3. "A"

1384 Kata
-Harel's POV Baru saja sampai di Cafe Pelangi Warna, perasaanku sudah tidak enak. Apalagi sejak tadi Daren terlihat sangat gelisah. Maklum saja, ini pertama kali dia melihat kejadian itu. Sementara aku? Tak pernah melewatkan satu pun kejadiannya. Roby dan Ren yang terus-terusan mencoba menghibur sepertinya juga menyadari keadaan Daren. Walaupun candaan mereka menjengkelkan, setidaknya itu sedikit berhasil. Namun perhatianku langsung teralih tatkala seorang perempuan dan laki-laki yang sudah pantas disebut om-om memasuki cafe ini. Mereka juga mengambil meja di sudut ruangan, sepertinya ada sesuatu yang penting yang tidak perlu didengar orang lain. "Rel, ada apa sih?" "Oh itu..." Tiba-tiba Daren mengejutkanku. Aku masih memikirkan cewek misterius tadi dan tas yang dibawanya. Nampaknya itu tas yang sama dengan yang dipegang gadis di meja pojok itu. "Ukh perih... om-om aja dapet cewek cakep gitu. Apalah daya gue yang gak punya cewek ini." "Bukan itu bego." Aku tidak memperdulikan lagi candaan teman-temanku itu. Aku hanya sibuk memantau gerak-gerik cewek itu. Dia nampak berbeda. Tidak lama kemudian, cewek itu mengeluarkan kotak yang berisi topeng. Jadi itu yang membuat dia mengendap-endap saat akan pergi dari sekolah. Lalu, topeng apa dan siapa kah pemiliknya? "Tas si cewek weird!" Kali ini aku kurang beruntung punya teman-teman yang sangat ceroboh. Bisa-bisanya dia berteriak saat mengintai seseorang. Untung saja jarak kami cukup jauh sehingga mereka yang ada di pojok sana tidak bisa mendengar teriakan Ren. "Iya, tapi muka cewek itu kok lebih cantik ya, kayak orang normal." "Kalau itu bukan dia, dia dibegal dong sampai-sampai tasnya pindah tangan." "Bukan... itu memang dia." Aku sangat yakin dengan perkataanku. Yang membuatku ragu-ragu adalah kenapa dia merubah penampilannya. Atau jangan-jangan itulah penampilan dia yang sebenarnya. Dugaanku kalau cewek ini mencurigakan benar-benar terbukti sekarang. Topeng yang berada di kotak itu terlihat sangat penting, tentu saja dengan bercak-bercak darah yang memenuhinya. Apa itu, topeng si pemberi 'kejutan'? Tidak..tidak.. jangan berpikir aneh-aneh dan gegabah. Kita harus punya alasan dan bukti yang kuat. Mungkin karena terlalu terobsesi dengan dunia game, aku jadi sangat tertarik dengan kasus ini. Orangtua ku pun pernah menawarkan untuk pindah dari sekolah aneh itu, tapi aku menolak. Mungkin ini terdengar sedikit jahat, tapi aku benar-benar tidak bermaksud memanfaatkan teman-temanku yang jujur, otaknya memang agak susah bergerak. Melibatkan Daren dan taruhannya kepada cewek itu adalah bagian dari rencana. Darenlah cowok paling keren dan populer di sekolah ini. Dia kapten tim basket dan tentu saja kami adalah anggotanya. Namun entah kenapa dia memiliki kepekaan otak yang minus padahal dalam akademik dia juaranya. Dia bahkan tidak sadar dengan gadis yang terus memperhatikannya saat bermain. Ya, gadis itu adalah cewek weird yang tiba-tiba berganti kostum dan sedang berbincang dengan om-om. Dia terus memperhatikan Daren dari luar lapangan, tepatnya dari taman di depan lapangan. Alasannya tentu saja aku tidak tau. Gadis itu akan mengungkapkan dua hal yang sangat inginku ketahui. Pertama, kenapa dia memperhatikan Daren dan kedua, apa keterlibatannya dalam kasus-kasus ini. Tidak lama kemudian si om-om pun pergi dengan membawa tas berisi kotak yang isinya tidak lain dan tidak bukan adalah topeng dengan bercak darah. Tentu saja tidak ada adegan yang menyiratkan bahwa cewek ini adalah simpanan om-om itu.  "Ren, gimana kalau lo sedikit unjuk kemampuan?" "Oke, kalo gue bisa, jangan lupa bayarin makanan gue." Ren bergegas menghampiri cewek itu sesaat setelah si om-om pergi. Cewek itu kelihatan anggun, sangat berbeda dengan cewek weird itu, tapi ada sedikit kemiripan antara mereka. "Ehem... sendirian aja? Boleh gue duduk di sini?" Cewek itu kaget. Dia terlihat agak gelisah... dan takut(?). Ada sorot kebencian dan dendam dari matanya. Dia hanya diam dan segera mengemas barang-barangnya lalu pergi begitu saja. Meninggalkan Ren yang masih terpana. Sesaat setelah cewek itu pergi, Ren pun menatap kami semua dengan sangat-sangat kebingungan. "Apa ada yang aneh dari gue? Kok tiba-tiba dia malah ngacir gitu?" "Entah hahaha... lo kayak om-om m***m sih." "Eike aja gabakal mau digodain sama lo, apalagi dia." Aku sangat yakin dengan penampilan Ren yang memang tampan, tegap, badannya lumayan, walau masih kalah dari Daren. Tapi cewek aneh itu masih saja menjauh. Yah, setidaknya dari gelagatnya aku yakin bahwa dia adalah si cewek weird. "Btw nih ya, kok jadi dia yang deketin? Itu kan taruhan gue." Daren sengit karena bahan taruhannya diambil oleh Ren. Pastinya akan lebih sulit bagi Daren untuk mendekati cewek itu karena sejauh ini belum ada cewek yang sanggup menolak seorang Ren. ~~~~~~~~~~~~~~~~~ Pagi ini, seperti pagi-pagi lainnya, beberapa motor berisik heboh-heboh di depan rumahku. Untung saja orangtuaku sangat sangat jarang berada di rumah, jadi gaakan ada yang protes dengan kelakuan kriminal mereka. "Harellll buruannn. Masih ngorok ya lo???" Terdengar suara Roby yang setiap harinya memang terbiasa menjadi mama keduaku yang bawel dan berisik setiap paginya. Tapi aku cukup beruntung punya teman pengertian seperti dia, meskipun yah, terkadang mirip banci. Aku pun segera keluar dengan wajah bete seperti biasa, menyalakan motorku lalu pergi bersama mereka. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ "Dar, target lo tuh." Saat lagi asik ngobrol di kantin, kami melihat cewek weird itu sendirian duduk di pojok kantin dengan sebuah buku ditangannya. Kalo dipikir-pikir kembali, dia memang selalu seperti itu sejak pertama kali aku menyadari kehadirannya. "Oke-oke. Bentar ya, liat gue beraksi!" Daren pun langsung memulai pengejaran targetnya alias... pdkt(?). Entahlah, yang jelas Daren terlihat begitu semangat hari ini. "Hai, gue Daren dari club basket." Tangan Daren yang ngajak salaman cuma diacuhkan oleh cewek itu. Tapi ekspresi nya tidak ketakutan lagi, lebih tenang tepatnya. "Ehm.. nama lo?" "A." "A? Itu inisial ya? Gue mau tau nama lo nih." Cewek itu hanya diam, lalu pergi meninggalkan Daren yang mirip anak monyet kebingungan sambil menggaruk-garuk kepalanya. Entah kenapa, wajah Daren berubah cerah kembali lalu mengejar cewek itu. "Ehh tunggu. Kalo gue bisa tau nama lo, lo harus mau jalan sama gue, oke?" Daren membujuk cewek itu dengan tampang sok kerennya, yang biasanya gak bisa ditolak cewek-cewek. Sadar tangannya dipegang kuat oleh Daren, cewek itu berusaha melepaskan diri. Yah apa daya, Daren emang kuat kok, mana mung... "Awwww... oke-oke gue gak ganggu! Tapi please, lepasin gue, sakit banget nih." Apa?? Kok