Kedudukan ku tak begitu penting, sebagai pekerja bagi bangsawan, di pagi buta kabut pagi masih menyelimuti pelosok rumah ayam jago milik tuan rumah ini masih belum berkokok, sudah menjadi kebiasaan bagi kami para wanita abdi dalem atau pesuruh tuan rumah untuk beberes ataupun mengurus keperluan para junjungan. Usia ku yang masih belia jauh lebih hebat dari para abdi senior ku bergegas mengambil kain Jarik serta pakaian seadanya hanya kebaya hijau tua tanpa motif ku segerakan mandi di dekat sungai tak jauh dari kediaman Raden Karto Joyo Kusumo, Memang tak di perbolehkan di luar keluarga Raden Karto Joyo Kusumo atau bernama kecil Raden Kusumo, untuk mandi di dalam rumah. Kami para bawahan pun tinggal di belakang kediaman sang bangsawan besar
Senyum dari anak gadis itu terlihat sumringah mengetahui danau biasanya mandi masih sepi, bisa di bilang ini masih pagi buta namun para pelayan rumah apalagi senior pastilah sangat rajin untuk segera beraktifitas di Saat seperti ini, " surtiii.." teriak gadis seusianya menyapa dari kejauhan ia terlihat membawa keranjang bambu berisi pakaian kotor, anak yang di pangil Surti sudah usai dengan kegiatan mandinya berpapasan dengan sukemi teman sebayanya, " sudah selesai mandi?"
" Sudah, kamu mau nyuci sekalian mandi juga" sukemi, gadis cungkring itu mengangguk semangat
" Dari pada keduluan, yaudah kamu cepet ngikutin junjungan mu Ndoro ayu"
Astaga, lupa.
" Iya aku duluan ya" pamitnya dengan terburu
Dia baru ingat, junjungan nya nona muda Nirmala adalah gadis yang rewel, pasti dirinya akan mendapatkan Omelan, walaupun berlari sambil mengangkat bawahan adalah hal tak sopan tapi ini lebih baik agar ia cepat sampai pakaian kotornya dengan segera ia selipkan di atas pohon mangga dengan tangkas ia sembunyikan dengan begitu dirinya dapat dengan mudah menemui junjungan, sopan santun sebagai bawahan dilakukan seusai memasuki kamar Nirmala dan benar saja, gadis tak jauh beda usianya sudah rapi dengan kebaya putih milik nya serta kain bawahannya bercorak parang
" Kenapa lama sekali" keluhnya tanpa memandang wajah bawahnya, melihat pandangan tajamnya pasti akan melihat siapapun merinding terdengar berlebihan namun berwajah manis ataupun cantik jika bersifat masam tetap saja bagai cawan tanpa corak, tidak menarik.
.
Surti sudah setahun menjadi pengasuh untuk Nirmala, sang ibu bergelar Ratu bagus ayu Kumala, ia sangat protektif dengan putri kecilnya tubuh ringgkih mudah sakit seperti tahun lalu sebelum Surti menjadi pengikut Nirmala kata para abdi senior Nirmala mengalami demam parah sampai tujuh hari lebih bahkan dikatakan tubuh anak itu seperti tulang di balut kulit namun sayang nya sifat nya tertutup dan tak pandai bergaul dengan para kalangan kelas atas walaupun itu anak gubenur sekalipun ataupun anak bangsawan berdarah kraton.
"Mbak yu, apakabar nya" pembantu muda itu tertunduk sopan melihat sosok gendis menyapa saudari perempuannya, mereka hanya se-ayah beda ibu, jika Nirmala anak resmi bangsawan berdarah biru lain halnya dengan gendis, ibunya hanyalah selir dari rakyat biasa ibunya hanya menjadi pengasuh dari sang putri.
" Baik, awalnya saya mau keluar main ke sungai, tapi enak nya berkuda saja kalaupun mbak yu mau dan berani" katanya kemudian tapi tak mendapat respon.
Mendengar seperti nada tantangan Nirmala tertarik mengikuti acara berkuda, ia tetap melenggang bersama gendis walaupun sempat di peringati si pesuruh dengan berat hati sebagai bawahan Surti menurut saja, toh. Nurmala tetap anak yang tak memperdulikan kaum rendah seperti mereka ia hanya terdesak gengsi oleh saudarinya, Gendis. Anak cukup cerdik dan terkenal anggunnya.
Mondar mandir penuh ke khawatiran mendapati kedua anak Raden Kusumo kini tengah bersiap memacu kuda hitam besarnya, sungguh hal cukup gegabah tangan Surti sudah terasa Tremor disertai keringat dingin bagaimana tidak kalaupun ia berbicara untuk kebaikan sang anak Raden terlebih itu Nirmala pasti hanya akan mendapati anak itu berlaku tak peduli.
Terik mata hari sudah mulai terlihat di pagi hari suasana terbilang cerah namun suara ringkikan kuda menyadarkan lamunan Surti muda, mengambil langkah kecil mendekati tunggangan Nirmala, ia dengan memohon meminta agar tak melanjutkan hal membahayakan dirinya, tak lucu Nirmala sosok yang sekedar jatuh terpeleset saja bisa membuat ia tergolek lemah di dipan karena terserang infeksi apalagi jatuh dari kuda, mau membahayakan nyawanya jauh berbeda dengan gendis, anak itu selalu terlihat bersama kakak laki-laki mereka, Kuncoro. Ia sudah pasti mengajari adik bungsu nya berkuda setidaknya gendis lebih tahu dari Nirmala.
Surti di abaikan dengan mudah oleh Nirmala, anak itu hanya bergumam tak jelas mengatai Surti anak bawel dan merepotkan. Gadis berkulit sawo matang itu hanya terdiam mengerutkan dahi berdoa pada sang Gusti pangeran agar apapun adalah hal baik bagi setiap orang, kuda hitam dia adu dengan kuda coklat milik gendis, mereka seperti ahli menunggangi hewan terkenal dengan latinnya derap kaki hewan berkaki empat itu di pacu terdengar keren namun Nirmala yang sempat sombong dapat mendahului si adik tak berlangsung lama seketika kudanya tak bisa di kendalikan dengan baik di karenakan kuda milik Nirmala kaget akan kemunculan ayam ternak sedang berhamburan berbeda dengan gendis ia seperti nya tahu akan itu dan langsung menghentikan laju kudanya.
Seolah semuanya berjalan melambat tubuh Nirmala terangkat ke udara ia terpental dan berguling jatuh sedang kuda menjadi liar karena kaget hewan itu berlari secara brutal, pak kuwok selaku pengurus peternakan dan pengurus kuda tunggangan langsung panik berlari mengejar hewan itu agar tak semakin mengila
Benar saja, hal yang paling di takut kan terjadi, dan itu kesalahan dirinya Surti merasa tak berguna walaupun semuanya adalah kesalahan Nirmala sulit di nasehati oleh orang tak sederajat baginya.
.
Tak luput hinaan dan Omelan di lontarkan ibunya Surti yang sesama pekerja kepada keluarga Raden Kusumo, tentunya batin sebagai anak remaja yang ingin memberontak sekedar membela dirinya namun ia juga sangat merasa bersalah dan tak berdaya, ia dan ibunya berdua duduk di bangku bambu ibunya sudah bersemu merah menahan amarah lainnya ingin menerjang, " nduk, lihat ibu" pintanya dengan nada tegas membuat orang takut-takut melihat pandangan wanita yang melahirkan dirinya.
" Iya Bu, maafin Surti" mohon nya pada si ibu, walaupun ia dewasa Surti hanyalah gadis biasa usianya bahkan belum lima belas tahun dan sudah mengikuti jejak ibunya menjadi abdi keluarga Raden Kusumo.
"Ibu marah kalau kamu gak bekerja dengan baik kepada keluarga Raden Kusumo, tapi. Ibu juga gak mau larut menyalahkan ini semua" sejenak wanita itu menghela nafas seolah amarah nya akan memuncak lagi jika ia tak melakukannya, " kamu sudah melakukan hal baik dengan melarang Ndoro ayu tidak ikutan lomba kuda, tapi. Ibu juga gak mau kamu bermasalah lagi, cuman itu saja ibu gak mau kalau kamu sampai kena usir dari sini" lanjutnya lebih panjang.
Mata gadis muda itu membiak mencari letak kebohongan dari kedua mata sayu ibunya, sering keras kepada anaknya kini Surti melihat ibunya cukup khawatir dengan dirinya, " buk, maafkan Surti" katanya pelan
Ibu Surti memeluk anaknya erat tak mempedulikan siapapun bisa masuk ke dapur kumuh itu dan mendapati kedua ibu anak itu tengah berduka akan keteledoran mereka menjaga Ndoro ayu Nirmala, walaupun satu rumah tahu bukan merupakan salah mereka