chapter 20 - anak bangsawan

1105 Kata
. Nirmala dengan riang tentunya mendengar Hesti antusias dengan kembali nya ia bisa mengajari mereka membaca, Hesti Serta Nirmala di kagetkan dengan suara kucing mengeong, seketika mereka sudah sadar obrolan mereka tadi cukup asik hingga tak sadar malam sudah larut, Nirmala berujar undur diri serta meminta Hesti mengajak Surti kembali bersama dirinya sebagaimana biasanya. Esok paginya Seperti di janjikan Surti kembali mengikuti Nirmala serta Hesti juga menyengangkan waktu untuk ikut dalam kelas dadak di buat oleh Nirmala agar dapat membaca. " Ini.. A.. B... C...D.." kayu rotan sebagai alat bantu mengajar ia gunakan menunjuk tiap-tiap huruf abjad di maksud, Surti serta Hesti fokus mereka menulis bait tiap huruf vokal dalam kertas serta alat tulis di sediakan. " Bagaimana, mudah di pahami tidak?" Kompak keduanya mengangguk mengiyakan seraya berucap terimakasih atas progres di terima mereka, bak guru bangga dengan anak didiknya Nirmala memberi hadiah pada keduanya berupa buku tulisan tanggan dari tokoh literatur terkenal dari negara sebrang negara kincir angin. " Ini apa, Ndoro ayu?" Nirmala melingkar kan kedua lengannya memeluk pundak Surti serta Hesti berada di kiri kanannya, sembari mensejajarkan tinggi nya ia berjongkok merendah " Coba buka, buka buku nya" heboh Nirmala menyenggol keduanya agar segera membuka buku pemberian kunjungan mereka, kini mereka membiak tiap lembar buku namun dengan raut menyedihkan mereka kompak menatap balik dengan tatapan memelas " Kami tidak paham bahasanya, Ndoro" jujur Hesti dengan bibir sedikit manyun " Lah, kalian di sini aku ajarin kan? Kalian belajar dulu yang bener, pasti bakal bisa baca ini..nih" telunjuk lentik gadis itu menekan nekan lembar buku mereka, menekan kan kemampuan mereka suatu saat akan berkembang serta dapat membaca buku berbahasa asing nantinya, yakin Nirmala. Nirmala sama sekali tak membedakan perlakuan nya pada orang bukan berdarah bangsawan bagiannya semua itu sama saja. Kini seusai mereka menyelesaikan jam mengajar Nirmala, Nirmala memaksa ikut Hesti ke pasar seusai Hesti belajar bersama Nirmala dirinya memang di suruh pergi ke pasar " Ndoro, saya mohon jangan ikut. Nanti saya bisa di marahi Ndoro Ajeng Kumala" mohon nya " Iya Ndoro, biar Hesti sendiri Nanti ndoro ayu Nirmala bisa di marahi " bujuk Surti ikut membuat Nirmala mengubah keinginan nya. " Udah saya bilang, panggil saya Mala kalau cuman kita sendirian. Saya tetap ikut pokoknya, gak ada bantahan, saya suruh orang buat nyediain Dokar" Hesti dan Surti saling beradu pandang baru kali ini mereka menghadapi Nirmala yang keras kepala, sampai kukuh dengan pendiriannya. Baru kali ini Hesti ke pasar dengan kereta kuda, sebelumnya ia akan ke pasar berjalan kaki kalaupun ke pasar dengan kereta pasti ada acara besar mengharuskan membawa banyak bahan makanan, kereta kuda mulai terhenti tepat di jalanan yang ramai dengan orang berlalu lalang. " Ini pasar nya?" tanya Nirmala memastikan, tentunya Hesti membenarkan keberadaan mereka, Surti serta Nirmala ikut mengekor pada Hesti, anak tersebut sangat lincah dalam hal tawar menawar serta memilih bahan bagus untuk kebutuhan dapur. " Iki apik Ndak to? Sama ini bagusan yang mana" Hesti kebingungan memilih antara kangkung atau bayam, menimang nimang nya, Surti dengan dongkol ikut nimbrung ke mana Hasti harus memilih hingga menimbulkan perdebatan diantara mereka Gadis berkulit kuning Langsat tersebut memandang kedua anak tengah berdebat tidak penting mendapati dirinya tertarik oleh penjual jajanan ia melihat lihat sekitar, menjauhi bawah nya. " Ini apa" jari nya menunjuk arah penjual gulali merah, gumpalan lengket tadi di lilitkan ke stik berupa potongan