bisa? Secepat kilat keadaan berbalik. Dari Daren mencengkeram tangan cewek itu sekarang malah tangan Daren yang dicengkram kuat sampai berteriak kesakitan. Bisa-bisanya cowok seperti Daren kalah telak dari cewek itu. Kesimpulannya, cewek itu ancaman yang berbahaya. Daren yang berstamina kuat, badan bagus, jago olahraga dan berantem saja bisa dikalahkan dengan mudah olehnya. Dia terlihat sudah sangat terlatih dalam berantem. Akhirnya cewek itu melepaskan tangan Daren dan pergi begitu saja. Aku dapat melihat Roby dan Ren masih saja melongo melihat hebatnya cewek itu. Aku harus lebih berhati-hati jika ingin mengungkap identitasnya. Daren menghampiri kami yang daritadi hanya terdiam melihat dia dipermalukan cewek aneh. "Kalian ngasih tantangan sulit amat ya, gue sampai disiksa gini." "Kita angkat tangan deh kalo ceweknya kayak gitu." "Gue belum nyerah, tunggu aja. Gue cabut dulu!" Daren langsung berlari ke arah perginya cewek itu tanpa memperdulikan kami semua. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ -Daren's POV Kemana ya perginya si weird itu? Mana kuat banget pula, kan malu kalah sama cewek. Pantes aja dia bawa-bawa ninja ke sekolah. Untung saja aku tidak dibanting. Kayaknya dia emang terbiasa banting-banting orang. Padahal badannya kecil banget kayak anak tk. Akhirnya aku berhasil menemukan dia. Duduk di pojokan di bawah pohon dengan... cantiknya(?) Apaan sih, dia kan aneh, menyeramkan pula. Kali ini aku tidak perlu basa-basi sepertinya. Langsung to the point aja deh deketinnya. Hp ku tiba-tiba berbunyi. Sebuah sms dari Roby. "Terdaftar sebagai Shein Jurkins, XI bahasa 1. Good luck♡" Untung saja aku tidak muntah di tempat dan sudah terbiasa dengan tingkah Roby. Aku pun segera menghampiri cewek itu. "Jadi, Shein Jurkins dari bahasa, mau jalan sama gue kan?" Dia hanya diam dan tak bergeming. Kayaknya dia pura-pura ga denger. "Shein? Woi! Jadi mau acuhin gue ya?" Aku nekat duduk di sampingnya dan sangat rapat dengannya agar dia menyadari kedatanganku. Aku bahkan dapat mencium baunya yang wangi. Tapi aku kaget saat melihat sorot matanya yang sangat tajam kepadaku dan mengartikan 'lo-mau-mati-ya'. "Oke gue menjauh dikit." Aku langsung bergeser 1 cm menjauhi dia. Tapi muka nya masih terlihat tidak senang. "Ma-mau ngapain?" Kaget juga mendengar gadis seperti dia dapat terbata-bata. Padahal tadi tanganku sudah serasa mau putus karena cengkeramannya yang sangat kuat. "Oh akhirnya gue ditanggapin. Ulang lagi ya, gue Daren." Aku mengajaknya berjabat tangan. Tapi sepertinya dia tidak tertarik. Aku memberanikan diri untuk menarik tangannya yang ternyata sangat lembut dan dingin lalu berjabat tangan. Dia langsung memasang wajah kesal yang tidak disangka sangat imut. Tidak akan pernah seorang pun melihat wajahnya itu, aku sangat beruntung. Aku tertawa namun dia masih saja diam dengan wajahnya yang memerah. Tak disangka dia sedikit pemalu. Tapi entahlah, siapa yang dapat menduganya. Lama kami tertawa dan bertatapan, dia terlihat semakin 'normal'. Tapi tiba-tiba, cairan berbau sangat busuk tumpah berserakan di atas kepala Shein. Tatapannya berubah menjadi tatapan seram dan... ingin membunuh(?). Sang pelaku yang membawa air busuk itu hanya tertawa. Shein langsung pergi begitu saja. Dasar s**l, siapa sih orang tak berperasaan  ini!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN