Semilir angin malam menusuk sampai ke tulang hingga menimbulkan merinding cukup kuat, Surti. Gadis sawo matang tengah memeluk dirinya mengurangi dinginnya cuaca.
" Surti kamu di sini?" kata sukemi ia baru saja memasuki kamar mereka mendudukan bokongnya di atas dipan miliknya
" Kamu kedinginan ta?" ulangnya lagi tak mendapatkan jawab, Surti mengangguk cepat sebagai balasan
" Tak biasanya hawanya sedingin ini" katanya dengan bibir bergetar, sukemi merasa juga hawa dingin tapi tak berimbas banyak dengannya sudah terbiasa, segera diambil selembar kain songket milik nya diberikan kepada Surti, Surti. Ia memandangi wajah sukemi heran Solah mengatakan, untuk apa?.
" Pakai dulu, aku pinjamkan"
" Terus kamu?"
" Kita pakai berdua, aku tidur di dipan mu" ajaknya berseru.
Keduanya berselimutkan selembar kain masih sedikit terasa dinginnya udara
" Tak biasanya, sedingin ini. Apa mau hujan ya?" Surti terdiam sesaat tak mendapat jawaban ternyata sukemi sudah molor duluan di sebelahnya, Surti mendengus tak suka harusnya ia tahu temannya tukang molor
" Kayak nya bakal ada kejadian, apa perasaan ku ya" monolognya.
.
Kabar Nirmala sudah bangun keesokannya paginya membuat satu rumah heboh, kabar tersebut sampai pada Surti, ia di utus membawa makan siang untuk Nirmala. Sangat aneh dan asing untuk Surti melihat tingkah tanduk Nirmala tak se-kalem biasanya serta Nirmala sama sekali mempunyai kebiasaan berbeda dari biasanya, sungguh ajaib.
Mengingat kata junjungan ayu Kumala dan mister Harry dokter mereka, Nirmala lupa ingatan. Ia mencoba memaklumi kalaupun ada hal-hal aneh di lakukan Nirmala nantinya.
.
Surti menatap intens pada Nirmala, di dalam hatinya bertanya tanya ada apa dengan Nirmala ia berubah begitu pesat bahkan sosok pendiam itu dengan mudahnya mengajak dirinya mengobrol santai bahkan ketika di depan orang banyak berbeda kasta, sungguh mengagumkan.
" Sur, kamu gak tau tempat santai"
Surti mendekatkan diri kepada gadis kuning Langsat, "tempat santai seperti apa, Ndoro"
" Jangan pangil Ndoro, kalau berdua pangil Mala aja, okay" Nirmala memberi wink sembari membuat gestur OK pada Surti, dengan bingung Surti mengangguk.
Kini mereka tengah berjalan keluar perkarangan rumah menuju sungai biasanya hari hari itu tak ada kumpulan anak petani beserta kebo tengah di mandikan anak-anak
" Ini sunga kan"
Dengan kedua tangan memegang pinggang. Nirmala tengah berdiri di atas batuan kali menatap ikan kecil hilir mudik di bawah sana
" Tentu ini sungai nya, Ndoro...Mala" Surti segera membiasakan pangilan untuk Nirmala ketika mendapat plototan gratis.
" Jernih banget, Jakarta kalau air nya kayak gini enak nih buat mandi" gadis muda itu berjongkok, jemari lentiknya memainkan air sungai sesekali membasuh wajah dengan air, segar. Riuh nya senang
" Wahhh, gila! Ini seger banget"
Surti diam dengan bingung, " apanya yang gila Ndo.. Mala"
" Airnya, gak usah di pikir itu tadi kayak imbuhan kata saja" Nirmala menggaruk lehernya tak gatal, mana tau Surti bahasa gaul " kata gila itu kayak kata lain orang kagum, amazing. Gitu loh" jelasnya
Surti makin dibuat bingung bahasa apa gerangan di ucapkan Nirmala, setelah gila terus amajing? Apa itu amajing.
Nirmala menepuk kepalanya menyadari kebodohannya, kasian Surti makin di buat bingung dengan kosa kata sok ke-jakartaan nya, hadeh, di sini Jakarta masih Batavia kan.
" Kalau begitu kapan-kapan aku ajari kamu ya, kalau kamu mau" surti segara menggeleng menjawabnya ajakan Nirmala
" Saya ngak punya uang" ujarnya tahu wajah kebingungan Nirmala
" Apa hubungannya nya"
" Di sini kami gak bisa baca tulis yang bisa hanya kaum seperti Mala, selain mahal. Kastsa kita berbeda" surti menghela nafas "terimakasih atas kebaikan nya"
" Ngak, ngak. Kamu gak perlu bayar apapun, belajar itu wajib! Jadi kamu belajar sama aku saja" ajaknya membuat Surti senang
Di hati kecil Nirmala membatin, di kehidupan sebenarnya ia adalah Tiffanny hidupnya berkutat hanya di lingkungan beladiri, bisnis, main. Mana tahu ia soal mengajar, kalau mengajar buat persiapan tawuran mungkin bisa jadi, tapi. Mana iya dirinya mengajari beladiri, apa mau buat pasukan khusus?
Sebenarnya mengingat ia dari masadepan dimana peralatan semuanya sudah canggih setidaknya itu semua dapat membantu walaupun nilai akademisi miliknya bukan terbaik.
.
Di kejauhan Gendis tengah berjalan-jalan keluar dari rumah melihat kedekatan kakak perempuan dengan bawahannya, sungguh. Hal tak biasa bahkan semenjak sadar ia baru pertamakali dalam hidup mendapat kritik pedas dari sang kakak.
Selama ini bahkan sikap tinggi hati Nirmala tak segan ingin menyaingi Gendis begitu sebaliknya, namun titik balik kemarin sangat mengubah pandangan gendis tak lagi meremehkan kakak nya.
Engan berlama-lama gendis segera pergi dari sana malas melihat kakaknya entah mengapa terlihat berani serta percaya diri, ia sedikit iri.
.
Seperti kata Nirmala tempo hari ia menyiapkan segala sesuatunya untuk Surti belajar nulis, dengan papan beserta kapur putih alat seadanya.
Surti duduk dengan patuh di lantai sedang Nirmala membantu Surti membaca abjad, bersukur mereka memiliki pelataran depan cukup luas dapat di pakai.
" Woahh, ini seru!" Girangnya menyelesaikan soal dari Nirmala, senyuman gadis sawo matang tak luput membuat Nirmala ikut bahagia, jujur hal sederhana sekali di ajarkannya seperti pelajaran anak TK. Ini- Budi, ini - ibu- Budi, dan soal hitungan tak sesulit jamannya ia sekolah di Jakarta.
" Gimana sulit tidak?"
Surti awalnya mengiyakan soal milik Nirmala sulit, namun guru dadakan tersebut mengajarinya hal dasar mudah di mengerti serta menyenangkan.
gadis pekerja tadinya tengah menyapu teras, memperhatikan mereka dari jarak cukup jauh. Heran menyeruak dari benaknya, ada apa gerangan dalam rangka apa Nirmala berubah menjadi akrab dengan bawahannya bahkan jika mata nya tak salah lihat Nirmala tengah membantu mengajar Surti
" Ini aku seng salah lihat, apa itu beneran Ndoro Nirmala" monolognya masih dari balik persembunyian, ia segera pergi dari bawah pohon jauh pergi dari tempat sana.
Nirmala sedari tadi tersenyum, 8a tahu ada seorang jauh di sana sedang memata-matai mereka, kalau boleh Nirmala bahkan ingin terbahak-bahak jika tidak ada Surti sedang fokus
" Ada apa, Mala" heran Surti lihat Nirmala tersenyum sendiri.
" Tidak, tadi aku lihat ada kuda lewat" tentu bohong nya, mana ada kuda lewat.
" Mana, mana. Gak ada " hebohnya terlihat panik serta percaya
" Becanda, lagian mana punya kita kuda beneran"
Surti bangkit dari tempatnya " kita itu punya kuda beserta kandang nya"
Surti menarik pergelangan tangan Nirmala mengajak mereka ke sebuah jalan setapak cukup Surti kenal.
" Surti!! Eh, ada Ndoro ayu. Apa kabar nya" pak kuwok tadi menyapa Surti beralih sopan melihat siapa orang di bawa surti.
Surti melihat Nirmala tengah bengong dan tercengang melihat luasnya peternakan di kelola pak kuwok beserta pembantu nya.
Gila! Ini peternakan hewan besar amat, kuda ada, unggas dan kambing, sapi apalagi, ini luas banget.
Nirmala sama sekali belum sadar jika kedua orang di sana tengah bingung melihat tingkah katrok dengan menampilkan mimik konyol