Dengan bantuan gadis yang mengaku Surti, Tiffanny yang berada di tubuh wanita bernama Nirmala mencoba berkeliling di daerah sekitar rumah khas bangsawan Jawa, dari yang di ketahui Tiffanny ia terjebak di masa era tahun 70'an kisaran tahun itu, Nirmala yang kini adalah sosok baru dari masa depan tentu saja meminta Surti membantunya mengenali tatanan adat ala Baron tanah Jawa, tak begitu minat untuknya mempelajari hal kuno bahkan tak ada gadget ataupun listrik, demi bertahan hidup tujuannya
Terlihat Surti melihat tuannya penuh keheranan, kini mereka tengah berjalan-jalan santai di luar ruangan namun Surti terlihat sangsi apakah tuannya sudah sehat sepenuhnya, raut khawatir tak bisa di tutupi gadis lugu pada gadis lain kini berapa di depannya
Mengingat beberapa saat yang lalu tingkah tuanya sangat, aneh.
Makanan menurut Tiffanny adalah makanan kambih ia lahap dengan terpaksa pahit getir daun singkong seusai menyapa Indra pengecap di susul air jamu yang entah tak tau apa itu, pahit. Sesalnya selesai menghabiskan semuanya
" Terus biasanya, Nirmala. Ah! Maksud ku, aku biasanya ngampain?" Tanyanya gugup ia hampir melupakan fakta bahwa ia bukan Tiffanny bila tak melihat air muka kebingungan anak itu, mendengar tuannya memangil namanya nya sendiri.
" Biasanya, Ndoro ayu jalan-jalan keluar" ujar nya sopan, masih dengan kepala sering melihat lantai, menunduk hormat pada sang tuan.
" Ini mimpi atau beneran sih? Masa iya aku isekai, atau jadi time traveler kenapa gak sekalian kembali ke zaman Thomas Alva Edison, lumayan bisa nyuri ide nya dia terus menuliskan nama ku di buku sejarah, ah. Atau karena aku pribumi aku kembali ke zaman ini, kalau begitu kenapa gak di balikin ke zaman Majapahit kan lumayan bisa lihat wajahnya Patih gajah Mada" monolognya sembari sesekali terkikik geli berhayal tentang khayalan yang mustahil, tapi keberadaan nya disana pun adalah bentuk kemustahilan.
Surti, gadis Jawa itu hanya berani sesekali melirik Nirmala, keheranan ada apa gerangan dengan Ndoro ayunya, mungkin karena beliau baru saja sembuh, pikirnya mencari alasan paling logis.
Cermin rias yang berada di sana memantulkan bayangan Nirmala wajah manis khas pribumi tanpa make-up berlebih
Tap ... Tap..
Langkah kaki nya berjalan ke samping menghilang dari pantulan cermin namun kemudian Nirmala mengagetkan pantulannya sendiri "bahhhh" serunya pada bayangan wajahnya di cermin. Beberapa kali dirinya melakukan itu dan kini ia langsung berbalik mengagetkan si abdi dalem berdiri tak jauh darinya
" Astagfirullah... Gusti" Surti terkaget sendiri melihat polah tingkah laku sang majikan, di tambah Nirmala membuat wajah konyol pada pantulan cermin dan berbalik mendadak ke arahnya itulah penyebab abdi muda kini memegangi dadanya, jantung nya berdegup kencang
Tanpa rasa bersalah Nirmala memandangi seluruh anggota tubuhnya dari pantulan kaca
" Ihh, ngomong-ngomong setelah makan perut ku rada sakit gara-gara kain ini" Nirmala mendekati kaca ia mendapati di balik pakaiannya terdapat kain melilit kencang berfungsi seperti sabuk agar kain jarik di kenalannya kini tak melorot jatuh, tapi sakit.
Kekonyolan lain pun terjadi, akibat rasa penasaran kenapa Tiffanny bisa berubah bentuk dan berfikir ini semua adalah halusinasi miliknya, " Sur, ini kalau lewat sini kita kemana ya?" Nirmala mula nya hanya membuka jendela ruang kamarnya melihat pemandangan asri dari sana
" Langsung ke halaman samping, Ndoro" ujar Surti sopan
Selesai Nirmala berkata ia malah menarik kain jarik nya ke atas Hingga jenjang kaki nya terlihat, dirinya malah dengan cepat mengangkat kakinya cepat berusaha melewati jendela, pembatas kamar serta dunia luar, dengan segera Surti memeluk pinggang Nirmala erat memohon agar junjungannya tidak berperilaku membahayakan dirinya.
Kedua wanita berbeda setatus itu, kini berada di tanah lapang belakang rumah, di sana terlihat beberapa wanita dari gadis muda sampai ibu-ibu menyapa Nirmala dengan hormat dan sopan mereka tengah menumbuk lesung berisikan padi, sebagai orang yang termasuk ramah pada temannya di keseharian nya, Nirmala palsu itu mengangkat sebelah tangan dengan tangan di balik punggung, senyum lebar hingga terlihat gigi rapi nya
" Silakan di teruskan, ini kalian berapa hari menumbuk seperti ini" sambil mendekat ke arah ibu-ibu abdi dalem, tentu semua keheranan, tak ambil pusing ibu berbadan sedikit gempal menjawabnya dengan sopan, "memisahkan padi dari kulit nya, Ndoro"
Owh!, proses menjadi beras.
" Boleh ikut, bantu-bantu?"
Hening
Semua saling berpandangan memandangi satu sama lainnya, bahkan Surti kebingungan harus bagaimana menghadapi tuannya yang mendadak aneh, "Ndak perlu, kami bisa kok" sapa ibu itu, sopan.
Terlihat raut panik dari perempuan tua itu, dahinya berkerut kebingungan mencoba mengelak agar anak kunjungannya tidak melakukan hal kasar
Diraihnya benda panjang bernama alu untuk menumbuk padi, " sudah, saya bantu mumpung lagi gabut saya nya" celotehnya sembari menumbuk
Gabut? Apakah itu bahasa Belanda bahasa negri kincir angin, kaum rendah seperti mereka mana tahu ataupun sempat mengenyam pendidikan anak bangsawan
Benda bernama alu itu ku pukul kuat agar padi bisa segera menjadi beras, tak ada niat membantu mereka agar cepat selesai, mata ku melirik ke kanan ke kiri suasana mereka terasa canggung terasa sekali atmosfer nya, Surti. Gadis tadi juga membantu ku menumbuk padi namun dengan wajah Yang sedari tadi mencuri pandang ke arah ku cukup terlihat ia bingung akan tindakan ku, jangan kan kalian aku masih bingung kenapa mendadak terpental di dimensi ini, segala teori masuk akal seperti adanya black hole yang menyebabkan paradoks waktu sampai teori abstud di culik jin
Keringat sebesar biji jagung sudah mengalir membasahi wajah ku, nafas ku sedikit terengah-engah namun aku masih lebih kuat dan cepat dalam laga menumbuk padi ini, bahkan beberapa orang terlihat kagum dengan tenaga ku yang tak habisnya, sorry to say! Aku ini atlet kebanggaan bangsa loh, fisik ku cukup kuat, tapi ku akui tubuh anak ini cukup lembek bagi ku.
Seusai Nirmala pergi dari sana, para wanita abdi dalem tersebut berkumpul menggerombol berbisik bisik akan perubahan gadis kalem tersebut, Nirmala asli terkenal akan sifat pendiam serta tinggi hati tiba-tiba dengan mudah ia malah berbaur dengan golongan rakyat biasa darinya, sungguh hal luar biasa, tentu saja mereka tak tahu wanita yang membantu mereka adalah Tiffanny bukan Nirmala asli.
" Aduhh, ampun Gusti, Ndoro ayu. Mau kemana lagi kita?"
Nirmala hanya melirik sekilas ke arah Surti, puas wajah gadis itu terlihat letih mengikuti kegesitan Nirmala hingga ia kewalahan, sudut bibir Nirmala tersungging senyum, " istirahat sebentar kalau begitu" ajaknya Nirmala
Dengan santai mereka duduk di atas bangku anyaman bambu di bawah dahan pohon jambu yang Rindang, awalnya Surti hendak duduk di atas tanah agar tuannya yang duduk di bangkunya namun Nirmala memaksa gadis itu duduk bersamanya, di hati Surti was-was jikalau ia termasuk menghina kaum bangsawan jika duduk setara, namun. Ke kahawatiran anak itu lenyap melihat senyum tulus majikannya
" Sudah mendingan?"
" Apa mau pergi lagi, Ndoro?"
" Ngak, santai saja istirahat dulu cuman tanya saja" Surti mengangguk faham
" ngomong-ngomong, Nirmala itu orang nya seperti apa sih?" Jedanya sebentar ketika melihat raut kebingungan bawahannya itu, " maksudnya, aku itu orang seperti apa sebelumnya kau tau kan dokter bule tadi bilang aku lupa ingatan" nada suaranya terdengar hati-hati agar dapat di pahami anak itu
Ah! Begitu.
Sebelum Surti hendak membalas pertanyaan Nirmala, seseorang tiba-tiba mengintrupsi kegiatan mereka, sontak kedua gadis itu menoleh pada sosok wanita lainnya bersama pengasuh nya, Surti langsung turun dari tempat ia duduk, bersimpuh di tanah, seketika ia melihat wanita itu membuat Nirmala alias Tiffanny terheran-heran, siapa gerangan wanita itu.
" Mbok, jangan samakan Drajat mu dengan bawahan mu, kayak ngak ada harga diri" sindirnya melirik tajam wajah ketakutan Surti, entah siapa wanita sialan ini ia sangat sombong batin Nirmala muak.
" Maaf, berapa harga diri mu? Bisa di beli kan?" Sarkas Nirmala membuat setiap orang di situ terhenyak kaget akan jawaban berani, selama ini gadis itu pendiam pemalu tapi sombong nya hanya berani dengan kasta bawah.
Nirmala berdehem memecah suasana hening, " maaf, saya gak sekaya itu buat beli seorang yang tak punya sopan santun kalaupun ia Baron" Nirmala memberi kode pada Surti agar beranjak dari sana
Pengasuh nya mulai menenangkan emosi Gendis gadis yang mendapatan serangan tajam dari Nirmala ia menatap tajam kepergian kakak nya, kesal.
.
Suara sirine polisi menggema di setiap jalan, alat derek untuk mengangkut bangkai mobil pun sudah di kerahkan banyak warga setempat terlihat ingin tahu kejadian sebenarnya.
Di lain tempat, sebuah ruangan rumah sakit wanita itu tengah menangisi keadaan putri nya yang koma, selang infus dan beberapa peralatan medis menempel di tubuh wanita dewasa tersebut, " semoga kamu jangan menyusul ayah mu, tolong tuhan" menatap sendu Bandan tergolek lemah di atas ranjang rumah sakit
.