Keadaan tak kunjung membaik siapa bilang Adelia sudah berbaikan dengan Ridwan, lebih tepatnya Ridwan yang terus berusaha membujuk Adelia untuk mengobrol dengan biasa padahal perempuan itu tetap diam dan bersikap dingin. Adelia tidak memulai pertengkaran hanya cukup mengacuhkan Ridwan saja mampu membuat laki-laki itu frustasi.
Mereka akan saling menutupi dengan sandiwara seolah rumah tangga mereka baik-baik saja tapi itu bohong Adelia tidak mau berdamai dengan Ridwan, meski dalam hatinya yang paling dalam perasaannya masih sama begitu dalam dan tulusnya perasaannya pada suaminya perbedaannya hanya saja sekarang ia tidak mau menunjukkannya.
Ridwan, berangkat ke kantor masih sama dengan rutinitas sebelumnya dengan bekal buatan istrinya dan sarapan kopi yang tidak terlalu manis buatan istrinya juga. Perbedaannya suasana rumah tak lagi seperti dulu, Ridwan benar-benar uring-uringan setiap tiba di rumahnya, diacuhkan Adelia membuatnya terlilit emosi yang tak kunjung padam.
Ridwan pun pasrah, setiap bertengkar yang dilakukan Adelia hanya menangis kemudian mengulanginya kembali. Membuat Ridwan semakin merasa bersalah pada istrinya itu. Semesta benar-benar menghukumnya melalui Adelia secara langsung.
Ridwan memasuki rumah pukul tujuh malam, Adelia sedang membereskan makanan dan juga menghangatkan makanan untuk suaminya makan malam. Ridwan segera bergegas membersihkan badannya yang sudah lengket karena terus terpapar matahari. Adelia mengetahui kedatangan suaminya namun ia mengabaikannya saja. Semenjak kejadian di resepsi pernikahan itu Adelia benar-benar menjadi pribadi yang sangat dingin.
Tak berapa lama, Ridwan sudah menuruni tangga menghampiri Adelia yang sedang memainkan ponselnya. Ridwan duduk disamping Adelia ia melihat satu persatu lauk dihadapannya. Ridwan pun segera menuangkan beberapa sendok lauk di nasi yang sudah disiapkan istrinya juga.
“Del! “Panggil Ridwan mencoba mencairkan suasana.
Mereka duduk memang bersebelahan namun seperti berbeda ruangan tidak ada obrolan sama sekali. Ridwan merasa tidak nyaman jujur saja, Adelia tetap biasa saja karena sebenarnya dalam hatinya meski ia tampak tak peduli namun ia masih tetap Adelia yang mencintai Ridwan sedalam samudra, seluas semesta.
“Besok mau ke rumah Bunda?” Tanya Ridwan pada Adelia yang rupanya sudah menoleh itu.
“Nggak! Kenapa?” Tanya Adelia begitu dingin.
“Nggakpapa, tanya..”
Drrrttt..drrttt..
Andi is calling…
Ucapan Ridwan terpotong dengan ponsel Adelia yang berdering, Ridwan melirik dingin ponsel yang buru-buru dimatikan oleh Adelia, Adelia segera meraih ponselnya dan berjalan menuju kamar. Ia tidak mau terkena pelampiasan emosi Ridwan. Adelia sudah tahu jika Ridwan pasti akan marah besar kepadanya.
Ridwan memijat keningnya dan memejamkan matanya. Baru saja ia bisa mengobrol dengan Adelia namun lagi dan lagi emosinya terpancing hanya karena sebuah nama familiar. Ridwan sudah nafsu makan ia segera menyusul Adelia di kamar membuat perhitungan.
“Kenapa lari?” Tanya Ridwan pada Adelia yang duduk di tepi ranjang itu.
Adelia yang terkejut dengan kemunculan Ridwan dibalik pintu hanya diam dan memandang Ridwan sedikit takut, ia takut Ridwan akan mengamuk seperti kemarin memporak-porandakan seisi kamar. Ridwan menghampiri Adelia berdiri di hadapannya membuat Adelia mendongak menatap Ridwan.
“Masih berhubungan sama Andi rupanya?” Tanya Ridwan sinis membuat Adelia justru memutar bolanya malas. Lagi dan lagi Ridwan memulai pertengkaran kembali yang berunjung semua disekitarnya terkena amukan temperamen Ridwan.
“Mas udah nggak usah mulai!” Ucap Adelia tak kalah dingin, ia sudah lelah dengan setiap pertengkaran yang justru memperburuk suasana.
