179. Sabar menunggu

2133 Kata

Renata pulang dengan emosi dan rasa sakit yang menggerogoti pipinya, pipi yang mendapat belaian kasar dari Clarisa dan teman-teman Claudia. Segera ia merogoh tasnya, mencari ponselnya lalu menghubungi seseorang. Renata: tak ada pilihan lain, kita harus clearkan semua ini. Tidak ada lagi kesempatan untuknya, kita harus membuatnya benar-benar tak bisa berbuat apapun selain menyerah. Datang ke rumah sekarang, semua harus berjalan dengan baik. Renata memutuskan sambungan teleponnya, lalu tersenyum devil. "Aku menghindari rencana ini, berharap kau mau mundur dengan baik-baik Claudiaku yang malang. Tapi sayangnya, kau seolah memaksaku dan mendorongku untuk melakukan hal ini. Jadi jangan salahkan aku, jika kau akan menangis darah setelah kejadia tragis ini" ucap Renata penuh kemenangan. Denga

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN