chapter 9 - Surti

1037 Kata
Pagi hari masih seperti biasanya belum ku dengar kabar positif dari Ndoro Nirmala, tak ada acara melayani dia. Dengan melakukan hal lainnya seperti saat ini aku tengah terdiam menapih beras memisahkan beras bersih dengan gabah nya, beras putih seperti pasir pantai melompat lompat di lempar dari anyaman bambu tersebut Derap langkah seorang gadis lainnya menghampiri Surti tengah sibuk dengan pekerjaannya, Surti mengernyit heran mendapati seorang di kenalnya itu trengah-engah menghampirinya " Ada apa suk? Kamu kayak di kejar saiton" " Hii- ini, itu, Ndoro ayu" " Siapa? Ndoro Gendis?" " Bu- buhhh, bukan" " Lalu?" bingungnya " Ndoro ayu Nirmala" Mendengar nama atasannya di sebut Surti menyingkirkan tampah nya, ikut berdiri dengan berwajah panik ia ikut-ikutan gundah " Katanya Ndoro ayu, naik parah" Mendengar hal tersebut ia bergegas berlari kecil menuju rumah utama melihat ada seorang ibu-ibu tengah menyapu pelataran rumah, ia. Mendekati wanita yang di kenalnya sebagai pengurus rumah depan. " Buk, ngapunten" Suara sapu lidi menggesek tanah terhenti mendengar seorang gadis muda mendekatinya sopan, dengan heran ia bertanya ada apa. Ibu pekerjaan tersebut kenal dengan Surti anak sesama pekerja dan abdi dalem di sana. " Beneran, kondisi, Ndoro ayu parah?" Wanita dengan rambut putih tersanggul rapi celingukan mencari orang lain selain mereka di sekitar sana. " Kamu jangan keras-keras" bisik nya menunduk mensejajarkan telinga Surti, " ini kabar buruk dan belum pasti, misster Herry menggatakan kesehatan putri nyai ayu Kumala, sakitnya parah" Terasa sangsi mendengar penuturan wanita tua itu, selama aku tahu sesakit apapun Nirmala tetap tak parah selama ini ataupun fatal, tapi ingat ia terjatuh dari kuda kurasa pasti akan seperti ini. Aku pasrah, meningalkan mbok Darmi. Wanita tadi berucap kata baiknya untuk menyemangati diriku, aku tahu itu. Beranjak dari sana Surti pergi ke area belakang tempat pak kuwok mengurus peliharaan milik tuan, bau kotoran hewan unggas dan kuda menjadi satu baunya menusuk hidung sekali Surti terdiam melihat si arang, nama kuda hitam tempo hari membuat Nirmala terjatuh hingga cidera. Surti bukan pecinta hewan malah ia suka makan hewan seperti ikan, ayam kalau ada acara orang kaya makan daging kambing serta sapi sangatlah menggoda, ia suka itu bukan cuman makan singkong rebus, tapi melihat liarnya kuda itu rasanya ingin di buat sate saja membuat kunjungan nya terbaring sakit. " Nduk, kok kemari ada apa" sapa seorang bapak dengan pakaian lurik serta ikat kepala menjadi ciri khas pak kuwok, pria baya menghampiri Surti sembari menaruh seikat besar rumput makan kuda terlihat ia baru merumput sampai wajahnya kuyu nya menjadi perhatian Surti " Cuman mampir saja pak" " cuman mampir atau ada perlu" selidiknya sudah menahun ia tinggal di sana serta mengenal Surti baik buruknya, jika ada masalah anak itu bisa saja mojok di sebelah kandang bebek sembari mengusili unggas peliharaan si majikan, usil memang. " Ikut bapak Yoh, tunguin pak kuwok ngasih jatah si arang sama temennya sebentar kamu duduk aja di sana" suruh pria itu ketika anak itu tetap bungkam, pak kuwok menunjuk sebuah tempat agak jauh dari kandang kuda di bawah pohon jambu dengan kursi panjang, Surti yang masih diam mengiyakan dan berlalu seperti perintah pria dewasa tadi. Dari kejauhan Surti melihat punggung pria tua itu tengah rajin mengerjakan tugas nya, dari kuda, unggas sampai wedus di urus oleh nya menjadi gemuk banyak daging di peroleh Seperti kata pak kuwok seusai tugasnya ia datang menghampiri Surti namun tidak dengan tangan kosong Tangan kiri memegang kendi air serta tangan kanannya membawa bungkusan daun pisang, entah apa itu. " Nih makan dulu sama minum, ini makan siang pak kuwok" ujarnya menyebutkan namanya sendiri. Mereka duduk berteduh kan daun buah jambu dengan Angin semilir, di buka bungkusan berisikan ubi rebus mengepul mengoda warna oranye mengoda siap masuk mulut, rasa manis ubi jalar mengurangi pikiran berkecamuk sedari tadi ditambah segarnya air putih, " udah enakan? Lumayan kan" Pipi gadis muda itu mengembung, penuh dengan potongan makanan, mata jernihnya cukup membuat tahu pak kuwok, anak perempuan ini tengah menikmati sebagian jatah miliknya. " Jadi, kamu ada masalah apa, kalau-kalau bisa di bantu sama bapak" melihat gadis cilik dianggap anak sendiri olehnya tengah kesulitan bicara segera ia menyodorkan kendi air, dengan tawa keras terpingkal-pingkal menyebabkan raut muka Surti kesal, ia tetap meneguk cepat dengan cepat air segar mengalir ke tenggorokan, segar. Senangnya. " Gak ada apa-apanya" diamnya sebentar, " cuman laper, rejekinya saya di kasih makan" candanya kemudian sambil terkekeh. Pak kuwok tentu tak langsung menyela ia terdiam saja, menunggu jikalau Surti ingin berkata jujur. Hik..hiks.. Suara lirih keluar dari celah bibir mungil Surti, tangisnya pecah namun tidak meriah hanya terdengar sengau. " Pak, kalo non Nirmala ngak bangun gimana?" Lirihnya menahan lelehan air mata serta ingus. Tangan renta pak kuwok menepuk pundak sempit Surti dengan penuh kasih bak seorang bapak pak kuwok memberi petuahnya untuk Surti, beda dengan sukemi juga dekat dengan pria baya itu anak bertubuh ramping tersebut masih memiliki kedua orang tua. Bapak dari sukemi kuli angkut di pasar dan juga bertani sedang ibunya tukang bersih-bersih di sini, Surti. Ia hanya punya ibu di sini ayahnya sudah lama meninggal. " Tuh kan kamu mikirin sesuatu" canda pak kuwok mencairkan suasana Surti terkekeh di tengah tanggis nya. Surti bergerak mengelap air matanya, segara. " Surti gak Deket sama Ndoro ayu Nirmala, tapi... Surti juga ngak kepengen Nirmala sakit apalagi kalau sampai parah" adu nya " Sudah, sudah. Nduk, kita ber Do'a saja sama Gusti pangeran. Semoga ngak ada apapun hal buruk sama anak Raden Kusumo, kalau boleh tau, kamu kok sedih sekali anak itu sakit" Melihat pak kuwok memainkan janggutnya sembari termenung menunggu kepastian, gadis sawo matang itu mulia menyiapkan jawaban " Ndoro ayu, memang cuek. Tapi beliau masih mau Nerima saya kalau saya ada salah nya" Surti mulai menggenang ketika pertama kali diminta mengurus semua keinginan Nirmala ia masih baru waktu itu dan bukan seorang ahli seperti para senior terdahulu. Suatu ketika pernah sekali ia terlambat datang di susul dengan kebodohannya merobek kebaya motif milik gadis tersebut, namun Nirmala tak memarahi dirinya hanya mengatakan dirinya bodoh dan selalu men-dekte Surti agar anak itu paham, hal ini tidak ia ceritakan pada sukemi. Tak melanjutkan ucapannya, Surti terdiam malu dengan tiba-tiba ia menjadi merasa malu mendadak Melo. " Pasti ada jalan keluarnya, sekarang kamu kembali ke Pawon, pak kuwok mau lanjut kerja lagi. Ingat, semua masalah ada jalannya"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN