Merasa tidak pantas

1158 Kata
Juwita. Gadis berkulit eksotis dengan rok se paha dan juga kaos tangtop berwarna hitam, dan dibalut dengan jaket jeans itu menatap gadis di samping nya dengan bingung. Fio. Ya, Fio sahabatnya itu sedari tadi terlihat berdiam diri, tidak membuka percakapan, padahal Juwita mengenal betul tabiat gadis itu, sangat tidak bisa diam, terus saja berbicara. Namun lain halnya dengan hari ini, Fio diam, yang membuat dirinya sendiri bingung. “Fi, lo kenapa sih? Ada masalah?” tanya Juwita namun Fio malah diam melamun, sepertinya tidak menyadari pertanyaan gadis yang selalu tampil seksi itu. Juwita mendengus kesal karena merasa diacuhkan, menggoyangkan tangan Fio membuat gadis itu seketika sadar. “Eh, iya- iya kenapa?” tanya Fio gelagapan, sepertinya gadis itu masih belum sadar dari dunia lamunannya. Juwita berdecak, “lo kenapa sih dari tadi diam terus? Mau transmigrasi dari si cerewet jadi si dingin?” cerocos Juwita karena sedari tadi kesal didiamkan oleh Fio. Fio mengelus tengkuknya yang tidak gatal, tersenyum canggung pada sahabatnya itu. Sebenarnya, sedari tadi Fio tidak bisa berpikir tenang, tentu saja. Siapa yang bisa berpikir tenang jika suatu kejadian yang benar-benar buruk menimpa kita? “Tuh kan, malah diem lagi,” tegur Juwita karena lagi-lagi gadis di depannya itu terdiam, melamun kembali. Fio berdehem pelan, menormalkan mimik wajahnya agar sahabatnya itu tidak curiga. “Gak kok, gak papa. Cuma lagi banyak pikiran aja, biasa lah, tugas numpuk,” jawab Fio beralibi, tentu saja dia tidak mungkin berucap dengan jujur, perasaan takut ada dalam hatinya jika dia berbicara yang sebenarnya pada Juwita. Bagaimana jika gadis yang sudah bersahabat dengan dirinya bertahun-tahun itu jijik padanya, setelah mengetahui kejadian yang menimpa Fio semalam? Oh tidak. Pasti Fio akan kehilangan teman satu-satunya itu. Juwita memicingkan matanya membuat Fio sedikit gelagapan, takut jika Juwita tahu dirinya berbohong. Namun gadis itu ternyata menormalkan kembali mimik wajahnya, mengusap bahu teman sebayanya itu. “Dengerin gue, Fi. Kalau ada apa-apa, bilang. Jangan dipendam dan buat lo sedih dan kepikiran kayak gini.” “Lain kali, ceritain sama gue, semuanya. Biar gue bisa bantu juga permasalahan lo ini,” lanjut Juwita dengan bijaknya, ia sendiri sedikit khawatir akan masalah yang terjadi di hidup Fio. Soalnya tidak biasanya gadis itu menjadi pendiam, apa memang masalahnya itu benar-benar berat? “Ya udah, yuk ah kita main-main dulu. Biar lo gak sedih terus, gimana?” ajak Juwita meminta pendapat, dengan semangatnya ia mengajak Fio karena kalau ada Fio dia bakalan ditraktir belanjaan. Fio diam, berpikir sebentar untuk menolak aja menyetujui ajakan Juwita. Dia tidak pernah — bukan tidak pernah sih, tapi jarang. Jika pun pergi, itu pasti saat jam kuliah atau weekend bersama Erzhan yang libur bekerja. “Gimana, ayo dong. Yuk, yuk, yuk,” bujuk Juwita menggerak-gerakkan tangan Fio seperti anak kecil. Tidak lama kemudian, Fio mengangguk dengan senyuman tipisnya. Juwita? Jelas saja memekik senang, yeay! Akhirnya dia bisa kembali berbelanja dengan Fio. Uhuy, gratisan. Baiklah, dia akan setuju. Mengingat dia juga yang saat ini butuh refreshing otak, agar tidak terlalu memikirkan kejadian semalam itu. Gadis itu melirik Juwita yang sedang bersiap-siap dengan semangat. Dalam hati gadis itu bergumam. “Maaf, gak bisa kasih lo dulu Juwi, gue sadar diri gue udah gak pantas, gue udah gak suci, tapi seenggaknya nantinya gue bakalan tetep punya sahabat kayak lo.” Ke duanya pun keluar dari dalam kantin yang lebih dengan para mahasiswa dan mahasiswi yang sedang mengerjakan tugas, ataupun hanya sekedar menenangkan pikiran. *** Saat perjalanan menuju mobil Fio, Juwita di tengah langkahnya itu memicingkan mata saat melihat sebuah mobil yang sangat ia kenali berhenti gagah di depan kampusnya itu. Tunggu, mobil seperti itu bukannya milik ... Erzhan?! Spontan Juwita menarik tangan Fio yang hendak membuka pintu mobil, membuat gadis itu sedikit terayun ke belakang saking kuatnya. “Ish, kenapa sih?” tanya Fio kesal, menghempas tangan Juwita di lengannya. Juwita menyengir pelan, namun hanya sebentar. Gadis itu menuntun Fio untuk melihat apa yang ia lihat tadi. “Itu mobilnya kak Erzhan kan? Iya kan?” tanya gadis itu antusias. Dia adalah salah satu dari sekian banyaknya orang yang mengidolakan Erzhan. Pandangan Fio jadi sendu dan sedikit sedih, huh ... sebegitu nya kah Erzhan mau meminta maaf pada dirinya, hingga datang ke kampus di jam seperti ini? “Eh, eh. Dia keluar.” Cerocosan Juwita kembali menyadarkannya dari dunia hayalnya. Mata Fio melotot panik saat Erzhan menyadar keberadaan dirinya. “Ya ampun, Fio, Fio please ini beneran atau gak. Gue lemes banget astaga, Fio,” bisik Juwita terdengar heboh karena senang dihampiri oleh Erzhan. Lain hal nya dengan Juwita, Fio justru malah panik. Gadis itu membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalamnya, membuka kaca spion melihat Juwita yang masih belum sadar. Pep! Bunyi klakson membuat gadis itu tersadar. Dan menoleh pada Fio. “Loh, kenapa masuk --?” “Cepet, lo gak mau gue tinggal kan?” tanya Fio memotong ucapan Juwita, sedikit mengancam gadis centil itu agar mau menuruti perintah dirinya. Dan Juwita yang memang si gila belanja, dan tidak mau jika Fio meninggalkan dirinya dan menggagalkan rencana mereka. Juwita tidak bisa. Alhasil, gadis itu masuk ke dalam mobil, dan duduk di samping Fio. “Lo kenapa sih? Kok tumben gak samperin Erzhan dulu?” tanya Juwita bingung. Perempuan itu menggelengkan kepalanya pelan, “gak, gak papa. Lebih baik kita langsung berangkat aja,” ujar Fio dan langsung menjalankan mobilnya. Beda lagi dengan Erzhan, berlari hendak menyusul mobil Fio. Tapi ya, namanya juga manusia versus motor, coba tebak siapa yang kalah? “Kenapa sih kamu, Fi,” gumam Erzhan seraya memandang mobil yang sudah berlalu menjauh itu. *** “Loh, Fiora?” Fio dan Juwita refleks menoleh saat ada yang memanggil nama salah satu gadis di antara mereka. Fio .... Tubuh Fio menegang, saat melihat sosok di depannya itu. “Loh, Bas- Bastian,” gugup Fio dan bangun dari duduknya. Saat ini dia sedang berada di restoran yang berada di mall, bersama Juwita tentu saja. “Ngapain lo bas nyamperin Fio?” tanya Juwita judes pada pria bernama Bastian itu. Terdengar sinis sekali saat dirinya bertanya. Bastian meliriknya sekilas, mata nya kembali fokus pada Fio. “Hai, fi,” sapa Bastian dan dibalas gumaman gugup oleh gadis itu. “Em, gue mau bicarain soal yang malam itu,” ujar Bastian membuat Fio terdiam. Fio ingat apa yang dimaksud oleh Bastian? Ya, pasti ingat. Malam itu, setelah dirinya pulang jalan bersama Erzhan, tiba-tiba saja Bastian menelepon dirinya, dan menembaknya. Menembak dalam artian dia mengajak Fio untuk berpacaran, namun sampai saat ini Fio belum menjawab ajakan Bastian. Gadis itu menarik nafas pelan, menatap manik Bastian. “Maaf bas, aku gak bisa.” Setelah mengucapkan itu Fio berlalu dari sana. Meninggalkan Bastian dengan perasaan kecewa dan sedihnya. Alasan dia tidak menerima Bastian bukanlah kenapa-kenapa, atau miskin bukan. Tapi hanya saja dia tidak mau membuat pasangannya nanti mengetahui dan akan kecewa jika keperawanan tubuhnya sudah hilang oleh pria itu. Hal tersebut jugalah, yang membuat Fio berusaha untuk menjauhi Erzhan. Dia tentu saja meeD tidak enak akan kehadirannya di sini.  *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN