Tubuh Nirmala palsu tersebut di selimuti cahaya kebiruan bak kupu-kupu hinggap lalu terbang ke angkasa, kini wajah serta tubuh nya menjadi tinggi kulitnya mulai putih bersih kembali rambut yang dimiliknya tergerai sebahu, ia kembali menjadi Tiffanny saat belum terjebak.
Wajah Tiffanny kebingungan namun ia tetap menatap tajam pada sosok Nirmala asli, anak tersebut berwajah dingin di bandingkan ketika ia berada dalam tubuh tersebut, tanpa banyak bicara Tiffanny sedikit paham kenapa perubahan Nirmala membuat orang keheranan, wajar saja ketika ia melihat sosok tersebut wajahnya samasekali tak menampakkan ke ramahan
" Kau pasti bingung, iya kan?"
Tiffanny mengangguk dengan wajah waspada. Suara Nirmala terdengar rendah syarat dengan berat juga terkadang suaranya terdengar sengau bak orang tak pernah menggunakan suaranya untuk berbicara sekalipun.
" Kau Nirmala, ya kan?"
Nirmala mengangguk membenarkan bahwa ia adalah sosok Nirmala yang ia cari.
" Lalu kenapa tidak kau saja yang bagun di tubuh mu, aku bahkan kebingungan apa aku ini sudah mati atau belum"
Mata bulat itu berkilat menatap tajam memandang Tiffanny, " aku juga tak tau kenapa aku begini, mau aku tunjukan sesuatu? Lihatlah"
Ruang tampa cahaya tersebut tiba-tiba memiliki kotak plasma bak kaca jendela besar, di sana terlihat tubuh kaku Nirmala di pembaringan dengan warna membiru, uratnya bermunculan menonjol kulit. Tiffanny bergidik ngeri seperti melihat acara sakaratul maut dari pasien yang tengah meregang nyawa
" Apa maksud mu, memperlihatkan ini pada ku" Tiffanny menengok sampingnya mendapati gadis lebih pendek darinya tengah memandang dingin tontonan tersebut.
" Aku juga sama bingungnya dengan mu" Nirmala menunduk dengan sedih, untuk sesaat Tiffanny menangkap wajah frustasi darinya walaupun hanya persekian sekon, " saat itu gendis memancing ku untuk mengikuti dirinya berlomba, entah itu akal-akalan dirinya atau memang aku saja yang payah, waktu itu aku terlalu pongah bisa lebih mengungguli dia, tapi. Aku malah terprosok ke tanah dan ini hasil nya, aku mati..."
" Kau mati? Lalu aku di sini mengantikan kau untuk hidup!!" Potong Tiffanny cepat, Nirmala tak suka perkataan dia di serobot, Seketika menampakkan wajah kesal bak hantu Sadako dari Jepang dengan mata melotot ngeri, Tiffanny mengunci rapat mulutnya tak membantah.
Wajah menakutkan nya kembali semula menjadi dingin kepalanya terasa berdenyut ia peggangi sembari memijit pelipisnya, susah untuk membuat Tiffanny terdiam anak itu terlalu berani untuk ukuran wanita.
" Ya, harusnya aku sudah mati, tapi. Seperi yang kau lihat kau malah bertukar tubuh dengan ku, aku tak tau kenapa, kurasa ini semua karena permohonan ku" gadis pendek tersebut menghadap lurus ke depan Tiffanny berada, "seperti yang kau tahu, aku adalah Nirmala yang tak banyak orang menyukai sifat ku, setelah aku sekarat di situ aku baru sadar diriku terlalu egois serta tertutup, sebenarnya aku menyayangi adik serta kakak ku, nyatanya karena kondisi ku sakit-sakitan aku merasa semua memandang remeh diri ku jadilah aku merasa harus selalu dia tas mereka, padahal itu semua tak perlu dan tindakan bodoh, aku mohon kamu mau merubah nasib buruk ku"
Tiffany sedikit memiringkan kepalanya memandang cermat wajah di depannya kini menjadi sendu, perubahan ekspresi tersebut seperti roller coaster, Tiffanny sedikit berkhayal kalau-kalau anak di depannya adalah psikopat.
" Aku mohon, tolong aku." Suara tadinya parau kini berubah sedikit halus terlihat bahwa dia tulus mengatakan nya.
Belum sempat Tiffanny mendekati dirinya untuk protes tentang hidupnya Tiba-tiba bak kabut menjelang siang, tubuh Nirmala mulai memudar serta menghilang di susul seseorang memanggil Nirmala.
.
" Ndoro ayu, Ndoro Nirmala, bangun Ndoro"
Tiffanny kini kembali menjadi Nirmala dengan berat dirinya membuka kelopak matanya mengerjab ketika cahaya mulai masuk ke retina, di sebelah kasurnya terdapat sosok wanita biasanya mengikuti kemanapun ibunda nya berada ataupun jika di perlukan, Nirmala bertanya pada wanita tersebut kenapa ia terlihat gusar serta panik
" Ndoro ayu, sama sekali tak bangun serta bertubuh pucat sekali, kalau Ndoro ayu tidak bangun barusan saya mungkin sudah melaporkan pada kanjeng Kumala" begitu katanya dengan terbata bata, Seperti nya dia terlihat benar kalut tadinya.
Nirmala berjalan keluar menemui ibunya yang telah kembali dari acara kenegaraan nya, wanita tadi disuruh hanya untuk memangil dirinya segera menghadap sang nyoya rumah.
" Ampuni saya ibu kalau-kalau saya berbuat salah" ia menunduk sopan lalu bergabung duduk bersama sang ibunda dalam hati Tiffanny ingin memaki betapa formal nya kegiatan pertemuan kecil mereka, tapi ia terpaksa. Dia bukan Tiffanny, ia kini adalah Nirmala.
" Ucapan mu kemarin membuat ibu berfikir kau mulai aneh semenjak ingatan mu hilang"
" Memang apa yang salah ibunda"
Daripada melihat mimik wajah perhatian Nirmala terfokus kepada bibir merah alami milik si wanita tersebut, atensinya terfokus pada gerak bibir seolah ia adalah tuna rungu
" Kamu sangat berbeda dan ibu takut kalau kamu ada apa-apa"
" Mohon maaf, sebelumnya. Maaf kalau menyinggung, tapi kenapa ibu menyuruh Surti dan Hesti untuk undur diri dari proses mengajar saya"
" Aku takut kalau kamu hanya main-main, lebih baik kamu fokus saja mempersiapkan masa pendewasaan Serta siap untuk di nikah"
" Saya menolak buk, Seperti perkataan saya kemarin saya mau mengajar anak di desa ini, agar hak perempuan juga bisa sama dengan lelaki"
Wajah Kumala sedikit memerah dengan mata membola, " kamu Ojo gendeng!!"
" Saya gak gila!"
Kumala terkesiap kaget, Balu pertama kali anak gadisnya ini menyahuti ucapannya.
" Kamu jangan menyalahi kodrat wanita, cukup jadi istrinya baik untuk suami sudah cukup bagi wanita seperti kita".
" Lalu ibu mau kehidupan wanita itu hanya di bawah ketek lelaki? Kalau kita sebagai bangsawan, hidup kita termasuk enak. Bagaimana orang miskin yang susah di sana hidupnya, apalagi sebagai wanita pilihan mereka harus segera di nikahkan untuk mengurangi beban keluarga serta sebagai pelarian untuk mendapatkan hidup layak, tapi. Nyatanya itu semua semu"
Wajah Nirmala menyamping Engan untuk melihat wajah kesal sang ibunda
" Bisa ibu ketahui bagaiman kehidupan mereka ketika mereka di campakkan lelaki, mereka sama sekali tak tahu apa-apa serta bodoh, selain mengurus anak dan menjadi buruh mereka sama sekali tak punya pengetahuan untuk sekedar menghidupi dan memberi mereka cara untuk melepas kemiskinan, jadi tolong. Sekedar mengajarkan mereka bukan hal yang sulit? Saya mohon jangan pinta Surti dan Hesti pergi dan menjadi orang bodoh itu"
Kumala menghela nafas dari celah Mulu nya, tiba-tiba mendapati anaknya jago berdebat cukup mencengangkan ia pikir perdebatan dengan anak tersebut kemarin adalah sebuah tindakan emosional sesaat, nyatanya semua itu memang nyata, Nirmala sudah sangat pandai mengutarakan pendapat nya.
Berat hari sebenarnya ibundanya mengiyakan permintaan anak gadisnya dengan syarat ia harus meminta permohonan dengan sang ayah.