chapter 6 - status

2051 Kata
Setelah seharian mengalami kelelahan sehabis mondar mandir untuk menyelami kehidupan si Nirmala asli, Tiffanny tampang tercenung di atas dipan kamar dari gadis tubuh di huni nya, dapat di simpulkan bahwa sosok Nirmala ini introvert tapi bersembunyi di balik kuasa nya sebagai anak kandung dari Baron serta istri sahnya berbeda dari saudaranya yang ia temui tadi bernama Gendis, gadis dengan kulit kuning Langsat serta mata Belo dengan untaian rambut terlihat halus walaupun tengah di sanggul ayu khas Asia tenggara, baginya Nirmala tak kalah cantik dengan senyum manis dan khas miliknya, namun. Apa yang menyebabkan Gendis serta sosok Nirmala ini saling acuh, Tiffanny menimang - nimang kemungkinan yang ada ia tak mau terlibat kontroversi di tempat yang tidak dapat ia kuasai. Ngomong-ngomong hari sudah mengelap, kata Surti tadi para anggota keluarga akan di panggil saat jam makan malam, begitu kata nya. " Karena aku tak mendapat bocoran akan apa yang terjadi besok, maka. Aku akan melindungi diri ku sendiri saja dahulu, sekalian melihat lihat apa yang dapat aku lakukan di sini, maafkan anak mu jika anak mu belum bisa pulang" monolognya bersuara sendu kepala oval nya ia sandarkan ke tiang kasur, " Ndoro ayo, sudah waktunya makan bersama" dengan suara lembut dan nada khas yang medok, Nirmala tahu jika Surti di balik pintu kayu itu kini memperingati untuk segera menyantap hidangan bersama. Tak ada ala-ala bangsawan di era Prancis lebih seperti acara prasmanan di tengah malam, mata kecil ku bergerak liar memperhatikan tempat duduk di meja panjang memisahkan antara laki-laki dan perempuan di ujung meja di duduki kepala keluarga yang bisa di bilang adalah ayah gadis yang tubuhnya aku pinjam kini, diam bungkam, benar-benar khitmad sesekali di depan meja ku ada dua pria dewasa mungkin seumuran ku di dunia asli yang sudah berusia dua puluh lebih, entah siapa mereka yang jelas sedikit ku ketahui mereka juga adalah keluarga inti termasuk aku di sebelah pun terdapat sosok tadi sempat berdebat dengan ku, gendis namanya, ingin ku protes mendapati lirikan kesal dari sosok berkebaya krem tersebut " Ayah, sungguh bahagia kamu sudah sembuh nak" ujar seseorang di jukung meja, ayah dari kami. Ucapannya memecah hening yang persekian waktu terlalu hening di awal acara makan Belum sempat aku menjawab dengan sopan seseorang di sebelah ku sudah memotong perkataan ku, " tentu saja Mas, sungguh saya bahagia saat Mr Herry menggatakan kesehatan putri kita sembuh, namun mohon maaf kangmas ada sedikit penyakit yang tertinggal bahwasanya putri kita Nirmala mengalami kehilangan ingatannya sebagian dan memerlukan waktu untuk itu" jelasnya cukup rinci pada sang suami Terdapat banyak ekspresi di ruang makan tersebut, sang ayah hanya mengangguk maklum dan berusaha mengerti keadaan dan anak, dua pria yang sedari tadi diam terlihat salah satunya berambut keriting pendek akan bersuara namun tertahan sedang saudara laki-laki nya lebih tinggi bertanya formalitas sebagai seorang kakak, " kamu ingat-ingat, pelan-pelan saja, jangan kamu paksa" katanya seolah khawatir namun tak senada dengan raut tegasnya, sosok kakak seperti apa mereka saudari nya gendis terlihat menautkan alis tak berkomentar namun dapat Nirmala simpulkan bahwa gadis itu sudah mendapatkan jawaban kenapa ia mendapatkan sebuah serangan mendadak dari Nirmala yang sebenarnya adalah Tiffanny si anak gadis dari masa depan. Acara makan dan berbincang sudah Nirmala lalui dengan bosan ia kembali memasuki ruang kamar, suasana cukup membosankan hanya di temani hening nya malam, tak ada perasaan ingin lebih cepat terlelap tubuh ringgkih ini aku ajak sedikit pemanasan kebiasaan olahraga sejak aku kecil dan kini malah harus beradaptasi dengan tubuh baru yang hanya mengenal tata cara menjadi gadis kraton, ku dekati pintu besar di sana satu-satunya akses ke ruangan luar, ku buka berlahan daun pintu coklat tersebut ku intip Susana lengang cukup sepi melihat itu diriku berlalu kecil seusai menutup kembali pintu kamar mendekati jendela serta membukakan lebar-lebar, pemandangan ku di suguhi tanah lapang serta di sebrang sana dapat terlihat rimbunan pepohonan yang teduh jika siang hari, dari jarak jauh sekian terlihat samar-samar cahaya kecil saling berkedip-kedip bersautan, ah! Kunang-kunang. Desau angin lirih serta gesekan daun terterpa angin serta suara derik jangkrik memecah keheningan malam, sungguh ini pemandangan yang jarang dan hampir tak pernah ia temui di zamannya teringat terakhir ia melihat pemandangan itu ketika berkunjung kekediaman sang nenek di Maluku yang masih terdapat hutan rindang di sekitar pemukiman, kini beliau sudah tiada. Mata cantik itu membiak melihat keindahan malam sejenak ia melupakan masalah hidupnya yang masih kebingungan mencari arah untuk kembali pulang, " kalau aku di sini bagaimana kondisi tubuh ku? Apa baik-baik saja?" Kata Nirmala penuh resah, wajahnya mendongak ke langit pantulan bulan terlihat tanpa awan kelip bintang terlihat jelas menemani sang bulan, ah. Andai saja pemandangan sekitar bisa ia lihat bersama ayah serta ibunya pasti akan seru almarhum ayah nya adalah peminat dari keindahan langit kadang dirinya berfikir ayahnya adalah astrophilia. Dari kejauhan sesok pria tinggi semampai tengah mengamati wajah cerah sang adik jarang ia lihat, ia adalah Suryadi kakak tertua dari empat saudara lainnya walaupun jarang melakukan interaksi Suryadi cukup perhatian dengan adik-adiknya mengingat itu semua adalah tanggung jawab sebagai kakak laki-laki. Melihat adiknya sudah menutup jendela ia tersentak sadar karena beberapa saat lalu ia tercenung di sana. " Semoga dia baik-baik saja" gumam nya pelan . Tak ada alaram ataupun sering ponsel lagi benda bertugas untuk membangunkan ia dari tidurnya hanya ada kokok-an panjang dari ayam jantan di sekitar perkarangan, dengan berat hati tubuh nya ia gerakan meregangkan otot dan mengumpulkan kesadarannya terlalu nyaring si ayam jago itu membangunkan dirinya namun ingin tertidur juga sudah terlalu malas, pilihannya kini adalah benar-benar harus bangun, kebiasaan tak pernah lepas adalah menegangkan otot-otot dengan melatih fisik sekalian pemanasan berlatih untuk mengikuti lomba. Kekesalan di pagi buta itu membuat ia sedikit frustasi mengingat ia sudah bukan Tiffanny lagi, bahkan ia tak tau cara kembali ke dunianya, sial. Batinnya marah. Tok... Tokk... Ketukan pintu mengintrupsi kegiatan 'ayo-hidup-sehat-dengan berolahraga' acara senam yoga dimana ia posisi yoga lilin, kaki di atas menempel di dinding sedang kepalanya di bawah mendengar ketukan mendadak tentu membuat ia malah terguling jatuh dengan posisi tak elit suara dentuman keras terdengar, kurang ajar, ibu ku saja tidak sepagi ini membangunkan, dengan merana ia rasa pingang nya akan ke Selo, pastinya. Terlihat wajah khawatir Surti melihat Nirmala ketika dapat terdengar suara sesuatu yang jatuh dari luar Nirmala hanya beralasan ia jatuh dari kasur dan agar tak menghawatirkan dirinya, lalu Nirmala bertanya akan kedatangan gadis itu, " Ampun Ndoro, ini sudah saatnya mandi" " Kenapa mandi pakek acara di siapkan?" Nirmala bertanya dengan bingung, karena setahu nya bangsawan Jawa jaman dahulu cukup mandiri, bahkan orang zaman dahulu bangsawan ataupun tidak di wajibkan belajar memasak di dapur. "Untuk ritual anak gadis, Ndoro. Apa Ndoro ayu lupa" Bukan lupa, emang bukan dunia ku saja Nirmala hanya tersenyum manis mengiyakan bahwa ia lupa sebagian aturan bangsawan Ritual yang di maksud adalah seperti spa di era globalisasi, dimana tubuhnya di rendam dalam air sudah di beri rempah serta ada kelopak bunga mawar merah, Surti gadis itu juga masih setia di sana menggosok punggung Nirmala dengan rempah khas, sungguh relaksasi mengenyangkan. Selesai itu semua Surti membantu menggelung rambut panjang terurai milik Nirmala, dengan hasil menurut Nirmala palsu itu sangatlah ribet, ia memakai kebaya putih sederhana cukup cantik jika boleh bilang namun ikatan melilit di pinggang cukup membuat dia sesak nafas dan berdiri tegak terus terusan, jika di Eropa ada korset dari bahan hewani ini seperti korset khas orang Jawa sejak dulu selain berfungsi tetap membuat kain jarik di kenakan tak buyar. Seperti makan malam kemarin namun berbeda nuansa, tempat makan pria dan wanita terpisah di pagi hari laki-lakinya yang sarapan dahulu karena mereka di kejar kesibukan sedang sang ibu sebagai ibu rumah tangga yang berkuasa ketika sang suami tidak ada ia mengatur kegiatan seluruh di rumah, tak ada hal istimewa hanya begitu saja. Sebenarnya tak wajib bagi anak bangsawan menginjakkan kakinya ke dapur namun Nirmala tetap membantu hal kecil di dapur yang bisa ia lakukan daripada berdiam diri. Semerbak harum dengan pagan banyak pilihan membuat Nirmala sedari tadi duduk di kursi kayu di pojok ruangan sempat terdiam dari acaranya mengupas bawang, melihat para Mbok-mbok abdi dalem tengah memasak dengan tungku tanah liat terlihat wanita berbadan kecil itu tengah meniup-niup api di perapian agar tetap menyala yang lain tengah melakukan hal yang mirip-mirip dengan nya memotong ataupun mengupas ada yang bertugas memasak, jadi kangen masakan nenek. . Acara masak memasak di dapur terhambat karena pangilan seorang pesuruh dari ibunya untuk segera menghadab dan disinilah Nirmala berhadapan dengan nyonya bangsawan, sedang Surti dan pesuruh tadi tengah terduduk di lantai dengan sikap hormat menunduk terlihat dari kejauhan, Nirmala melirik hidangan kecil seperti acara tea time ala bangsawan barat di kala itu memang para nyonya meneer memegang trend fashion dikalangan orang atas agar terlihat berkelas Wedang Teh oolong di suguhkan tadi di sesap oleh ibunya, sungguh ia tak tau siapa nama lengkap dari wanita di hadapannya parasnya masih cukup ayu namun bila di pikir lagi di jaman ini menikah muda adalah hal lumrah bahkan ketika mens pertama kamu belum menemukan jodoh setelah nya siap-siap di cap tidak laku, di zaman moderen masih ada praktek nikah dini tapi ya sudahlah, semua itu rata-rata di dasari oleh kebutuhan perut untuk kaum miskin, padahal wanita bisa lebih sukses, menyedihkan. " Jadi ada apa ibu memanggil saya kemari" dengan senyum tipis ia tampilkan, " ibu mau kamu sehat nduk, jadi bagaimana kondisi mu sekarang? Katanya kemarin kamu sempat berperilaku aneh" mata Nirmala melirik Surti, hanya gadis itu yang menemani dirinya terus tapi sudah sewajarnya sebagai bawahan menginformasikan pada atasan yang lebih berwajib, merepotkan sekali. " Tentu saya sudah lebih baik, tapi saya kehilangan ingatan saya dan sebab saya terjatuh, kalau boleh di ijinkan saya mau mulai belajar lagi dari sekarang tentang kehidupan saya" dengan sopan di tunjukan Nirmala juga mulai meminum teh di sajikan, rasa sepat tertinggal di lidah menandakan mereka menggunakan daun teh murni sedang rasa manis gula terasa samar, mungkin masih di monopoli para kaum penjajah Hinga masih sulit di dapat. Wanita dewasa itu tersenyum manis mengelus kepala anak gadisnya, dapat di lihat pandangan penuh kasih dari mata teduh itu, Nirmala kw ini jadinya kan kangen ibunya yang sebenarnya, ah. Bagaimana ya kabar beliau di sana. Inti dari pemanggil ini adalah bertukar kabar, Nirmala tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan info dari beliau, tentang siapakah saudaranya seperti apa kebiasaan sebelumnya dan dapat di simpulkan sosok Nirmala adalah anak ke tiga dari empat saudara dengan dua saudara yang berbeda ibu seperti Gendis dan Wahyudi mereka adalah anak selir dari sang ayah sedangkan mereka jarang mengakrabkan diri. Siang sudah menjelang tapi siang itu Nirmala isi makan bareng dengan para pekerja di dapur langsung mengambil lauk serta nasi nya di sana sungguh suasana yang hening banyak pekerjaan yang sungkan melihat junjungan nya berada di sana makan bersama mereka namun ia tetap memaksa berada di antara mereka walaupun Surti sudah memaksanya untuk pergi ke ruang makan, beginilah ia tetap memaksa di tengah keramaian karena rasa sepi sangat menggangu dia kebiasaan berada di antara keramaian ada semenjak ayahnya meninggal dan ia gak mau di telan sepi sendiri, sekalian hitung-hitung mengakrabkan diri nya Seorang ibu berbadan gempal tempo hari sedikit mendekat " Non, Ndak papa sampean di sini?" Ujarnya sopan untuk ukuran orang tua pada seorang anak muda. " Santai saja, toh. aku gak melakukan dosa, cuman numpang makan bareng kalian, ngomong-ngomong gimana hari ini ? Apa kalian gak kecapekan, sudah berapa lama di sini" Raut wajah kebingungan dan keletihan terlihat setiap mereka melakukan pekerjaan namun seberat apapun tetap mereka jalani, itulah hal yang sedikit menggelitik Nirmala akan semangat para wanita ini. " Kalau saya, sudah turun temurun ikut keluarga Ndoro ayu, saya meneruskan jejak ibu saya" kini yang bersuara pertama kali, wajah malu-malu nya jadi membuat Nirmala ini gemas sendiri " Kamu iklas ikut kerja begini?" " Sebenarnya ngak tau harus kemana lagi, ini seperti kerjaan keluarga dari pada saya harus nikah" akunya sedikit bimbang mengutarakan maksud nya " Memang usia kamu berapa?" Herannya melihat gadis ini terlihat masih muda untuk menikah " Kalau gak salah hitung empat belas ini, Ndoro" What? p*****l dong. " Lakuin apa yang kalian mau, jangan terlena membebaskan masalah atau lari dari hidup ke pernikahan" Wajah para ibu-ibu dan wanita muda lainnya ingin jua ikut mengutarakan perasaan mereka ketika melihat reaksi Nirmala berapi-api seolah mengerti rasa bersalah mereka ketika melepas masa kanak-kanak ataupun remaja mereka untuk sekedar menjadi anak gadis untuk keluarga mereka, dari yang mengurus keluarga sampai harus menikah untuk mengurangi beban keluarga
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN