Di dalam mobil tersebut, Fio yang duduk di bangku kemudi menoleh ke belakang, mengambil paper bag yang isinya entah apa. Gadis itu lalu mengalihkan tatapannya ke sebuah bangunan di samping mobilnya yang bertuliskan APOTEK. Ya, tujuan gadis itu adalah toko obat-obatan tersebut. Untuk membeli apa? Ya ... kita lihat saja nanti.
Fio mengeluarkan barang dari dalam paper bag tadi, yang ternyata isinya adalah jaket berwarna hitam, topi hitam, juga sebuah masker. Dan Fio langsung memakai ke tiganya, setelah selesai, Fio lalu turun dari mobil. Mengambil uang terlebih dahulu sebelum itu.
“Semoga aja gak ada yang kenal,” gumam Fio dalam hati berdoa. Setelah meyakinkan hatinya, Fio pun masuk ke dalam apotek tersebut. Disambut seorang penjaga di apotek itu. Syukurlah suasana apotek masih sepi, membuat Fio terus mengucapkan syukur dalam hatinya karena tidak akan ada yang melihatnya.
“Permisi mbak,” sapa Fio saat sampai di depan penjaga apotek tersebut. Si perempuan penjaga apotek langsung berdiri, membalas sapaan Fio. “Halo mbak, selamat siang ada yang bisa dibantu?” tanya penjaga tersebut ramah.
Fio berdehem pelan, tanpa membuka maskernya ia pun menjawab. “Saya cari tespek mbak, ada?” tanya Fio dengan suara yang kentara sekali jika dia sedang gugup. Si mbak tersebut mengangguk, lalu berbalik dan mengambil sesuatu yang dipesan pelanggannya. Dan tidak lama kemudian, dia kembali lagi dengan sekotak dus kecil panjang.
Setelah itu, Fio langsung membeli tespek tersebut, karena tidak ingin berlama-lama di dalam apotek Fio pun keluar dari bangunan kecil tersebut. Dan langsung masuk ke dalam mobilnya kembali.
“Hahh!!” Fio menghela nafasnya lega, melempar plastik berisi barang ya ia beli tadi ke sampingnya. Lalu membuka topi, masker dan jaketnya. “Astaga, engap banget,” gumam Fio setelah melepaskan maskernya.
Beralih dari tiga barang berwarna hitam yang baru ia pakai itu, Fio mengambil barang ia beli tadi. Membukanya dengan perlahan, dan barang kecil berwarna biru pun terlihat.
Fio memperhatikannya dengan diam, menatap benda yang sering dipakai untuk tes kehamilan itu. “Kalau nanti ada garis dua di sini gimana?” gumam Fio dengan pandangan sendu.
Garis dua.
Jika tespek terdapat garis dua, itu artinya positif. Dan positif itu artinya hamil. Dan kalau dia benar-benar hamil, apa yang akan Fio lakukan nanti?
“Hufht! Gak, gak boleh mikir gitu Fio,” ujar Fio pada meyakinkan dirinya sendiri, menggelengkan kepalanya mengenyahkan pikiran yang buruk-buruk itu.
“Semoga, semoga ini gak kayak yang dipikiran gue,” gumam Fio berdoa. Gadis itu pun kembali menyimpan tespek tersebut ke dalam plastik, lalu menyimpannya di kursi samping.
Menghidupkan mesin mobil, dan menjalankannya meninggalkan apotek. Tujuannya sekarang adalah rumah, tentu saja untuk mengecek hasil di tespek nanti. Dalam hati, Fio berdoa semoga saja kondisi di rumahnya masih seperti tadi saat ia berangkat. Sepi ....
***
Mata Fio berkaca-kaca, menutup mulutnya dengan tangan. Tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ya, di benda kecil itu dua garis terpampang nyata yang artinya itu, Fio positif hamil.
Tubuh Fio yang menyandar di pintu kamar mandi perlahan meluruh ke lantai, tangisnya pecah begitu saja. “Enggak, gak mungkin! Ini gak mungkin!!!” teriak Fio tanpa khawatir suaranya akan terdengar mengingat kamarnya yang kedap suara.
Tangan perempuan itu memukul-mukul perut datarnya berkali-kali. “Kenapa harus ada?! Kenapa lo harus ada?!” teriak Fio menunduk menatap perutnya.
Mungkin karena pikiran Fio yang kalut karena kejadian ini, Fio jadi menyalahkan bayi yang tidak bersalah itu. Tapi, sebenarnya Fio juga tidak bersalah di sini, yang salah itu Fabian. Ya, cowok b******k yang sudah menghamili gadis malang bernama Fio itu.
“Fabian b******k! Lo bikin hidup gue ancur!!!” teriak Fio lagi mengeluarkan kemarahannya, juga kesedihannya karena fakta mengejutkan ini.
“Lo harus tanggung jawab Bian, iya, lo harus tanggung jawab,” gumam Fio dengan yakin. Karena ya dia berpikir jika bukan Fabian yang bertanggung jawab, siapa lagi? Lagi pun ini adalah anak Fabian. Dan Fio sudah yakin untuk meminta pertanggung jawaban cowok itu.
Namun sebelum itu, Fio akan memeriksa ke dokter kandungan untuk membuktikan kebenarannya.
***
Fio duduk di sebuah bangku khas rumah sakit dengan kepala menunduk dan tangan yang saling bertaut, ke dua ibu jarinya juga saling menumpuk pertanda seseorang sedang khawatir. Khas sekali. Gadis itu juga terus melafalkan doa agar hal yang ia tes tadi adalah salah.
Setelah sekitar dua jam-an dia berpikir akhirnya Fio memutuskan untuk mengecek kandungannya yang masih belum jelas ke dokter kandungan. Ya, dia bahkan sampai mencari dokter kandungan di luar kota. Alasannya? Karena Fio takut jika dokter kandungan yang ada di kotanya mengenal dirinya, mengingat dia sudah dikenal banyak orang gara-gara Erzhan.
Rek!!
Seorang perempuan berhijab dengan jas putih khas dokter duduk di depan Fio, hanya terhalangi sebuah meja saja. Hal itu membuat Fio langsung mengangkat kepalanya, wajahnya ia buat setenang mungkin supaya si dokter tidak curiga.
“Gimana dok, apa benar kalau saya sedang mengandung?” tanya Fio langsung. Dia ingin segera mengetahui kebenarannya, agar dia juga bisa langsung mengambil keputusan untuk kehamilannya nanti jika dia benar-benar hamil.
Apakah akan meminta pertanggung jawaban si pria b******k Fabian, atau malah mungkin Fio akan memutuskan untuk ... mengugurkan janinnya?
Entahlah ... kita lihat saja nanti.
“Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat, Bu! Dari hasil beberapa tes yang kita lakukan tadi, ibu terbukti positif hamil. Selamat ya Bu,” ujar dokter tersebut dengan sangat antusias. Tidak tahu saja dia jika janin itu adalah janin yang tidak diinginkan. Hm ....
Fio tersenyum canggung dan membalas uluran tangan dokter di depannya itu, mengucapkan terima kasih agar si dokter tidak curiga. “Terima kasih dok.”
Dokter tersebut mengangguk, wajahnya masih berseri-seri karena merasa senang pasiennya terbukti positif. Ia mengambil sebuah kertas, yang sudah disiapkannya tadi. Lalu menyerahkannya pada Fio. “Nah, ini untuk keterangan usia kandungan ibu, keadaan janin ibu, dan juga semua yang terjadi pada ibu ada di surat ini,” ujar dokter tersebut.
Fio mengangguk, mengambilnya hendak berpamitan pulang. Namun belum sempat ia berdiri, suara dokter terdengar. “Sebentar ibu, kalau boleh saya kasih saran, untuk check selanjutnya saya sarankan untuk datang bersama suami ya supaya suami ibu tau kondisi kandungan ibu.”
Dengan kaku, Fio mengangguk. Hah? Suami? Jangankan suami, nikah saja dia belum! Tapi biar cepat dia mengangguk saja. Berdiri dari duduknya dengan tangan yang menenteng surat tadi. “Kalau begitu terima kasih ya dok, saya permisi dulu,” pamit Fio.
Dokter tersebut ikut berdiri, dan keduanya kembali bersalaman.
Fio pun keluar dari ruangan dokter tersebut, perempuan yang sedang berbadan dua itu berjalan dengan pikiran yang ke mana-mana.
Gadis itu berpikir, apa yang akan ia lakukan selanjutnya?
Mempertahankan, atau menggugurkan?
Kita lihat besok!
***
Bersambung