bambu menjadi alat pemegang makanan manis itu " Ini gulali gula merah, nduk" Perempuan tua itu sama sekali tak tahu di depannya anak bangsawan namun dari kulit bersih nya orang itu tahu pelanggan nya ini adalah Anak orang kaya. " Boleh beli satu" dengan antusias sampai membuat anak-anak kecil tengah mengantri keheranan, apa orang dewasa ini tak pernah makan jajanan pasar, jangan salahkan Nirmala yabg sebenarnya di hidupnya sebagai Tiffanny selalu membeli makanan di mall jajan di depan SD pun bukan lagi penjual gerobak melainkan toserba, terlalu anak kekinian hingga ia ikut girang mendapati jajan jadul tersebut. Nirmala melangkah dengan cuek memakan gulali miliknya dengan senang serta bungkusan dari daun pisang berada ditangannya berisikan jajan dari kue basah "Enak banget deh" gurau nya memandangi bungkusan gemuk. Nirmala yang menikmati betapa enaknya jajan murah meriah serta jalan-jalan menikmati suasana ramai, selama di kediamannya dia bak burung dalam sangkar muter-muter di sana sini Mulu, kalau gak di kamar, dapur, beranda depan, walaupun begitu ia sangat menikmatinya, maka dari itu ketika ia di tengah keramaian orang berlalu lalang dengan senangnya beberapa kali Nirmala menyapa mereka dengan ramah. " Eh, kamu lihat Ndoro ayu tidak" " Mana aku tahu, kamu kan yang ngikut Ndoro ayu, malah aku yang kamu tanyain" Surti mengoyak kain bawahnya hingga lecek, suhu tubuhnya berasa panas dingin seketika mendapati junjungan mereka menghilang. " Ayukk, ikut cari" seret Surti memaksa Hesti mengikuti langkahnya peduli setan jika mereka telat ataupun tak jadi belanja, yang penting perempuan itu dapat di temukan mereka. " Jadi mainnya begini" Nirmala menengok ke arah anak lelaki tersebut, dengan riang mereka mengiyakan Siapa sangka Nirmala akan ikut larut pada asik nya para anak kecil bermain gangsing dari bahan kayu serta tali sebagai alat pelontar untuk berputar, dengan sogokan bungkusan jajannan basah cukup banyak, Nirmala meminta mereka mengajari Nirmala cara bermain mengunakan gangsing kuno. " Wahh, mbak yu hebat" sorak salah satu bocah di sana, Dengan mulut penuh makanan sorak anak kecil ikut antusias dengan tiba nya sosok wanita dengan gaya santainya tanpa malu malu ingin bergabung bermain dengan mereka. " Ndoro Ajeng ayu" seru Surti tengah tergopoh gopoh, Hesti dengan keringat derasnya membawa tas dari rotan berisi bahan belanjaan penuh kesulitan di ajak maraton oleh Surti yang berbanding terbalik dengan tubuh gemuk Hesti. " Dari mana saja, Ndoro ayu" Surti mendekat dengan wajah panik Nirmala menengok ke arah keduanya namun ia juga mendapati anak-anak tadi bermain dengannya sontak terdiam, lalu dengan sopan anak-anak tadi berpamitan sopan undur diri membuat Nirmala sontak kebingungan terdengar sayup-sayup mereka berbisik Eh, anak orang kaya.. anak bangsawan, kabur-kabur. Begitulah kiranya di tangkap oleh pendengarnya. " Mereka kenapa pergi?" Sembari berjalan menuju kembali ke kendaraan mereka, Nirmala mengungkapkan keheranannya atas sikap anak-anak polos tadi. " Mereka takut sama Ndoro ayu" Kenapa takut? Pikir Nirmala polos, ia tak memakan manusia ataupun menjual ginjal mereka. " Karena kita beda statusnya, Ndoro ayu masa lupa siapa Ndoro ayu ini, dari mana Ndoro ayu berasal dan anak siapa Ndoro ayu" jelas Hesti runtut langsung mendapat pukulan gratis dari Surti, Hesti mengaduk kesakitan melihat Surti kesal, Surti bersikap demikian melihat raut sedih Nirmala, ia tak mau orang yang di Jaga nya kini bersedih karena tak dapat bermain dengan anak-anak tadi. " Kapan-kapan kita kemari lagi, Ndoro ayu" hibur Surti tentu hanya berimbas senyum biasa tanpa semangat seperti ketika ia mengajar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN