1. Challenge

1323 Kata
-Daren's POV Pagi hari yang cerah sangat cocok untuk memulai hari. Tapi pagi ini sama aja seperti pagi-pagi sebelumnya. Balapan ke sekolah bersama tiga orang bodoh yang sudah bersamaku sejak aku pindah ke sekolah ini. Brrrmmm... Sialan! Bisa-bisanya aku kalah. Biasanya aku selalu menang dari teman-temanku ini. Firasatku mengatakan hari ini bukan hari membosankan seperti biasanya lagi. "Ih ganteng, sini eike pijitin biar gak emosi lagi" Roby memegang pundakku dengan gaya manjanya. Bukannya menyemangati, ia malah makin membuatku kesal. Roby ini multitalen. Multitalen karena bisa jadi Roby, bisa juga jadi Berbi. Bener kata orang-orang, cowok ganteng sekarang demen nya sama cogan juga. Untung dia masih ada gunanya untuk disuruh-suruh, kalau tidak pasti sudah ku buang dari dulu. "Jijik tau, sana lo sana!" Aku mendorong si Berbi agar menjauh. "Gausah muluk-muluk deh, jadi apa nih hukumannya?" Tanyaku masih dengan wajah kesal. "Lo harus bisa pacaran sama bu kepsek yang rambutnya kayak sarang tawon hahaha.." Ren, sohib kami yang paling playboy bermodalkan harta melimpah dan wajah good-looking. Tidak mungkin kan harus pacaran sama tante-tante begitu? Apa aku harus sebut nenek-nenek? "Enak aja, lo aja tuh. Siapa tau kali ini lo tobat kalau sama nenek-nenek." Balasku sengit. "Eh bro, tipe gue itu yang body sexy, muka cantik, badan kecil imut-imut biar enak dipeluk. So, your grandma's not my type at all." Jawab Ren dengan gaya yang sengak bener. "Buset, kenapa jadi bawa-bawa nenek gue? Nenek gue udah mati tau! Mau lo ditemenin tidur sama arwah nenek gue nanti malam?" "Udah deh, mending kasih aja anak ini hukumannya." Protes Berbi yang sudah berganti ke mode Roby untuk menengahi pertengkaran aku dan Ren. "Gimana..." Kami semua terdiam dengan mata tertuju pada Harel, si cowok pendiam yang kalau bicara ngirit banget. Masih menjadi misteri kenapa ia mau bergabung dalam pertemanan bodoh ini. Dan yang membuat kami semua tersadar dia tidak melanjutkan kata-katanya. Buset dah. Kalau kata Roby, jangan gantungin adek bang. "... cewek di sana" Lanjut Harel. "Hah?" Layaknya paduan suara kami semua kompak membuka mulut dan kaget mendengar apa yang keluar dari mulut anak pendiam itu. "Ma-maksud lo?" Kali ini Roby terlihat serius. "Lo naksir cewek itu?" Candaan Ren tidak ditanggapi sedikit pun oleh Harel. "Lo mau, gue jadian sama dia.. karena kalah balapan?" Tanyaku memastikan. "Kenapa enggak? Dia terlihat menarik dengan lingkaran hitam di matanya yang gak terlihat seperti kantung mata." Oke, kali ini aku bakalan setuju siapapun yang mau bilang Harel aneh, gila, sinting dan semacamnya. Secara, dari segi penampilan cewek itu  aneh banget. Iya sih lingkaran hitam di matanya cantik, tapi seram. Wajah datar yang dingin dan terpaku pada dunia buku. "Kayaknya kita beda tipe, man. Sori-sori aja, gue gak bakal mau deket-deket yang serem kayak gitu." Kali ini Ren angkat tangan. Kalau boleh jujur, dia sebenarnya tidak semenyeramkan itu. Sedikit manis malahan. Yah, berhubung aku baru di sini, jadi tidak tau tentang anak lowprofile seperti cewek itu. Dan sepertinya teman-temanku,  tidak berminat atau memang tidak tau tentangnya. "Yaudah, dia bahan taruhan kita. Gue bisa kok bikin dia bertekuk lutut sama kegantengan gue yang tiada tara ini." Aku membetulkan rambut supaya lebih ganteng. "Ehm guys, bukannya mau gangguin kalian. Tapi... cewek itu kan..." Roby yang sedari tadi diam malah tiba-tiba bicara. Dia juga tampak ragu mengeluarkan kata-katanya. Tumben banget bentukan kayak dia bisa diem aja. Kayaknya sih, dia lagi observasi cewek aneh itu. "Cewek itu yang bik---" "Eh eh, dia pergi tuh! Yah..." Kata-kata Roby dipotong seenak jidat oleh Ren. Mentang-mentang jidat nya lebar jadi harus diturutin terus maunya. Kali ini Roby benar-benar ketularan anehnya Harel yang mulai banyak omong juga akhir-akhir ini.  Bisa jadi mereka baru puber kan. "Gue serius nih, jangan dipot---" "ARRRHH!!! AKKHHH..." Entah karena emang nasibnya yang s**l, lagi-lagi omongan Roby terpotong. Kali ini bukan karena hal tidak penting dari Ren, tapi karna teriakan seseorang. Suara teriakkan itu terdengar dari arah gudang yang kebetulan memang tidak jauh dari tempat kami nongkrong. Yah emang sih di sana tempat keramat yang haram didekati saking seramnya. Tapi di taman depan gudang masih banyak anak-anak. Spontan kami berlari ke arah sana. Begitupun anak-anak lainnya. Mungkinkah, ini salah satu kejutan itu lagi? ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami semua terduduk lesu dan terdiam di pojokan kantin. Tidak ada niat belajar sama sekali, apalagi makan. Yah, lagian guru-guru juga sedang sibuk. Alhasil, kami dapat jam kosong lagi. Tidak seperti jam kosong di sekolah lain, jam kosong di sekolah ini tidak dipedulikan. Kenapa? "Ya gimana enggak, emang lo berani keluar kelas abis denger ada yang dapat kejutan?" Begitu kira-kira jawaban dari Ren saat pertama kali aku bertanya. "Kejutan? Lah enak dong dikasih kejutan." Jawab ku polos. "Sttt.. gausah keras-keras gitu! Kejutan ini beda." "Maks---" "Teror." Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Harel. Anehnya, kedua sohibku yang lain malah mengangguk saja dengan pernyataan aneh dari cowok aneh ini. Harel gak aneh-aneh banget sih, dia normal kalau sedang main game. Kalau tidak, dia jadi mirip cewek tadi siang. Kembali ke saat ini. Aku baru pertama kali menyaksikan langsung kejadian seperti ini. Sekolah aneh dengan kejadian aneh dan anak-anak anehnya. "Nih minum dulu, jangan dimuntahin tapi." Roby menyodorkan teh hangat kepadaku. Mungkin karena pertama kali makanya aku shock sampai muntah di tempat. Untungnya tidak ada yang melihat. Kalau enggak, gak tau deh seberapa malunya cowok ganteng muntah di depan orang ramai. Aku memang tipe orang yang tidak gampang percaya. Setelah melihat darah tergenang dimana-mana, bahkan sempat muntah, aku percaya 'kejutan' itu benar-benar ada. Di jendela gudang pun tertulis "Boo... kejutan". "Gue percaya kalian deh sekarang, malu berat tau sampai muntah segala." Ucapku merespon tatapan mengintimidasi dari teman-temanku. "Bagus deh, biar gak sok-sokan lagi. Untung cewek lo gak liat, kalau liat, mampus lo." Kata Roby dengan tawa ledeknya yang memancing emosi. "Ngomong-ngomong soal cewek lo, gimana tuh taruhan kita?" "Ya gak usah dikashi tau aja." Ren menanggapi dengan cuek. "Gue bukan playboy kayak elo. Gue putusin dulu deh kalo gitu. Tapi gue gak punya kata-kata yang bagus nih dan gue gak bakal sudi kalau Ren atau Roby yang bantu mutusin cewek bawel itu." Sontak kami bertiga melirik Harel yang dari tadi diam dan menerawang entah kemana, siapapun bakalan sadar kalau jiwa anak itu tidak sedang berada di tempatnya. "Kenapa gue?" Harel mengernyitkan dahi ditatap intens oleh kami bertiga. "Kan elo yang paling s***s dan baik di antara kita." Aku menyodorkan ponsel pada Harel. "Yaudah sini hpnya. Tapi kalau tiba-tiba dia balas dendam trus ngeluarin isi perut lo, gue ga tanggung jawab." "Hiiyy! Jangan ngomong gitu, eike atut tau gak." Berbi memeluk Ren yang duduk di sebelahnya Harel pun langsung merenggut hpku, mengetik beberapa kata, "kita putus", tepatnya dua kata ke kontak Shela. "Setelah si weird tadi pergi, langsung ada korban." Lagi-lagi Harel nyeletuk tidak pada tempatnya. Semua orang masih mengalami kengerian, berharap melupakan kejadian s****n itu (yang ngomong-ngomong nembuatku muntah) sementara semua orang berharap melupakannya. Mana ngatain orang weird, sepertinya dia 'kurang' sadar dia seperti apa. "Ada benernya sih, cewek tadi agak mencurigakan." "Kalau dia mencurigakan sekalipun, lo pada mau ngapain? Nanya ke dia? Menguntit dia?" Roby merenggut kacang dari tangan Ren. "Ih ogah gue. Ntar kalau ternyata dia beneran pelakunya lo mau apa? Ngasihin nyawa ke dia? Mati aja, hidup gue masih panjang, punya pacar juga belum" Ren bergidik ngeri sambil merapikan jambulnya. "Kayaknya sih bukan pelaku, lebih tepatnya tau sesuatu." Jawab Harel yakin. "Jangan-jangan Harel beneran naksir. Eh, itu kan target gue, sesuai taruhan kalian itu lho. Lagian ngapain kita mikirin kejadian tadi?" Aku tertawa renyah. Mereka semua hanya terdiam mendengar kata-kataku. Wajah tak terima pun mereka tunjukan. Kata-kata ini hanya untuk menghibur diriku sendiri. Siapa yang bisa berhenti membayangkan mayat perempuan, bergelimangan darah, dengan rambut botak, dengan usus terburai dibuat seperti simbol sekte sesat, dengan rambut nya yang sudah dipotong dijadikan taburan bunga di atas mayat itu? Hoek, membayangkannya saja membuat aku mual lagi. Sesegera mungkin ku tengguk lagi teh hangat itu sekalian mendorong cairan yang ingin keluar lagi. Tiba-tiba Harel menyikut kami satu persatu dengan tak sabaran. Tak biasanya dia mau begini. Sontak kami semua kaget dan melihat sekeliling. Yang mata kami temui adalah sesosok cewek berkulit putih pucat yang berjaket hitam tebal berlumuran darah hampir di sekujur tubuhnya. Gadis itu datang dengan buru-buru lalu membeli banyak tisu di sebuah toko di depan kantin. Gadis itu memegang sesuatu. Kami semua hanya terpana mengamatinya, penasaran dengan apa yang ada di tangannya itu. Tak disangka, itu pisau berlumuran darah juga. Ini semakin mencurigakan. Saat kami sedang memperhatikan dengan seksama, tiba-tiba gadis itu melihat kami. Sorot matanya tajam dan dingin, membuat kami semua terkejut dan sedikit berteriak. "Itu... cewek aneh tadi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN