chapter 13- murid baru 2

1052 Kata
Teh hangat terlihat mengepul menjadi sajian di meja, Nirmala meminta ibunya juga meminum hidangan mereka sembari meniup teh hangat agar cepat dingin, Kumala mengikuti instruksi putrinya meminum teh dengan lebih santai dan tenang " Bagaimana ibu tau saya sedang di sana mengajar dua anak itu" " Kamu tak perlu tahu, yang penting kenapa kamu di sana" hampir saja air kecoklatan tumpah dari gelasnya ketika Kumala meletakan dengan kasar " Saya mau tanya, apa kesalahan saya" pembawaan anggun serta tenang Nirmala meletakkan gelasnya menatap ibunya tenang meminta penjelasan " Kamu belum sadar?" Terlihat Kumala menatap anaknya sanksi, sedikit kaget dengan perubahan sikap tenang Nirmala lebih berani dari pada dulu, persekian sekon Kumala terdiam dalam hati penuh keheranan anaknya mulai memiliki keberanian untuk menatap ibunya dengan tegas. " Kalau kamu mengajar kaum rakyat biasa, kamu akan di cap bangsawan lainnya orang tak berada, dan kamu telah melakukan kesalahan tersebut, aduhh... Gusti, kenapa anak saya ini" suara gebrakan meja hanya cukup membuat Nirmala sekedar melirik kepalan tangan wanita itu, terlihat meledak ledak Hinga berakhir wanita itu mengelus d**a. Kalau begini kapan selesainya, hanya memikirkan kasta. Jadi ingat hanya karena jabatan orang di zamannya membuat sengsara orang lain " Ibu, tolong lihat dari kacamata saya" bujuknya halus, " kalau saya mengajar rakyat sekitar sini ataupun mengajari para bawahan yang bekerja di bawah kekuasaan bapak, saya yakin kita malah makin di pandang" Perkataan Nirmala menimbulkan keheranan dari Kumala, tapi wanita itu masih terdiam menunggu kelanjutan " Kalau saya mengajar mereka, coba ibu pikir berapa banyak orang akan kagum dengan lingkungan orang sini yang tak kalah pintar bisa baca tulis, kita bisa mensejahterakan orang lain" Nirmala memegang pergelangan ibunya, " tolong pikirkan itu" lanjutnya lalu ijin pergi dari hadapan sang ibu. Kumala masih terdiam terperanjat melihat sendiri perubahan anak gadisnya, selama ini anaknya selalu menurut dan tak pernah membantah bahkan Nirmala adalah anak sangat pendiam sesekali bahkan ia melihat anak itu tak begitu akrab dengan orang lain, dan kini matanya terbuka lebar mendapati perubahan yang signifikan tapi hal yang di ucapkan Nirmala sangatlah masuk akal. . " Aduh gimana nih, kita bakal di marahin gak?" " Gak tau" balas Surti tak kalah gemetar, mereka kini bersembunyi di bawah pohon berjongkok di bawah rimbunan daun dekat peternakan tak jauh dari tempat pak kuwok beristirahat biasanya, hanya di sana tempat aman selain ruang dapur. Ke-sana kemari Nirmala bertanya keberadaan Surti serta Hesti kepada para pembantu berlalu lalang kini ia berucap sukur dirinya menemukan dua sosok manusia terlihat konde mereka menyembul dari balik semak semak Nirmala tahu mereka adalah orang di carinya " Kalian mau nyari apa di sini" " Huwahhh!!! Ibukk, ya Gusti" teriak mereka serempak jatuh tersungkur mendengar suara di belakang mereka, dengan nafas ngos-ngosan Surti berucap sukur bahwa bukan hantu melainkan Nirmala sendiri sedang Hesti masih sesenggukan hampir menangis berbanding terbalik dengan tubuh gempal nya anak itu cukup penakut. " Ndoro ayu, ngak kenapa-napa kan?" " Aku gak kenapa-napa kok, Sur" "Kamu ngiranya Ndoro ayu mau di makan apa sama ibunya" sela Hesti pada Surti, langsung mendapat Kitakan hingga Hesti mengaduh sakit Sedikit jengah dengan kedua orang tengah asik bertengkar Nirmala melerai mereka " Sudah selesai, ayok kita keluar jalan-jalan" ajak Nirmala sembari