"Apa aromamu seenak ini?" Daisy menarik napas bosan. Ini adalah kalimat rayuan Drew yang keseribu atau kalau dia malas menghitung, untuk yang kesekian kali. "Kau tahu apa julukanku dulu di SMA?" Drew tertarik. Tapi tetap tidak melepas pelukannya. "Daisy si pembunuh hati para pria." Alis Drew terpaut. "Itu julukan kami," ralatnya. Wajahnya menampilkan guratan terkejut. Namun, sinar matanya percaya dan geli sekaligus. "Aku serius," balasnya gusar. Memainkan jemari tangannya di atas perut. Mereka berbaring. Menikmati malam yang berjalan pagi. Daisy bisa tidur sampai siang. Dan harus berlari seperti debt collector ketika siang hari hanya agar tidak tertinggal bis. "Mereka belum pantas disebut pria. Tidak sejantan itu. Dan kekanakkan." Drew menatapnya datar. "Kau bersekolah di sekolah um

