Budi menatap Rosa dengan tatapan tajam, membuat Rosa semakin bergidik ngeri. Budi tak percaya kalau Rosa tetap menjadi wanita mata duitan, bahkan dalam keadaannya saat ini. Begitu juga dengan Rosa, ia tak percaya kalau Budi akan selicik ini. Meninggalkan alat perekam di kamarnya, hanya untuk mengetahui kata-kata apa yang keluar dari bibirnya. "Ini yang kau lakukan?" tanya Budi. "A-aku.." Rosa tak bisa melanjutkan ucapannya melihat tatapan Budi yang semakin tajam, lidahnya terasa kelu bahkan wajahnya berubah pucat pasi. "Kenapa? Kamu kenapa?" tanya Budi, namun Rosa memilih untuk diam. Ia takut kalau dia salah bicara, yang ada Budi akan semakin menggila. Budi bangkit dari duduknya, lalu berdiri tepat di hadapan Rosa. Melonggarkan dasinya, lalu menatap Rosa semakin tajam. Namun Rosa hanya

