Tap... Tap... Tapp
Suara langkah hewan berkaki empat tersebut terhenti menarik andong sang kusir kuda menengok ke kedua penumpang sembari menagkupkan kedua tangan memberi hormat
" Maaf tuan, sudah sampai tujuan"
" Terimakasih" ucap bupati tersebut, mereka sudah di sambut dengan beberapa orang berlutut memberi hormat, kedua pasangan suami istri tersebut memasuki balai rakyat, begitu mereka menyebut nya. Di sana sudah ada pentolan orang penting, Ndoro Ajeng Kumala ikut sebagai pendamping sama seperti lainnya istri mereka ikut, para perempuan berpisah dengan kumpulan suami tengah mendiskusikan hal penting, jarang wanita di ajak terkadang mereka ikut hanya untuk ajang pamer, istri penjabat siapa yang cantik.
Para istri penjabat tersebut dengan senang memperbincangkan kehebatan para suaminya sendiri ataupun anak lelakinya serta kekayaan bahkan Raden Ajeng Kumala terdiam saja mendengarkan mereka menyombong tentang kedekatan dengan para Londo, pikiran wanita itu mengawang-awang kembali pada obrolan saat bersama putrinya, kenapa tak ada yang membanggakan hal yang pernah mereka lakukan dari pada sekedar jabatan, kedudukan yang sementara saja bahkan itu bukan milik mereka sebagai wanita, ahh. Atau memang wanita tak sepenting itu untuk berpendapat.
Tak membutuhkan waktu lama akhirnya mereka kembali menuju ke rumah dengan kendaraan berkuda, wajah tenang Kumala sama sekali belum berubah, ia masih diam ketika sang suami mengajak dirinya pulang.
" Ada apa Raden Ajeng Kumala, apa ada yang kamu pikir" pria sudah cukup berumur dengan uban tertutupi ikat kepala
Seketika lamunan Kumala buyar tersadar akan tepukan halus di pundaknya, dengan wajah sedikit tersentak ia tersenyum hormat pada kepala rumah tangga nya.
" Ngak ada apa-apa kangmas" bohongnya sembari menunduk
" Aku tau kamu berbohong, sudah. Jujur saja dek Ajeng"
" Ampun kangmas, kalau saya lancang. Menurut kangmas bagaimana pentingnya kedudukan orang Seperti saya"
Raden Kusumo melipat jidatnya dengan sudut alis terangkat tajam, sedikit bingung dengan kalimat ambigu si pasangan, " maksud kamu apa dek Ajeng, maaf. Bukan maksud kang mas tak peduli" balasnya dengan hormat pada wanitanya.
Kumala tersenyum anggun menatap teduh mata jernih pria tua itu
" Maksud saya, apa pentingnya peran seorang wanita, apakah mereka hanya harus patuh pada suami sampai mati nanti, maaf kalau saya lancang hanya saja saya penasaran kalau-kalau orang Seperi saya tak punya kedudukan apakah saya hanya di anggap pelayanan suami yang saya lihat seperti b***k, terkadang."
Tangan bupati itu mengelus kumpulan jenggot putihnya mengangguk menyelami maksud dari perkataan pasangan hidupnya.
"Sebenarnya wanita itu memang wajib menurut dengan suami, tapi suami seperti apa yang pantas di turuti sang istri, harus pria berjiwa kesatria. Orang yang bertanggung jawab atas hidup istri serta anaknya kelak, sedang seorang wanita harusnya kedudukan nya jauh lebih tinggi karena kesatria tadi lahir dari perut seorang ibu yang juga wanita, Seperi kamu. Tanggung jawab wanita besar sekali, sekalipun aku mencium kaki mu... Itu belum cukup, tapi sebagai seorang istri bahkan kalau kau menelan nanah dari luka suami kamu tidak bisa membalas jasa mereka. Peran wanita dan pria itu seimbang dan adil tak ada yang jauh lebih berat dan di pentingkan, kalaupun tata adat seorang wanita menurut dengan suaminya, itu wajib. Tapi aku tak setuju mereka hanya di ciptakan untuk memberikan keturunan saja"
Pria itu menjelaskan dengan bahasanya cukup mendalam, Raden Ajeng Kumala terdiam cukup lama beberapa menit memberi senyap hanya di isi suara tapak kaki hewan tengah membawa mereka, pak kusir pun hanya terdiam tanpa ikut campur.
" Dek Ajeng, kamu mendapatkan pemikiran tersebut dari mana" ucapannya memecah hening, Kumala dengan sopan mengatakan mikirin tersebut muncul dari perbincangan dengan Nirmala, anak mereka kini mulai masa pemulihan telah berubah sekali bahkan menyuarakan pendapatnya tentang pendidikan.
Dalam hati Kumala sebagai seorang ibu sedikit takut suaminya akan murka ataupun kesal mendapati anak gadis mereka terlalu ikut campur dalam urusan pendidikan orang lain akan tetapi pria itu malah tertawa terbahak seusai tertawa terlihat dahi nya menetes kan keringat, terlihat ia cukup lelah terbahak.
" Aku bangga, baru kali ini anak itu bicara tentang orang lain, aku bangga buk" ketara sekali kilat mata senang dari sorot mata Kusumo, dia menyuruh istrinya untuk segera menanyai ulang anak gadisnya ia berkata dalam kondisi sadar atau hanya berucap lalu di lupakan hanya sekedar wacana, itulah ditakutkan oleh Kusumo.
Sesampainya di kediaman rumah Kumala meminta Nirmala menghadap dirinya segera mungkin.
Tubuh tegap menatap lurus si anak, sesekali dilihat Nirmala membenarkan konde nya sesekali walaupun tatanan rambut nya baik-baik saja.
Kumala mengawali perbincangan mereka dengan ringan sesekali perdebatan diantara mereka muncul namun kembali dapat di kondisikan tak mengikut sertakan amarah, dia hanya bertugas memastikan bahwa anaknya tak sedang bermain dengan tanggung jawab mengajar anak-anak.
Seperti ultimatum kepada Nirmala, ia akan di perbolehkan mengajar dengan seijin sang ayah. Seperi bagaimana mestinya mereka membuat janji untuk membicarakan ini semua tentang maksudnya pada saat ayah nya sengang esok hari.
.
Nirmala kembali kedalam kamar sendirian tanpa Surti yang biasanya mengikuti dirinya kemanapun, pintu kamar di kunci rapat tanpa mau di ganggu, Nirmala duduk di pinggiran ranjang dengan sebelah kaki terangkat dagunya ia tumpukan di atas siku kaki
Nirmala sesekali terdengar bergumam berdoa agar orangtuanya mengijinkan keinginan nya sekedar untuk mengajar baca tuli, berharap wanita tak tertinggal jauh, kasian mereka.
Ngomong-ngomong, kenapa Nirmala asli meminta bantuan ku ya? Kalau dia saja tak tahu kenapa aku di tubuhnya apalagi aku sendiri, apa aku di minta untuk mengubah jalan hidupnya agar lebih baik? Kalau begitu aku juga tak perlu sungkan bertindak sesuka ku, lagian lumayan enak menjadi Raden ayu.
" Kalau aku mau kembali ke tubuhku apa yang harus aku lakukan? Terus kalau aku bisa kembali, gimana anak-anak itu mau belajar dari ku? Dua orang sih, tapi satu manusia cukup untuk mengubah perbedaan, jadi harus mana dulu? Mencari cara kembali ke tubuh masing-masing atau menerima hidupnya Nirmala di sini lalu mengajar anak-anak tersebut" monolognya dengan lirih, syarat dengan rasa frustasi menghinggapi dirinya.
Nirmala itu akan mencari cara kembali menjadi Tiffanny namun kini sebagai sosok Nirmala ia ingin memberi sedikit sentuhan pada tradisi masa kini yang menyudutkan wanita, pasti ada caranya kan? Kini dirinya bertekad untuk memfokuskan hidupnya di dunia ini sembari mencari cara kembali menjadi atlet profesional menemui Jhon, teman sparring nya. Batinnya optimis dengan jalan hidup yang mulai ia terima dan akan ia lalui
" Pasti bisa!!!"