chapter 12- murid baru

1066 Kata
Hesti gadis bertubuh pendek sedikit gempal dengan keinginan tahuannya ia sedari tadi ingin menanyai Surti macam hal tapi di untungkan olehnya, karena Surti sama sekali tak kelihatan batang hidungnya, entah kemana orang itu. Semenjak tadi Hesti duduk di lantai dekat dengan tungku perapian, sesekali ia mendengus kesal namun masih sabar menanti seseorang. Hampir ia pergi dari sana jikalau sosok gadis sawo matang tak muncul dengan barang di tangan, Hesti langsung saja menghampiri serta menepuk pundak Surti menyebabkan anak itu sangat kaget. . Surti masih dongkol melihat Hesti bahkan ketika anak lebih pendek tengah mengoceh sana sini, masih dengan diam Surti pergi mengabaikan dirinya. Dengan santai Surti mengerjakan tugas lainnya seperti mencuci pakaian kotor telah menggunung Surti menghela nafas kesal, " nyapo Kowe, ngikut terus" kesal Surti memandang Hesti, anak itu mengikuti nya sampai ke sumur. " Ya kamu belum ngasih tau aku" kekeh Hesti, inilah paling di benci Surti dari anak itu, dia terlalu ikut campur. Surti terdiam melihat Hesti dengan senyum tipis Surti mendekati Hesti ia membuat kesepakatan kalau ingin tahu apa di lakukan Nirmala dengannya tadi, asal. Hesti mau menuruti perintah Surti. Surti dengan santai minum dari kendi air ia terlihat santai menatap Hesti, anak itu tengah mencuci seluruh pakaian kotor, sesekali Hesti terlihat kesulitan menimba air " Kenapa lihat-lihat, ayo! Lanjut" seru Surti melihat Hesti menatap dirinya kehausan ngiler melihat betapa enaknya dirinya ungkang-ungkang kaki sambil menegak air segar di terik hari. Waktu berlalu terasa lambat bagi Hesti sesekali ia menyeka keringat sembari menata kain di jemuran, kemudian ia berbalik menghampiri Surti, " sudah selesai tuh, Sur" katanya menunjuk ke belang " Makasih ya, hes. Kalau begitu besok aku beritahu" " Loh, kok besok Sur" raut marah serta kecewa nampak tapi ia tak bisa protes ketika Surti sudah pergi berlari sedang tenaganya sudah terkuras habis. . Keesokan harinya Nirmala seperti biasa mengajari Surti baca tulis walaupun masih awal Nirmala cukup hanya dengan perkembangan Surti walaupun telat dalam baca tulis, Nirmala tengah menulis soal untuk Surti keheranan melihat tindak tanduk anak itu kini tengah mengumbar senyum tipis " Kamu kenapa? Mikirin apa sih" Surti mendongak Nirmala, Surti tersenyum lalu menjelaskan alasan ia sedari tadi tersenyum, mendengar penuturan Kawan nya Nirmala juga ikut tertawa terbahak lalu terdiam mereka ketika melihat pelayan rumah mendatangi mereka sembari menyodorkan sepiring kue kering lalu undur diri kembali di susul tawa kencang ke dua gadis itu seusai tak ada yang melihat. " Aduhh.. aduh, kamu kok usil sekali sih" Nirmala memegangi perut nya terasa kram " Habisnya saya selalu di ikuti, mana dia nanyain saya udah kayak kompeni" Sembari mengangguk angguk Nirmala tersenyum mengingat kan agar Surti tidak terlalu usil kepada temannya walaupun Surti tak menutupi wajah senangnya selesai menjahili Hesti, bahkan sukemi terpingkal pingkal mendengar cerita lengkap Surti. " Janji gak ngilangin lagi" " Saya janji Ndoro ayu" dengan sigap Surti mengepal tangan di depan membuat gestur power, kembali Surti berlanjut belajar membaca huruf vokal serta baca tulisan. " Sur, kamu janji kan ngak menganggu Hesti lagi" " Janji Ndoro" " Tuh, kayaknya itu orangnya. Ajak gih kemari" alis Nirmala naik sebelah menatap sosok bertumbuh tambun mengintai mereka Surti menengok ke arah pandang Nirmala sedikit terjingkat kaget mendapati sosok berisi tersebut seolah persembunyian dirinya tak di ketahui, dengan titah Nirmala Surti bangkit serta menghampiri Hesti, Hesti terlihat berwajah cemong membuat Surti tertawa Surti tertawa sebentar seusai puas tertawa ia lalu bertanya," Kamu kenapa jadi abu gosok" " Ngomong apa sih kamu" Hesti tampak salah tingkah kedapatan mencuri pandang ke arah mereka dengan malu malu ia menundukkan pandangan dari Surti, tangannya sebagai media penghapus noda gosong katanya mengotori sebagian wajah sebenarnya ia tadi mendapatkan tugas tengah meniup tungku api agar menyala, ingat. dia masih di gerogoti rasa ingin tahu dengan kegiatan Surti serta Nirmala di sana Dengan wajah menunduk Hesti di tarik menghadap Nirmala, Nirmala bereaksi sama Surti, " kenapa wajah mu? Kok gosong" seperti pertanyaan pertama Surti tadi Ternyata ketika ia tadi mengelap wajahnya bukannya hilang makin rata warna arang ke wajahnya. Segera Nirmala mengelap wajah Hesti lebih bersih dengan sapu tangan ia bawa. " Mohon ampun Ndoro, saya gak niat jahat" dengan terisak ia memohon ampun takut mendapati Nirmala menghukum dirinya Bukannya menjawab permohon Hesti, Nirmala malah berkata " Kamu mau ikut belajar?" "Heh?" Hesti terbengong kaget, ia tak salah kan mendengar ajakan dari Nirmala ? " Saya tak punya uang Ndoro" pernyataan yang sama dengan perkataan Surti awal Nirmala mengajak dirinya belajar " Ngak bayar, gratis" kali ini Surti yang berkata. Nirmala dengan senang hati menulis beberapa kata abjad di papan tulis juga memberi selembar kertas serta alat tulis kepada dua orang murid nya, sesekali Surti serta Hesti Sulit mengikuti pembelajaran bersyukur Nirmala bersabar ia mensugesti dirinya mengajar lebih mudah dari pada memukul pria di gelanggang. " Mereka kenapa" tatapan tak suka tertuju pada Nirmala serta dua orang wanita di sana, gendis memantau dari kejauhan bersama orang kepercayaan nya " Mohon maaf Ndoro ayu, saya kurang tahu" sesal wanita dewasa tersebut tak mengetahui pertanyaan tuannya,"Sepertinya mereka sedang belajar" kata perempuan itu menambahi Gendis merasa keheranan dengan tindak tanduk Nirmala, sejak kapan anak itu fasih berbicara dengan orang lain bahkan lihai dalam mengajar, segera ia mengabaikan bawahan nya meninggal kan tempatnya. Langkah kaki gendis tergesa menghadap ratu Bagus ayu Kumala, ibu tiri nya. Dengan sopan ia menghadap serta menyuarakan pendapatnya tentang Nirmala, gadis itu tengah berbaur dengan rakyat biasa takut-takut tak akan ada orang menyegani dirinya, tentu wanita dewasa tersebut marah langsung ia mendatangi mereka benar saja apa kata gendis, Nirmala tengah mengajar dua abdi rumah mereka. " Ada apa Bu" sapa Nirmala sopan serta keheranan kenapa ibunya bisa mendadak muncul dengan wajah memerah " Kalian bubar, saya mau bicara dengan Nirmala" Surti serta Hesti terdiam menahan takut pada junjungan mereka Nirmala dengan santainya kini duduk berhadapan dengan ibunya, " kamu itu apa-apaan, kok bisa berbaur dengan mereka" " Saya cuman mau ngajari membaca mereka ngak lebih" " Ngak perlu! Mereka cukup makan sudah seneng gak perlu kamu tambahin belajar" tandas Kumala tak mau mendengarkan Nirmala menghela nafas berat tapi ia tak menangapi ocehan wanita didepannya sebuah halangan, toh ia tak punya hal di takuti jika itu benar " Mbok tolong sediakan minum sekarang" pintanya pada seorang wanita dengan patuh berdiri di belakang ibunya " Nirmala!!" " Sudah mbok, ambilkan" punya nya lagi, wanita itu takut-takut melirik nyonya Kumala juga melirik Nirmala, siapa yang harus ia patuhi Memendam kesal akhirnya Kumala, wanita itu menyuruh pembantunya menuruti permintaan Nirmala
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN