Pagi ini, aku disambut dengan dua wanita yang sangat memuakkan bagiku. Si lampir tua dan rubah licik yang lebih tepatnya adalah mama mertuaku dan adik iparku. Aku tidak sudi memanggil mereka dengan sebutan itu, setelah apa yang mereka lakukan padaku. Entah apa yang mereka lakukan di rumahku, aku tidak tau. Tidak mungkin mereka datang untuk meminta uang, karena Rei belum gajian. Kali ini sangat berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Biasanya si lampir tua ini sudah mengoceh dan membuat onar di rumah, tapi pagi ini sangat tentram dan damai. Aku melihat si lampir tua dan rubah itu duduk di sofa, sedang berbincang-bicang dengan Rei. Entah apa yang mereka bicarakan, sebenarnya aku sangat penasaran, tapi aku mencoba untuk tetap tenang. Aku tak ingin menambah fikiranku dengan hal itu. Aku langsung

