2. Cold Princess and The Mask

1294 Kata
Saat aku dan teman-temanku masih terpaku dengan kejadian yang pastinya membuat semua orang shock, bahkan tidak sedikit di antara mereka yang menangis, berteriak, histeris, takut dan sebagainya, seorang gadis misterius berlumuran darah lalu lalang sekenanya. Yah, gak lalu lalang juga sih, tapi dia pergi keluar seenaknya. Orang normal pasti lebih memilih segera ke toilet untuk membersihkan badannya. Berbeda, gadis UNIK ini (karna weird dan aneh udah terlalu sering muncul) malah keluar seakan-akan yang dibajunya itu hanyalah air biasa yang diberi pewarna merah. Dan yang tidak kalah parahnya, dia menatap kami yang ketauan banget lagi mengawasi dia. Entah memang bodoh atau kurang pintar, dia malah menunduk lalu pergi, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. "Huft... dia seram, mencurigakan, dingin, tapi beruntung kita selamat." Tumben sekali Harel sangat tertarik, padahal ini dunia nyata, bukan dunia gamenya tercinta. "Itu darah apa cat atau gimana sih?" "Dasar b**o, lo tanya aja sendiri 'cewek, itu darah ya? Boleh abang periksa duli gak?'" Ren menoyor kepala Roby cukup keras. "Ih jangan dong bang, eike masih suci." Yang ditabok justru menyilangkan tangan di depan d**a. Tanpa komando kami langsung menjotos kepala Roby alias si Berbi ini. Becandanya gak ingat tempat banget. "Hanyir..." Sontak kami semua kaget mendengar kata-kata Harel. Benar, baunya terasa dekat bahkan kami bisa merasakan darah itu hangat dan semakin membuat kami semua merinding. "ANJING!" Kami semua meloncat dari kursi masing-masing saking kagetnya. Di depan kami semua, di meja tempat kami duduk, terhidang sebuah jaket hitam. Bukan, bukan hitam, jaket hitam kemerahan.. berlumuran darah tepatnya. Layaknya banci betulan, kami berteriak (oke, ini benar-benar memalukan) histeris. Pas banget mirip banci sedang kena razia. "Hahaha... adik-adik ganteng takut darah toh. Untung ganteng dik, kalau tidak sudah saya kasih ke satpolpp di depan." Ucap si abang penjaga kantin dengan logatnya yang kental. "Apaan sih ini?! Gak lucu tau!" Syukur deh syukur... kirain tadi cewek weird itu marah. Makanya dia melempar jaketnya. Siapa juga yang bakal kesel diliatin cogan kayak kami-kami ini. Tapi cewek aneh seperti dia tidak mungkin bisa tertarik pada cowok sepertiku. Kalau begitu, taruhannya gimana dong? Yang melempar jaket itu ternyata penjaga kantin yang rese banget. Mungkin gara-gara kami udah keseringan ngutang makanya jadi dikerjain gini. Tapi tunggu! Jaket ini kan jaket yang dipakai si weird. Itu berarti, cewek aneh itu ada di sini! Sontak pandangan kami tertuju kepada cewek, yang ngomong-ngomong udah bersih dari darah. Dia melihat kami dengan tatapan peduli-amat-sama-mereka-kenal-juga-kagak. "Ini nih non, yang liatin dari tadi. Saya sih gak mau nanti si non teh diikutin mereka-mereka ini. Cewek cantik ga boleh sendirian aja non." Si abang menunjuk kami satu persatu. "Siapa yang mau ngun..." Secepat kilat cewek itu ngambil lagi jaketnya yang berlumuran darah dan sempat dijadikan tontonan beberapa saat di hadapan kami. Berarti, cewek itu denger kami teriak kayak banci juga dong? Wah gawat, bisa-bisa reputasi kami terancam. Mumpung dia di sini sebaiknya aku memulai rencana untuk mendekatinya. Siapa tau bisa tepe-tepe (tebar pesona) biar lancar urusan taruhannya. "Ehm, tunggu. Kita gak bermaksud liatin lo tadi, cuma heran aja itu.. jaketnya berdarah-darah." Aku mempercepat langkah agar bisa berjalan beriringan dengannya. Cewek itu mengangkat kepalanya dengan gaya yang serem banget! Kepalanya sedikit miring, matanya belo, tanpa ekspresi. Gue serasa mau teriak, sekeras mungkin, biar Tuhan denger gue dan ngilangin hantu dengan mata hitam-hitam gak jelas ini. Cewek itu seperti mau bilang sesuatu. Dia mulai buka mulut dan... "Daren!" Oh da*mn! Kenapa cewek alay alias pacar gue, tapi nampaknya udah mantan, datang kayak setan yang bener-bener gak diundang. Cewek weird tadi langsung menutup mulutnya lagi lalu pergi menghilang entah kemana. Jalannya cepet amat. "Daren, honey, why? Something wrong with your brain? Daren please, look at me! I wont you finis-" "Shut up." Aku masih mencari-cari arah perginya cewek tadi sambil membekap mulut Shela yang kalo gak dibekap pasti bakalan nyerocos dan kelar 2 jam lagi. Untunglah teman-temanku datang untuk membantu. "Daren, let's go honey, kita kan udah janjian." Roby jadi sang penyelamat di saat-saat begini. Meski kepengen muntah, kami bersyukur punya dia yang bisa melepaskan aku dari cewek rusuh itu. "Sip, baru kali ini gue seneng dipanggil honey sama cowok" "Oke, gue panggil lo honey mulai sekarang ya?" "Mati aja lo-_-" ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ "Ngomongin apa aja sama cewek weird itu?" "Baru sempat klarifikasi soal teriakan kita itu, malu-maluin kan." "Tapi inget lho taruhan." "Inget kok-- karena inget makanya gue deketin tadi." "Sayang banget, mak lampir lo itu muncul di saat yang gak tepat" "Nah iya--" Berhubung polisi mulai ramai berdatangan, bahkan juga wartawan, sekolah dipulangkan lebih awal. Gimana enggak, masa belajar saat ribut-ribut ada yang mati isi perutnya pada berantakan. Karena emang dasarnya pada males pulang, kami pun memutuskan untuk nongkrong dulu di tempat biasa, Cafe Pelangi Warna. Tapi sebelum nyampe di tempat parkir, kami melihat si cewek weird mengendap-endap layaknya seorang pencuri. Tanpa dikomando, kamipun kompak mengikuti cewek itu. Dia membawa tas yang isinya padet banget. Kayaknya barang yang penting banget. Dan dia juga menuju arah parkiran. "Apaan tuh di tas nya? Jangan-jangan organ korban. Hiyyy!" "Hush, diem aja deh. Kalo penasaran mending kita ikutin aja." "Btw, gak mungkin lah itu organ. Kan kita udah liat organ-organ yang bertebaran itu masih lengkap, sampe-sampe abang ganteng di sini muntah." Sial, mereka masih ingat aja. Ku kira karna kejadian ini menjijikan jadi wajar aja seaeorang muntah, gataunya masih aja diketawain. Ternyata, cewek itu berjalan ke sebuah ninja hitam yang mengkilap. Jadi... dia bawa ninja ke sekolah?! Cewek serem, aneh dan... perkasa(?). Tiba-tiba hpnya berbunyi, lantas dia segera mengangkat telfon itu. "Baik, saya segera ke sana." Buset, ngomongnya formal amat. Aku dan teman-temanku langsung saling bertatapan geli karena jarang-jarang ada cewek ngomong formal begitu, mana muka serius banget pula. Dengan rapi dan terampil, dia meletakkan tasnya sedemikian rupa sehingga tidak akan ada yang curiga. Dia pun langsung melesat dengan ulet membawa motor gede yang jarang dibawa cewek. Biasanya kan cewek-cewek manja di sini bawanya mobil atau pakai sopir gitu. "Ayo! Ngapain pada bengong?" Harel sedikit berteriak karena dia sudah sekitar 20 meter di depan kami. Dia tidak gampang terpana. Sudah diputuskan, kami akan benar-benar menguntit cewek itu. Sesegera mungkin kami berlari menuju motor masing-masing dan berusaha menyusul cewek itu. Sayangnya, dia sudah tidak terlihat lagi. Berapa sih kecepatannya? "Lo pada lamban sih, udah ilang kan dia" "Lagian, ngapain sih kita ngikutin dia? Gue kan udah bilang kalo dia bukan tipe gue." "Emang kalian gaada curiga-curiga nya gitu?" "Eh, ini ada kaitan sama kejadian tadi? Gue kira kalian mau bantuin taruhan itu lho" "Ah udah deh, mending pergi makan aja, laper tau galk." "Makanan kantin aja gak kebayar, sok-sok ke cafe pula--" Kamipun segera menuju ke Cafe Pelangi Warna yang kebetulan tidak jauh dari sekolah. Seperti biasa, kami langsung memesan makanan. Tapi kali ini aku masih sedikit membayangkan kondisi mayat Sarah (baru tau namanya dari pengumuman) yang tidak perlu aku sebut-sebut lagi. Tapi apa boleh buat, terpaksa aku tetap memasukkan makanan itu ke perut. Ya kali aku mengutarakan isi hatiku pada anak-anak yang keliatan belum makan 5 hari ini. Bisa-bisa aku ditendang keluar sama mereka. "Kalian... masih aja nafsu makan ya." Akhirnya aku buka bicara, tentunya setelah kami semua menghabiskan makanan. "Masa gara-gara Sarah mati gue harus mati kelaparan juga?" "Dihantui tau rasa lo!" "Ih engga deh engga, atut eike cyin." Perhatian kami pun teralihkan pada Harel yang lagi-lagi malah bengong. Tapi perhatiannya tertuju pada sebuah meja. "Rel, ada apa sih?" "Oh itu..." Harel menunjuk sebuah meja di pojokan. Di sana ada dua orang sedang ngobrol, seorang pria dan wanita. Tapi si pria keliatan lebih tua, om-om lah sebutannya. "Ukh perih... om-om aja dapet cewek cakep gitu. Apalah daya gue yang gak punya cewek ini." "Bukan itu bego." Kami semua kompak menepuk kepala Roby. Jelas-jelas memang ada yang aneh di antara mereka berdua. Dan pastinya bukan hal-hal yang dibayangin Roby. Si cewek meletakkan tas besarnya yang padat dan terlihat berat di atas meja. Lalu membukanya dan mengeluarkan sebuah kotak. Tunggu... tas? Itu kan... "Tas si cewek weird!" Ren terpekik namun segera menutup mulutnya. Takut ada yang mendengar. "Iya, tapi muka cewek itu kok lebih cantik ya, kayak orang normal." "Kalo itu bukan dia, dia dibegal dong sampai-sampai tasnya pindah tangan." "Bukan... itu memang dia." Harel kembali mengejutkan kami dengan kata-katanya. Dia sendiri pun masih tampak ragu dengan kata-kata itu. Tak lama kemudian si cewek itu mengeluarkan topeng dari dalam kotak. Topeng putih dengan wajah manis namun penuh misteri dan... agak seram. Juga dengan bercak darah menghiasinya. "Topeng Si Pemberi Kejutan?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN