Menemui Fabian

1088 Kata
“Stop pak!” pinta Fio pada sopir taksi yang sedang ia tumpangi itu. Si sopir taksi pun menurut, memberhentikan kendaraan yang ia bawa di depan sebuah gedung mewah yang terdapat di salah satu kota Jakarta itu. Pria itu sampai menggelengkan kepalanya melihat pemandangan itu dalam hati dia berpikir kapan ia bisa bekerja di dalamnya. “Ini pak uangnya.” Sopir tersebut langsung menoleh saat Fio kembali bersuara. Mengangguk sopan, ia pun mengambil lembaran uang tersebut. “Terima kasih mbak.” Fio mengangguk, lalu mengambil tas dan ia sampirkan di bahu, tidak lupa memakai maskernya yang sudah sengaja ia bawa. Kemudian Fio pun turun dari mobil taksi tersebut. Sengaja Fio memakai taksi, karena saat ini tujuannya adalah perusahaan Fabian. Tentu saja kalian sudah tau apa alasannya. Dengan elegannya gadis itu memasuki halaman kantor, rok sepaha lalu atasan baju model tangtop dan dibalut jaket kecil itu membuat Fio cukup menjadi pusat perhatian para pegawai yang hendak masuk juga ke kantor, terutama satpam yang berjaga. Tidak menghiraukan itu, Fio malah melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kantor, membuka pintu kaca tersebut perlahan, lalu masuk ke dalamnya. Dan menghampiri meja resepsionis. “Pagi,” sapa Fio memperbaiki letak kaca matanya dan tanpa membuka maskernya itu. Yang sontak membuat pekerja itu langsung berdiri menghampiri Fio meskipun terhalang meja besar. “Halo, selamat pagi ibu. Ada yang bisa kami bantu?” tanya resepsionis itu dengan ramah. Fio berdehem pelan, ragu untuk mengatakan tujuannya ke kantor ini. “Em, saya mau bertemu dengan pak Fabian, apa beliau sedang ada di kantor?” tanya Fio menyebutkan nama si pemilik kantor yang lantainya sedang ia pijak itu. Si resepsionis tersenyum. “Maaf ibu, apakah sebelumnya ibu sudah membuat janji?” tanya si resepsionis balik, rupanya perempuan yang bekerja sebagai resepsionis itu cukup baik menjalankan pekerjaannya, hingga Fio dicerca pertanyaan. Fio bingung. Otaknya memutar mencari alasan yang pas yang akan ia berikan, tidak mungkin dirinya berbohong. Tapi, jika mengatakan tidak ada janji, pasti dia dilarang masuk ke dalam. Huh! Sebenarnya Fio sangat malas untuk bertemu Fabian di kantor ini, karena sudah Fio duga hal ini pasti terjadi. Tapi tidak ada pilihan lain menurut Fio, dia tidak tau di mana letak tempat nongkrong cowok itu. “Bilang aja saya Fio, temannya,” jawab Fio asal. Dalam hati gadis itu berdoa semoga resepsionis itu berhasil mempercayai dirinya dan mengizinkannya masuk. Resepsionis itu mengangguk, lalu mengambil sebuah telepon berwarna putih yang selalu ada di sana. “Ibu boleh duduk dulu di sana,” tawarnya pada Fio dengan menunjuk ke tempat di mana ada kursi-kursi tempat menunggu. Fio tersenyum, dan menggeleng menolak. Gadis itu memperhatikan resepsionis yang mulai berbicara dengan Fabian sepertinya, atau sekertaris cowok itu? Dan tidak lama kemudian, si resepsionis kembali meletakkan telepon tadi membuat Fio cepat-cepat bertanya. “Gimana? Boleh?” tanya Fio penuh harap. Resepsionis tersenyum mengangguk sambil tersenyum manis. “Pak Fabian mengizinkan ibu untuk bertemu dengan beliau.” Fio terperangah tidak percaya, meskipun hal itu membuatnya cukup senang. “Terima kasih, tapi di mana ya ruangannya?” tanya Fio yang tidak mengetahui letak ruangan Fabian, karena ya jujur saja ini kali pertamanya masuk ke perusahaan ini. “Ruangan pak Fabian ada di lantai 15, di sana lantai khusus ruangan beliau. Dan ibu bisa cari pintu yang bertuliskan nama beliau, dan itu ruangannya Bu,” jawab s resepsionis menjelaskan. Fio mengangguk, sekali lagi mengucapkan terima kasih lalu dia berlalu dari sana. Menuju salah satu lift yang akan mengantarkannya ke ruangan bos terbesar di perusahaan ini. *** Ting! Pintu lift terbuka, dan Fio langsung keluar dari dalam sana. Gadis itu mengedarkan pandangannya, mencari pintu yang bertuliskan nama 'Fabian' cowok b******k yang sedang ia cari itu. “Mana sih,” gumam Fio dan matanya berhenti memencar saat melihat tulisan CEO dan juga nama lengkap Fabian di sebuah balik pintu. Dengan tergesa-gesa Fio melangkahkan kakinya ke sana. Dan tanpa mengetuk ataupun memberikan salam, perempuan itu langsung membuka pintunya. Ceklek! Membuat kegiatan panas yang terjadi di dalam seketika berhenti. Fabian, cowok yang kini sedang duduk di kursi kebesarannya, dan seorang perempuan dengan pakaian minim yang kini duduk di paha Fabian. Pemandangan itu membuat Fio menaikkan sebelah sudut bibirnya, tersenyum sinis. “Ups, maaf ganggu tuan,” ujar Fio penuh ledekan. Fabian yang kesal karena kegiatannya tadi yang diganggu menggeram marah belum lagi ejekan Fio padanya. “Pergi.” Satu kata yang ditunjukkan bukan untuk Fio, melainkan untuk perempuan yang sedari tadi menemaninya itu, berhasil membuat ruangan tersebut menjadi terisi dua orang saja. Fabian dan Fio. “Ada apa?” tanya Fabian dengan suara beratnya. Fio dengan langkah pelan, menghampiri Fabian. Membuka maskernya perlahan, dan memasukkannya ke dalam tas, juga dia mengambil sesuatu dari dalam sana. “Gue ke sini cuma mau ngasih kejutan doang sama lo,” ujar Fio membuat Fabian mengernyit bingung. Kejutan? Suka mengada-ada memang, sejak kapan Fio mau memberinya kejutan? Datang ke kantornya saja tidak pernah. Dan memang ... siapa perempuan di depannya ini? Tak! Suara benda yang dijatuhkan di meja kaca membuat Fabian langsung menoleh ke sumber suara tersebut. Pria itu mengernyit saat melihat sebuah benda kecil di atas meja kerjanya, dengan ragu dia mengambil benda tersebut. “Apa ini?” tanya Fabian seraya melirik Fio. Fio tersenyum sinis, berdecih pelan sebelum kemudian menjawab pertanyaan pria itu. “Lihat, dan pahami sendiri. Gue yakin lo bukan orang bodoh yang gak bisa mengetahui arti dari benda itu,” jawab Fio menusuk. Fabian lagi-lagi menggeram marah, lalu matanya menyapu isi di benda tersebut. Tunggu ... sepertinya dia tau apa nama benda ini. Tespek? Dan yang Fabian tau, tespek adalah alat untuk mengecek kehamilan. Tentu saja Fabian tau itu. Belum sempat melihat kode garis di sana, Fabian malah menatap Fio dengan tatapan bertanya-tanya. “Lo, lo gak?” tanya Fabian mengode ke arah yang ada di dalam pikirannya, dan Fio yang satu pemikiran hanya tersenyum sinis. Enggan menjawab. Fio masih kesal karena kejadian tadi, saat dirinya melihat Fabian sedang ... ya, tidak usah dijelaskan! Bukannya dia cemburu atau apa, hanya saja Fio kesal karena mengira dirinya adalah satu-satunya untuk Fabian, hingga Fio sangat berharap jika Fabian mau bertanggung jawab atas kejadian ini. Kembali lagi ke Fabian, pria itu meneliti isi dari benda kecil yang dipegang oleh tangan besarnya itu. Dan pemandangan yang ia lihat adalah dua garis, itu artinya hamil?! Benarkah?! Tapi tunggu, siapa yang hamil?! Apa jangan-jangan .... Fabian langsung mendongak menatap Fio dengan tatapan kagetnya. “Lo hamil?!” tanya Fabian dengan nada yang kentara sekali jika dia sedang terkejut. Dan balasan Fio selanjutnya, bertambah membuat jantung Fabian berpacu lebih cepat karena terkejut. “Ya.” *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN