Tiga Minggu berlalu setelah kejadian malam itu, namun keadaan masih sama. Fio yang terus, bahkan semakin menyendiri di hari-harinya, sudah tidak pernah bertemu lagi dengan Erzhan. Ah, tidak, hanya jarang bertemu saja. Selama tiga Minggu ini, Erzhan sering menemui Fio, setiap pagi. Namun tetap saja yang Erzhan dapatkan hanya usiran. Meskipun cara mengusir Fio tidak kasar, tapi tetap saja mereka tidak pernah lagi mengobrol.
Alasannya tetap sama. Fio, yang merasa dirinya tidak pantas untuk bersahabat lagi dengan Erzhan, terus mencoba menjauhi sahabatnya itu. Dia tidak mau jika nantinya Erzhan akan tau, lalu cowok itu menjauhinya dan merasa jijik padanya. Jadi menurut Fio, lebih baik dia dulu yang menjauh.
“Nak, kamu akhir-akhir ini kok jarang banget ketemu sama Erzhan, dia juga jarang ke rumah.” Fio melirik ibunya yang baru saja bertanya, saat ini dia sedang berada di meja makan. Sarapan seperti biasa, karena dia akan pergi ke kampus.
Berdehem pelan, sembari menunjukkan senyuman kecilnya menunjukkan dia dan Erzhan baik-baik saja, Fio pun menjawab. “Gak kok, Fio sama Erzhan lagi sama-sama sibuk, ma,” jawab Fio yang jelas berbohong.
Tanpa curiga, Stevi mengangguk. Mengusap kepala anaknya dengan sayang. “Baik-baik ya nak, kamu putri mama satu-satunya,” ucap Stevi yang tiba-tiba berbicara seperti itu. Sontak saja tubuh Fio menegang, hatinya berdenyut sakit karena permintaan ibunya.
Jaga diri baik-baik? Hey, bahkan tanpa diketahui ibunya dirinya sudah tidak bisa menjaga diri baik-baik, dirinya itu sudah rusak saat ini. Mungkin nanti jika ibunya tau hal yang sebenarnya terjadi pada dirinya, ibunya itu akan kecewa. Fio yakin itu.
“Loh, kok malah bengong,” tegur Stevi membuat Fio tersentak, tersenyum canggung dan mengangguk, mengusap punggung tangan ibunya yang berada di bahu. “Iya, ma. Fio bisa jaga diri baik-baik kok,” ujar Fio gugup.
Stevi mengangguk, “ya udah, mama ke atas habis itu mama mau ke butik. Kamu hati-hati ke kampusnya ya.” Setelah mendapatkan annggukan dari Fio, ibu satu anak itu pun berlalu ke atas, ke kamarnya untuk membangunkan sang suami.
Sementara Fio tetap terdiam, rasa bersalah seketika mencuat karena dirinya tidak bisa menjaga diri.
***
Huekk! Huekk!!
Suara orang muntah terdengar di kamar berukuran besar itu, di dalam bilik toilet, di wastafel di depan kaca besar itu, Fio sedang menunduk, memuntahkan sesuatu yang ingin ia muntah kan. “Astaga, kenapa pusing banget gini ya tuhan,” rintih Fio memegang kepalanya yang berdenyut nyeri.
Belum lagi merasakan perutnya yang seperti diaduk, membuat rasa muntah itu muncul, dan yang hanya keluar hanya cairan putih aneh. Membingungkan ....
Dengan langkah pelan dan juga lemas, Fio berjalan keluar dari kamar mandi, menuju tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya di sana. “Aish, kenapa malah mau makan yang pedes sih mana lagi sakit perut,” gumam Fio saat merasakan dirinya ingin makan makanan pedas.
Tanpa sadar, tangannya mengusap perutnya yang sakit itu, sambil memejamkan mata menikmati usapan tangannya sendiri. “Em, pengen makanan pedes.” Bukannya tidur, Fio malah berkata seperti itu. Apa jangan-jangan cewek itu benar-benar ingin makanan pedas.
Tapi, tunggu ....
Fio merasa ada sesuatu yang berbeda dengan perutnya, mengangkat sedikit kepalanya lalu menunduk, matanya membulat sempurna. Kenapa bentuk perutnya seperti ada yang aneh? Seperti ada sedikit benjolan besar, lalu teksturnya yang sedikit ... keras? Ya, keras saat disentuh!
Fio melirik kalender kecil yang berada di nakas samping tempat tidur, seketika tubuhnya melemas saat melihat kalender tersebut. Di sana, ada sebuah angka yang sengaja Fio lingkari, tujuannya untuk menandai tanggal setiap dia datang bulan. Tapi, sekarang malah sudah lebih satu Minggu?!
“Apa jangan-janganz,” gumam Fio khawatir, menutup mulutnya tak percaya. Matanya berkaca-kaca, apa jangan-jangan dirinya sedang mengandung?!
“Gak, gak mungkin. Gak.” Fio menggelengkan kepalanya panik, meyakinkan dirinya jika pemikirannya itu tidak benar.
Dan untuk membuktikannya, terpaksa Fio harus memakai satu alat yang akan membuktikan kebenaran tentang dirinya ini.
Tespek ... ya, benda kecil yang akan membuktikan semuanya.
***
Erzhan untuk yang kesekian puluh kalinya berdiri di depan rumah Fio, sebelum berangkat ke kantor dia menyempatkan diri untuk menunggu perempuan yang sudah lama tidak mengobrol bahkan tidak bertemu dengannya, padahal mereka itu bertetanggaan.
Erzhan yang sedang duduk di kursi mobil yang pintu yang terbuka langsung turun saat mendengar suara gerbang dibuka, dapat ia lihat Fio yang membukanya. Segera saja Erzhan bangkit, dan menghampiri gadis itu.
Namun, di tengah langkahnya Erzhan mengernyit saat melihat wajah Fio yang pucat, kentara sekali hingga membuat dirinya khawatir. “Fio, kamu kenapa?” tanya Erzhan langsung menghampiri Fio.
Fio jelas terkejut, namun segera ia mengubah mimik wajahnya menjadi sedatar mungkin. Namun Erzhan tidak mempedulikan itu, cowok tersebut malah semakin mendekat pada Fio, memegang tangan gadis di depannya dengan wajah yang kentara khawatir. “Kamu pucat Fi, kamu kenapa? Kamu sakit?” tanya Erzhan.
Fio langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, ke arah mana saja yang penting tidak menatap Erzhan. Menggelengkan kepalanya pelan, Fio pun menjawab. “Gak, gak papa,” jawab Fio.
Erzhan jelas saja tidak percaya, Fio ini tidak pandai berbohong menurutnya. “Kamu jujur sama aku, Fi! Kamu kenapa?” tanya Erzhan lagi.
Fio menjilat bibir bawahnya sekejap, mendongak lalu menyentak tangan yang Erzhan di lengannya. “Lepas gue bilang!!”
Wow ....
Untuk pertama kalinya, Fio berbicara lo gue dengan Erzhan yang jelas membuat Erzhan terkejut sekali. “Kamu??” Erzhan menggeleng tidak percaya, kembali ia memegang lengan atas Fio, namun kali ini disertai dengan cengkeraman.
“Kamu, Fi! Kamu! Bukan lo!” sentak Erzhan yang tidak terima. “Kamu kenapa sih? Cukup aku udah sabar ngehadapin kamu yang kekanakan ini, jujur sama aku! Apa yang ngebuat kamu marah hah?!” tanya Erzhan yang sudah emosi sekali. Apalagi mengingat sikap Fio yang tiba-tiba marah dan menjauhi dirinya, tanpa Erzhan tau apa kesalahannya.
Fio memejamkan matanya sakit. Ya, sakit karena cengkeraman tangan Erzhan. Gadis itu jelas saja tidak menjawab, tidak mungkin ia jujur. Tidak. Apalagi ada satu fakta lagi yang masih ia cari kebenarannya, namun Fio benar jika Erzhan tau dia akan marah besar.
Membuka matanya, dan nampak lah mata yang berkaca-kaca itu. Menatap Erzhan dengan tatapan sendunya. “Maaf, kamu gak salah apa-apa Zan, di sini aku yang salah.” Erzhan semakin dibuat bingung dengan perkataan Fio. Jika memang Fio yang salah, lantas apa yang sudah diperbuatnya? Lalu, jika Fio yang salah, kenapa Fio yang tiba-tiba marah, bukan dirimu?!
“Ya terus apa masalahnya, cerita sama aku!!” teriak Erzhan emosi, membuat Fio tiba-tiba saja ingin menangis. Entahlah, dari kemarin dia bisa menghadapi tingkah Erzhan, tapi sekarang kenapa tidak bisa?
Tanpa menjawab pertanyaan Erzhan, Fio malah berbalik dan berlari memasuki mobilnya, Erzhan jelas saja terkejut. Hendak menahan, namun Fio malah terlebih dahulu masuk. “Fi, ayo jujur sama aku sayang,” pinta Erzhan mengetuk kaca mobil Fio, namun yang didapat hanya suara mesin mobil yang dihidupkan.
Erzhan menjauh, lalu berdiri di depan mobil yang akan jalan tersebut. Membuat Fio yang hendak memajukan mobilnya terkejut. “Erzhan!!” geram Fio takut Erzhan benar-benar tertabrak.
Membuka sedikit kaca mobilnya, Fio melongokan kepalanya ke luar. “Minggir!” teriak Fio. Erzhan menggeleng, “ayo, tabrak aku kalau kamu tetep mau keluar!!” tantang Erzhan yang sebenarnya hanya main-main.
Fio mengangguk, lalu dengan santai dia kembali memasukkan kepalanya ke dalam, dan menutup kaca jendelanya. Bersiap untuk menjalankan mobil.
Erzhan yang melihat itu sontak langsung minggir, karena memang dia tadi hanya ancaman saja. Dia juga masih ingin hidup soalnya. “Argh, sialan!!” teriak Erzhan emosi saat akhirnya mobil tersebut berjalan meninggalkan pekarangan rumah Fio.
Dengan perasaan kecewanya, Erzhan menatap mobil yang sudah berlalu itu.
Dan tanpa diketahui, Fio yang melihatnya dari kaca spion di dalam mobil, mengusap pipinya yang basah karena air mata yang jatuh tiba-tiba. Entahlah, kenapa Fio jadi cengeng seperti ini. Apalagi saat melihat tatapan mengecewakan dari Erzhan.
“Maaf Erzhan.”
***
Bersambung