Nirmala harus memendam rasa malu karena mendadak menjadi norak, di zamannya orang kaya akan memakai mobil Lamborghini mahal, rumah, apartemen mahal, tapi. Ia juga tahu jika kau punya delapan kuda, ratusan unggas, kambing serata beberapa sapi. Hey, di zaman Tiffanny yang kini menjadi Nirmala itu adalah golongan kaum milyuner.
Terlepas dari keterkejutan nya ia kini ikut duduk bersama pak kuwok sedang Surti menghilang entah kemana
"Nak Nirmala seperti tak pernah melihat dan datang kemari tadi kaget seperti itu"
Tolong siapapun jangan ingatkan lagi, Nirmala ingin mengubur dirinya, dengan mulut sedikit terbuka dan Iker hampir menetes wajah nge-blank cukup membuat ia sadar kalau muka Nirmala sangat tak pantas di lihat, memalukan.
" Jangan di ingatkan pak, saya malu. Lagian saya juga belum pulih betul" dengan malu ia mengungkapkan ke enggannya untuk membahas
Pak kuwok tau dari Surti bahwa Nirmala masih dalam kondisi sakit cukup membuat dia kaget namun memahami keadaannya sekarang, tak tahu sama sekali Nirmala di hadapannya sangatlah berbeda dengan Nirmala tempo hari sebelum jatuh dari kuda sangat santai serta ramah, apa efek jatuh? Kalau efeknya sebesar ini kenapa tak dari dulu saja, jatuh nya.
Dari kejauhan Surti datang dengan mangkok besar beserta kendi
" Nunguin lama ya" kata Surti menaruh bawaan nya.
" Wakeh eram, kamu nyapo ngambil sebanyak ini," bingung pak kuwok melihat mangkok tadi berisi rebusan ubi masih mengepul
Melihat Nirmala diam kebingungan Surti mencomot ubi kukus tadi menyodorkan ke Nirmala " ini cobain Ndoro, enak. Sudah lama saya ngak liat Mala makan ini"
" Awhh, sakit pak" aduhnya mendapatkan toyoran di kepala oleh pak kuwok secara gratis
" Sembarangan, gak sopan sama Ndoro ayu, eh. Kok ketawa Ndoro" kesalahannya namun ia dibuat kebingungan akan reaksi Nirmala malah kini tengah terbahak
Pak kuwok menggaruk kepalanya tak gatal, bingung. Surti mencebik kesal dengan pak kuwok, " Ndoro ayu sendiri yang menyuruh saya memangil Mala, biar enak katanya. Pak kuwok jangan begitu" protesnya dengan kesal memakan ubi tadi di pegang dengan lahap
" Beneran ini?" Tanyanya tak percaya ada bangsawan mau berbaur dengan mereka
" Iya bener, lagian saya juga gak mau terlalu kaku, lebih santai saja, Pak. Tolong pangil saya seperti Surti saja, Mala saja"
Pak kuwok tak tau harus heran atau kebingungan atau keduanya, akan begitu ia tetap mengiyakan titah anak Raden Kusumo, tanpa ada niat membangkang walaupun di hati kecilnya itu tak sopan.
.
" Ngomong-ngomong, Ndoro ayu. Jangan terburu-buru makannya" tegur pak kuwok memberi tahu, melihat Nirmala masih lahap memasukan potongan ubi ungu dengan lahap, seperti tak ada kata puas, padahal hanya ubi kukus bukan daging sapi yang cuman bisa orang seperti mereka makan kalau ada acara besar.
" Enak, jarang-jarang bisa makan ini. Dulu makan ini sama almarhum ayah ku di termin-" perkataan Nirmala terhenti ketika ia sadar apa yang di katakan, benar saja pria dan wanita muda di dekatnya kini memasang wajah kaget dan kebingungan, Raden Kusumo masih sehat dan segar belum menjadi almarhum. Mana tahu mereka kalau di hadapan Surti dan pria paruh baya tersebut adalah orang lain dari waktu berbeda dan bukan Nirmala.
" Aduhh, kepala ku pusing. Aku harus kembali ke kamar dulu ya, tenang aku tak kenapa-napa" keluh nya dengan memegangi kepala sontak dua orang di sana panik kebingungan Surti bahkan berinisiatif memangil mister Harry jika ada masalah dengan Nirmala
Dengan sopan ia berpamitan kepada dua orang tersebut tak lupa berucap terimakasih dan pergi melenggang jauh, bahkan Surti tak diperbolehkan mengikuti dirinya beralaskan ia hanya ingin beristirahat saja.
.
" Aduh mulut ku, kenapa bocor sih. Yang ada aku dikira menyumpahi bapak nya Nirmala asli, aduh. Aku kangen mamah, bunda, ibu, emak.... Pokoknya aku kangen my mother" dengan kuat Nirmala memukul bibirnya sendiri sangking kesal nya tubuh ramping ia rebahkan ke dipan
Matanya mengawang ke langit-langit kamar, lelehan air mata tak terasa jatuh. Hatinya tercubit rasa rindu kepada satu-satunya keluarga dimilikinya, kalau dirinya di sana benar meninggal lalu siapa yang menjaga ibunya, wanita paruh baya itu terkadang terlihat abstud sama saja dengan dirinya tapi dirinya tahu ibunya memilih tak menikah lagi sepeninggal ayahnya, ia terbilang rapuh.
" Astaga, entahlah!!" Teriaknya frustasi, tak peduli di luar kamar ada bibi tukang beberes hampir jatuh sangking kaget mendengar teriakan dari dalam.
.
Kembali ke tempat pak kuwok bersama Surti tengah membersihkan sisa makanan tadi.
" Surti, kamu merasa aneh tidak ?" Dengan wajah polos Surti menggeleng tak paham maksud pria berwajah kusam itu.
" Ndoro Nirmala, kok bisa berubah banyak. Biasa-bisanya beliau bersanding serta makan bareng kita" ungkap pak kuwok dengan menggebu Surti bahkan terkena cipratan air ludah dari pak kuwok memang tak sadar diri
" Mana aku tahu pak, kalau Ndoro ayu bisa berubah sebanyak itu. Bahkan aku di ajari banyak hal"
Pak kuwok menggeleng pelan rentetan tindak tanduk selama ia tumbuh besar di kediaman keluarga Raden Kusumo selama ini Nirmala adalah sosok pendiam serta Engan untuk berbaur, aneh dan mengganjal hatinya saat ini
" Seperti bukan Nirmala"
" Kalau itu bukan Nirmala Terus apa? Masak hantu ?" Sangkal nya tak terima.
Masih dengan kecurigaan tak berdasar akhirnya Surti memilih undur diri dari pada mendengar ke tidak percayaan pria tersebut akan apa di lihatnya hari ini.
Surti kembali ke Pawon, sepi. Sepertinya para senior tengah beristirahat seusai pekerjaan mereka, Surti mengembalikan mangkok pinjamannya serta kendi.
" Astaga!!" Dengan kagetnya Surti hampir menjatuhkan barang dibawa nya, dengan kesal ia melirik Hesti sang pelaku, Hesti hampir membuat ia pingsan namun ank itu nampak tak bersalah
" Ada apa" kata Surti dengan jutek, masih kesal dengan anak itu selalu datang pas butuh dan hobby muncul mendadak
" Maaf, Sur. Aku mau nanya, kamu sekarang dekat ya sama Ndoro ayu?"
Surti mengernyit heran dengan maksud Hesti.
" Bukannya dari dulu begitu, semenjak aku di suruh ngurus keperluan Ndoro ayu"
" Maksud aku bukan begitu" bingungnya mengutarakan niat
" Maksud kamu kenapa aku bisa dekat dengan Nirmala? Dari tadi muter kayak kitiran" katanya menebak maksud teman se-umurannya itu, benar saja wajah Hesti terlihat cengengesan atas pernyataan barusan
Surti mendengus kesal dengan Hesti, anak itu terlalu mau tahu urusan orang lain. Hesti sebenarnya tahu kedekatan Surti dengan sang majikan ketika ia tadi tak sengaja melihat Surti seperti di ajari membaca oleh Nirmala, jujur saja itu menjadi hal mengusik dirinya
Surti dan Nirmala mempunyai hubungan akrab? Sungguh luar biasa. Hesti belum pernah melihat mereka sedekat itu.