.
Nirmala mengalami hal menurutnya menakjubkan, Ketika dia membuka lembar buku berbahasa negri Holland ia dapat memahami semuanya dengan mudah, apa ini efek ia sudah membaur dengan tubuh Nirmala ya?
Tanpa mempedulikan etika sebelah kakinya naik ke atas ranjang tangan kirinya sibuk mengambil kacang mete goreng dengan lahap tanggan lainnya bertugas memegang buku
De Wapens Neergelegd karya Bertha von Suttner. Nama Buku istimewa tengah di telaah makna dari buku tersebut, dengan mudah Nirmala penjelajah waktu tersebut terkagum, dibuatnya menjelajahi pemikiran jelimet
Ada juga orang sehebat ini di jaman ini, berbeda dengan zaman dimana ia tumbuh dewasa sebagai dirinya, lebih banyak buku novel percintaan yang laris dari pada buku ensiklopedia benda berdebu di sudut toko menjadi barang obral, padahal isi nya sangat penting dan keren.
Mata Nirmala terlihat berkobar dengan senyum tipis, lembar demi lembar ia baca hingga tak terasa sudah setengah bab ia pahami.
Nirmala baru tersadar Hari sudah menjelang sore, akan makan malam bersama keluarga besar nya, dengan riang ia keluar dari persembunyian menuju ke dapur, Terdapat beberapa orang di sana mulai memasak dengan santun ia berbicara dengan salah satu wanita sepuh di sana, Nirmala berucap sopan serta mendesak untuk membantu walaupun sekedar membawa lauk pauk ke atas meja.
Semua orang telah duduk manis di kursi masing-masing menunggu santapan malam, Raden Ajeng kumala menatap satu per satu anaknya di sana lantas tak menemukan sosok Nirmala, Murti biasanya di duduki anak manis tersebut kosong melompong tanpa tanda tanda kemunculan dirinya
" Mbok yu.." panggilannya pada salah seorang maid nya, perempuan itu bersimpuh menunggu perintah.
" Di mana Nirmala mbok?"
" Ampun Ndoro Ajeng, akan saya cari Ndoro ayu Nirmala"
" Iya mbok, tolong ya" Kumala mengangguk lalu membiarkan perempuan tadi berlalu pergi mematuhi perintahnya, tak lama wanita suruhannya kembali dengan kabar anak mereka menghilang lalu membiarkan wanita di panggil mbok yu kembali ke posisi awal
" Ada apa dek Ajeng" lirih suaminya terlihat mengamati tatapan bingung
" Nirmala ilang, mas"
Pria tua itu menengok ikut kaget, tak lama berselang mereka lebih di kaget kan seisi meja makan. Nirmala sosok ayu tersebut membawa beragam lauk di nampan besar, menyuguhkan pada anggota keluarga nya dengan riang bahkan tutur sopan nya ia ucapkan pada tiap-tiap orang di sana agar menikmati sajian.
" Kamu kenapa ikut-ikutan ngantar makanan?" Heran sang kepala keluarga berucap usai anaknya sudah bergabung bersama mereka
" Mbok, jangan malu-maluin. Kamu itu Raden Ajeng ayu" tunjuk kang mas Suryadi menunjuk adiknya
Gendis sendiri terdiam tak berucap, biasanya ia akan suka sedikit menyinggung kakak perempuan nya tapi kini ia seolah Engan untuk menyudutkan siapapun.
" Wes, sudah-sudah, kamu yang sudah gede jangan marah-marah" pringat Wahyudi menekan tanggan adiknya agar berhenti menunjuk Nirmala di ujung meja sana.
" Sudah, makan saja kita" titah bapak empat orang anak
" Baik Romo/kang mas" ucap mereka serentak mematuhi perintahnya.
Nirmala sedikit Engan untuk makan ketika ia merasa rindu dengan ibunya, apa kabar di sana, di sisi lain ia cukup bahagia bisa makan dengan keluarga besar baru kali ini ia merasa memiliki orang tua serta saudara.
Acara makan telah usai piring mereka sudah di sapu bersih terlihat menikmati masakan, Raden Kusumo berdehem membuat atensi orang di sana menyoroti pria tua tadi ia terlihat memandang Nirmala lalu berkata
" Nduk, Nirmala. Kamu apa benar mau mengajarkan anak-anak perempuan mengajar"
Suryadi terlihat mengkerut kan dahi lebarnya menoleh antara ayah serta adik perempuan nya, tampak bingung.
" benar sekali, pak" Nirmala melirik ke arah sang ibu, paham bila kini ia harus membicarakan ini segera
" Kalau kamu beneran mau mengajari membaca anak perempuan di sekitar sini, silakan. Saya ngak melarang.."
" Bapak, Nirmala itu perempuan, ndak seharusnya mengajar anak-anak, tinggal nunggu dia menikah" potong Suryadi menyela percakapan ayah anak tadi
" Sur!, Diem kamu" peringatan Wahyudi dengan melirik adik lelaki nya tajam bahkan wajah pria bugar itu mengeras, Suryadi berucap maaf wajahnya juga di Liputi perasaan malu mendapatkan tatapan dingin dari ayahnya, ia tahu walaupun pria tua itu tidak berkoar-koar namun itu sudah jadi peringatan untuk menjaga tata Krama mereka.
" Baik, aku lanjutkan inti nya saja. Kalian juga butuh istirahat kan? Kalau kau lelah Suryadi, kau boleh segera pergi"
" Mohon maaf, saya undur diri dahulu" pamitnya memberi salam penghormatan lalu melangkah pergi usai titah sang bapak.
" Kamu boleh, silakan lakukan sesuka mu, ingat! Bapak tidka mau mendengar kamu menghindari tangung jawab mu ini adalah komitmen yang kau pilih"
" Baik, terimakasih atas restu nya bapak"
Ibunya mengepal kan tangan ke depan membuat gestur semangat dan terlihat wanita itu ikut senang.
Gendis serta Wahyudi berada di sana ikut tersenyum tipis walaupun mereka tak begitu ingin campur dengan urusan Nirmala, namun apa yang di lakukan Nirmala terdengar keren.
.
Suryadi sendiri berjalan pergi mangkir dari obrolan tadi, mulutnya mengeluarkan unek-uneknya sebenarnya tak begitu penting bahkan daun di temuinya menjadi bahan pelampiasan kesal
" Anak wadon kok mau aneh-aneh, bocah".
.
Acara hari itu berakhir menyenangkan menurut Nirmala bahkan ia dapat bernafas lega rasanya mendapatkan ijin bahkan jika ia tak mendapat ijin dirinya tetap akan membuka acara mengajar anak-anak perempuan tersebut, dalam hati Nirmala ingin langsung masuk kamar, namun ia mangkir dari sana dengan berani Nirmala berjalan menghampiri rumah di belakang kediaman sang bangsawan, rumah para abdi pembantu perempuan berada, anak perempuan itu menuju kamar Surti berada
" Malam gini apa masih bangun ya tuh bocah?" Nirmala mencoba mengintip celah pintu, kalau-kalau kedua manusia atau salah satu orang di carinya akan bisa di temuinya muncul dari sana.
" Ndoro Ajeng ayu"
" Astaaaagaaa!!!" Nirmala berjingkat kaget punggung nya menabrak daun pintu kedua tangannya mengepal, siap memukul jikalau perlu.
Sama seperti Nirmala gadis yang menyapanya tadi ikut melotot dengan mulut terbuka sangking kagetnya, selesai sadar akan kekagetan mereka masing-masing, sosok tadi yang ternyata adalah Hesti, gadis berpipi chubby itu memang suka sekali muncul mendadak, benar kata Surti, Hesti terkadang mengesalkan, untung ia tak bergerak cepat untuk melumpuhkan anak tersebut.
" Kamu ngapain sih hes, tiba-tiba muncul"
Sembari tersenyum tak jelas menurut Nirmala, anak itu mengaku baru dari arah dapur baru menyelesaikan makan katanya, pantas saja ia berisi dari pada lainnnya jam makan sudah selsai sejak tadi dan anak itu baru saja kembali dari acara makan malam.
" Ngapunten, Ndoro ayu ada keperluan apa kemari"
" Mau nyari kamu sama Surti... Mau bahas masalah belajar, ikut aku" segera Nirmala mengajak Hesti pergi, mencari spot enak untuk mengobrol Engan untuk basa basi pada gadis polos namun sedikit lemot.
.
Mereka duduk di kursi bambu tak jauh dari kamar para pembantu, bahkan Hesti membawa lentera dengan api menyala di dalamnya mengurangi gelapnya malam.
" Saya masih mau belajar Ndoro, tapi saya takut di marahi" kata Hesti menunduk sopan pada majikan suara kecil Hesti sama sekali tak membuat Nirmala menulikan pendengaran nya
" Saya paham kok, tenang saja. Raden Kusumo memberi saya ijin, kalau perlu kamu boleh mengajak orang lain bergabung"
Suara Nirmala terdengar percaya diri menjadikan Hesti ikut larut dengan rasa senang gadis tersebut, Nirmala bangga ia dapat mengantongi izin dari sang ayahanda dengan begitu wajah senang di depannya ini dapat mengenyam pendidikan, tak akan ada perbedaan diantara mereka yang mencintai pendidikan.