meraih pergelangan dua bocah agar bangkit " Kita mau kemana Ndoro?" " Aku bilangin sekali lagi, pangil Mala saja, Sur" " Tapi kan ada Hesti Ndoro" " Hes, kamu juga gak papa kalau mau manggil aku Mala kalau kita sendiri seperti sekarang, okay" Hesti serta Surti kebingungan kalau mereka dengan polosnya menyambut Nirmala dengan jawaban okhay bernada konyol. Nirmala mengajak mereka memancing ke sungai berbekal benang jahit di dapatkan oleh Surti serta mata kail di buat seadanya dengan tongkat kayu seadanya jadilah pancingan seadanya. Surti serta Hesti melihat sendiri Nirmala melakukan semuanya sendiri dia merakit pancing buatannya dengan cekatan tanpa peduli tatapan wah dari kedua pembantu muda di sana, mereka sama sekali tak tahu Nirmala akan menjadi orang seteramapil sekarang. Ini mah mainan ku jaman SD dulu, gak ada pancing beneran boleh lah bikin pancing kw, ikan ketangkap ya sukur kalau ngak ya nunggu. Teringat kilasan kenangan ketika Nirmala masih menjadi Tiffanny saat kecil dirinya sangat ingin memancing dengan kawan kawannya berhalangan tak punya alat memancing mereka membuat pancing dari kayu benang dan kail dari kawat menunggu berjam-jam tak meraih hasil, sebenarnya Nirmala sanksi membuat alat tak berguna itu lagi tapi ia ingin mencoba membuat lagi. Nirmala menyerahkan kedua pancing kayu buatan nya pada mereka sisa nya punya dirinya, sedang untuk umpan mereka mengambil cacing tanah hasil Surti menggali tanah sekitar Plung... Suara ketiga kail sudah tengelam di dasar, berdoa saja ada ikan bodoh memakan umpan mereka, jika beruntung. " Mala, kalau boleh tahu kamu kok bisa dapat ide bikin pancingan ini kamu kan anak cewek" Nirmala masih asik memandang bening nya air mengalir seketika menatap Hesti, anak itu terkesiap melihat wajah Nirmala, " terus kalau aku cewek apa ngak boleh, kamu, saya, kita masa mau-mau saja cuman mikir dapur, rumah, kasur, menikah seumur hidup gitu terus?" Seketika Hesti tercekat, dirinya belum pernah memikirkan keluar dari zona nyaman mereka, dari dulu wanita hanya di wajibkan menikah, masak mengurus anak seperti itu saja Melihat Hesti tak membalas pernyataan barusan Nirmala berucap pelan pada nya, " kamu sama mereka kaum pria itu sama saja gak ada bedanya, cuman kamu tingal mau jadi perempuan seperti apa?" Kata Nirmala seolah menohok hati Hesti, Hesti sebenarnya adalah anak yang ingin tahu sampai-samapi banyak orang kewalahan akan keinginan tahuan dirinya, mulai dari gosip terbaru, kabar terbaru hal lainnya senarnya bisa menjadi positif namun menjadi sebaliknya karena salah arah. Surti sedari tadi duduk di pinggir terlalu fokus dengan pancingan tanpa sadar kedua orang di sebelah tengah berdiskusi asik. " Astaga... Eh, goyang-goyang" Surti terlihat heboh Hinga memutus obrolan kedua orang lainnya, Hesti serta Nirmala juga ikut membantu Surti yang telah mendapatkan umpan nya. Sekian jam mereka berjemur di sinar mentari hingga menambahkan kesan buluk di antara mereka kini ketiga gadis tersebut tengah menikmati hasil memancing, Nirmala tak menyangka pancing mainan buatannya sendiri akan berhasil menangkap empat ekor ikan besar, malah beranjak kembali ke rumah mereka membagi tugas. Surti mengumpulkan kayu serta Alat untuk membakar, Hesti tengah membersikan ikan, mereka mematuhi Nirmala untuk membawa peralatan seperti pisau dapur beserta pemantik api bersyukur hasil memancing mereka membuahkan hasil dan dapat terpakai peralatan di bawa mereka, jika tidak akan sia-sia ke-sana kemari membawa benda tajam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN