Fio, gadis itu bangun dari tidurnya saat merasakan pening yang luar biasa di kepala dan juga perutnya yang serasa dikocok membuat Fio sedikit mual, lalu tanpa menunggu lagi dia langsung berlari memasuki kamar mandi yang berada di kamarnya itu. Memuntahkan apa yang ingin ia muntahkan, namun tetap saja yang keluar hanya cairan lendir saja yang keluar.
Hah ~~
Hal itu sudah terjadi beberapa hari ini pada Fio, dan Fio sudah mulai terbiasa akan hal itu meskipun itu menyakitkan bagi Fio. “Astaga, kenapa nyaknya gak hilang-hilang sih,” gumam Fio memijat pelipisnya mencoba menghilangkan denyutan di kepala.
Gadis itu terdiam saat melihat penampilannya di dalam cermin, benar-benar rusak! Rambut mengembang seperti singa, mata bengkak karena beberapa hari ini dia selalu menangis, bahkan karena berita kehamilannya itu, jam tidur Fio jadi berkurang karena gadis itu sibuk menangis juga memikirkan rencana ke depannya.
“Ya ampun, ternyata hamil semenyakitkan ini. Gue jadi kepikiran mama,” ujar Fio sembari mengusap perutnya yang terlihat karena dia memakai pakaian model crop top.
Gadis itu sudah berpikir selama beberapa hari ini, jika dia akan mempertahankan bayi yang dikandungnya itu. Mengingat bayinya tidak salah apa pun, Fio pun masih punya hati untuk membunuh seorang bayi yang tidak bersalah. Maka dari itu, dia sudah memutuskan juga jika dia akan mendatangi Fabian dan meminta pertanggung jawabannya.
“Oke, Fio. Lo harus kelihatan baik-baik aja, biar mama sama papa gak curiga,” ujar Fio pada dirinya sendiri. Gadis itu mengambil sikat gigi, dan menyikatnya, tidak lupa juga ia mandi dan setelah itu memakai pakaiannya seperti biasa saat ia akan ke kampus, supaya ayah dan ibunya tidak curiga.
Setelah memakai lipstik merah, agar bibir pucatnya tidak terlihat, Fio pun mengambil tasnya dan berlalu keluar kamar. Menuruni tangga untuk menuju lantai satu, setelah itu dia melangkahkan kakinya menuju meja makan.
“Pagi,” sapa Fio pada mama dan papanya yang sedang melakukan sarapan. Nicholas dan Stevi tersenyum lembut dan membalas sapaan putri mereka.
“Tumben kamu pakai lipstik merah sayang, biasanya gak mau,” ujar Stevi saat melihat keanehan pada putrinya yang sangat mencolok itu.
Tangan Fio dengan kaku menyentuh bibirnya, tersenyum canggung pada ibu dan ayahnya. Semoga saja wajah pucatnya itu tidak kelihatan. “Iya ma, kemarin Juwi pakai kayak gini, jadi aku suka, bagus soalnya,” jawab Fio yang tentu saja berbohong.
Stevi tersenyum tipis, dan mengangguk lalu melanjutkan aktivitas makannya. “Fio.” Suara Nicolas terdengar memanggil membuat Fio yang sedang mengunyah makanannya menatap ayahnya bingung.
Sebenarnya Fio ingin sekali memuntahkan roti di mulutnya itu, rasanya benar-benar aneh menurutnya. Tapi supaya orang tuanya tidak curiga, ya sudah Fio paksakan. “Iya pa? Kenapa?” tanya Fio.
Nicolas melirik istrinya dengan tatapan yang entah apa itu, dan Stevi yang sepertinya sudah mengerti pun menganggukkan kepala. Fio yang memperhatikan itu sedari tadi mengernyit bingung melihat tingkah kedua orang tuanya. “Kenapa ma, pa?” tanya Fio mengulang. Sedikit curiga kalau ada sesuatu yang disembunyikan mereka.
Nicolas berdehem pelan. “Papa mau bilang, kalau besok papa sama Mama bakal ke Melbourne,” ujar Nicolas membuat Fio melebarkan matanya tak percaya. Apa Melbourne? Itu artinya orang tuanya akan pelesiran ke luar negeri?! Dan artinya dia akan ditinggalkan sendirian?
“Ma, pa, kalian bercanda kan?” tanya Fio tidak percaya. Bukannya kenapa-kenapa, saat ini dia sangat butuh teman untuk sekedar menemaninya saja, di tengah masalah yang ia alami ini. Tapi kedua orang tuanya malah mau pergi.
Oke, Fio mengerti jika Nicolas dan Stevi tidak tau tentang kehamilannya. Tapi kan ... argh!! Sudahlah! “Tapi ma, Fio gak mau ditinggal sendirian, Fio ....” Gadis itu tidak melanjutkan perkataannya, malah suara isak tangis terdengar dan air mata meluncur dari matanya.
Sontak hal itu membuat Stevi maupun Nicolas panik, kenapa putri mereka jadi seperti ini? “Ya ampun sayang kok nangis sih, kan udah biasa nak ditinggal sama mama dan papa, kenapa nangis?” tanya Stevi menghampiri anaknya, memeluk putri satu-satunya itu dengan sayang. Jadi jangan salah kalau Fio manja, mengingat dia putri satu-satunya.
Nicolas ikut mengusap kepala putrinya yang sudah menangis terisak di pelukan sang istri. Dia jadi bingung, kenapa Fio malah cengeng seperti ini? Tidak biasanya. “Tapi nak, papa ini bener-bener harus ke sana. Gak papa ya?”
Meskipun berat, Fio pun menganggukkan kepalanya dia tidak boleh egois karena dia tau ini demi kebaikan dirinya sendiri, dan juga ... perusahaan ayahnya?!
“Nanti mama bakalan panggil Bu Jum supaya nginep di sini ya,” ujar Stevi yang hanya diangguki oleh Fio. Bu Jum adalah salah satu pegawai di rumahnya namun selalu pulang pergi saat setelah selesai pekerjaannya.
“Nak, kamu beneran gak papa kan kalau papa dan mama tinggal?” tanya Stevi yang merasa anaknya menjadi pendiam setelah percakapan itu. Fio tersenyum menunjukkan jika dirinya baik-baik saja, meskipun aslinya tidak.
“Gak papa ma, ya udah Fio berangkat sekarang ya ke kampus,” pamit Fio dan berdiri dari duduknya, lalu menyalami tangan orang tuanya satu persatu, dan berlalu dari sana dengan pikirannya yang masih tertuju pada keputusan Nicolas dan Stevi yang akan pergi.
Dia berpikir, jika orang tuanya pergi? Lantas siapa yang akan menemaninya jika nanti Fabian menolaknya. Karena Fio yakin, dia akan tetap memberi tahukan tentang kehamilannya ini pada kedua orang tuanya.
***
Fio berdiri di depan rumah, memperhatikan orang tuanya yang sedang memasukkan barang-barang yang akan dibawa dibantu oleh para pembantu. Ya, nanti sore orang tuanya akan segera berangkat ke negara tujuan mereka.
Ekhem!
Fio langsung mengalihkan pandangannya saat mendengar suara deheman seseorang. “E-Erzhan.” Ya, cowok yang baru saja berdehem itu adalah Erzhan, pria yang selalu Fio usir akhir-akhir ini.
Fio menunduk gugup, sebenarnya dia ingin sekali memeluk cowok di depannya itu untuk menumpahkan segala gundah yang beberapa hari ini ia pendam. Ya, kehamilannya.
Erzhan tersenyum tipis, menghampiri Fio dan berdiri di samping gadis itu meskipun ia beri jarak karena takut Fio akan kembali mengusirnya. “Em, kamu apa kabar?”
Hah, aneh rasanya bertanya kepada seorang sahabat dengan pertanyaan seperti itu. “Kabar aku baik,” jawab Fio pelan. Meskipun dalam hati, ia menjawab sebaliknya.
Erzhan tersenyum tipis. “Aku cuma mau bilang kalau aku besok juga mau ikut sama papa mama kamu,” ujar Erzhan dengan maksud berpamitan. Tidak peduli apa jawaban Fio nantinya, akan seperti biasa melarangnya untuk pergi, atau acuh seperti akhir-akhir ini?
Namun di luar dugaan, respon Fio malah terkejut seperti yang terjadi pada ayah dan ibunya kemarin. “Kamu mau ikut juga? Kenapa? Kenapa kalian tinggalin aku barengan gini, Erzhan?” tanya Fio dengan nada yang kentara sedih.
Erzhan menatapnya tak percaya, ia kira Fio akan acuh padanya. Namun benar-benar di luar dugaan. “Kamu udah gak marah lagi sama aku?” tanya Erzhan yang spontan membuat Fio tersadar dari ucapannya tadi.
Namun Fio tidak peduli. Gadis yang sudah tidak gadis lagi itu menatap Erzhan dengan sendu. “Aku boleh peluk kamu?” pinta Fio yang lagi-lagi membuat Erzhan tercengang, namun dengan cepat Erzhan mengangguk dan menarik Fio untuk masuk ke dalam pelukannya dan memeluknya erat.
“Maaf, maaf, maaf.” Fio bergumam di dalam pelukannya itu, dan keduanya berpelukan tanpa menyadari jika Nicola dan Stevi sedari tadi memperhatikan mereka.
***
Bersambung