Pagi ini aku duduk di taman belakang, Rei datang menghampiriku. Masih ada rasa canggung diantara kami, tapi aku tetap berusaha untuk membuatnya nyaman. Rei mengelus perutku lembut, lalu menciumnya penuh cinta. Aku berusaha menahan air mataku, aku terharu dengan apa yang aku rasakan saat ini. Rasanya seperti mimpi, meski hanya sesekali, tapi aku bahagia bisa merasakan sedikit perhatian dan cinta darinya ketika tidak ada lampir tua itu. "Apa kamu tidak ingin USG?" Rei membuka percakapan. "Sebenarnya aku ingin, tapi.." aku menggantung kalimatku. "Apa kau memikirkan uang? Aku sudah gajian, jadi kamu bisa USG. Maaf belu bisa memberikan gajiku seutuhnya padamu, bersabarlah, hanya dua bulan lagi" kata Rei. "Tidak apa. Sebenarnya aku ingin membeli perlengkapan bayi" aku sedikit tertunduk, menu

