Aku duduk di sebuah cafe tempat dimana aku dan teman-temanku biasanya nongkrong. Clarisa memaksaku untuk makan di sebuah restoran, karena memang sudah janjinya untuk mentraktirku makan. Aku senang bisa menikmati makan di restoran setelah sekian lama, tapi mood-ku hilang setelah berseteru dengan rubah dan lampir tua itu. "Kak, aku gak habis pikir dengan sikap kakak ipar. Bahkan dengan gampangnya dia berkata untuk menjual motorku, memangnya itu uang nenek moyangnya? Aku greget melihat keluarga kakak" Clarisa membuyarkan lamunanku. "Hei, itu bukan keluargaku. Aku tidak pernah memiliki keluarga lampir dan rubah, dan juga lintah darat seperti mereka" kesalku. "Tapi biar bagaimanapun kakak ipar tetap suami kakak" faktanya. "Ya, dan itulah yang sedikit aku sesali. Kenapa aku bisa sampai di si

