridwan menatap tajam pada Adelia tak peduli sekilat ia melihat ada mata sendu pada Adelia.
“Oh, ya? Adel yakin kalok Adel bisa bikin mas Ridwan sayang sama Adel.” Ucap Adelia dengan senyuman yang selalu ia gunakan untuk menutupi hatinya yang sedikit teriris mendengar ucapan Ridwan.
“ Lihat aja, gue bakal buat kalok suatu hari nanti elo sendiri yang minta cerai dari gue.” Ancam Ridwan tak peduli lagi dengan betapa tajamnya ucapannya.
“Oke! Dan bakal Adel pastikan kalok mas Ridwan juga yang bakal memohon agar Adel tidak minta cerai.” Ucap Adelia masih dengan senyuman manis meski ucapannya juga mengandung ancaman sama seperti Ridwan.
“Terserah!” Ucap Ridwan puas dengan senyuman kejam mendengar ancaman Adelia yang menurutnya tidak akan terjadi, jika ia akan menahan Adelia untuk tidak meminta cerai kepadanya.
Adelia bergegas pergi, ia sudah malas untuk beragumen dengan Ridwan, terlebih Adelia sadar dirinya berada sekarang. Tidak mungkin ia membuat keributan di rumah calon mertuanya sendiri.
Ridwan terduduk di bangku, sejenak terdiam menghela nafas panjang. Mencoba menstabilkan nafasnya yang naik turun. Dia juga heran, mengapa tidak ada kata damai barang sebentarpun jika sudah urusan dengan Adelia.
Padahal Ridwan sadar benar, bukan kesalahan Adelia sepenuhnya. Kesalahannya adalah ia tidak bisa tegas untuk menolak perjodohan ini hanya karena ia tidak mau kehilangan pekerjaan. Kesalahan Ridwan lagi membiarkan Adelia menerima perjodohan dan ia membiarkan kehilangan Maryam, sosok pujaan hatinya.
Ddrrttt…ddrrrttt…
Maryam : Mas Ridwan ini Maryam sudah mau pulang ke Bandung. Tungguin ya!
Sebuah getaran ponsel di sakunya membuyarkan lamunannya. Begitu membaca pesan dari Maryam, Ridwan hanya tersenyum getir. Ia benar-benar tidak menyangka dia akan menyakiti perempuan seramah dan selembut Maryam.
To Maryam : Iya, Mas Ridwan tunggu.
Setelah mengetikkan pesan untuk membalas pesan singkat Maryam, Ridwan berdiri menghadap ke belakang. Menatap sebuah ruangan di lantai dua, yang ia yakin jika Adelia berada di dalamnya. Lampunya tetap menyala meski sudah berganti dengan cahaya redup menandakan sang penghuni sudah terlelap.
Sampai sekarang Ridwan tidak menyadari suatu hal. Dia menyadari akan menyakiti Maryam dengan adanya perjodohan ini, juga ia menyakiti Adelia karena ia harus menjadi korban demi pekerjaan yang sangat Ridwan prioritaskan. Tanpa memikirkan perasaan Adelia bagaimana, Ridwan benar-benar buta soal itu.
***
Adelia sudah mandi pagi-pagi sekali, hari ini ia akan kembali ke Jakarta. Kalau bukan karena perempuan itu sedang bepergian mungkin dia tidak akan mandi dengan suasana lingkungan yang begitu dingin, siap membuat tubuhnya menggigil.
Adelia masih di kamar Ridwan, ia menyisir pelan rambutnya. Hari ini ia belum bertemu dengan Ridwan setelah pertengkaran semalam. Adelia sudah pasrah sejak awal pertengkaran Ridwan di rumahnya kemarin. Namun, calon ibu mertuanya mencoba mengkokohkan pendiriannya sama seperti niatnya dari awal. Sekerasnya batu tetap saja akan mencair perlahan karena terkikis air, sama juga dengan hati Ridwan yang keras akan luluh karena ketulusan yang Adelia berikan.
Ddrrrtttt…dddrrrttt…
Adelia melirik ponselnya begitu mendengar getaran ponsel, namun ponselnya tidak menyala justru ponsel yang berada di atas nakas menyala. Bukan miliknya, melainkan milik Ridwan itu berarti semalam laki-laki itu singgah sebentar ke kamar dan Adelia sudah terlelap makanya perempuan itu tidak tahu.
Adelia menghampiri ponsel Ridwan yang masih menyala, tertera sebuah nama perempuan di layar ponsel itu. Seketika, ada sesuatu yang menancap di hatinya menggoresnya secara perlahan. Nama sama yang ia lihat saat Ridwan datang untuk menyetujui perjodohan itu di rumahnya.
Adelia masih saja menatap ponsel Ridwan, karena panggilan telepon itu kembali memanggil. Ridwan masuk ke kamar, keningnya mengeryit melihat Adelia yang berdiri membelakanginya. Karena terbawa larut dalam suasana sendunya, perempuan itu tak sadar dengan kedatangan Ridwan.
“Mau ngapain lo?” Hardik Ridwan begitu mendapati sebuah panggilan masuk dari Maryam di ponselnya.
“Mau ngangkat telepon mas Ridwan terus bilang sama pacar mas Ridwan. Jangan ganggu calon suami Adel!” Ucap Adelia sangat santai seolah tak peduli dengan tatapan membunuh dari Ridwan.
“Jangan macam-macam ya kamu Del!” Ancam Ridwan mendengar ucapan ringan dari Adelia.
“Memang salah Adel dimana?” Tanya Adelia berlagak polos, ia tak peduli bahwa ucapan-ucapannya tadi memancing kemarahan Ridwan semakin membuat laki-laki itu benar-benar membencinya.
Ridwan tersenyum bak iblis, perempuan di depannya nampaknya mulai berani menantang setiap ancaman Ridwan. Ridwan berjalan menghampiri Adelia yang terlihat kelagapan karena Ridwan mulai menghapus jarak di antara mereka. Langkah Adelia juga perlahan melangkahkan kakinya mundur, begitu Ridwan benar-benar menghapus jarak di antara mereka. Sampai punggung Adelia menabrak sebuah dinding, Adelia sudah gugup kini nafas hangat Ridwan bisa ia rasakan menyapu anak rambut di keningnya.
“Lo denger baik-baik ya Del! Gue gak tanggung apa yang akan gue lakuin ke elo. Sampe elo berani macam-macem sama Maryam!” Ancam Ridwan berbisik sangat jelas menusuk gendang telinga Adelia.
Begitu mengucapkan kata tajam itu, Ridwan segera menarik tubuhnya dari Adelia. Tangannya meraih ponselnya dan bergegas keluar. Sedangkan Adelia masih mematung, menyenderkan punggungnya pada dinding. Ada yang mencelos di hatinya begitu orang yang begitu dalam ia cintai membela orang lain di hadapannya.
Adelia merosot, kakinya tidak tahan berpijak. Suara Ridwan di telinganya dan juga tatapan membunuh lelaki itu masih terngiang-ngiang. Adelia menahan sekuat tenaga agar ia tak menitikkan air matanya. Ia berusaha membiasakan dirinya agar tidak pernah menangis ketika menghadapi Ridwan. Ia tidak sok tegar hanya tidak mau terlihat lemah.
TBC