Surti beserta dua gadis lainnya tengah asik menikmati ikan bakar hasil tangkapan mereka, Hesti bahkan asik mengunyah potongan besar ikan
" Gurih, enak" Hesti memuji ikan bakar mereka selesai melahap habis
Surti memicingkan mata nya menelisik gadis berlebihan lemak, persis dengan proporsi tubuhnya, tukang makan.
" Mala, besok kalau ngajak Hesti makan pas acara makan besar aja, dari pada banyak orang gak kebagian" sindir Surti halus sesekali melirik ke Hesti agar anak tersebut peka
Hesti melotot tak terima masih dengan serpihan sisa makan menempel dirinya juga membalas, "masih sukur bisa makan, dari pada kurus kering kayak teri"
" Enak aja teri, dasar gentong" olok Surti membalas.
Nirmala sedari tadi terdiam memandangi jengah, mereka seperti tom and Jerry. Sungguh membuat pusing.
" Kalian kalau terus-terusan bikin onar lebih baik tinggal aja di sini, ngomong sama ikan"
Kini mereka kompak menolak dan terdiam menurut perkataan Nirmala.
" Ndoro ayu, saya mau bertanya. Terus kita masih bisa kan belajar baca tulis"
Hesti menoleh ke Surti, apa boleh dia ikut lagi?
Wajah menunduk malu," Kalau boleh saya juga mau belajar baru hari ini saya belajar baca masih belum mengerti"
Nirmala bangkit dari tanah menepuk nepuk debu menempel di pakainya, dengan senyum senang, " kamu beneran mau belajar hes, kamu Surti. Kalian mau belajar baca tulis?"
" Mau, Ndoro ayu" kompak mereka, juga ikut bangkit dari duduknya.
Nirmala tersenyum mantab, ia akan berusaha mendapatkan ijin agar di perbolehkan mengajar anak-anak tersebut, sebenarnya kadang ia lupa bahwa umur aslinya adalah duapuluhan lebih jauh lebih tua dari anak gadis di depannya tentu sebagai orang dewasa ia ingin mereka mendapatkan pendidikan yang layak walaupun di jaman sekarang ia berada akan cukup alot.
Hari sudah berganti malam Nirmala mondar mandir dalam ruang kamarnya dengan buku di tangan berbahasa Belanda, gadis muda itu dengan hati-hati memikirkan cara memberi alasan untuk membuat kesepakatan agar di perbolehkan mengajar rakyat biasa tak bisa mengenyam pendidikan terutama wanita, ia ingin mengubah cara pandang masyarakat bahwa wanita lebih dari sekedar pajangan rumah.
.
Tangannya mengepal mengetuk ketuk kepala oval nya berkhayal otaknya dapat berfungsi dengan baik atau akan muncul bolam imajinasi dari sana, ia menyamakan kepala manusia dengan mesin kaset nya dulu, benda itu akan bisa berjalan baik ketika di pukul serta itu menjadi paham menyesatkan sampai sekarang.
Nirmala mendengus kesal, bahkan menjerit tertahan, merasa kesal karena tak tau harus berbuat apa dengan peraturan tak masuk akal di zaman ini, semoga hasil debat dengan ibunya tadi dapat menemukan jalan keluar atau ia besok akan menemuinya lagi dan memohon, astaga. Lelah sekali hanya sekedar memikirkan semua nya.
Cukup sunyi malam itu tapi tak bisa di bilang sangat larut, Nirmala sengaja keluar di malam hari duduk di beranda depan rumah pikirannya berkecamuk sedari tadi walaupun ia duduk dan terdiam.
Sosok tak asing tersebut, Wahyudi. Tengah berjalan memasuki rumah seusai rapat daerah dengan para kepala desa, melihat adiknya terbengong di depan ia sama sekali tak berniat untuk menghampirinya toh mereka tak sedekat itu namun karena ia merasa Nirmala sedikit berubah Suryadi mencoba menghampiri gadis bertumbuh lebih pendek darinya.
" Kamu sedang apa, nduk"
Nirmala berjingkat kaget menemukan sosok pria itu berada di samping nya tanpa di persilahkan Wahyudi ikut bergabung duduk dengan Nirmala.
" Kamu sedang apa? Kok kelihatan ngelamun" Wahyudi berdehem serta ter-batuk kecil walaupun tengorokan nya sehat, hanya saja terasa canggung memulai percakapan.
Nirmala yang juga bingung harus bicara apa dengan pria di sebelahnya ia sempat terdiam, kalau pria itu adalah Jhon ataupun pelatih dia bisa berceloteh dengan bebas bahkan kadang akan mengusili mereka, kalau sosok pria di sebelahnya adalah sosok bangsawan bagaimana mengajak bercanda nya?
" Seperti yang di lihat kak, eh. Kang mas, saya cuman duduk santai" Nirmala melempar pandangan nya ke segala arah asal tak bertemu tatap dengan kakak nya Nirmala, hampir saja ia memangil dengan pangilan berbeda pada Wahyudi.
" Tak lihat-lihat kamu sedari tadi melamun"
Nirmala menoleh kembali menatapnya dengan wajah bengong, tahu dari mana nih orang, "emang kang mas dari mana kok bisa tahu aku ngelamun, nontonin aku ya" Nirmala menunjuk Wahyudi dengan wajah usil meledek pria yang seusia dirinya sebagai Tiffany
Wahyudi melirik ke samping menghindari tatapan mata jail Nirmala dengan angun Wahyudi menahan tawa lepasnya, kok anaknya jadi begini? Ngak pendiem, batin Wahyudi.
" Aku baru dari pertemuan para kepala desa, kamu kok ngak tidur, niatnya mau diem saja liat kamu jadi patung biarin bengong kali aja ke-sambet setan, tapi kamu cewek sih jadinya mau gak mau ke sini jadinya"
Nirmala mendengus mendengar penuturan Wahyudi sebelah tangannya di gunakan bertopang dagu
" Mas, tau ngak aku kenapa ngelamun di sini?"
Wahyudi mengatakan tidak sambil melipat kedua tangannya di atas meja menghadap Nirmala memberi atensi penuh dialah percakapan mereka akan menjadi seru.
Nirmala menghela nafas pelan ia berulang menarik nafas menghembuskan beberapa kali seperti ketika ia memulai mengatur nafas untuk mengontrol emosi ketika turun di lapangan
" Mas, aku sama kang mas bedanya apa sih"
" Kamu perempuan, kang mas tentu lelaki, Calon kepala rumah tangga yang bakal memimpin wanita kayak kamu itu" ujarnya dengan sedikit mendongak
Nirmala merotasi kan matanya mendengar penuturan barusan
" Kalau gitu persamaan wanita dan pria itu apa" kini Nirmala mencondongkan tubuhnya kedua tangan gadis itu memegang pinggiran lingkaran meja
Wahyudi sedikit berfikir perspektif Seperti apa di maksud adiknya, sesama dalam hal apa? Tapi Wahyudi menganggap pertanyaan adiknya adalah suatu hal sepele, "Sama-sama manusia" ungkapnya gamblang.
" Salah"
" Sama-sama, orang yang makan nasi" asal Wahyudi
" Sembarangan"
" Terus apa dong" Wahyudi mulai penasaran dengan maksud Nirmala
" Sama-sama makluk hidup yang berakal"
Apa bedanya? Bukankah sama dengan pernyataan dirinya yang pertama? Wahyudi terlihat menganggap Nirmala sedang bercanda, Nirmala yang sadar Wahyudi merasa sedang di permainkan dirinya tertawa sejenak
"Kenapa kang mas, kelihatan sama dengan maksud kang mas tadi ya? Tapi ini beda loh"
Wahyudi mengangguk membenarkan adiknya, ia di liputi rasa bingung serta penasaran.
"Seperti pernyataan kang mas, kita sesama manusia, tapi. Lebih tepatnya kita adalah makluk hidup yang berakal karena derajat kita satu sama lain sama saja, tak ada yang benar-benar lebih tinggi atau sangatlah rendah, cuma yang membedakan kita bagaimana kita berfikir tentang orang lain bagaimana kita memandang orang lain serta menghargai mereka"
Wahyudi terhenyak mendengar pernyataan di dengar nya, sejenak ia membenarkan pemikiran anak itu.
" Seperti apa maksud mu" tanya nya ingin mengorek maksud kalimat Nirmala, memastikan bahwa di katakan nya adalah opsi yang sudah di pelajari atau perkataan asal saja, Nirmala merasa Wahyudi tengah menguji dirinya ia hanya tersenyum dalam hati, mendapatkan sebuah ide untuk mengajak pria itu membantu dirinya.
" Seperti kata ku barusan, kita kan sama saja manusia nya tapi berbeda manusia satu dengan lainnya ketika salah stau mereka tak berakal, coba kang mas pikir apa bedanya kangmas dengan tukan sapu di jalan"
" Loh, tentu beda. Kang mas ini priyayi terdidik dan terpelajar" bangganya dengan tinggi hati
" Nah itu tau, itu maksud aku" balasnya riang, makin membuat pria tinggi itu semakin tak faham di pikiran adiknya.
" Kenapa mas? Bingung ya? Yaudah aku sederhana kan saja, kayaknya kang mas ini bingung sekali"
Wahyudi mendengus tak suka tapi ia tak niat membantah perkataan adik nya.
" Sederhana nya begini, kita itu sama saja mau kaya mau miskin tapi kita di bedakan dari tingkat gelar bangsawan ataupun kekayaan, yang kaya akan tetap kaya, karena orang tua mereka tahu caranya menjadi orang kaya lewat kekuasan serta tahu memanfaatkan Mengunakan gelar yang tinggi, di strata masyarakat, tapi. Orang miskin akan tetap miskin, karena apa? Karena jangankan untuk menjadi orang yang tahu caranya menggunakan kekuaasan di pikiran mereka adalah bagaimanakah cara mengisi perut di besok pagi itu sulit nya, dan kedua juga akan di bedakan lagi oleh jenis kelamin antara perempuan dan pria, melihat silsilah simbol kekuasan di antara penduduk lainnya wanita akan lebih tersisihkan, bagaimana kasata wanita jika dirinya adalah orang miskin dan juga sama sekali tanpa pengetahuan dan kesempatan"
Pria yang sedari tadi terpikat dengan obrolan mereka tak bisa tidak kagum dengan pikiran gadis itu.
" Jika ada empat elemen kita bayangkan, orang kaya pria dan orang miskin pria lalu di susul orang kaya wanita di posisi ketiga dan terakhir di isi wanita miskin lagi tak punya gelar dan bodoh, bukannya selain krisis kemanusiaan juga kita tidak mensetarakan pria serta wanita" Nirmala mengambil nafas panjangnya mengisi rongga dadanya selagi mengeluarkan unek-unek,
" dan tadi ketika saya bertanya, bedanya pria dan wanita, keliatan sekali wanita dnegan gelar saja masih menjadi pihak di tuntut dan tak di perbolehkan kami untuk meminta balik yang sama adilnya dengan yang di tuntut pria, apalagi wanita tanpa gelar, bagaimana mereka di perlakukan? Bahkan masih ada wanita menikah di usia belum akhil baliq serta di pinta mengurus keluarga serta bekerja, bukankah mereka seperti sapi peras?"
Wahyudi tak berkutik ia terasa di telanjangi oleh pernyataan keluar dari mulut Nirmala, seolah ia termasuk Pria tak beradab, tapi di relung hatinya ia juga mengakui tadi dirinya sempat menyombongkan sebagai sosok bangsawan ternama serta lelaki yang bergelar tinggi, kini Wahyudi harus merasa malu dengan pipi bersemu kemerahan dirinya terdiam.
" Saya tidak memojokkan siapapun, cuman lebih adil kalau kita sama-sama meratakan yang namanya pengetahuan, bangsawan, orang kaya, mereka bisa belajar, terus kenapa rakyat tak boleh ikut juga? Kita sama saja hanya para orang di berkuasa di anatar lainnya selalu merasa tak boleh terkalahkan"
Mereka terdiam sejenak sama-sama menyelami pikiran masing-masing, Nirmala dengan lega melupakan kekesalan tak peduli pria di dekatnya kini faham tidaknya inti Nirmala, sadar bahwa pembahasan nya terlalu banyak dan ribet. Wahyudi sendiri tengah meratap malu akan pemikiran nya yang tak Terbuka.
Selesai mereka saling menciptakan hening, Nirmala meminta undur diri dengan sopan ia menghilang di balik pintu menyisakan Wahyudi di sana, suara jangkrik serta hawa dingin menusuk tak membuat pria berkulit bersih itu segera beranjak. Wahyudi malah berfikir serta kagum dengan percakapan nya bersama Nirmala seolah isi otak anak itu tidak ada habisnya, Nirmala dulu dengan sekarang berubah banyak, sejak kapan anak pendiam serta mas bodoh dnegan orang lain punya pemikiran cukup dalam dan peduli dengan orang lain, apa ini muzizat dari sang kuasa.
Nirmal dengan perasan kalut tengah gelisah di pembaringan nya, bagaiman jika Wahyudi tersinggung, bagaiman jika pria itu merasa dirinya terlihat menggurui dirinya dan mulai menganggu hidup Nirmala, astaga bodohnya dirinya.
Walaupun ia merasa sangat sok bertingkah ala filsuf dan terlihat demokrasi dengan kaum rakyat, itu membebani dirinya dengan tindakan spontan dirinya sebenarnya sebagai Tiffanny memang tak bisa kalau tak berdebat dengan orang lain, jika boleh jujur ia malah memilih berkelahi makannya dulu ia ikut jejak ayahnya sebagai seorang atlet, setidaknya dengan berkelahi di arena lapangan ia mendapat piagam bukan malah perdebatan yang menghasilkan permusuhan. Dirinya hanya berharap besok Wahyudi tidak seperti pria-pria di sosmed yang akan me retweet setatus galau, jika benar itu terjadi dia akan sangat terganggu dan ingin sekali mengajak duel saja.