“Aku nggak akan mulai kalau nggak ada masalah Adelia!” Ucap Ridwan menggertakkan giginya menahan emosinya agar tak meluap tanpa bisa ia kendalikan.
“Mas Ridwan mikir! Yang menelepon Andi bukan aku. Kenapa justru aku yang kena marah.” Ucap Adelia membela diri ia tidak mau disalahkan karena sebuah panggilan dari Andi.
“Itu artinya kamu juga sering menelepon dia!” Jawab Ridwan membuat Adelia terdiam, ucapan Ridwan ada benarnya juga.
“Itu cuman pemikiran kamu! “ Cibir Adelia justru membuat Ridwan murka, ia tiba-tiba menarik paksa ponsel Adelia yang beruntungnya digenggam perempuan itu dengan kuat. Ridwan yang melihat Adelia menggenggam ponselnya dengan kuat semakin merebutnya juga dengan kuat. ‘
“Mas Ridwan mau ngapain?” Tanya Adelia melihat Ridwan yang berdiri namun dengan sekali hentakan ponselnya hampir saja dapat direbut oleh Ridwan.
“Mau mengecek apakah yang kamu bilang itu benar!” Jawab Ridwan dengan nada yang terdengar sangat meremehkan.
“ENGGAK!”
PLAAKKK…
Karena tenaga Adelia yang kuat menarik tangannya yang digenggam oleh Ridwan, sampai terlepas dan ujung ponsel mengenai pipi Ridwan sampai sedikit ada goresan darah disana membuat Adelia tertegun, ia terkejut dengan apa yang dilakukan memukul suaminya tanpa sengaja.
“Dengan sikap kamu ini, kamu fikir aku percaya kalau kamu tidak ada hubungan sama Andi.” Ucap Ridwan mencoba menyentuh luka di pipinya, lukanya hanya satu garis kecil namun terasa sedikit ngilu.
“Kenapa mas Ridwan sangat marah seperti ini! Dulu saat dengan Maryam. Aku tidak pernah mengganggu hubungan kalian sekalipun aku berhak karena aku istri kamu. lalu kenapa sekarang masalah kecil selalu dibesar-besarkan? Aku bisa protes waktu kamu jalan sama Maryam, kamu komunikasi dengan Maryam saat di Jakarta.” Ucap Adelia menjelaskan panjang lebar, ia merasa ini tidak adil baginya, apa yang dilakukannya selama Ridwan masih menjalin hubungan dengan Maryam tidak sebanding dengan yang ia peroleh.
“Yang udah ya udah kan Del! Kenapa dibahas lagi?” Tanya Ridwan tidak terima masalah yang sudah berlalu diungkit kembali sebagai tolak ukur.
“Mas Ridwan bilang gitu karena masalah yang Adelia ungkit karena salah mas Ridwan. Kalau Adelia yang salah mas Ridwan terus membahasnya!” Tegas Adelia membuat Ridwan bungkam.
“Kamu mau apa?” Tanya Ridwan menghela nafas panjang akhirnya mengalah, nada bicaranya merendah.
“Kenapa mas Ridwan nggak ceraiin Adelia aja seperti yang mas Ridwan impikan dari dulu?” Tanya Adelia dingin, perasaannya sudah terkalahkan dengan keinginannya untuk lebih baik berpisah dengan Ridwan daripada dipertahankan namun tak kunjung membaik.
"Aku nggak bisa!" Tegas Ridwan begitu mendengar ucapan cerai dan cerai dari Adelia.
"Kenapa mas Ridwan takut kehilangan harta dan jabatan mas Ridwan!" Gertak Adelia sudah muak dengan berbagai alasan Ridwan.
"Kamu pikir aku lelaki seperti apa?" Tanya Ridwan benar-benar geram dengan tingkah laku Adelia. serendah itu pemikiran perempuan itu pada lelakinya sendiri.
"Iya terus kenapa mas Ridwan nggak bisa cerain Adel?" Desak Adelia terus menerus. ia ingin tahu apa alasan sebenarnya lelaki itu.
" Mas sayang sama kamu!"
Empat patah kata mampu bungkam bibi Adelia, hingga perempuan itu terkatup rapat. Adelia tertegun, apa benar yang dikatakan Ridwan masih tanda tanya besar. Ridwan juga terdiam, kata itu yang keluar dari mulutnya begitu keadaan mendesaknya.
TBC